Wednesday, January 31, 2007

Wednesday's Games Idea - 29


Serupa Dengan Dunia

Jumlah peserta : kelompok sedang sampai besar
Waktu yang dibutuhkan : 15 – 30 menit
Bahan yang dibutuhkan : 21 butir telur ayam atau telur puyuh (bisa juga yang terbuat dari plastik), tempat telur (baskom atau keranjang)
Aturan Permainan :
Isilah ke 20 biji telur ayam atau telur puyuh tersebut dalam kerajnang/tempat telur. Minta 10 orang peserta untuk berpartisipasi. Ajak mereka keluar ruangan sejenak. Kemudian secara bergilir, panggillah mereka masuk. Satu persatu. Mintalah untuk menghitung berapa banyak telur yang ada dalam tempat tersebut. Beri waktu paling banyak 10 detik. Sampai orang kesembilan. Sebelum memanggil orang yang kesepuluh, tambahkan ke dalam keranjang atau baskom itu sebutir telur lagi, hingga jumlahnya menjadi 21 biji. Kemudian minta orang kesepuluh itu menghitungnya dengan waktu 15 detik. Setelah itu, mintalah setiap orang, dari yang pertama sampai yang ke-10 untuk mengatakan, berapa jumlah telur yang mereka hitung tadi. Sembilan orang pertama pasti akan mengatakan jumlahnya 20 butir. Apakah orang ke-10 akan terpengaruh dengan jawaban kelompok mayoritas?
Tujuan Permainan :
Dalam kerjasama kelompok, suara mayoritas benar harus dihormati. Memang kerap putusan dan pilihan seseorang, dipengaruhi kuat oleh lingkungannya. Tapi bukan berarti hanya karena didukung suara terbanyak, maka kebenaran bisa dibengkokkan. Dalam setiap hal, kalau ya, katakanlah ya. Kalau tidak, katakan tidak. Tidak ada kompromi dalam hal kebenaran.

Tuesday, January 30, 2007

Catatan Harian

Day - 61

Selasa, 30 Januari 2007 -- Pagi berdua Dewi nengok temen di Gleneagles. Ia lagi kemo. Kita masuk ke ruangan kemonya. Baru tahu kalau kemo tuh gitu. Sore berenang sama Kezia dan Karen. Sudah lama sekali kita ga berenang. Selain memang cuaca lagi dingin. Sayanya juga repot terus. Malam ada rapat persiapan 25 tahun wedding anniversary teman. Kita janjian ketemu di Starbucks City Hall MRT. Beberapa teman kerja di daerah dekat sana.

Saya lagi demen sama youtube.com. Konon itu dulunya situs pribadi. Banyak peminat. Lalu dibeli sama google. Pemiliknya mendadak kaya raya tuh. Awalnya sih dikasih tahu teman. Ternyata oke. Bisa akses aneka macam klip video. Tinggal search kategori yang kita mau. Misalnya blooper sport atau funny cartoon. Ada juga klip-klip lucu dari acara televisi. Kayak Just for Laughs Gags dan Candid Camera.

Just for Laughs Gags dan Candid Camera tuh acara televisi yang isinya goda-godain orang. Orang dikagetin. Dikerjain. Digodain. Kadang menurut saya keterlaluan. Kayak yang ini: Di bawah pintu masuk supermarket dipasangin kipas angin. Pas ada wanita lewat, kipas angin itu dihidupin. Karuan roknya kemana-mana. Padahal ia lagi bawa belanjaan. Terus pengendara mobil tahu-tahu disetop “polisi gadungan”. Dimintain SIM. Padahal cuma untuk dikerjain gitu. Gimana coba kalau ia lagi buru-buru ada urusan penting?

Yang nonton sih bisa tertawa terpingkal-pingkal. Lucu. Tapi orang yang “dikerjain” kan bisa kesal juga. Saya perhatiin, ga di luar negeri ga di Indonesia banyak acara lawakan di televisi yang slapstick. Ga cerdas gitu. Cuma mengeksploitasi "kebodohan dan kesusahan" orang lain. Lucunya justru laku. Orang suka nonton. Semoga itu bukan karena bad-habit manusia. Senang lihat orang lain susah, susah lihat orang lain senang.

Tuesday's Song - 35

Tie A Yellow Ribbon
(Around The Old Oak Tree)
by Tony Orlando and Dawn

I'm comin' home, I've done my time
Now I've got to know what is and isn't mine
If you received my letter telling you I'd soon be free
Then you'll know just what to do
If you still want me
If you still want me
Whoa, tie a yellow ribbon 'round the old oak tree

It's been three long years
Do ya still want me?
If I don't see a ribbon round the old oak tree
I'll stay on the bus
Forget about us
Put the blame on me
If I don't see a yellow ribbon round the old oak tree

Bus driver, please look for me
'cause I couldn't bear to see what I might see
I'm really still in prison
And my love, she holds the key
A simple yellow ribbon's what I need to set me free
I wrote and told her please

Whoa, tie a yellow ribbon round the old oak tree
It's been three long years
Do ya still want me?
If I don't see a ribbon round the old oak tree
I'll stay on the bus
Forget about us
Put the blame on me
If I don't see a yellow ribbon round the old oak tree

Now the whole damned bus is cheerin'
And I can't believe I see
A hundred yellow ribbons round the old oak tree

I'm comin' home

Renungan :
Kisah pengampunan selalu berarti kisah "heroik". Dibutuhkan kekuatan mahahebat; ketegaran, keberanian, dan tentu cinta. Pengampunan itu menyembuhkan. Bahkan juga "menghidupkan". Tidak saja bagi yang menerima. Tapi bagi yang memberi.

Catatan Harian

Day - 62

Senin, 29 Januari 2007 -- Seharian di rumah. Libur. Beres-beres. Main game boy :). On-line internet. Lihat klip-klip lucu di youtube.com. Baca situs-situs berita seputar Indonesia. Siang ada teman sekeluarga main ke rumah. Ngobrol sampai agak sore. Malam kita ke library di West Mall. Pinjem buku buat Kezia dan Karen. Imlek masih sekitar setengah bulan. Tapi suasananya sudah sangat terasa. Aksesoris. Makanan. Dominasi warna merah.

Berita tentang Indonesia bagai cerita roman: Tak putus dirundung malang. Musibah di darat, laut dan udara. Poso "berdarah" lagi. Flu burung. Ratusan peternak unggas merugi. Banyak unggas terpaksa dimusnahkan. Para pedagang ayam "menjerit". Orang pada takut makan ayam. Lalu wabah demam berdarah. Di tengah "gonjang-ganjing" begitu, ehh malah muncul PP Nomor 37. Tentang kenaikan tunjangan anggota dewan. Sigh!

Belum lagi soal penegakan hukum. Ampun deh. Kebenaran dan keadilan jadi relatif. Bukannya berpihak pada yang benar, tapi pada yang bayar. Uang jadi “panglima”. Semua-semua UUD. Ujung-ujungnya duit. Cilakanya itu terjadi di semua jenjang. Dari tingkat rendah sampai tingkat tinggi. Bahkan mass-media kerap ikut pula "bermain keruh". Rakyat biasa jadi korban. Mereka yang ga punya uang atau akses ke petinggi. Walau mereka ga bersalah. Sigh!

Jadi ingat kata-kata Nabi Habakuk: "Berapa lama lagi, TUHAN, aku berteriak, tetapi tidak Kaudengar, aku berseru kepada-Mu: "Penindasan!" tetapi tidak Kautolong? Mengapa Engkau memperlihatkan kepadaku kejahatan, sehingga aku memandang kelaliman? Ya, aniaya dan kekerasan ada di depan mataku; perbantahan dan pertikaian terjadi. Itulah sebabnya hukum kehilangan kekuatannya dan tidak pernah muncul keadilan, sebab orang fasik mengepung orang benar; itulah sebabnya keadilan muncul terbalik." Sigh!

Monday, January 29, 2007

I Like Monday - 19


Inspiring Singapore
Extraordinary Nun


Venerable Ho Yuen Hoe pertama kali datang ke Singapore ketika berusia 27 tahun. Ia bekerja sebagai penata rambut. Menjadi orang tua tunggal dengan mengadopsi enam puteri. Ia menunggu hingga mereka dewasa, kemudian mengabdikan hidupnya sebagai seorang biarawati buddha. Bekerja menolong orang lain. Ia merawat seorang wanita Samsui yang miskin papa. Pada usia 44 tahun, ia berhasil membeli sebidang tanah. Ketika pertama kali membangun rumah singgah bagi wanita Samsui, ia mengerjakan segala sesuatunya sendiri. Memasak, membersihkan, memberi makan, memandikan, merawat, mengantar mereka ke dokter, dan lain-lain. Karyanya baru diketahui orang saat ia muncul di acara TV pada tahun 1996, saat ia telah berusia 88 tahun. Ia meninggal pada usia 97 tahun pada tanggal 11 Januari 2006. Ia adalah pendiri Man Fut Tong Nursing Home. Setahun setelah kematiannya, diadakan pengumpulan dana untuk pengembangan Man Fut Tong Nursing Home. Rencananya Nursing Home ini akan merawat 232 orang, sebagian besar hanya mampu berbaring di tempat tidurnya.* Banyak karya besar yang dikerjakan dalam “diam”. Tanpa publikasi. Tanpa tujuan mencari kemasyuran diri. Hanya keinginan besar untuk memberi. Sesuatu yang pasti tidak akan sia-sia. Karena sebuah pekerjaan baik. Dengan tujuan baik. Pada akhirnya harumnya akan merebak ke segala penjuru. Tak tertahan.

*Source : Channel News Asia, www.mft.org.sg

Sunday, January 28, 2007

Catatan Harian

Day - 63

Minggu, 28 Januari 2007 -- Hari yang padat. Dari kemarin "kepikiran" terus kepadatan hari ini. Tapi setelah dijalani sih semua "smooth-smooth" saja :). Kebaktian remaja. Persekutuan doa Pelaut. Gladi resik pernikahan. Rapat-rapat. Di sini hari Minggu adalah "kemewahan". Kebanyakan orang punya waktu luangnya hari Minggu. Jadi acara apa-apa kerapnya hari Minggu. Kadang bisa sampai "numpuk".

Sampai agak sore. Pulang. Ga kemana-mana lagi. Malam ada teman berkunjung. Ia penulis buku The Puzzle of Teenage Life. Good book tuh. Saya beruntung bisa ikut ngasih kata pengantar di buku itu. Jadi numpang "nampang" gitu. Hehehe. Ia baru selesai studi di China. Mau pulang Jakarta. Transit di sini. Ketemu beberapa teman chating-nya. Mereka kenalan di chat-room. Cocok. Akrab. Salah satu sisi baik internet.

Ia cerita, di China apa-apa murah. Jauh lebih murah dibanding Jakarta. Makan 3 kali sehari dikurskan cuma Rp. 10.000. Buku-buku juga murah. Karena pemerintah memberi subsidi. China punya julukan baru: The Manufacturer of The World. Hampir semua barang, dari peniti sampai mobil, diproduksi di China. Harganya murah. Pembelinya mulai dari negara Afrika sampai Amerika. Kemajuan ekonomi China memang amazing. Se-amazing alamnya yang elok dan permai.

Maju mundur sebuah negara sangat tergantung pemerintahnya. Kalau para pejabat negara menganggap negara just sebagai "perusahaan keluarganya" celaka tiga belas deh. Mereka bukannya "memberi", malah "mengeruk". Sejarah membuktikan, perjalanan negara-negara maju selalu berawal dari pemerintah yang berdedikasi demi rakyatnya. Sayangnya, justru itu yang ga terjadi di Indonesia. Sad.

Sunny Sunday - 16


Indonesia Plus
Runtuhkan Sekat, Sekarang Era Akses


Enam perguruan tinggi di Yogyakarta membangun kerja sama mengembangkan sistem interkoneksi perpustakaan digital online. Nantinya antar perguruan tinggi bisa saling mengkases data dan koleksi perpustakaan. Cetak maupun digital secara online melalui jaringan intranet. Konsep seperti ini sudah menjadi model di universitas di luar negeri. Kelima perguruan tinggi itu, yakni Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Universitas Negeri Yogyakarta, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Universitas Ahmad Dahlan, dan Institut Sains dan Teknologi "Akprind". Dengan begitu, sekat-sekat antar Perguruan Tinggi (PT) khususnya soal akses perpustakaan, akan terbuka. Selama ini akses peminjaman koleksi antarperpustakaan terkendala rasa kepemilikan yang terlalu kuat di masing-masing perpustakaan. Kini setiap sivitas akademika di sebuah PT bisa mengkases koleksi perpustakaan di PT lain secara terbuka. Sekarang adalah era akses bukan era kepemilikan. Di lain pihak ini juga bisa menyiasati masalah kekurangan anggaran dari tiap perpustakaan. (sumber : kompas.com)

Ayah’s Plus Point:
Sekat hanya akan menghambat kemajuan. Apalagi dalam pendidikan. Semakin lebar akses dibuka, semakin baik. Dalam dunia pendidikan, sudah saatnya kita tidak menjadi eksklusif. Tidak pelit berbagi ilmu. Karena semakin banyak ilmu disebar, semakin banyak pelajaran yang dituai.

Catatan Harian

Day - 64

Sabtu, 27 Januari 2007 -- Pagi main bulutangkis di Sport Hall Bukit Gombak. Sama teman-teman gereja. Dewi, Kezia dan Karen ikut. Kita naik taxi. Sopirnya cerita, di Jurong East Station ada orang bunuh diri. Nubrukin diri ke MRT. Kata teman, di sini sering tuh kejadian begitu. Pelajar yang stress, gadis putus cinta, orang kalah judi. Pantes di stasiun MRT suka ada tulisan: Value life. Act responsibly. Dalam 4 bahasa; Mandarin, Melayu, India, dan Inggris.

Tapi namanya orang stress, mana ngerti himbauan-himbauan kayak begitu kan. Di Indonesia pernah juga ada beberapa kasus bunuh diri. Kebanyakan karena alasan ekonomi. Salah satu yang sempet menjadi "buah bibir", seorang pelajar SD di Garut nekad gantung diri. Ia malu ga bisa bayar uang ekskul sekolah Rp.2.500. Iya, 2.500 rupiah! Mungkin bagi mereka hidup sudah sedemikian "sumpeknya". Lalu jalan pintas menjadi pilihan.

Padahal "cerah-suram" hidup ini kadang hanya soal "sudut pandang". Saya ingat seorang sopir bajaj di Jakarta. Tahun 1999-an. Ia "kerja" dari jam 4 subuh sampai jam 10 malam. Penghasilan per hari 15-20 ribu. Anaknya 3, istri 1. Waktu saya tanya, apa ia ga susah dengan hidupnya? Ia jawab, “Hidup ini yang ngasih Tuhan. Rejeki lebih rejeki kurang, Tuhan yang atur. Saya sih cuma ngejalani. Yang penting saya sudah berusaha. Selebihnya terserah Tuhan."

Sebuah prinsip yang bagus. Berusaha sebaik-baiknya, berserah sebulat-bulatnya. Just do the best, let God do the rest. Benar kata pepatah, seorang pahlawan bukan hanya mereka yang berani mati. Tapi juga mereka yang berani hidup. Pulang dari bulutangkis, kita makan di Pizza Hut Bukit Batok. Rencananya sampai rumah mau berenang. Tapi hujan. Ga jadi. Sorenya pimpin acara house warming di daerah Ang Mo Kio.

Saturday, January 27, 2007

Renungan Sabtu - 33


Patung Polisi

Sudah lama saya melihat di banyak perempatan ada patung polisi; berdiri tegak dengan sikap sempurna. Sampai pernah ada seorang teman yang berkelakar, sekarang ini katanya polisi yang “nakal” tinggal 20 persen saja. Sebab yang 40 persen sudah diganti patung polisi, dan yang 20 persen lagi sudah diganti polisi tidur.

Untuk apa patung polisi itu ditaruh di sana? Pastinya saya tidak tahu. Saya hanya bisa menduga, itu untuk “menakut-nakuti” para pengguna jalan supaya tertib dan tidak melanggar aturan.

Kalau benar dugaan itu, maka memang aneh tidak aneh. Anehnya, karena dengan begitu tidakkah masyarakat justru dididik untuk takut pada aparat, dan bukan patuh pada aturan?

Tidak anehnya, karena bukankah memang begitu budaya masyarakat kita; orang dikondisikan mengikuti aturan atas dasar perhitungan ada dan tidak adanya aparat, bukan karena sadar apalagi tulus.

Ada cerita, seorang anak muda naik sepeda motor. Dia ditilang karena menerobos rambu verbodeen. “Kamu tidak melihat tanda itu?” tanya polisi yang menilang sambil menunjuk ke arah rambu verbodeen di pinggir jalan. “Rambunya sih saya lihat, Pak,” sahut anak muda itu “Tetapi saya tidak melihat Bapak!”

Di kalangan preman mungkin lazim orang patuh karena takut, tetapi di kalangan masyarakat secara umum, budaya patuh karena takut pada aparat sesungguhnya sangat berbahaya; bahayanya yaitu kalau orang sudah tidak lagi takut pada aparat maka dia bisa berbuat apa saja sesuka hatinya.

Sama halnya dengan kalau orang takut hukum, bukan sadar hukum; maka ketika hukum tidak berfungsi, orang tidak segan-segan lagi melanggarnya. Kekerasan, terutama yang dilakukan secara massal, korupsi dan kriminalitas yang semakin marak belakangan ini; tidakkah itu menjadi petunjuk, betapa hukum sudah semakin kehilangan wibawa dan fungsinya. Lha, bagaimana berwibawa dan berfungsi, mudah dibeli dan diputarbalikkan begitu!

Kepatuhan harus didasarkan pada kesadaran dan ketulusan hati. Kepatuhan yang didasarkan pada ketakutan; bukan saja rapuh, tetapi juga terlalu mahal harganya.

Dari Buku Potret Diri Tanpa Bingkai – Ayub Yahya, diterbitkan oleh Gloria Graffa

Friday, January 26, 2007

Catatan Harian

Day - 65

Jumat, 26 Januari 2007 -- Duh. Ternyata banyak "kerjaan" nih. Kebiasaan jelek saya. Kalau belum deket-deket waktunya, mikirnya "toh masih ada esok". Jadinya "numpuk". Akhirnya kerepotan" sendiri. Cilakanya walau dari dulu sudah sadar, tapi tetap saja ga berubah. Gitu lagi gitu lagi. Gimana dong??? Melawan "diri sendiri" tuh memang sulit-lit. Hikss.

Jadi inget dosen musik waktu kuliah dulu. Pak Liberti Manik. Pencipta lagu Satu Nusa Satu Bangsa. Kalau kita salah lagi salah lagi, ia selalu nyindir, "Ingat keledai". Kan ada tuh peribahasa keledai ga jatuh dua kali pada lubang yang sama. Saya, dan beberapa teman lain, malah kerap "jatuh" berulang kali pada lubang yang sama. Salah melulu. Apalagi waktu ikutan "ekskul" biola. Habis deh saya. Untuk urusan musik saya memang "nol besar".

Siang pimpin Persekutuan Komisi Wanita. Seputar rasa gelisah. Saya "angkat" cerita di balik lagu “Tie a Yellow Ribbon Around the Old Oak Tree”. Lagu yang hits tahun 1970-an. Kisah suami yang begitu "brengsek" terhadap istrinya. Hidup "selebor". Jadi "begundal". Sampai kemudian "jatuh". Hancur. Masuk penjara. Bertobat. Ia pengen kembali kepada istrinya. Tapi ia ragu, apakah sang istri mau nerima ia kembali.

Melalui surat ia ungkapin rasa sesalnya. Ia minta kalau sang istri masih mau nerima ia supaya mengikatkan sehelai pita kuning di sebuah pohon beringin di pusat kota. Dan ternyata yang ia dapatkan di pohon beringin itu bukan sehelai pita kuning, tapi seratus pita kuning. Bertolak dari cerita itu pemerintah Singapore mencanangkan "Yellow Ribbon Project". Untuk mendorong masyarakat "menerima" para mantan narapidana. Malam ikut Familiy Felowship di daerah Bukit Gombak.

Friday's Joke - 30


Nonton Film


Saat sedang menonton film, seorang Ibu ingin ke kamar kecil. Pelan-pelan ia berjalan keluar dari barisan kursinya. Ketika kembali dari kamar kecil, ia lupa nomor kursinya. Setelah beberapa saat mencari, ia bertanya pada seorang Bapak yang duduk di kursi paling pinggir, “Pak, apakah Bapak yang kakinya keinjak saya waktu tadi saya keluar?” Bapak itu menjawab sambil berharap permintaan maaf, “Iya, Bu.” Ibu itu tersenyum lega, “Oh, berarti ini benar barisan kursi saya.”

Ayah’s quote:
Di dunia ini memang banyak orang yang walau sadar telah berbuat salah, tapi mulutnya terlalu berat meminta maaf.

Catatan Harian

Day - 66

Kamis, 25 Januari 2007 -- Di sini masih musim dingin. Hujan ga sekerap minggu-minggu lalu. Matahari sudah lebih sering muncul. Good. Gereja lagi renovasi. Dag dog dag dog ribut. Debu juga. Tapi kegiatan kantor sih seperti biasa. Tukang yang kerja juga ga banyak. Di sini kerjaan bangunan atau jalanan ga banyak "pakai" tenaga manusia. Entah karena tenaga kerja mahal, entah karena peralatannya sudah lebih canggih. Efisien.

Dapat imel dari teman di Jakarta. Ia cerita pembantunya sesak nafas dan batuk. Dibawa ke rumah sakit. Dokter jaga nyuruh segera dirawat. Katanya, gawat dan kalau terjadi apa-apa dokter ga tanggung jawab. Bisa jadi karena lagi ada wabah flu burung dokter harus extra hati-hati. Tapi sering juga kan, itu jadi semacam “jurus” untuk nakut-nakutin pasien. Biar dirawat. Dan uang masuk lebih besar.

Jadi dirawat. Ehh, rupanya semua-semua di-charge. Mulai dari oksigen, infus, jarum suntik, sarung tangan, kateter, sampai tenaga masang infus dan kateter, jasa perawat dan dokter jaga. Lucunya keluarga diminta jaga 24 jam. Karena katanya tenaga perawat kurang. Alhasil 2 hari di ICU 6 hari di kamar biasa kelas 2, biayanya puluhan juta. Kwakk!! Apa semua rumah sakit begitu ya? Business-oriented. Ga ada lagi missi sosial. Lalu gimana yang ga mampu bayar? Biaya pengobatan ternyata ga kalah menyakitkan dibanding penyakitnya sendiri.

Malam ada teman ke rumah. Sharing. Di pinggir kolam renang. Enaknya di sini tuh hampir ga ada nyamuk. Jadi kongkow di luar asyik-asyik saja gitu. Ga bentar-bentar plak nepuk nyamuk :). Sempet ikut main tenis di kondo sebelah. Tapi cuma sebentar. Tangan agak sakit. Ngikutin hati sih pengen terus. Apa daya “tangan ga sampai”. Ada saatnya kita "memaksa diri", ada saatnya kita "mengalah diri" kan.

Thursday, January 25, 2007

Thursday Hot Issue - 18


Bukan Sembarang Flu


The Fact :
Flu sering disanggap sepele. Padahal sejarah mencatat jejak yang tidak sepele dari flu. Dimulai dari tragedi flu Spanyol atau ‘La Grippe’ di tahun 1918. Disebabkan oleh strain (jenis/turunan) virus H1N1, menjadi pandemi (penyebaran penyakit di beberapa wilayah berbeda dalam waktu yang bersamaan) di dunia. Flu yang melanda Eropa, Amerika, dan Timur Tengah itu mencatat korban meninggal sebanyak 50 juta orang. Selanjutnya, flu Asia, dengan jenis virus H2N2. Pertama kali ditemukan di Cina tahun 1957. 70.000 orang korban meninggal di Amerika. Flu Hong Kong, pertama kali ditemukan di Hong Kong tahun 1968. Virus H3N2 ini menelan korban sebanyak 34.000 jiwa di Amerika. Selanjutnya, flu Rusia dengan virus H1N1 ditemukan tahun 1977. Tidak ada kematian akibat flu ini. Tahun1987, di Hong Kong ditemukan virus influenza yang ditransmisikan dari unggas ke manusia. Dari 18 penderita, enam di antaranya meninggal. Di tahun 1999 dan 2002, ditemukan kembali jenis baru virus influenza, yaitu H9N2 dan H7N2. Tanpa korban jiwa. Tahun 2003 muncul flu burung. Bird flu yang juga disebut A1 atau Avian Influenza ini, disebabkan oleh jenis virus H5N1. Vietnam menjadi negara pertama yang diserang. Lalu melebar ke Thailand di tahun 2004. Masuk ke Indonesia tahun 2005. Dari data terbaru WHO, sampai Januari 2007, Indonesia tercatat sebagai negara dengan kasus fatal flu burung tertinggi di dunia. Dari 79 orang yang positif flu burung, 61 orang meninggal. Artinya, 77% tidak dapat diselamatkan. Padahal Vietnam, negara pertama ditemukannya flu burung, di awal tahun 2006 justru telah terbebas dari kasus ini. (Femina Online, situs Depkes, metrotv.com)

The Lessons:
Alam punya caranya sendiri untuk mengingatkan manusia betapa pentingnya hidup sehat. Tapi "peringatan" alam kerap menuntut korban. Maka sebelum diperingatkan oleh alam tindakan preventif itu penting. Seperti kata dr. Handrawan Nadesul hidup sehat sebetulnya tuh murah. Kuncinya mau ga kita peduli dengan kesehatan kita.

Wednesday, January 24, 2007

Catatan Harian

Day - 67

Rabu, 24 Januari 2007 -- Siang ketemu teman di West Mall. Sekalian lunch. Ia salah seorang pengurus sekolah di Jakarta. Sekolah ia mau membuka kelas internasional. Mau merekrut guru-guru dari sini. Bisa orang Indonesia yang studi di sini. Bisa orang sini yang punya kualifikasi sebagai guru. Saya diminta jadi semacam PIC-lah gitu. Rencana akan pasang iklan di beberapa surat kabar di sini. Juga lewat gereja.

Di beberapa kota besar di Indonesia sekolah-sekolah “eksklusif” sedang booming. Namanya macam-macam. Sekolah international, national plus, bilingual school, kelas akselerasi. Dan yang baru: brilyant school untuk anak-anak yang ber-IQ tinggi. Uang masuknya bisa sampai puluhan juta. Ckckck. Herannya yang daftar ngantri. Persaingan antar sekolah "merebut" calon murid sangat ketat. Berarti orang Indonesia yang "kaya" tuh banyak.

Di sisi lain orang miskin juga makin bajibun. Konon yang berpendapatan dibawah 600 ribu per bulan mencapai 45 juta orang. Nasib anak-anak mereka bisa makin "tercecer". Saya pikir sih selain sekolah yang plus-plus tadi, perlu juga dibikin sekolah "kampung". Biaya murah kualitas pengajaran oke-lah. Jangan karena murah lalu "ala kadarnya". Dalam kondisi sekarang rasanya gereja lebih perlu "bermain di area ini". Untuk lebih memberi daripada mendapat.

Saya tertarik dengan sekolah "ndesa" yang digagas alm. Romo Mangun di Kedung Ombo, Jawa Tengah. Good. Pendidikan harus accessible kan. Untuk siapa saja. Ga boleh ada yang "tertolak". Dengan alasan apa pun. Kaya-miskin, pintar-bodoh, pria-wanita. Fasilitas dan cara pengelolaan boleh beda, tapi kesempatan harus sama. Menurut saya substansi pendidikan tuh membangun dunia melalui manusianya. Dari West Mall terus ke gereja. Sore ada janji konseling. Disambung malamnya rapat majelis.

Wednesday's Games Idea - 28


Bangunan Korek Api


Jumlah peserta : Kelompok sedang sampai besar dibagi dalam kelompok beranggotakan 6-8 orang
Waktu yang dibutuhkan : 20 – 30 menit
Bahan yang Dibutuhkan : Botol-botol kosong sejumlah kelompok (sebaiknya botol kecap), batang-batang korek api sebanyak-banyaknya; setiap kelompok lebih kurang 150 batang.
Aturan Permainan :
Mintalah seluruh kelompok untuk menyusun sebuah bangunan dari batang korek api. Semua anggota kelompok harus terlibat menyusunnya. Pada akhir permainan, seorang wakil dari kelompok harus menjelaskan jenis bangunan apa yang dibuat. Juga alasan memilih jenis bangunan itu. Pemenangnya adalah kelompok yang berhasil menyusun bangunan dengan jumlah korek api terbanyak. Di akhir acara, bahaslah tentang kerjasama dan bagaimana merekamenyikapi kegagalan bersama-sama.
Tujuan permainan :
Apapun yang kita lakukan. Lakukan dengan penuh kesungguhan. Tapi itu saja tidak cukup. Dibutuhkan pula kesabaran, kemauan bekerja sama dan kemampuan untuk menerima kesalahan orang lain.

Catatan Harian

Day - 68

Selasa, 23 Januari 2007 -- Seharian di rumah. Dewi ada acara Komisi Wanita. Siang hujan deras tapi cuma sebentar. Flu nih. Bersin. Hidung mempet. Meler. Dari kemarin. Cuma ya begitu. Sembuh kumat. Sembuh kumat. Ampun deh. Tadi sempet ngajarin Karen baca sebelum ia sekolah. Karen tuh aktif kalau bicara. Mudah nyesuaikin diri dengan lingkungan baru. Tapi ia ga tekun. Cepat bosan. Kita yang ngajarin bener-bener perlu telaten. Ia selalu punya cara buat "ngeles" dari yang ia ga mau.

Dapat SMS dari seorang Ibu. Mau konseling seputar masalah keluarga. Ia belum pernah ke GPBB atau GPO. Tahu saya dari temannya yang pernah baca buku saya. Janjian ketemu besok sore di gereja. Dalam 10 tahun lebih saya jadi pendeta kebanyakan yang datang konseling tuh selain pasangan muda-mudi yang mau menikah, juga pasangan suami-istri yang merasa sudah ga "klop". Beberapa bahkan mau cerai. Yang pertama biasanya datang berdua. Yang kedua datang sendiri, suaminya atau istrinya.

Jadi ingat ungkapan sarkastis ini: Pernikahan seumpama sebuah sangkar. Burung-burung berlomba masuk kedalamnya, dan frustrasi pengen keluar :). Bagi sebagian orang bisa saja begitu. Tapi tentu ga semua. Toh banyak yang menikah dan happily ever after. Masalahnya mungkin karena “harapan berlebihan” ketika menikah. Seolah pernikahan tuh melulu cerita indah, sebuah romansa tanpa duka tanpa airmata. Kwakk!! Ya, ga gitu-lah, Bo! Seperti kata pepatah, menikah itu gampang yang sulit mempertahankannya.

Malam sama teman sekeluarga diajak makan di RSYC. Republic of Singapore Yacht Club. Di daerah West Coast. Dekat kampus NUS. Itu tempat pelabuhan kapal-kapal pribadi. Kalau di Jakarta, kayak Marina Ancol. Kalau Jumat-Minggu khusus untuk member. Jenis makanannya sih biasa. Tapi relatif murah. Enak-enak pula. Harga hawker rasa restoran gitulah. Tempat dan suasananya asyik. Sayangnya kalau ke sana mesti naik taxi atau kendaraan pribadi.

Tuesday, January 23, 2007

Tuesday's Song - 34

Jadikan Aku Yang Kedua
Astrid


Jika dia cintaimu
melebihi cintaku padamu
aku pasti rela untuk melepasmu
walau ku tau ku kan terluka

Jikalau semua berbeda
kau bukanlah orang yang kupuja
tetapi hatiku telah memilihmu
walau kau tak mungkin tinggalkannya

reff.
Jadikan aku yang kedua
buatlah diriku bahagia
walau pun kau takkan pernah
kumiliki selamanya


Renungan :
Cinta nggak harus memiliki. Mencintai berarti membahagiakan. Hanya memberi, tak harap kembali. Pun bila itu berarti harus merelakan dia bersama yang lain. Pengorbanan cinta yang terbesar adalah ketika kita rela menjadi yang "nomor sekian" demi kebahagiaan dan kebaikan dia. Rela. Tanpa dendam dan benci.

Monday, January 22, 2007

Catatan Harian

Day - 69

Senin, 22 Januari 2007 -- Pagi dapat SMS dari teman di Jakarta: "Congrats! Blog u masuk "100 blog 2006". Itu istilah lain dari 100 best or popular blog versi blog-indonesia.com. Urutan ke 35. Hermawan Kertajaya urutan 83". Saya ga gitu tahu sejauh mana ukuran sebuah blog dianggap “best” or “popular”. Dan buat saya itu bukan yang terpenting. Bukan sesuatu yang saya cari dengan nge-blog.

Saya selalu percaya orang tuh ga perlulah nyari-nyari penghargaan. Kalau memang pantas dihargai, penghargaan itu akan datang sendiri. Tapi kalau ga pantas dihargai, betapa pun berusaha nyari, ya ga akan dapat. Awalnya saya nulis blog juga untuk tujuan simpel koq. Biar disiplin nulis. Sesuatu yang selama ini sulit saya lakukan. Dan ternyata bisa. Ga pernah loh saya nulis serutin ini. Setiap hari. Ada anggapan untuk bisa "nulis" orang harus pinter. Menurut saya salah. Justru dengan "nulis" orang bisa dipacu jadi "pinter" kan.

Motivasi saya makin terlecut ngelihat "respon" positif dari beberapa teman. Jadi terdorong ga sekadar "curhat". Tapi juga memberi “sesuatu”. Informasi, refleksi pribadi, hiburan. Just itu. Memang blog sekarang lagi booming. Bentuknya macam-macam. Ada yang ala kadarnya. Tapi ada juga yang ditangani serius. Sudah ada buku yang diterbitin dari blog. Malah konon bakal ada film yang berangkat dari tulisan di blog. Good.

Siang berdua Dewi belanja keperluan sehari-hari di Shop n Save di Beauty World Bukit Timah. Kezia dan Karen sekolah. Kita sekalian nyari kado buat teman yang mau farewell. Sore main tenis di daerah Holand Road. Ini kali pertama saya main tenis selama di sini. Tiap Senin teman suka ngajak sih. Tapi ga bisa melulu. Di kondo tempat saya sebenarnya ada juga lapangan tenis. Cuma ga ada teman mainnya :).

I Like Monday - 18


Inspiring Singapore
Learning by Gaming


Sekolah di Singapore membuat terobosan baru. Memasukkan online-game sebagai bagian dari kurikulum sekolah. Nggak tanggung-tanggung, online-game akan dimasukkan di kurikulum SMP. Minimal ada dua sekolah yang sedang menjalani percobaan mendalam tentang hal ini. Alasan sederhananya adalah membuat anak tertarik terhadap sebuah pelajaran. Tidak lewat teori tetapi lewat permainan. Role Playing Games (RPG) Granado Espada dipilih untuk dipakai dalam kurikulum. Dan Singapore dipercaya adalah negara pertama di dunia yang menggunakan pendekatan pendidikan semacam ini. Pro dan kontra datang dari berbagai pihak. Orang tua cemas. Guru tidak yakin. Tapi focuss group discussion terus diadakan untuk menggodok masalah ini. Yang kontra menakutkan akan terjadi ketergantungan anak pada online-game. Yang pro menganggap tidak akan mungkin membendung IT menerobos masuk dinding sekolah. Dan online-game membuat ketergantungan karena justru merupaka sesuatu yang dilarang sebagian besar orang tua. Maka yang dibutuhkan adalah pendampingan. * Anak bisa menggunakan media apa saja untuk belajar. Peran orang tua adalah memberikan pendampingan dan pemahaman. Tanpa mengekang kreatifitasnya. Tanpa membuat anak merasa terindoktrinasi. Atau merasa dipisahkan dari dunianya.

*Channel News Asia/Yahoo Singapore

Catatan Harian

Day - 70

Minggu, 21 Januari 2007 -- Tadi ketika kebaktian pertama baru saja dimulai, saya dipanggil seorang teman pemuda. Ada tamu. Suami istri. Sudah tua. Bukan orang Kristen. Mereka mau ngasih "sumbangan" buat gereja. Pakai bahasa Mandarin. Teman terjemahin. Saya sempet tanya, apa ga sebaiknya langsung nyumbang buat orang "susah"? Tapi mereka tetap ingin memberi buat gereja. Buat orang "susah" lain lagi, katanya.

Jadi ingat sebuah gereja di Cibadak, Sukabumi. Gedung gerejanya sudah tua. Hampir roboh. Atapnya lapuk. Kalau hujan bocor. Kebanyakan warga jemaatnya pegawai negeri sipil, guru inpres, dan buruh-buruh kecil. Untuk renovasi perlu sekitar 75 juta. Tapi ga ada dana. Gereja lain di lingkungannya sudah dihimbau klasis untuk nyumbang. Ga ada respon berarti. Ada sih sebuah jemaat besar di Jakarta yang untuk lahan parkirnya saja mengalokasikan dana berbilang milyar nyumbang Rp. 2,5 juta.

Seorang teman yang pernah bergereja di situ berinsiatif nyariin dana. Yang nyumbang malah banyak dari kalangan non Kristen. Berita baiknya semoga itu pertanda kehadiran gereja dirasakan oleh berbagai kalangan. Berita ga baiknya semoga itu bukan pertanda sesama orang Kristen sudah tergerus kepeduliannya. Setiap gereja asyik membangun "kerajaannya" sendiri. Kalau benar begitu, jangan-jangan Tuhan Yesus pun sekarang tengah menangis. Seperti ketika Dia menangisi Yerusalem :(

Siang saya khotbah di GPO. Nyari taxi susah banget. Hampir setengah jam nunggu di pinggir jalan. Ada yang kosong tapi ga mau ke Orchad. Ampun deh. Akhirnya dianterin teman. Tapi tetap terlambat. Sekitar seperempat jam. Teman gantiin dulu pimpin awal kebaktian. Ini pertama kali saya terlambat pimpin kebaktian. Duh. Selesai kebaktian diajak makan sama teman di Park Mall. Terus pulang naik bis. Mampir di Bukit Timah. Beli sop buntut dan Prata Tissue di Al-Azhar restoran. Dibungkus. Prata tuh makanan khas India di sini.

Sunday, January 21, 2007

Sunny Sunday - 15


Indonesia Plus
From Indonesia With Love


Elfa Secioria dan Elfa’s Singers (yang terdiri dari Yana Julio, Lita Zein, Uci Nurul, dan Agus Wisman) melalui dua album "From Indonesia With Love" telah menjadi duta budaya. Dalam album ini ada medley lagu dari Tapanuli, Sunda, Betawi, Maluku, Timor, Sulawesi, dan Bali. Dalam khazanah musik Indonesia, sebenarnya bukan hanya Elfa yang mengekspresikan cinta Tanah Air ini melalui musik. Sebelum ini sudah ada album "Tanah Airku" (My Homeland) yang menampilkan Tri Ubaya Cakti Chorus dengan iringan Shanghai Philharmonic Orchestra. Twilite Orchestra dan Cisya Kencana Orchestra dalam sejumlah pergelarannya memainkan komposisi Nyanyian Negeriku gubahan Singgih Sanjaya yang juga memuat rangkaian lagu Tanah Air, mulai dari Bungong Jeumpa dari Aceh hingga Yamko Rambe Yamko dari Papua. Terakhir, menjelang Hari Kemerdekaan Agustus 2006, Orkes Kamar Capella Amadeus juga memainkan khazanah musik Tanah Air dengan sangat menggugah. Nyanyian "From Indonesia With Love" selain memberi rasa sukacita, juga menetaskan kembali sense of nationhood, rasa kebangsaan. Bahwa meski 300 suku dengan bahasa dan dialek berbeda itu, dengan nyanyian yang berlainan bahasa itu, semua ada dalam naungan satu ibu pertiwi. Indonesia indah yang hilang itu harus ditemukan kembali, antara lain melalui lagu-lagu elok tadi. Di tengah keterpurukannya, anak bangsa ini tak boleh kehilangan harapan. Lagu-lagu itu membenarkan peribahasa "Dum vita est, spes est". Selama masih ada hidup, harapan itu ada. (sumber:kompas.com)

Ayah’s plus point:
Banyak wadah untuk orang menunjukkan rasa cinta. Lagu, puisi, tulisan, bunga, ucapan, doa, tindakan, dll. Cinta membuat sesuatu yang biasa jadi luar biasa. Sesuatu yang hitam tidak terlihat kelam. Sesuatu yang pahit tetap dapat tertelan. Termasuk cinta kepada bangsa dan negara. Cinta jugalah yang menerbitkan harapan: Indonesia akan bangkit. Semoga.

Saturday, January 20, 2007

Catatan Harian

Day - 71

Sabtu, 20 Januari 2007 -- Pagi ada pertemuan orang tua murid di sekolah Kezia. Dewi yang pergi. Saya harus siapin untuk acara kebaktian syukur nanti malam. Siang bareng beberapa teman lunch di West Mall dengan Pak Roger dan Bu Suzanne Doriot. Suami istri misionaris asal Amerika. Mereka tinggal di pedalaman Papua sejak tahun 1975. Ketika anak pertama mereka masih berumur 22 bulan, dan yang kedua 6 bulan. Selanjutnya tiga anak mereka yang lain lahir di Papua. Pak Roger pernah 10 kali terkena malaria. Maklum Papua kan adalah daerah endemi malaria di Indonesia.

Mereka di Singapore transit. Dari Amerika. Lusa ke Jakarta. Disambung ke Surabaya. Terus ke Papua. Tadi sore mereka pimpin Persekutuan Pemuda di GPBB. Besok presentasi di kebaktian umum. Fokus pelayanan mereka penterjemahan Alkitab ke dalam bahasa ibu. Konon di seluruh dunia ada 7000-an bahasa. 270 diantaranya ada di Papua. Sampai saat ini Alkitab dan beberapa bagiannya sudah diterjemahkan ke dalam 30 bahasa di Papua.

Tadi Pak Roger ngasih kesaksian. Tiga tahap yang membawanya ke pelayanan yang sekarang. Pertama, ia mutusin untuk nyerahin hidupnya kepada Tuhan. Intinya ia mau melakukan apa saja untuk Tuhan. Kedua, setelah ada komitmen itu, lalu aktif mencari apa yang bisa diperbuat. Sampai akhirnya ia merasa Tuhan menunjukkan ke Papua. Ketiga, karena yakin itu kehendak Tuhan, ia pun lantas mau menjalaninya. Dengan iman, Tuhan pasti menolong.

Yang "menakutkan" katanya, waktu mikirin sebelum berangkatnya. Nanti gimana kalau begini dan begitu. Tapi setelah ngejalani ternyata bisa. Apa yang dikuatirkan ga terjadi. Tuhan selalu punya cara untuk menolong dan memperlengkapi. Jadi kalau kita yakin sesuatu itu panggilan Tuhan, just do it. Saya setuju. Dan dalam situasi demikian dukungan keluarga istri atau suami dan anak-anak sangat penting. Ibarat minyak bagi suluh jiwa. Salut saya buat Pak Roger dan Bu Suzanne Doriot.

Renungan Sabtu - 32


Takjub

Anak-anak memiliki kepekaan yang hebat untuk takjub. Bahkan kertas koran yang dilipat, kulit jeruk yang dipotong-potong, plastik yang ditiup, burung yang meloncat dari dahan ke dahan, ikan di kolam, embun pagi hari di rerumputan, ulat kecil yang merayap di dedaunan, bunga-bunga liar di pinggir jalan, semut yang berjalan beriringan, dan banyak lagi; semua itu cukup untuk membuatnya tesenyum lebar, tertawa gembira, dan melompat-lompat girang.

Kita, orang dewasa, sadar atau tidak, kerap sudah terbelenggu dengan rutinisme. Kepekaan kita akan keindahan dan keluarbiasaan alam sekitar menjadi tumpul. Kita sulit untuk takjub. Segala hal dipandang dan dirasa sebagai biasa-biasa saja. Sehingga setiap waktu berlalu tanpa kesan. Setiap kejadian datang dan pergi tanpa makna. Dan kita pun sulit sekali untuk bersyukur.

Andai sejenak saja kita mau keluar dari “kamar” rutinisme kita, dan belajar menjadi seperti anak-anak dalam menyikapi hidup. Ah, sesungguhnya betapa menakjubkannya hidup dengan segala pernak-perniknya ini. Bahwa kita masih dapat bernapas, bercanda, tertawa, bekerja, makan, minum, melayani dan berbuat baik kepada sesama, berelasi dengan orang-orang lain, melihat, mendengar, dan banyak lagi. Tidakkah itu sungguh menakjubkan?

Hidup ini akan terasa sangat berbeda kalau setiap saat yang berlalu dan setiap keadaan yang kita alami, kita sikapi dengan rasa takjub. Sungguh.

Dari Buku Tragedi dan Komedi – Ayub Yahya, diterbitkan oleh Grasindo

Catatan Harian

Day - 72

Jumat, 19 Januari 2007 -- Di sini tuh di setiap bus stop suka ada poster berisi "artikel" atau pepatah bagus. Ditempel rapi. Kayak artikel ini. Judulnya: What Can You Do If You Only Have Six Months to Live? Lalu "sarannya" antara lain: yang pertama-tama harus Anda ingat, yaitu bahwa Anda belum mati. Saran yang simple tapi good point. Ada kan orang yang sudah merasa mati walau masih hidup ketika divonis sakit gawat.

Terus, beresin relasi yang retak dengan orang lain. Buang semua ganjalan. Lakukan kegiatan-kegiatan yang disukai; baca buku, menari cha-cha, atau apa saja. Nikmati kicau burung dari jendela rumah, pepohonan hijau yang sedap dilihat, bunga-bunga yang mekar. Habiskan waktu selama mungkin dengan orang-orang yang Anda cintai. Ada 50 buah saran. Saya ga nyatet semua. Panjang sih.

Tentang artikel itu, walaupun judulnya "What Can You Do If You Only Have Six Months to Live?" menurut saya itu bisa jadi semacam pegangan kita berapa lama lagi pun kita hidup. Toh memang akan ke sana juga. Maksudnya saran-saran itu bagus juga dipraktekkan sekarang gitu. Tanpa harus menunggu hidup kita tinggal enam bulan kan. Ada tuh kan pepatah, nikmatilah hidup seolah besok akan mati.

Siang ada rapat dengan teman-teman pendeta dan preacher dari konggregasi Inggris. Bicarain tentang acara thanks giving besok. Terus pulang dulu jemput Karen. Lalu ke gereja. Dewi ada acara Komisi Wanita. Malam ada acara Binaria. Periode kedua. Binaria tuh pembinaan untuk para pasangan yang sudah mau menikah maupun yang masih dalam proses pacaran. Pesertanya periode ini ada lima pasangan.

Friday, January 19, 2007

Friday's Joke - 29


Mukjizat

Seorang pengusaha restoran bermaksud merenovasi restorannya. Selama ini restorannya sepi pengunjung. Hanya Pendetanya yang pernah beberapa kali datang berkunjung atas undangannya. Maka ia memutuskan pergi ke Pendetanya meminta masukan, “Pak Pendeta, saya akan merenovasi restoran saya. Bisakah Bapak mengusulkan nama restorannya?” Pak Pendeta berpikir sejenak dan menjawab, “Bagaimana kalau namanya menjadi Restoran Mukjizat?” Si pengusaha berkomentar, “Nama yang bagus. Apa alasannya, Pak?” Pendeta menjawab, “Karena untuk mendapatkan makanan yang enak di restoran anda adalah merupakan sebuah mukjizat.”

Ayah’s quote :
Dalam hidup, modal semangat dan kegigihan saja tidak cukup. Dibutuhkan juga kepekaan untuk membaca “tanda-tanda jaman”.

Thursday, January 18, 2007

Catatan Harian

Day - 73

Kamis, 18 Januari 2007 -- Siang janjian ketemu teman dari Jakarta di Vivo City. Sempet ke Daiso sebentar. Daiso tuh toko retail dari Jepang. Di Jepang konon namanya Toko 100 Yen. Sesuai kebijakan toko itu menjual barang all items 100 yen. Kalau di sini 2 dolar. Mulai dari makanan sampai alat-alat kosmetik. Dari alat rumah tangga sampai stationery. Juga buku dan mainan anak-anak. Di Jakarta juga ada. Di Mall Artha Gading.

Dibanding yang di Artha Gading, Daiso sini jauh lebih luas. Barangnya lengkap. Bagus-bagus. Ditata rapi dan artistik. Citranya "luks". Walau semua barang harganya cuma 2 dolar. Untuk sekali makan saja di sini ga cukup :). Anehnya yang di Jakarta harga barangnya malah lebih mahal. Rp. 17.500,-. Kalau diperhatiin "gaya hidup mall" di Jakarta memang ga lebih murah loh dibanding di Singapore. Padahal rata-rata pendapatan masyarakat Indonesia jauh dibawah. Sad.

Bagi saya dari Toko Daiso ini yang menarik idenya. Koq bisa kepikiran ngejual barang segala jenis harganya sama. Dan untung. Kalau rugi kan ga mungkinlah buka cabang dimana-mana. Sampai di Inggris dan Amerika segala. Rasanya gereja bisa tuh ngambil ide ini. Bukan untuk bisnis. Tapi untuk pelayanan masyarakat. Misalnya jual nasi bungkus atau sembako. Setiap paket harganya sama. Tentunya yang murahlah. Jadi kita nolong tapi juga ga sekadar bagi-bagi kayak sinterklas.

Setahu saya GKJ Manahan Solo, selama 10 tahun terakhir secara rutin melakukan kegiatan seperti itu di saat bulan Ramadhan. Jual nasi bungkus Rp. 500 di halaman gereja. Yang beli masyakat kalangan "bawah" kayak tukang becak dan pemulung. Good. Cuma repotnya kalau yang beli itu orang "mampu". Dan celakanya, kemudian dijual di tempat lain dengan harga pasar. Celaka betul deh. Dari Vivo City terus ke gereja. Sampai malam. Ada acara persekutuan doa. Disambung rapat bidang pembinaan.

Thursday's Hot Issue - 17


Musibah



The Fact :
Memasuki tahun 2007, Indonesia sudah dibuka dengan musibah. Nggak tanggung-tanggung, musibah datang beruntun. Mulai tanggal 28 Desember kapal Tristar I tenggelam dan menewaskan 27 orang. Tanggal 31 Desember, musibah menimpa KMP Senopati Nusantara di perairan Mandalika Jepara, Jawa Tengah. Ratusan orang tewas dan hilang. Belum semua korban terevakuasi giliran Pesawat Adam Air dengan nomor penerbangan KI 574 jurusan Surabaya-Manado hilang di atas perairan Sulawesi Selatan. 102 orang belum jelas nasibnya. Masih orang sibuk dengan Adam Air, berita lain datang. Kereta Api Bengawan anjlok di Banyumas tanggal 15 Januari. 5 Orang tewas. Masih orang bingung dengan itu, kecelakaan beruntun terjadi di jalan tol Padalarang. 5 Orang tewas. Padahal lumpur di Porong Sidoarjo belum juga bisa teratasi. Begitu juga banjir dan tanah longsor di berbagai tempat. Air mata belum kering di sana. (dari berbagai sumber di internet)

The Lessons :
Mis-management? Mis-regulation? Ataukah karena sesuatu yang nggak terhindarkan? Apa pun itu, intinya musibah mengingatkan kita betapa rentan hidup ini. Tidak ada jaminnya bahwa kita tidak akan mengalamninya. Maka tidak ada lain.....mari hanya runduk sujud pada-Nya.

Catatan Harian

Day - 74

Rabu, 17 Januari 2007 -- Dapat kiriman naskah dari seorang teman penulis. "Thank You God for My Little Friends. Refleksi sederhana tentang susah-indahnya mengajar Sekolah Minggu". Mau diterbitkan. Saya diminta ngasih komen. Naskah yang menarik. Sederhana tapi ga dangkal. Keseharian tapi ga ngebosenin. Informatif tapi juga reflektif. Good. Saya kira itu bisa jadi "buku wajib" para guru sekolah minggu.

Di Indonesia buku sekolah minggu, seperti juga buku anak-anak umumnya, termasuk jarang. Kalau pun ada lebih banyak terjemahan. Rata-rata penerbit rasanya ga ada 5 persennya deh nerbitin buku anak-anak. Tapi ya ga sepenuhnya "salah" penerbit juga sih. Habis penulis buku anak-anak dan sekolah minggu juga jarang kan. Di sini buku anak-anak banyak. Bagus-bagus pula. Di setiap public library ada ruang khusus buat buku anak-anak.

Kalau mimpi saya punya penerbitan terwujud, saya akan bikin divisi khusus buku anak-anak. Saya akan rekrut beberapa penulis, editor, dan ilustrator tetap. Ada semacam litbangnya juga. Saya akan terbitin seri buku yang ditulis oleh anak-anak. Sejak kecil anak-anak perlu dimotivasi untuk menulis. Budaya baca kan terkait erat dengan budaya tulis. Setahu saya penerbit Mizan, Bandung, punya tuh seri buku cerita yang ditulis anak-anak usia 8-12 tahun.

Saya percaya banyak koq anak-anak seusia itu yang sudah bisa menulis buku. Cuma ga ada wadah. Ponakan saya di Papua usianya 10 tahun sudah bikin 4 buku cerita. sampai sekarang ia masih terus menulis walau belum ada penerbit yang bisa terbitin naskahnya. Malam latihan untuk Persekutuan Doa besok. Saya MC. Kalau untuk pimpin nyanyi persiapan saya mesti dua kali lebih keras dari kalau mau khotbah nih. Hehehe.

Tuesday, January 16, 2007

Catatan Harian

Day - 75

Selasa, 16 Januari 2007 -- Musibah lagi. Kereta Api anjlok di Banyumas, Jawa Tengah. Lalu tabrakan beruntun 5 mobil di tol Cipularang. Seorang teman mengirimkan SMS: "Di laut kita tenggelam. Di udara kita jatuh. Di darat kita sekarat. Lengkap sudah." Poor, Indonesia. Banyak musibah yang terjadi karena faktor alam. Sesuatu yang ga bisa kita elakkan. Tapi di Indonesia lebih banyak lagi musibah karena faktor manusia. Mis-management. Mis-regulation.

Siang janjian ketemu teman dari Jakarta di Centre Point Orchad. Ia ke sini lagi ada urusan kantor. Dapat oleh-oleh mangga Arum Manis dan kepiting saos padang 212, Kelapa Gading :). Sippp. Kisah sukses Sea food 212 mirip tuh dengan kisah di Restoran Tan Chin Lee di daerah Tuas. Awalnya di pingir jalan. Pakai gerobak dorong. Terus berkembang menjadi restoran besar. Kalau hari Sabtu dan Minggu jam makan, wuihh ngantri, Mann!

Saya kerap mendengar dan membaca cerita sukses pemilik restoran. Awalnya buka warung kecil-kecilan atau gerobak dorong. Terus laris. Lalu jadi restoran besar. Ga kalah sama restoran franchise luar negeri. Kayak Soto Bangkong Semarang, Bakso Lapangan Tembak Senayan, Es Teller 77, Brownies Amanda Bandung, Bakmi Gajah Mada, Ayam Goreng Suharti. Dan banyak lagi. Konon rumus sukses itu begini: Gigih, ulet, ga mudah menyerah, terus belajar, jujur, dapat dipercaya, plus sedikit keberuntungan.

Saya selalu kagum dengan orang-orang sukses yang mulai dari bawah. Betul-betul merangkak dari nol. Jatuh bangun. Berdiri jongkok. Kalau sudah sukses memang ngelihatnya tuh "enak" gitu. Tapi perjuangan ke arah sana tentu juga ga kecil. Bukan hanya kucuran keringat, bahkan mungkin juga linangan airmata. Bravo. Bravo. Malam ada rapat di GPO. Pulang rumah jam 11-an. Bareng teman.

Tuesday's Song - 33

The Prayer
Josh Groban Feat. Charlotte Church



I pray you'll be our eyes, And watch us where we go
And help us to be wise, In times when we don't know
Let this be our prayer, As we go our way
Lead us to a place, Guide us with your Grace
To a place where we'll be safe

La luce che tu dai, I pray we'll find your light
Nel cuore restera, And hold it in our hearts
A ricordarci che, When stars go out each night
L'eterna stella sei, Nella mia preghiera

Let this be our prayer, Quanta fede c'e
When shadows fill our day, Lead us to a place
Guide us with your grace, Give us faith so we'll be safe.
Sogniamo un mondo senza piu violenza, Un mondo di giustizia e di speranza

Ognuno dia la mano al suo vicino, Simbolo di pace e di fraternita
La forza che ci dai, We ask that life be kind
E'il desiderio che, And watch us from above
Ognuno trovi amore, We hope each soul will find
Intorno e dentro a se, Another soul to love

Let this be our prayer
Let this be our prayer
Just like every child
Just like every child

Needs to find a place,
Guide us with your grace
Give us faith so we'll be safe
E la fede che
Hai acceso in noi
Sento che ci salvera

Renungan :
Doa bukan sekadar sarana untuk meminta. Lebih-lebih doa bukan alat untuk memaksakan kehendak kita kepada Tuhan. Bukan. Doa adalah sebentuk pengakuan akan kemahakuasaan Tuhan. Doa adalah sebentuk penyerahan diri terhadap kasih dan setia Tuhan. Doa adalah tempat untuk kita melabuhkan hati. Berdiam di hadapan Tuhan. Tidak saja berbicara. Tapi juga mendengar.

Monday, January 15, 2007

Catatan Harian

Day 76

Senin, 15 Januari 2007 -- Baca di detik.com. Prihatin. Prihatin. Rumah Sakit Persahabatan di Rawamangun, Jakarta, tidak bisa menampung pasien flu burung. Pesawat Adam Air yang hilang belum juga ditemukan. Lagi bencana alam. Kali ini di Sangihe, Sulawesi Utara. Tanah longsor. Dan yang lebih bikin hati ngenes. Demo mencabut mandat SBY-JK di Bundaran Hotel Indonesia bertepatan dengan peringatan peristiwa Malari.

Lagi begitu banyak masalah di negeri ini sempet-sempetnya demo. Kan lebih baik tuh biaya demo dipakai buat ngebantu orang-orang yang lagi susah. Lebih produktif. Lagian siapa yang ngasih mereka mandat untuk mencabut mandat SBY-JK? Alasan mereka, SBY-JK selama dua tahun masa pemerintahan ga bawa perubahan. Kwakk! Siapa pula yang bisa bikin perubahan drastis dalam waktu sesingkat itu di negeri seterpuruk Indonesia? Kecuali "Jin Aladin". Politik di Indonesia memang suka "lucu" gitu loh. Hiks. Opss, saya bukan pendukung SBY-JK.

Siang setelah Kezia dan Karen sekolah, berdua Dewi nengok teman di Thompson Medical Centre. Ia habis operasi hari Jumat lalu. Katanya, penyakitnya ternyata lebih parah dari yang diduga. Untung segera diambil tindakan. Selama ini ia terus ngehindar untuk operasi. Karena takut kalau ada apa-apa. Saya kagum dengan suaminya. Ia telaten sekali jagain dan urusin segala keperluan istrinya yang sakit. Dalam keadaan sakit begitu, dukungan dari orang-orang terdekat bisa jadi "obat" tersendiri.

Malam diajak teman sekeluarga makan sea food di restoran Tan Chin Lee di Tuas. Sekitar 5 menit dari perbatasan Malaysia. Good taste. Ikan dan udangnya seger-seger. Kepiting lada hitamnya juga oke. Ini sea food terenak yang pernah saya makan selama di sini. Konon dulunya itu warung di pinggir jalan. Lalu sukses. Jadi restoran besar. Saya lihat klipingan koran tentang restoran itu "tempo dulu". Di tempel di dekat pintu masuk.

I Like Monday - 17


Inspiring Singapore
Inovative, Inovative, and Inovative


Kemampuan berinovasi merupakan salah satu syarat untuk eksis di kancah persaingan global. Pendidikan bangku sekolah tidak lagi memadai. Pendidikan harus memiliki kemampuan untuk berinvestasi pada bidang riset dan pengembangan (R&D). Selain itu harus juga mampu menjalin kerjasama strategis dengan para mitra. Dalam hal ini para perusahaan yang nantinya akan menjadi "pengguna" lulusannya. Beberapa politeknik di Singapore mulai melakukan langkah-langkah terobosan. Mereka melakukan penekanan pada R&D yang aplikatif. Mulai dari ice cream Omega 3, sampai pada produk pertanian kultur jaringan. Dari pembuatan simulasi training militer sampai simulasi untuk penanganan anak-anak autis. Semua itu dikerjakan oleh para mahasiswa di berbagai Politeknik yang tersebar di Singapore. Tujuannya adalah membuat karya yang aplikatif. Terpakai di masyarakat. Dan terutama semua itu didukung oleh perusahaan-perusahaan di Singapore untuk menyerap ide-ide brilyan para pelajar tersebut. * Berkarya dan berjuang keras demi mencapai "prestasi" tertentu itu baik. Good. Tapi kalau semata-mata untuk memenuhi cita-cita kita, maka ga cukup. Jauh lebih penting, bagaimana supaya "karya" atau "prestasi" yang kita hasilkan itu bisa dinikmati orang lain. Berdaya guna. Berhasil guna. Menjadi berkat bagi orang lain.

*Taken from Channel News Asia/YahooSingapore

Sunday, January 14, 2007

Catatan Harian

Day 77

Minggu, 14 Januari 2007 -- Beberapa hari belakangan cuaca Singapore sejuk. Tidur ga perlu pakai AC. Saya suka tempat sejuk. Paling asyik ngerasain hembusan angin sejuk. Rasanya tentrem gitu. Dulu Bandung sejuk. Yogyakarta juga kalau pagi sejuk. Tapi sekarang lebih banyak panasnya. Kecuali di daerah tertentu kayak Lembang dan Kaliurang. Di Jakarta udara sejuk adalah kemewahan. Boleh dikata ga ada saat-saatnya cuaca sejuk. Konon cuaca di suatu daerah bisa menunjukkan karakter masyarakatnya loh.

Minggu lalu dapat kiriman buku "Sehat Itu Murah", dari penulisnya sendiri Dr. Handrawan Nadesul. Penerbit Buku Kompas. Di buku ini dikemukakan, bahwa olah raga ga serta merta bikin kita sehat. Tergantung porsinya. Banyak kasus olahragawan yang cidera panjang, bahkan kena serangan jantung. Dan bahwa jalan tanpa alas kaki di atas kerikil menurut kedokteran ga baik bagi kesehatan. Berarti selama ini salah kaprah. Banyak kan tempat yang sengaja dipakein batu kerikil untuk jalan-jalan.

Intinya, bahwa hidup sehat itu pilihan. Dan ga harus mahal. Kuncinya pada kedispilinan; baik berkenaan dengan gaya hidup, maupun pola makan. Bagi kalangan tertentu mungkin saja ini pengetahuan "umum". Tapi Pak Handrawan bisa menyajikannya dengan cara yang sederhana dan menarik. Sangat interesan. Good. Saya pikir buku ini wajib dibaca setiap orang yang pengen hidup sehat. Saya kenal seorang teman, sekarang sudah meninggal karena sakit, satu hal yang ia sangat sesali adalah kurangnya ia menjaga kesehatan.

Siang saya bawakan renungan di acara pertemuan orang tua anak sekolah minggu. Ini acara kenaikan kelas. Ada semacam inagurasi buat anak-anak yang masuk ke remaja. Pakai toga segala tuh. Kreatif. Sorenya ada rapat majelis di Orchard. Sampai malam. Pulangnya dengan beberapa teman anggota majelis mampir makan di Bukit Timah. Buat saya acara keluar makan bareng begini yang penting bukan makannya, tapi kebersamaannya.

Sunny Sunday - 14


Indonesia Plus
Penemuan


Setiap malam hari, seorang nelayan berusia 45 tahun meninggalkan rumahnya. Ia pergi untuk menengok jaringnya yang direntangkan dengan bantuan belle (kaleng). Sudah 10 tahun ia menggeluti pekerjaannya. Baru enam bulan terakhir ia beralih menjadi perentang jala. Berharap ikan tersangkut dijaringnya tanpa perlu pergi melaut. Penghasilannya tidak menentu. Ia membawa pulang Rp. 20.000 sampai Rp. 30.000 per hari. Atau sekedar ikan untuk dimakan bersama keluarganya. Hidupnya berubah ketika pada Selasa, 9 Januari 2007 yang lalu, pada pukul 03.00 subuh, saat ia melihat jaringnya. Ia memang tidak menemukan ikan. Tapi ia menemukan sebuah benda asing. Yang bikin tambah istimewa adalah karena ternyata benda itu adalah benda paling dicari. Tidak kurang dari sebuah kapal berperalatan canggih dari Amerika, USS Mary Sears, pesawat Kanada King Air-200, pesawat Foker 50 milik Singapura, serta armada TNI AL mengubek-ubek Laut dan darat mencari petunjuk. Tapi, justru seorang nelayan dari Kabupaten Barru bernama Bakri-lah yang menemukan benda yang terakhir diketahui adalah tail horizontal stabilizer. Milik Adam Air KI 574 yang hilang dalam perjalanan Surabaya-Manado. Untuk “jasanya” tersebut, Bakri menerima 50 juta dari Wapres Jusuf Kalla, 2,5 juta dari Adam Air, dan 1 juta dari Kapolwil Pare-Pare. Bakri kini bersiap membeli perahu baru. (ditulis ulang dari berbagai berita di Media Indonesia Online)

Ayah’s Plus Point :
Kalau sesuatu itu memang bagian kita, akan kita peroleh. Sebaliknya jika sesuatu itu bukan bagian kita, maka sekeras apapun kita berusaha, tidak akan kita dapatkan. Tugas kita lakukan bagian kita sebaik-baiknya, selebihnya serahkan kepada Tuhan.

Saturday, January 13, 2007

Catatan Harian

Day - 78

Sabtu, 13 Januari 2007 -- Pagi "kongkow" dengan beberapa teman seksi acara panitia Paskah. Bicarain "naskah" drama musikal. Mau ngangkat cerita Hosea dan Gomer. Tema yang ga biasa. Sesekali memang perlu eksplor sesuatu yang baru. Jadi ga itu-itu melulu kan. Di GPBB banyak yang punya talenta besar. Terutama dalam hal musik. Good. Dari situ terus ikut rapat tahunan English Presbitery di daerah Quenstown. Kayak klasisnyalah gitu. Kita datang sebagai observer.

Salah satu isu yang sempat dibahas adalah tentang penahbisan pendeta wanita. Secara resmi Gereja Presbyterian Singapore ga melarang wanita menjadi pendeta. Beda dengan Gereja Presbyterian di Australia. Tapi dalam praktek rupanya ada "pro" dan "kontra". Masing-masing punya alasannya. Yang ga setuju merujuk ke surat Rasul Paulus, yang bilang wanita hendaknya jangan menjadi pemimpin atas laki-laki.

Saya pribadi sih oke-oke saja wanita menjadi pendeta. Ga masalah. Ucapan Rasul Paulus itu harus dipahami dalam konteks budaya saat itu. Budaya patriakhi. Pula kalau pola pikirnya begitu. Artinya mau ngikutin “plek-plek” sesuai yang tertera di Alkitab. Maka harus konsisten juga dengan ayat lain. Misalnya, wanita ga boleh bicara di acara pertemuan jemaat, harus pakai tudung kepala, dsb.

Buat saya yang penting bukan soal gendernya. Wanita atau laki-laki. Yang menentukan tuh panggilan dan talentanya. Dalam kenyataan banyak kan wanita yang juga mampu. Bahkan dalam beberapa "kasus", wanita malah lebih mampu dari laki-laki. Saya ga ikut rapat sampai selesai. Sore "cabut". Terus ke Family Fellowship di daerah Bukit Gombak. Dewi, Kezia, Karen ikut juga. Sekalian acara kebersamaan keluarga. Pulang jam 10.30-an. Naik MRT.

Renungan Sabtu - 31


Generasi Milenium

Kita adalah generasi milenium; generasi saksi mata pergantian sebuah milenium baru. Itu berarti, baru akan ada lagi 1000 tahun yang akan datang. Luar biasa? sebenarnya tidak juga. Sebab milenium baru atau bukan itu hanya soal penanggalan (kalender). Di dunia ini ada banyak sekali penanggalan; kalender Yahudi, kalender Persia, kalender Jawa, kalender Hindu, kalender Cina. Setiap kalender memiliki perhitungan sendiri. Pada kalender Yahudi, misalnya, sekarang menunjukkan tahun 5762; lalu kalender Jawa tahun 1933, dan kalender Cina tahun 2551.

Tahun 2001 seperti yang kita kenal sekarang adalah penanggalan barat (tahun masehi). Kalender ini adalah karya Paus Gregorius XIII tahun 1508 (karena itu sering juga disebut Kalender Gregorius), perhitungannya dimulai dari kelahiran Tuhan Yesus. Ide tentang “milenium” itu sendiri (millennium dari bahasa Latin, mille artinya seribu, dan annus artinya tahun) berasal dari Alkitab. Dalam kitab Wahyu istilah “milenium” dipakai berkenaan dengan penglihatan Yohanes di Pulau Patmos mengenai Kerajaan Kristus seribu tahun menjelang akhir zaman.

Gerangan apa yang kita rasakan? Barangkali campur aduk; antara lega dan gundah. Lega, karena akhirnya toh kita sampai juga di sini saat ini. Gundah karena di belakang kita mengiringi tahun-tahun lelah penuh darah; kekerasan, anarkhi, bencana alam, dan yang paling akhir teror bom di malam Natal. Ibarat lukisan yang carut-marutnya dengan noda. Akankah di masa depan keadaan tidak berubah? Tidak ada seorang pun yang bisa memberi jawab pasti. Menduga barangkali iya. Tetapi daripada menduga-duga, apa tidak sebaiknya kita jalani saja hidup ini seperti biasa; lakukan yang terbaik, selebihnya kita serahkan kepada Tuhan. Tugas kita mengerjakan tugas kita sebaik-baiknya, hasilnya itu urusan Tuhan.

Cukup sampai di situ? Belum. Masih ada lagi. Sama seperti yang dikatakan oleh Rasul Paulus, melupakan apa yang di belakang dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapan. Segala nyeri dan pedih mari kita tinggalkan dan tanggalkan di belakang. Tidak mudah memang, tetapi itulah yang harus kita lakukan. Sebab kehidupan tidak surut ke belakang Kita arahkan diri ke depan, kepada kehidupan yang akan kita jalani; kepada kertas kehidupan baru yang siap kita lukisi dengan gambar baru pula. Selamat memasuki tahun baru, abad baru, milenium baru; dengan semangat baru, harapan baru, dan hidup baru.

Dari Buku Potret Diri Tanpa Bingkai – Ayub Yahya, diterbitkan oleh Gloria

Catatan Harian

Day 79

Jumat, 12 Januari 2007 -- Ampun deh. Dari kemarin hujan ga berhenti-berhenti. Pagi tadi malah agak deras. Saya sudah rencana jam 8 mau nengok teman. Ia mau operasi di Thompson Medical Centre. Nyari taxi susah banget. Ga dapat-dapat. Sudah call. Semua taxi pending. Harus ngantri. Dapat urutan 21. Saya tungguin. Telepon bolak-balik. Eh, begitu sampe urutan 1 dibilang taxi not available. Tobat-tobat.

Saya coba nunggu di bus stop. Kali saja ada taxi yang ngedrop penumpang. Tapi sama juga ga ada. Malah kehujanan pula. Kalau pas jam kantor di tambah hujan begini nyari taxi memang susah. Baru jam 9.30-an dapat taxi. Jam 10-an sampai di Thompson Medical Centre. Kita masih sempet berdoa dan baca Alkitab sebelum masuk kamar operasi. Terus nengok anaknya teman yang juga lagi diopname di sana. Beda lantai. Dari sana langsung pulang. Dewi ada acara Komisi Wanita. Jadi saya mesti nungguin Kezia dan Karen pulang sekolah.

Malam ikut Family Felowship di daerah Bukit Batok. Topik yang dibahas tadi tentang makan. Makan tuh ga melulu soal perut loh. Terkait aspek sosial dan spiritual. Sosial, sebagai sarana menjalin relasi, dengan keluarga atau pun teman. Spiritual, mengingatkan kita akan kasih dan pemeliharaan Tuhan. Juga sebagai latihan rohani "menyangkal diri". Ada pepatah: makan sebelum kelaparan, berhenti sebelum kekenyangan. Sangat simple. Tapi mempraktekkannya ga gampang kan :).

Berangkat bareng teman. Ketemu di gereja. Sempet nyasar. Nyari-nyari bloknya ga ketemu. Kwakk. Padahal sudah sampai di kompleks apartemennya. Mana gerimis. Sudah sampai di alamat yang dituju, eh ternyata pakai salah alamat pula. Telepon-telepon deh. Alhasil nyampe jam 8.30 lebih. Telat. Terus pulangnya, eh nyasar lagi. Gantian nyari-nyari dimana tadi markir mobil. Muter-muter ga ketemu. Naik turun tangga. Ada kali 20 menit. Tapi kali ini nyasarnya ada teman gitulah. Hehehe.

Friday, January 12, 2007

Friday's Joke -28


Bertemu Tuhan

Pada suatu malam seorang pria bermimpi bertemu dengan Tuhan. Dalam mimpinya itu terjadi percakapan berikut:
Pria : "Tuhan, benarkah bagi-Mu uang satu milyar sama dengan sepeser?"
Tuhan : "Ya, Benar!"
Pria : "Dan benarkah bagi-Mu seribu tahun sama dengan sedetik?"
Tuhan : "Ya, Benar!"
Pria : "Kalau begitu, berilah aku sepeser uang."
Tuhan : "Tunggulah sedetik lagi!"

Ayah’s quote :
Kerap kita jadikan doa sebagai alat untuk memaksakan kehendak kita kepada Tuhan. Sebagai mantra. Yang harus terjawab sesuai keinginan kita. Pada waktu yang kita tetapkan.

Thursday, January 11, 2007

Catatan Harian

Day - 80


Kamis, 11 Januari 2007 - Ga kerasa. Udah hari ke 80 dari hitungan mundur 365 saya menulis catatan harian ini tanpa putus. Semoga bisa sampai setahun penuh. Buat Saya ini adalah rekor pribadi. Dulu waktu kuliah di Jogja saya juga biasa nulis catatan harian. Tapi bolong-bolong. Ga tiap hari nulis. Ada malah yang sampai sebulan lebih ga nulis. Waktu sudah terjun di jemaat pun saya juga suka menulis catatan harian. Cuma ya ga rutin gitu. Bukunya masih ada tuh sampai sekarang.

Catatan harian di blog ini full tiap hari. Ga bolong. Ga putus. Dihitung-hitung dari hari pertama sampai sekarang sudah lebih dari 250 hari saya nulis. Dimana pun saya berada, kemana pun saya pergi. Catatan harian tuh penting. Semacam “jejak” kita kan. Potret kita di masa lalu. Bisa jadi bahan introspeksi. Kita membacanya lagi bisa sambil tersenyum, terbahak, tercenung. Atau bahkan tertohok. Lalu dan merasa "malu" sendiri :).

Sebenarnya saya paling sulit berdisipilin. Saya ini ga telaten. Ga tekun. Sulit mempertahankan semangat untuk waktu yang panjang. Tapi dispilin memang harus dilatih. Kuncinya jangan ngikutin kemalasan. Tetapkan tujuan yang mau dicapai. Pegang itu sepenuh jiwa. Penting juga dukungan orang-orang yang dekat. Bisa jadi motivator. Semacam "minyak" ketika api semangat mulai kelap-kelip. Semoga saya bisa terus nulis catatan harian ini.

Saya bermimpi suatu saat catatan harian ini diterbitkan. Formatnya diubah sedikit. Dibikin jadi kayak buku renungan setahun. Ringan. Natural. Keseharian. Pesannya ga melulu reflektif, tapi juga informatif. Kegiatan personal saya hanya frame. Mudah-mudahan mimpi ini bisa terwujud. Semoga :). Sore ada teman yang datang ke rumah. Bantu ngajarin saya dan Dewi bahasa Inggris. Ia tahu kesulitan kita berbahasa di sini. Saya bersyukur banget karena dalam hidup saya selalu dikelilingi orang-orang baik. Semoga saya juga bisa menebar kebaikan bagi orang lain. Karena saya sungguh merasakan betapa "besarnya" arti sebuah kebaikan.

Thursday Hot Issue - 16


Hilang



The Fact :
Musibah awal tahun. 1 Januari 2007. Pesawat Adam Air dengan nomor penerbangan KI 754 dilaporkan hilang saat penerbangan dari Surabaya ke Manado. Pesawat tersebut kehilangan kontak dengan menara pengawas di Makassar saat pesawat tersebut melintas di atas kota Rantepao, Tanah Toraja, Sulsel. Pesawat ini mengangkut 85 orang penumpang dewasa, tujuh anak dan empat bayi dan hingga saat ini belum jelas keberdaaannya. Keesokan harinya, 2 Januari 2007, beredar berita penemuan lokasi jatuhnya pesawat. Lengkap dengan kabar ada 12 penumpang yang selamat. Pembawa berita adalah seorang warga Desa Raongan, Kecamatan Matangnga, Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat (Sulbar) yang melapor kepada Kepala Desa Raongan, Idrus, mengenai adanya pesawat jatuh. Idrus melapor ke Kapolsek tanpa mengeceknya. Selanjutnya laporan itu disampaikan ke Kapolres Polman dan diteruskan ke Bupati Polman Ali Baal, Kapolda Sulsel Irjen Pol Aryanto Boedihardjo, dan Gubernur Sulbar Anwar Adnan Saleh. Kemudian Gubernur dan Bupati menyampaikannya ke Badan SAR Nasional (Basarnas), dan menjelaskan ke berbagai media massa. Menteri Perhubungan Hatta Rajasa menerima informasi yang sama, lalu menjelaskannya kepada wartawan. Semua persiapan dilakukan. Tim Sar menuju ke lokasi. Malam harinya, berita terheboh disampaikan. Penemuan itu hanyalah berita itu bohong belaka. (Sumber : Antara & Suara Pembaruan)

The Lessons:
Kalau Anda mendengar kabar tentang suatu kejadian atau tentang seseorang, cek dan ricek dululah sebelum Anda menyebarkannya. Bisa berakibat fatal bagi orang lain.