Friday, September 22, 2006

Catatan Harian

Day - 192

Kamis, 21 September 2006 -- Hari ini kalau ngikutin paspor, saya ultah. Di akte lahir emang 21 September. Tapi kalau ngikutin ijazah sekolah, kartu keluarga, dan KTP, ultah saya tuh besok. Selama ini orang-orang, termasuk keluarga, kalau nyelametin ultah 22 September. Jadi saya tahunya ultah 22 september. Tapi waktu dulu ngelamar Dewi, mama bilang yang benar emang 21 September. Sejak itu Dewi nyelamatin ultah saya 21 September. Dan kalau orang tanya ke ia jawabnya 21 September. Tapi saya pernah tanya Papa, mana yang betul. Papa bilang, 22 september. Bingung. Jadi sudahlah, mana-mana saja saya terima :).

Teman-teman di indonesia tahunya saya ultah 22 september. Di sini kan yang dipakai paspor jadi banyak yang taunya 21 September. Jadi tadi pada ngasih selamat ulang tahun. Bahkan sorenya tanpa diduga dirayain jemaat. Duh. Jadi teharu. Thx, rekans. Dalam suasana akrab begini, saya jadi teringat teman-teman di wilayah-wilayah GKI Kayu Putih. Wilayah Kebaikan, Pengampunan, Ketulusan, Berdoa, dsb. Seperti itulah akrabnya.

Dulu saya pernah bikin tulisan tentang ulang tahun. Berangkat dari rasa heran saya. Koq ya ulang tahun pakai dirayain dan diselamatin? Kan itu peristiwa biasa. Alami gitulah. Bukan prestasi. Tapi tradisi merayakan ultah tuh rupanya udah tua. Firaun di Mesir dikatakan pernah merayakan ultah. Di perjanjian baru, Herodes juga merayakan ultahnya.

Hari ini kegiatan rutin. Siang ada tamu teman pendeta dari Jakarta. Ia pengen tahu tentang GPBB. Sebenarnya saya pun belum begitu tahu sampai detil. Saya masih tanya-tanya juga. Maklum belum tiga bulan:). Kalau info-info umum, masih bisalah ngejelasin. Sore ngajar katekisasi. Lalu ikut mezbah doa. Sekalian kita juga berdoa buat Tibo dan kawan-kawan. Di tengah pro dan kontra tentang kasus ini, kiranya keadilan terjadi. Kita ga tahu kejadian yang sebenarnya. Sejauh-jauhnya pengetahuan kita hanya berupa dugaan. Tapi atas dasar apa pun, hukuman mati bukanlah jalan terbaik. Apalagi terhadap orang yang jelas-jelas sudah "bertobat". Bukan penyelesaian yang bijak. Saya pribadi menolak hukuman mati.

Thursday, September 21, 2006

Thursday Hot Issue - 04


"Slip of the Tongue"


The Fact :
12 September 2006 yang lalu. Paus Benedictus XIV berpidato di Universitas Regensburg, Jerman. Dalam pidatonya, Paus mengutip kalimat Manuel II, Raja Kristen Ortodoks pada abad ke-14 dari Bizantium (sekarang Istambul, Turki). Pidato yang kemudian memancing aliran protes dan kecaman dari kaum muslim di berbagai penjuru dunia. Paus secara resmi sudah meminta maaf. Kutipan itu bukan pandangan pribadinya. Hanya mengutip. Peristiwa lain terjadi dua pekan lalu, di Jakarta Indonesia. Duo penyanyi yang sedang naik daun, Ratu "kepeleset lidah". Manggung dalam sebuah acara yang sarat protokoler kenegaraan, mereka salah menyebut nama Presiden SBY yang hadir. Bahkan juga menyambut kedatangan Gus Dur dengan "selamat datang, saudara Gus Dur". Dan menyapa "Bapak Sutiyoso mungkin juga dengan istrinya". Ratu terpaksa turun panggung usai lagu ketiga dari enam lagu yang sudah dipersiapkan semula. Ratu juga sudah minta maaf. Mereka hanya khilaf. (Sumber : kompilasi berita di Kompas, Tempo, internet)
The Lessons :
Komunikasi adalah "ilmu" setua umur manusia. Tapi nggak ada orang yang 100% ahli dalam berkomunikasi. Begitu banyak "noisy" dalam komunikasi antar manusia. Pendidikan, pengalaman, persepsi orang sangat mempengaruhi diterimanya makna sebuah pesan. Dalam komunikasi sering terjadi "slip of the tongue". Tapi kadang yang terjadi adalah "slip of the ear", alias mispersepsi. Maka, bijak-bijaklah berbicara. Sebijak kita mendengar. Kebijakan itu akan terpancar dalam tindakan kita menanggapi hal itu.

Wednesday, September 20, 2006

Catatan Harian

Day - 193

Rabu, 20 September 2006 -- Singapore ini bener-bener deh. Panas terik. Eh, tiba-tiba hujan. Lumayan deras lagi. Sebentar. Terus panas lagi. Mungkin ini karakterisitik negara pulau. Bicara soal hujan, ga ada yang ngalahin Bogor. Di buku Guinness book of Record Bogor –dengan nama Buitenzorg- tercatat sebagai kota yang tersering turun hujan. Konon dalam setahun pernah turun hujan 364 kali hari hujan. Jadi hampir ga ada hari tanpa hujan. Ingat Bogor, inget Ngohiang Gang Aut, Asinan, Soto Mie, Toge goreng. Duh.

Kegiatan hari ini biasa saja. Siang bersama teman pemuda, ke kantor Fellowship of Evangelical Student (FES) di daerah Upper Bukit Timah. Perkantasnya sini. Ga jauh dari rumah. Nemuin seorang nara sumber yang akan pimpin sebuah pembinaan di GPBB. Kita Ngobrolin tentang arah dan tujuan pembinaan. Sore ada rapat bidang pembinaan. Dan malam ada percakapan majelis jemaat dengan calon mempelai.

Tadi sore sempet makan bareng dengan teman. Seperti biasa sambil ngobrol tentang banyak hal. Salah satu topik pembicaraan adalah tentang kearakabran pendeta dengan jemaatnya. Kedekatan itu perlu. tapi hati-hati jangan sampai menjadi "personal". Dalam arti "terlalu" dekat. Segala sesuatu yang terlalu, biasanya tidak baik. Sebab konon, kawan "terbaik" kadang bisa menjadi "musuh" terburuk. Pengalaman menunjukkan orang-orang yang sangat dekat, bila kemudian jadi "berseberangan", entah karena keinginannya ga terpenuhi atau apa, bisa jadi batu kerikil paling tajam. Maka lebih baik, kedekatan biasa-biasa sajalah.

Saya sedang mempersiapkan buku tentang sepakbola. Sudah ada 20 judul tulisan. Isinya singkat, reflektif dan informatif. Dari sepakbola ternyata kita bisa menarik pelajaran begitu banyak tentang bagaimana "hidup lebih baik". Sangat interesan sebetulnya. Saya sempet SMS-an dengan seorang teman di Jakarta. Bicarain kemungkinan tulisan saya tentang sepakbola dimuat secara rutin di sebuah tabloid di Jakarta. Terus imel-imelan dengan redaktur pelaksananya. Masih lagi “menyamakan visi”. Tapi kalopun nggak, saya berharap tulisan-tulisan itu tetap bisa dibukukan.

Wednesday's Games Idea - 16


Very Good!


Jumlah peserta : 15 - 30 orang
Waktu yang dibutuhkan : 5 - 15 menit
Aturan permainan :
Minta semua peserta duduk dalam satu baris melingkar. Jelaskan permainannya. Pemimpin mengawali dengan berkata, “Very good, very good ……..!” sebut nama salah seorang peserta yang hadir. Peserta yang disebut namanya harus menepuk pelan pundak peserta yang duduk di sebelah kirinya. Peserta yang ditepuk harus diam saja, tidak boleh bereaksi. Peserta yang duduk di sebelah kirinya lagi yang harus berteriak, “Aww….!” dan berkata, “Very good, very good…..!” sebutkan nama peserta lainnya lagi. Jadi, peserta pertama menepuk peserta kedua, peserta kedua diam, peserta ketiga berteriak "aww...", dan berkata "very good, very good", lalu menyebutkan nama peserta lain.
Tujuan permainan :
Setiap orang punya tugas masing-masing yang harus diemban dan dilaksanakan. Permainan ini mengajarkan kita untuk mengerjakan bagian kita sendiri tanpa mengambil porsi orang lain. Untuk itu dibutuhkan kerendahan hati dan juga konsentrasi. Tetap fokus pada apa yang kita kerjakan, tanpa merecoki kerjaan orang lain.

Catatan Harian

Day - 194

Selasa, 19 September 2006 -- Baca buku Finding God in Unexpected Places, Philip Yancey. Yancey mencermati kecenderungan gereja yang asyik dengan kenyamanan "di dalam". Di bagian pendahuluan ada cerita tentang seorang wanita bernama Joana. Ia melayani di sebuah penjara di Afrika Selatan. Satu kalimat menarik dari wanita itu. "God was already present in the prison. I just had to make Him visible." Panggilan setiap orang Kristen, membuat Tuhan "terlihat" di dunia ini.

Hari ini ga ada kegiatan khusus. Seperti biasa ke kantor. Dapat kiriman dua dus besar buku dari penerbit di Yogyakarta buat kolportase. Agak repot. Soalnya buku-buku tercampur antara yang dipesan dengan yang ditawarkan penerbit. Jadi tadi saya pilih dan pilah. Dalam rangka penutupan bulan keluarga hari Minggu besok, tim kolportase akan launching buku-buku agak "besar-besaran". Tentu menurut ukuran sini :). Ada sekitar 100 judul buku yang akan digelar.

Saya lihat di banyak gereja perpustakaan dan kolportase tuh ga begitu terperhatikan. Kesannya sekadar ada. Padahal sebagai bagian dari pelayanan literatur, perpustakaan dan kolportase punya fungsi sangat strategis. Bacaan-bacaan yang baik dan terseleksi dapat menjadi sarana pembinaan jemaat. Disamping merangsang budaya baca. Dan khusus kolportase, gereja juga bisa membantu "hidup" penerbit :). Saya bermimpi GPBB suatu kali punya perpustakaan dan kolportase yang oke. Sayang kita di sini kesulitan tempat.

Pulang agak sorean. Rumah kosong. Dewi dan anak-anak lagi nemeni teman dari Jakarta jalan-jalan ke Giant di daerah Jurong East. Heran deh, jauh-jauh ke Singapore jalannya ke Giant. Hehehe. Seharian ini cuaca panas. Singapore tuh ga tentu cuacanya. Kemarin seharian mendung dan hujan. Berenang.

Tuesday, September 19, 2006

Tuesday's Song - 20

Syukur PadaMU, ya Allah
NKB 133; Syair asli : August Ludvig Storm; Lagu oleh John Alfred Hultman


Syukur padaMu, ya Allah, atas s'gala rahmatMu
Syukur atas kecukupan dari kasihMu penuh
Syukur atas pekerjaan,walau tubuhpun lemban
Syukur atas kasih sayang dari sanak dan teman.

Syukur atas bunga mawar, harum indah tak terperi
Syukur atas awan hitam dan mentari berseri
Syukur atas suka duka yang Kau b'ri tiap saat
Dan FirmanMu lah pelita agar kami tak sesat.

Syukur atas keluarga penuh kasih yang mesra
Syukur atas perhimpunan yang memb'ri sejahtera
Syukur atas kekuatan kala duka dan kesah
Syukur atas pengharapan kini dan selamanya.
Renungan :
Untuk sesuatu yang "biasa" kita lihat, alami, dan rasakan, kerap kita menjadi kurang peka mensyukurinya. Baru sadar "nilainya" semua itu kalau sudah nggak ada. Sayang sekali. Seperti kehadiran sahabat dan keluarga. Mereka yang ada di samping kita. Stand by us at any circumstances. Begitu "biasa" kan mereka. Tapi coba bayangkan kalau mereka nggak ada lagi bersama-sama kita?! Maka, sesungguhnya, nggak ada alasan untuk kita nggak bersyukur dalam hidup ini.

Catatan Harian

Day - 195

Senin, 18 September 2006 -- Kemarin Kezia dan Karen terima "raport" dari Sekolah Minggu. Ada evaluasi persis seperti sekolah. Mulai dari aspek spiritual, emosi dan sosial, sampai proses belajar mengajar. Good. Hasilnya dikomunikasikan kepada orang tua. Kezia secara umum sudah oke-lah. Karen kurang mau terlibat dalam proses belajar mengajar. Guna membantu Karen ada GSM yang datang ke rumah untuk "pendekatan" dengan Karen. Good. Saya sangat appreciate dengan komitmen GSM. Bravo, rekans.

Setengah harian di rumah. Ngetik. Baca. Siang janjian ketemu teman dan keluarganya di Lucky Plaza. Mereka dari jakarta. Lagi dolan di Singapore. Kita mau ke Singapore National Library di daerah Bugis. Naik taxi. Kita berenam. Jadi dua taxi. Bertiga-bertiga. Antri. Yang pertama pas dapat taxi yang mercy. Sempet agak ragu-ragu juga. Sampai sopir taxi-nya manggil :). Yang kedua taxi biasa. Sampai di tujuan ternyata beda harganya cuma 30 cent. Hehehe. Habis deket juga sih.

Dari library terus ke toko buku Tecman. Jalan kaki. Di Tecman kalau pendeta dapat diskon. Saya beli beberapa buku Gary Chapman dan Philip Yancey. Satu lagi buku quiz Alkitab. Bagus untuk kegiatan Sekolah Minggu. Gary Chapman yang mempopulerkan "Five love languages". Philip Yancey penulis sangat produktif. Saya suka buku ia yang mengupas tentang penderitaan. Where Is God When It Hurts. Sangat interesan.

Dari Tecman kita berpisah. Mereka lanjut jalan-jalan. Saya pulang. Tadinya mau gabung dengan Dewi, Kezia dan Karen. Mereka diundang teman ulang tahunan anaknya. Tapi pas turun MRT ada teman lain yang telepon. Pengen ketemu. Ia tinggal agak jauh sih. Sudah dari minggu lalu ia kontak mau ketemu. Ga pas terus waktunya. Jadi tunggu ia dulu Di West Mall. Kita ngopi sambil ngobrol tentang banyak hal. Hidup ini sebetulnya sederhana. Kitalah yang membuatnya menjadi rumit. Cheer up, bro.

Monday, September 18, 2006

I Like Monday - 03

Inspiring Singapore :
"Children Dreams"


Tahun 2009 di Singapore akan dibuka Marina Bay Art Park. Luasnya 0,3 hektar. Letaknya nanti di dekat jembatan yang menghubungkan Marina Centre dengan area bay front. Untuk membangunnya, pengembang mengajak 27 anak-anak usia 11 tahun ke atas untuk berkontribusi melukiskan mimpi mereka. Nantinya akan dipilih beberapa untuk dituangkan dalam blue-print Park itu. Joyce Seah pelajar dari Maha Bodi School menggambarkan mimpinya untuk mendaki gunung tertinggi. Mimpi Joyce itu salah satu yang akan diwujudkan. Sebuah gunung akan dibangun tepat di tengah-tengah Park. Begitu juga sebuah puisi berjudul "Lion Heart" yang ditulis Amanda Chong, akan diletakkan di pintu masuk.* Anak-anak adalah pemilik masa depan. Mereka punya banyak mimpi yang polos dan lugu. Mimpi sederhana. Mimpi yang mungkin nggak terpikir oleh orang dewasa. Sering kita nggak tanggap dengan ide mereka. Bahkan memandang sebelah mata. Merasa lebih tahu dan lebih mampu. Tanpa kita sadari, kita telah memenjarakan imajinasi mereka. Mengendalikan mimpi dan keinginan mereka. Sebagai orang tua kerap kita hanya bisa menyediakan rumah bagi raga mereka, dan tidak bagi jiwa mereka.
*(Sumber berita : Channel News Asia)

Catatan Harian

Day - 196

Minggu, 17 September 2006 --Hari Minggu. Hari “full-nya” pendeta :). Pagi mendung. Gerimis. Saya berangkat ke gereja duluan. Dewi dan anak-anak belakangan. Sekolah Minggu jam 11. Jadi Dewi kebaktian yang jam 11. Seperti biasa di bis ketemu anggota jemaat yang juga mau ke gereja. Jadi sambil ngobrol.

Hari ini pimpin kebaktian di GPBB dan GPO. GPBB Jam 9 dan jam 11. Setelah kebaktian, sempat ikut latihan vocal group keluarga senior bentar. Untuk ngisi di kebakian penutupan bulan keluarga minggu depan. Terus bareng teman ke GPO. Teman pimpin persekutuan Maria Martha. Saya Pimpin kebaktian umum. Di GPO ga sangka ketemu teman dari GKI Kayu Putih. Sekeluarga. Kita janjian kontak-kontakan. Walau ketemu dengan orang Indonesia di Singapore bukan hal yang sulit, tapi tetap saja kalo ketemu rasanya senang gitu. Apalagi yang udah kenal. Obat kangen.

Minggu ini tema kebaktiannya tentang keluarga yang menjadi garam dunia. Tema "klise" tapi selalu aktual. Metafora garam sekilas terkesan “simple”. Tapi sebetulnya sangat “berat dan dalam” maknanya. Itu adalah metafora yang sangat brilyan. Mungkin karena dalam konteks zaman sekarang garam tuh benda “sepele”. Murah dan banyak. Bisa dibuang-buang. Walau orang tentu sadar juga pentingnya. Jadi maknanya ga gitu terasa “greget’-nya. Padahal dalam konteks zaman Tuhan Yesus garam punya nilai lebih dari sekadar “penyedap masakan” loh. Ada nilai spiritual.

Dari GPO rencananya mau terus makan mie di daerah Orchard sama teman. Pengen nyoba. Belum pernah. Teman mau nunjukin. Tapi pas mau pulang ada anggota jemaat yang kasih bingkisan gede dan banyak lagi. Ga jadi deh pergi sama teman. Hehehe. Habis jalan sambil bawa segitu banyak kan repot. Apalagi bawa jas segala. Jadi saya terus pulang. Naik taxi. Sampai di rumah, ternyata bingkisan itu makanan dan mainan buat Kezia dan Karen. Makanannya banyak pula. Jadi kita undang teman-teman pemuda yang tinggal dekat-dekat apartemen saya datang makan malam. Asyik :).

Sunday, September 17, 2006

Sunny Sunday - 01


Indonesia Plus :
"Bonek" dari Bogor


"Bonek" yang ini positif. Namanya Ade Mulyana Aripin. Bersama beberapa temannya. Ia benar-benar bermodal nekad dan tekad. Empat setengah tahun silam, ia dan beberapa alumni IPB serta Universitas Gunadarma Depok mengajukan izin mendirikan SMK Informatika Bina Generasi di sebuah gang di pinggiran kota Bogor. Mereka dicemooh dan ditertawakan. Mereka menutup telinga. Jalan terus. Sebuah rumah di gang daerah Ciomas disulap jadi sekolahan. Itu kisah sedihnya. Sekarang, dalam usia balita, sekolah itu mendadak terkenal. Merajai lomba desain internet dan web nasional. Total sudah 15 penghargaan yang diraih. Bukan sekolah mentereng secara fisik. Tapi mentereng secara prestasi. (Taken from Tempo Magazine)

Ayah's plus point : Dimana ada kemauan pasti ada jalan. Kritik dan cemoohan hanya bisa dibungkam dengan prestasi. Kerap orang menjadi ciut nyali ketika diremehkan. Menjadi mundur sebelum berperang. Ketika menghadapi tantangan, yang paling dibutuhkan adalah semangat pantang menyerah. Kita tidak akan pernah tahu, apa yang akan terjadi selanjutnya. Sebuah penemuan besar, biasanya diawali dari sebuah ide kecil dan sederhana. Jadi, jangan pernah mencemooh "mimpi" orang lain. Jangan pernah meremehkan sebuah idealisme.

Saturday, September 16, 2006

Catatan Harian

Day - 197


Sabtu, 16 September 2006 -- Hari ini main bulu tangkis bareng teman-teman gereja. Tempatnya di Sport Club Bukit Gombak. Yang ikut ada ada sekitar 12 orang. Di sini booking lapangan bulutangkis saja mesti lewat internet. Biasanya kalo week-end gini atau di luar jam kerja penuh. Fully booked. Booking-nya harus jauh-jauh hari saking antrinya. Dan booking-nya juga ga bisa sekalian buat beberapa bulan. Tapi sekali pakai gitu. Ibarat belanja harus eceran, ga bisa grosiran. Hehehe. Tadi pun saya lihat lapangannya banyak. Ada kali 10. Dan dipakai semua. Pantes teman bilang di Singapore sih susah deh muncul bintang bulutangkis. Habis lapangan bulutangkis saja susah gitu. Di sini yang populer tuh olah raga berenang :). Kalau cari kolam renang gampang.

Dulu waktu di GKI Kayu Putih banyak yang suka main tenis. Saya "ikut-ikutan" suka main tenis :). Sebelumnya waktu di GKI Bekasi Timur banyaknya yang suka main bulutangkis. Jadi saya juga suka main bulutangkis. Di sini rupanya harus balik lagi nih ke bulutangkis. Hehehe. Saya memang suka olahraga permianan. Kayak tenis, tenis meja, dan bulutangkis. Walau ga “jago”-lah. Cuma bisa tepak tepok. Yang penting kan cari keringat dengan fun dan keakrabannya itu. Berdasarkan pengalaman, kegiatan-kegiatan informal kayak gitu mendekatkan "jarak" dengan anggota jemaat :).

Pulang ke rumah istirahat sebentar. Terus ke gereja. Hari ini ada lomba masak dalam rangka bulan keluarga. Lomba bikin nasi goreng, mie goreng, gado-gado, es buah, dan acar. Pesertanya keluarga. Keluarga inti juga keluarga rohani. Keluarga rohani saya kebagian ikut lomba masak nasi goreng. Ga menang tuh. Hehehe. Yang penting meriah :). Acara-acara kebersamaan begitu di gereja tuh perlu juga. Salah satu kunci penting bergereja adalah relasi yang akrab.

Pulangnya Saya, Kezia dan Karen duluan. Dewi masih melanjutkan ikut rapat di gereja. Saya mesti nyiapin khotbah buat besok. Besok khotbah 3 kali. Temanya tentang garam. Klise sih. Kan sering tuh tema tentang garam dunia dikhotbahkan. Orang umumnya juga udah tau. Pasti pembahasannya ya seputar kegunaan garam. Buat saya, justru karena klise malah jadi sulit nih. Gimana membuat sesuatu yang klise menjadi ga terdengar dan terasa klise. Duh.

Renungan Sabtu - 18


Binatang

Binatang sering diidentikkan dengan hal-hal yang buruk; kejam dan liar. Orang jahat, orang sadis, orang culas biasa dibilang, “Seperti binatang!”

Ini sebenarnya tidak adil. Salah satu bentuk pelecehan dan pelanggaran terhadap HAB, Hak Azasi Binatang. Sebab kalau mau jujur, bukankah manusia justru kerap lebih kejam dan brutal daripada binatang.

Sekejam-kejamnya binatang, tidak ada yang sampai tega menganiaya anaknya sendiri; mengeksploitasinya demi presitise atau perut orang tua. Hanya manusia yang bisa berbuat begitu.

Sejahat-jahatnya binatang, tidak ada yang sampai berkhianat; “kasak-kusuk lalu menusuk dari belakang”. Hanya manusia yang bisa berbuat begitu. Sejarah umat manusia banyak diwarnai kisah pengkhianatan ala Brutus (yang mengkhianati sahabatnya, Julius Caesar) dan tipu muslihat ala Ken Arok (yang mengawini Ken Dedes setelah sebelumnya membunuh Tunggul Ametung, suaminya, dengan keris Empu Gandring).

Seburuk-buruknya binatang, tidak ada yang sampai dimabukkan oleh jabatan dan kekayaan; lalu rela melakukan apa saja demi merebut dan mempertahankannya. Hanya manusia yang bisa begitu.

Dalam buku The Jungle Book, karangan Rudyard Kipling, dikisahkan ada seorang bayi manusia terdampar di hutan belantara. Dia diasuh dan dibesarkan oleh sekawanan kera. Dia tumbuh di lingkungan hutan, dan akrab dengan perilaku binatang. Ketika suatu kali dia kembali kepada peradaban manusia, dia menyesal.

“Lebih baik saya menjadi binatang,” katanya. “Binatang membunuh untuk makan atau supaya tidak dimakan; sedang manusia membunuh karena kemarahan, kebencian dan harta.”

Jadi, betulkah manusia lebih beradab dan berbudaya daripada binatang? Betulkah manusia adalah “mahkota ciptaan Allah”, dan karenanya lebih tinggi statusnya daripada binatang? Buktikanlah!

Dari Buku Potret Diri Tanpa Bingkai – Ayub Yahya, Gloria

Catatan Harian

Day - 198

Jumat, 15 September 2006 -- Sudah mulai keteteran nih nulis Catatan Harian. Jenuh. Bosan. Padahal hari-hari sih berjalan seperti biasa. Selalu ada yang bisa dicatat. Tapi rasanya malas saja gitu. Ini bisa jadi semacam "ujian" terberat. Paling "enak" dan gampang ikutin kemalasan. Dan berhenti menulis. Selesai. Tapi risikonya, untuk kembali ke "track" biasanya sulit. Jadi ya saya coba lawan sebisanya.

Dari pagi mendung. Siangnya hujan deras. Ngajar katekisasi. Terus ikut ramah tamah dengan ibu-ibu Komisi Wanita. Di sini setiap selesai persekutuan KW biasa ramah-tamah. Ada ibu-ibu yang bergiliran masak. Biasanya masakan indonesia. Asyik. Hehehe. Kayak tadi makan karedok. Benar-benar jadi obat kangen kampung halaman.

Bantuin teman cetak materi untuk Binaria. Wah, di sini mesin cetaknya canggih. Mau perbanyak makalah. Tinggal taruh di atas. Mau berapa copy. Bentuknya seperti apa. Tinggal program. Keluar-keluar sudah jadi dalam bentuk buku. Benar-benar sangat memudahkan. Jadi kalau misalnya mau cetak warta jemaat. Kita ga usah copy satu-satu. Terus nyusunin halaman. Lalu stapler-in. Tapi tinggal taruh saja. Terus program deh. Keluar langsung sudah berbentuk seperti warta jemaat. Dan otomatis sudah di-stapler-in. Waktu saya cerita ke teman di Jakarta. Ia cuma bilang, "Welcome to the real world" :).

Makan malam dengan beberapa teman pemuda di food court depan gereja. Ga pulang dulu. Toh Dewi dan anak-anak juga ada acara ulang tahunan. Terus lanjut pimpin kelas Binaria. Tentang komunikasi. Salah satu topik yang saya suka. Dari Binaria terus pulang. Gabung dengan teman-teman pemuda yang sudah lebih dulu ada di rumah. Kita kumpul sambil nonton VCD "Jomblo" dan ngerujak. Kumpul-kumpul informal begini asyiknya bisa lebih kenal dekat gitu.

Friday, September 15, 2006

Friday's Joke - 15


Menyontek


Orang tua Andi dipanggil menghadap kepala sekolah, karena Andi tertangkap basah menyontek kertas ujian Ricky saat ujian.
Orang tua Andi : "Apa buktinya kalau anak saya nyontek?"
Kepala Sekolah : (sambil mengambil kertas ujian Andi dan Ricky) Waktu ujian sejarah, coba bapak lihat pertanyaan nomor 1, "Siapa pengarang buku Habis Gelap Terbitlah Terang?". Ricky menjawab RA. Kartini. Andi juga menjawab RA Kartini.
Orang tua Andi : Lah, jawaban sama kan ga apa-apa, Andi juga belajar sebelum ujian.
Kepala Sekolah : Oke bisa sama, tapi lihat jawaban nomor 2, "Dimana Kartini dilahirkan?". Ricky menjawab Jepara. Andi juga.
Orang tua Andi : Lha, jawaban yang betul emang begitu kan, Pak. Saya rasa Bapak tidak punya cukup bukti untuk bilang Andi nyontek. Bahkan bisa saja malah Ricky yang nyontek kerjaannya Andi.
Kepala Sekolah : Bisa saja begitu. Tapi lihat dong pertanyaan nomor 3, "Tahun berapa terjadi Perang Diponegoro?". Ricky menjawab, "Gue nggak tahu!" dan jawaban Andi adalah, "Apalagi Gue!".
Ayah's quote :
Terima kritikan or masukan dengan kepala dingin. Dengeri dulu. Biar semua jelas dulu. Baru bicara. Jangan belum-belum sudah membela diri. Defensive. Balas menuduh. Bukan hanya itu ga produktif, malah juga salah-salah "memukul" diri sendiri kan.

Catatan Harian

Day - 199

Kamis, 14 September 2006 -- Makan siang sama teman di food court depan gereja. Ngobrol punya ngobrol, baru tahu kalau di sini tuh, kios makan di setiap food court dinilai secara rutin. A bagus. B dan C kurang bagus. Kalau sampai dapat D berarti jelek. Bisa ditutup. Penilaian dari terutama higienisnya. Sampai ke dapur-dapurnya. Malah katanya, makanannya bisa secara mendadak diperiksa. Yang nilai tuh NEA (National Environment Agency). Lembaga pemerintah. Singapura negara kecil sih ya, jadi yang begitu pun bisa masih bisa diurusin. Baik juga sih jadi pemilik kedai makanan ga sembarangan.

Terus kalau di nama kios makan itu ada tanda misalnya “U”. Nah itu katanya sudah masuk TV Chanel U. Jadi kalau ke food court makanan di sini, orang bisa langsung tahu mana kedai makan yang direkomendasi atau tidak. Kayak di Indonesia ada kan acara-acara TV yang mengekspos makanan khas di daerah tertentu. Ngomong-ngomong soal makanan, saya pernah beli buku tempat-tempat makan di Bandung. Buku-buku panduan begitu rupanya dibutuhkan juga. Zaman makin kompleks ya. Makanan pun makin banyak pilihan. Jadi perlu panduan segala. Film juga gitu. Acara TV juga begitu. Makin banyak pilihan, makin dperlukan buku panduan.

Agak siangan pelawatan sama ibu-ibu KW. Ada dua orang yang dilawat. Yang satu orang tua dari anggota jemaat. Ia tengah berobat di sini. Dari kantor saya pulang agak siangan. Kezia dan Karen telepon ngajak berenang. Dari kemarin mereka pengen berenang. Pas hari ini ga ada acara khusus juga. Malam dengan teman berbagi tugas telepon-teleponin para pasangan suami istri untuk Familiy Fellowship. Para pasangana suami istri yang rumahnya berdekatan didorong bikin persekutuan keluarga. Jadi bisa saling mendoakan dan sharing. Semacam KTB gitu per wilayah. Tapi hanya suami istri.

Malam ada teman pemuda datang. Sekalian ambil kunci rumah buat besok. Ia bawa bahan-bahan buat ngerujak besok. Rencananya pemuda mau kumpul-kumpul di rumah. Saya sendiri besok akan datang terlambat. Besok ada acara di gereja. Dewi dan anak-anak juga kebetulan ada acara. Kezia dn Karen ada teman yang berulang tahun. Jadi pas kita ga ada di rumah. Tapi nggak apa-apa. Mereka bisa beres-beres sendiri.

Thursday, September 14, 2006

Thursday Hot Issue - 03


Bye Michael Schumacher


The Fact :
Sirkuit Monza, Italia 11 September 2006. Balap Formula 1 berlangsung dalam 53 lap. Michael Schumacher tampil sebagai pembalap pertama yang melewati chequered flag. Sebuah rekor baru tercipta. Itulah kemenangan Schummy yang ke 90. Schummy memang "living legend" --love him or hate him-- di ajang F-1. Dialah pembalap yang memegang rekor terbanyak di ajang lomba jet darat itu. Nggak tanggung-tanggung, ia memegang 22 rekor F-1. Antara lain, 7 kali juara dunia (5 diantaranya berturut-turut). 90 kali menang Grand Prix. 153 kali naik podium finish. 68 kali start dari pole position. 75 kali mencatat fastest lap. Pembalap terbanyak yang menang dari start terdepan, 40 kali. 22 kali melakukan "clean-sweeps": start dari pole position, menang balapan, sekaligus mencatat putaran tercepat. Dan lain-lain. Di Monza Italy, dihadapan para pendukungnya di kandang Ferarri, Schummy secara resmi menyatakan mundur dari F-1. Tiga balapan ke depan akan menjadi tiga balapan terakhir penggemar F-1 melihat aksi sang rainman di sirkuit. Bye, Schuey. (Sumber : kompilasi berita dari Kompas, Star Sport, internet)
The Lessons :
Keinginan manusia tidak terbatas. Sehingga kerap membuat orang lupa diri. Terus mengejar prestasi dan prestise. Dan lupa berhenti. Ketenaran dan kekayaan seolah jadi godaan yang terlalu sayang untuk ditinggalkan. Terlalu takut kehilangan itu. Katanya orang pintar akan tahu dimana batas kemampuannya. Tapi orang bijak mengetahui batas itu dan berhenti sebelumnya. Bukankah yang abadi tertinggal dalam hidup ini adalah nama kita? Maka, tinggalkan jejak dan record baik dalam hidup. Kita akan terus diingat dalam sejarah. Minimal oleh orang-orang terdekat kita.

Wednesday, September 13, 2006

Catatan Harian

Day - 200

Rabu, 13 September 2006 -- Pagi bersama teman, pendeta yang sedang studi singkat di Trinity Theology College, ngelawat teman pendeta yang tengah dirawat di Mount Elizabeth Hospital. Kabarnya teman pendeta itu tadinya ke Singpaore temeneni istrinya yang berobat karena ada sirosis. Sekalian ia juga chek up. Ternyata istrinya sudah membaik. Virus dalam tubuhnya berkurang, sementara antibodinya naik. Malah ia diindikasikan ada penyakit jantung yang kalau ga segera ditangani bisa fatal. Ia sendiri selama ini merasa sehat-sehat saja. Naik tangga pun ga sampai “ngos-ngosan” katanya. Ia sudah pernah chek up di Surabaya, tapi dokter di sana bilang ga pa-apa. Cuma kolestrol. Bingung juga. Koq bisa penyakit parah, ga bisa terdeteksi begitu ya.

Dari ME kita berpisah. Teman saya itu ada keperluan lain. Saya ke gereja. Naik MRT terus sambung bis. Ngantor. Ga ada acara khusus. Kalau ga ada acara khusus begini, di kantor paling baca imel. DI GPBB banyak sekali milis. Mulai dari milis Sekolah Minggu, Komisi Keluarga Muda (ada dua pengurusnya dan jemaatnya), Komisi Pemuda, Majelis Jemaat GPO-GPBB, Badan Pengurus GPBB (ada dua BPH-nya dan semua anggota MJ-nya), dan lain-lain. Kalau dihitung-hitung lebih dari 10. Belum japri dengan CC ke beberapa orang. Sehari tuh imel rata-rata 50-an.

Di sini komunikasi imel sangat aktif. Sehari ga buka imel, bisa numpuk tuh. Saya diajar untuk tiap imel yang perlu dibalas, balas hari itu juga. Sehari kelewat sudah ganti dengan topik lain. Atau ya numpuk. Komunikasi via imel ini jelas ada untungnya: lebih cepat, lebih praktis. Tapi juga ada ruginya: pesan bisa bias. Komunikasi ga hanya yang “tersurat”. Tapi juga yang “tersirat”. Banyak hal yang ga bisa dikomunikasikan secara jarak jauh begitu.

Siang Dewi telepon Kezia harus ke dokter mata di sekolah. Karen ga ada yang tungguin pulang sekolah. Jadi saya pulang lebih siangan. Malam ke GPO. Board of Management Meeting. Ini rapat dua bulanan. Presbitry bahasa Inggris. Mungkin semacam rapat Badan Pekerja Majelis Klasis-nya kalau di GKI. Sampai rumah jam 10-an.

Wednesday's Games Idea - 15


Kerjasama


Jumlah peserta : tidak terbatas, dibagi berpasangan
Waktu yang dibutuhkan : 5-15 menit
Aturan permainan :
Ajaklah seluruh peserta untuk mencari pasangan kemudian berdirilah saling berhadapan. Selanjutnya setiap pasangan harus berjabat tangan. Tangan kanan dengan tangan kanan. Kemudian selama satu menit, mintalah mereka untuk memikirkan sebanyak mungkin keinginan yang ingin mereka wujudkan dalam hidup. Setelah itu sampaikan bahwa setiap keinginan itu akan menjadi kenyataan jika mereka dapat menyentuh pinggul kanannya sendiri dengan tangan kanan mereka masing-masing. Tetapi aturannya mereka harus tetap berjabat tangan. Diskusikan hasilnya.
Tujuan permainan :
Tidak ada tujuan atau keinginan yang bisa tercapai kalau tidak ada kerjasama. Semakin kita membuka diri untuk bekerja sama dengan orang lain, maka semakin banyak pula yang bisa kita capai. Sinergi adalah kunci untuk mendapatkan hasil maksimal dalam waktu minimal. Selamat bekerjasama.

Catatan Harian

Day - 201

Selasa, 12 September 2006 -- Pagi seperti biasa ke kantor. Ga ada acara khusus sih. Dapat telepon dari salah seorang penatua sebuah gereja di Jakarta. Ia mau menjajaki kemungkinan mengajukan proposal bantuan untuk pengembangan sarana gerejanya ke GPBB. Mungkin di benak sebagian orang, karena gereja di Singapore GPBB tuh “kaya” :). Padahal saat ini, GPBB juga sedang cari dana buat pembangunan gedung. GPBB ga punya gedung sendiri. Dan nanti pun kalau ruang baru sudah jadi, dipakainya bersama-sama dengan konggregasi lain.

Saya jadi ingat sebuah gereja di pinggiran Yogyakarta. Di sebuah desa. Kecil. Jemaatnya banyak petani sederhana. Suatu kali mereka ada proyek bangun kantor gereja. Majelis Jemaatnya memutuskan swadaya dari jemaat. Ketika bencana gempa terjadi waktu lalu, gereja yang sederhana itu malah turut membagi sumbangan. Dulu waktu di GKI Kayu Putih, banyak surat yang minta sumbangan. Bahkan pernah ada sebuah jemaat sedang membangun gereja dengan budget sekian milyar minta sumbangan juga.

Menurut saya, baiknya sebuah gereja tuh membangun or membuat suatu proyek semampunya. Dengan terutama "memobilisir" peran serta jemaatnya. Akan baik sebagai pembelajaran bagi jemaat. Sesuatu yang didukung dan diupayakan bersama, hasil kerja keras bersama, akan lebih dihargai kan. Jemaat akan lebih merasa memiliki. Toh gereja ada untuk memberi, bukan untuk meminta. Bukan berarti kemudian sesama gereja ga saling menolong. Bukan. Tapi link bantuan antar gereja bisa lebih diarahkan pada kegiatan-kegiatan yang lebih "terasa" oleh jemaat dan masyarakat sekitarnya. Misalnya kegiatan anak asuh, jemaat binaan, dana pendidikan, atau proyek-proyek kemanusiaan lainnya. Saling memberi "kail", bukan "ikan". Dalam hal ini peran Sinode atau Klasis menjadi sangat penting untuk mengarahkan.

Siang janji mancing sama teman dari pengurus Keluarga Muda. Di Pasir Ris Park. Ini pertama kali mancing di Singapore. Kolam air laut. Jadi ikan laut gitu. Saya dapat ikan gede sekitar 3 kilo-an. Ini tangkapan terbesar selama "karier" pemancingan. Hehehe. Sayang saya ga ahli. Banyak lepas. Teman jago. Ia dapat banyak tuh. Paling kecil mungkin setengah kiloan. Ikan Toman, Seabass, dan Kakap. Yang menarik, teman bawa peralatan memancing "kecil dan unik". Misalnya, penjepit untuk nyuci ikan sekaligus timbang. Terus penjepit buat ngeluarin kail dari mulut ikan. Pendeknya kita bisa mancing, tanpa usah memegang ikan sedikit pun :). Juga tempat untuk menyimpan udang or ikan kecil hidup buat umpan. Lengkap dengan selang oksigen. Manusia tuh emang kreatif. Saya ga habis pikir, bagaimana orang bisa kepikir bikin yang begitu-begitu. Pulang mampir di West Mall. Ketemu Dewi dan anak-anak. Makan. Terus langsung ke gereja. Ada rapat.

Tuesday, September 12, 2006

Tuesday's Song - 19

Thy Word
Penyanyi : Amy Grant

Thy word is a lamp unto my feet, and a light unto my path.
Thy word is a lamp unto my feet, and a light unto my path.

When I feel afraid, and think I've lost my way.
Still, You're there right beside me.
Nothing will I fear, as long as You are near;
Please be near me to the end.

Thy word is a lamp unto my feet, and a light unto my path.
Thy word is a lamp unto my feet, and a light unto my path.

I will not forget, Your love for me and yet,
My heart forever is wandering.
Jesus be my guide, and hold me to Your side,
And I will love you to the end.
Nothing will I fear, as long as You are near;
Please be near me to the end.

Thy word is a lamp unto my feet, and a light unto my path.
Thy word is a lamp unto my feet, and a light unto my path.
And a light unto my path. You're the light unto my path.

Renungan :
Pernahkah Anda berada dalam kegelapan tanpa setitik pun cahaya? Betapa tidak menyenangkan. Takut bercampur gamang. Tanpa daya dalam ketidakpastian. Di tengah situasi demikian, secercah sinar adalah kelegaan. Seperti itulah Firman Tuhan dalam hidup kita. Dalam gelap, di tengah ketakutan dan kegamangan kehidupan, Firman Tuhan laksana pelita. Penuntun dan pembimbing. Bersama-Nya kita tidak akan tersesat.

Catatan Harian

Day - 202

Senin, 11 September 2006 -- Dari pagi sampai siang di rumah. Beberes. Ngetik. Baca. Kezia dan Karen sudah masuk sekolah lagi. Baca di koran Michael Schumacher akhirnya mengumumkan pengunduran dirinya dari ajang lomba F1 akhir musim ini. Ia adalah pembalap tersukses di F1. Tahun 1999 ia pernah mengalami kecelakaan parah. Kakinya patah. Siapa duga kemudian ia kembali merajai balapan F1. Banyak rekor yang pernah ia pecahkan. Ada 22 rekor di F1 yang dipegangnya. Termasuk juara dunia F1 7 kali. 5 diantaranya berturut-turut.

Beberapa hari lalu saya juga membaca Andre Aggasi yang memutuskan pensiun dari tenis. Ia petenis paling senior sekarang ini. Angkatannya Pete Sampras, Michael Chang dan Jim Courier sudah lebih dulu mundur. Beberapa kali ia merebut gelar grand slam. Bukan yang tersukses tapi ia termasuk petenis sukses. Aggasi mengumumkan pensiunnya dengan emosional. Manusia pada dasarnya selalu menuju pada satu titik. Akan ada masanya turun gelanggang. Ga bisa ga. Maka bijaksanalah orang yang tahu kapan harus "turun". Dan tanpa harus merasa "kalah" ketika yang muda-muda bermunculan siap menggantikannya.

Saya jadi teringat mantan Presiden Soeharto. Pak Harto adalah salah satu contoh orang yang ga sadar kapan harus turun. Sehingga akhirnya "keadaan-lah" yang menurunkannya. Dulu Pak Harto cenderung menabukan bicara soal penggantinya. Ia lupa bahwa pada akhirnya ia pun akan turun gelanggang. Akibatnya ketika ia pergi, bukan saja ga ada figur kuat seperti dirinya di Indonesia. Tapi juga dirinya malah jadi kehilangan "reputasinya". Semoga kelak pun saya punya kebijakan dan kebajikan untuk "mundur" pada saat yang tepat.

Siang diundang salah seorang anggota jemaat. Ia katanya masak mie. Kita dijemput. Asyik deh tuh makan mie. Seleranya sesuai dengan lidah. Jadilah itu mi terenak yang pernah saya coba selama di sini. Duh. Saya koq jadi kangen mie Ujung Pandang Baji Pamai, mie karet krekot, mie bangka Ahaw, mie goreng Akang, mie Palembang Aloi, mie Aheng Kemurnian, mie aduhai di parkiran Kelapa Gading, mie Japos. Duh, duh, duh. Pulang agak sore. Malam ada tamu yang berkunjung. Di sini biasa kalau sore ga ada acara di gereja, saling kunjungi gini. Jadi ga terlalu merasa sendiri gitulah.

Monday, September 11, 2006

I Like Monday - 02


Inspiring Singapore :
"Unlimited Inspirations"


Di Singapore sedang berlangsung Singapore Biennalle Exhibition 2006. Pameran karya seni kontemporer. Dalam rangkaian acara itu, tiga belas anak disable dari berbagai negara di Asia Tenggara diundang hadir oleh penyelenggara. Anak autis, tuna rungu, lumpuh dan cacat tubuh lainnya. Anak-anak dengan keterbatasan tubuh. Tidak itu saja, beberapa dari mereka bahkan tinggal di panti asuhan dan baru pertama kali datang ke Singapore. Tetapi mereka adalah para seniman dari negaranya masing-masing. Kehadiran mereka di ajang pameran tersebut adalah untuk membuka wawasan dan mencari inspirasi untuk karya mereka sendiri nantinya.* Keterbatasan fisik bukan halangan untuk kita berkarya dan berbagi berkat. Jauhi rasa minder dan keinginan untuk tergantung pada belas kasihan orang lain. Tuhan Mahaadil. Dia tidak menjadikan sesuatu tanpa tujuan. Tidak jarang dalam kelemahan kita, justru di situ keagungan-Nya tampak.
* (Sumber berita : Channel News Asia)

Catatan Harian

Day - 203

Minggu, 10 September 2006 -- Pimpin kebaktian remaja. Tema: Bawang Merah Bawang Putih. Seputar iri hati. Tema diangkat dari dongeng yang sudah dikenal luas di Indonesia. Bagi remaja tema-tema yang "unik", bisa menjadi salah satu daya tarik. Sangat bagus kalau gereja memberi sarana bagi remaja untuk mengembangkan daya imajinasi mereka. Mengakomodir kebutuhan dan keinginan mereka kemudian mengarahkannya. Kreatifitas mereka harus dipandang sebagai nilai tambah.

Siang setelah latihan vokal grup, para GSM main ke rumah. Istilah mereka, silahturahmi. Kita ngobrol santai sambil makan. Mereka yang siapin semuanya. Termasuk beberes :). Sharing dengan Guru Sekolah Minggu buat saya serasa dejavu :). Saya punya "concern" khusus dengan pelayanan anak. Skripsi saya dulu tentang pelayanan pastoral kepada anak-anak. Awal-awal di GKI Kayu Putih, saya juga mendampingi Komisi Anak. Saya bermimpi suatu saat bisa mengajar rutin di Sekolah Minggu.

Pelayanan sekolah minggu tuh bagai "tabungan hari esok". Wajah gereja di masa depan sedikit banyaknya akan tercermin dari pelayanan sekolah minggunya. Saya selalu salut dengan para GSM. Ga gampang loh melayani anak-anak. Apalagi mereka yang benar-benar mencurahkan waktu dan tenaganya untuk mikirin. Padahal itu kan kerja "sukarela". Konon kualitas hidup dan kedewasaan kita ditentukan oleh seberapa jauh kita mampu melakukan sesuatu yang sifatnya sukarela dengan setulus hati dan sepenuh komitmen.

Malam diundang ramah tamah di rumah salah satu anggota jemaat. Yang hadir anggota jemaat senior. Mereka secara gurau menyebut ABG. Aku Baru Gocap :). Ngobrol dengan mereka ga saja dapat pengetahuan baru tapi juga "wisdom share". Kelebihan orang tua memang di situ kan, mereka pernah muda :). Ada yang suka diving. Ia cerita tentang kekayaan alam bawah laut Indonesia. Katanya, titik-titik penyelaman terbaik di dunia ada di Indonesia. Kayak Laut Banda, Wakatobi Sulawesi Tenggara, Selayar Sulawesi Selatan, Penida Bali, dan Kepulauan Raja Ampat Papua. Konon di situ banyak ditemukan spesies dan biota laut yang ga ada di tempat lain di dunia. Indonesia nan kaya. Duh.

Saturday, September 09, 2006

Catatan Harian

Day - 204

Sabtu, 9 September 2006 -- Agak siangan saya ke kantor. Dewi, Kezia dan Karen ke West Mall. Mereka janjian mau ketemu sama salah seorang GSM yang biasa ngajarin Kezia bahasa Inggris di rumah. Mau breakfast di McD. Dari situ mau terus anter Karen les. Saya senang karena anak-anak mulai terbiasa dengan suasana di sini. Kami benar-benar merasa sangat terbantu dengan dukungan teman-teman di sini. Masa penyesuaian bisa kami jalani dengan lebih ringan. Thanks, temans.

Hari ini saya ga ada acara khusus. Tapi kalau hari Sabtu biasanya suka ada remaja atau pemuda yang datang ke gereja. Sekadar kumpul ngerjain sesuatu. Saya suka nimbrung dengan mereka. Just ngobrol. Kadang dari pembicaraan informal semacam itu, suka dapat ide atau masukan berharga loh. Selain juga jadi lebih akrab gitu. Siang ada latihan para petugas kebaktian besok. Menurut saya, latihan bersama pendukung kebaktian tuh baik. Pianis, organis, liturgos dan song leader tuh bagian yang penting dalam kebaktian. Kebaktian akan berjalan khusuk dan khidmat, kalo semua pendukung mempersiapkan diri dengan baik. Jadi ga asal gitu.

Sorenya di rumah saya ada acara temu kangen F2 Bukit Panjang dan para keluarga asuhnya. F2 tuh Family Fellowship. Wadah persekutuan untuk para suami istri yang rumahnya berdekatan. Semacam KTB. Mereka rutin bertemu untuk sharing dan doa bersama. Biasanya diadakan secara bergilir di rumah masing-masing. Dan karena para pasangan suami istri ini rata-rata juga punya “anak-anak asuh”, jadi sekalian kumpul keluarga rohani

Kalau agak banyak jumlah yang hadir biasanya ga di rumah. Tapi di multi-function room. Di Apartment tempat tinggal saya ada juga. Bisa di-booking. Acaranya sangat informal. Setelah KTB disambung dengan ramah tamah dan permainan keakraban. Sampai jam 10-an. Setelah seminggu ada dalam rutinitas masing-masing, maka acara kumpul saat week-end bisa menjadi semacam acara "hiburan" tersendiri. Ajang kebersamaan dan kekeluargaan

Renungan Sabtu - 17


Suporter


Bayern Muenchen juara Piala Champion Eropa, setelah 25 tahun tidak pernah lagi merebut gelar terhormat itu. Di final mereka melibas Valencia lewat adu pinalti. Ribuan suporter klub Jerman itu tumpah ruah ke jalan; menari, bernyanyi, bersorak. Semua larut dalam satu kata: sukacita!

Euforia itu barangkali wajar. Dua tahun lalu, dalam final kenangan sepanjang zaman, Bayern betul-betul dibuat terluka. Mereka harus melepaskan kemenangan yang sudah di depan mata. Dua gol dalam satu menit terakhir membalikkan keadaan. Mimpi indah pun buyar sudah. Manchester United juara.

Setahun kemudian luka itu semakin bernanah; di semi final Bayern diganjal Real Madrid. Padahal dalam babak penyisihan, dua kali mereka menghajar klub Spanyol yang kemudian menjadi juara itu. Mimpi buruk? Lebih dari itu: tragedi!

Maka ketika Oliver Khan berhasil memblok tendangan Mauricio Pellegrino, dan memastikan kemenangan Bayern; semua emosi bagai meledak. Mulai dari “Sang Kaisar” Franz Beckenbauer, Pelatih Ottmar Hitzfield, seluruh official dan pemain lebur dalam lautan kegembiraan. “Luka itu tak lagi menyakitkan,” begitu Khan berkomentar. Mereka memang berkepentingan untuk itu.

Akan tetapi para suporter; apa yang mereka dapatkan dari euforia itu? Kadang saya tidak habis pikir dengan “fenomena suporter fanatik”; mereka bisa habis-habisan mendukung kesebelasan kesayangannya, berlelah dan berkorban, tidak jarang sampai berantem pula. Tetapi setelah itu apa? Entah kesebelasannya itu menang atau kalah, bagi soporter toh sama saja. Paling sedih kalah kalah, dan puas kalau memang. Lalu setelah itu selesai. Tidak lebih, tidak kurang.

Bukan berarti tidak usahlah menjadi suporter. Tidak begitu. Menjadi suporter baik-baik saja, dan perlu. Dengan menjadi suporter berarti kita menyediakan diri untuk bertaut secara emosi dengan kesebelasan yang kita dukung; segala sesuatu akan terasa lebih punya makna bila melibatkan emosi. Dalam sepakbola, suporter ibarat bumbu penyedap. Tanpa suporter, sebuah pertandingan sepakbola akan terasa hambar. Tetapi jangan berlebihan. Emosi juga harus diimbangi dengan rasio. Supaya kegembiraan tidak kebablasan berujung bencana. Berkorban, termasuk untuk kesebelasan favorit, tentunya tidak salah, yang salah kalau perngorbanan itu tidak membuahkan apa-apa.

Dari Buku Potret Diri Tanpa Bingkai - Ayub Yahya, Gloria

Catatan Harian

Day - 205

Jumat, 8 September 2006 -- Bangun agak kesiangan. Malam tidur sampai jam 4-an. Ngetik. Karen minta ditemenin berenang. Saya ga bisa. Harus ngantor. Ia ngambek. Saya pergi ia ga mau dadah-in. Saya kira anak-anak perlu juga diajar, bahwa ga semua keinginannya bisa terpenuhi. Saya ga setuju kalau orang tua sampai perlu “ngada-ngadain yang ga ada” demi memenuhi keinginan anak. Apalagi kalau demi meredakan tangisan mereka. Anak-anak ada kalanya perlu belajar kecewa. Dengan demikian ia belajar hidup.

Ada teman dari Indonesia yang pengen konseling. Tadinya mau telepon, tapi agak susah telepon panjang lebar di kantor. Apalagi untuk keperluan konseling yang bersifat personal. Ruang kantor saya tuh kan setengah terbuka. Terhubung dengan ruangan teman-teman lain. Jadi ga mungkin telepon tanpa kedengaran gitu. Jadi kita chatting. Sejam setengah lebih kita chatting. Di zaman serba canggih sekarang, teknologi bisa mendekatkan jarak. Sekaligus memberi solusi. Walau ga jarang, teknologi jadi sumber masalah juga :).

Salah satu kendala di sini tuh keterbatasan ruangan. Ga punya ruang khusus untuk kosneling. Di sini ada tiga kongregasi; Mandarin, Inggris dan Indonesia. Ruangan dipakai bersama. Kalau hari minggu pasti penuh deh. Kalau malam juga agak strict. Ga bisa lewat jam 11 malam. Bagusnya semua kegiatan gereja jadi lebih terstruktur dan terjadwal. Kadang dalam keterbatasan itu kita jadi bisa belajar ngehargai apa yang ada. Dan terlatih menggunakannya dengan efektif dan efisien. Dipikir dan dirasa, betapa beruntungnya gereja di Jakarta yang punya fasilitas gedung sendiri. Bahkan pendetanya pun punya ruangan konseling sendiri.

Siang ngajar katekisasi. Terus malam dampingi kelas Binaria. Kali ini temanya "Mars and Venus". Pembicaranya salah seroang psikolog anggota jemaat. Saya dan teman mengantar dan mendampingi diskusi. Semacam moderatorlah. Menarik juga, terutama ketika membahas sebuah quiz tentang "bahasa cinta". Setiap orang diminta mengisi "bahasa cinta"nya: Loving word, thoughtful presents, physical affection, quality time, dan kind action. Terus masing-masing diminta ngasih nilai, mulai dari yang paling penting sampai yang paling ga penting menurut mereka. Ada satu pasangan, yang ceweknya menganggap bahasa cinta paling penting tuh physical affection. Cowoknya justru menganggap physical affection tuh paling ga penting buat dirinya. "Latihan" yang bagus :).

Friday, September 08, 2006

Friday's Joke - 14


Pekerja Yang Malas

Seorang pemilik pabrik roti mendapat laporan, bahwa banyak karyawannya yang nggak bekerja dengan baik. Sering malas-malasan. Ia memutuskan untuk mengadakan sidak, inspeksi mendadak ke pabriknya. Ketika sampai di depan pabriknya, bersama mandornya ia melewati sebuah taman dengan pepohonan yang rindang. Dan ia melihat ada seorang pemuda sedang duduk berselonjor santai di bawah pohon itu. Ia sangat marah.
"Kau dibayar berapa dalam seminggu?" bentak si pemilik pabrik dalam kemarahannya.
"Dua ratus ribu rupiah," jawab sang pemuda
Pemilik pabrik itu mengambil dompetnya, mengeluarkan uang 200 ribu dan memberikannya kepada si pemuda.
"Ini gajimu untuk seminggu. Sekarang, pergi dan jangan pernah kembali ke sini lagi!!!" kata si pemilik pabrik dengan wajah marah. Ia kemudian berkata kepada mandornya,
"Sudah berapa lama kau mempekerjakan pemalas seperti itu di pabrik ini???"
Mandor itu berkata, "Oh si pemuda tadi bukan karyawan di sini, pak. Dia cuma mau beli roti".
Pemilik pabrik, "Hah???!$#@@#?!"

Ayah's quote :
Sebelum bertindak atau ambil keputusan, mbok ya jelas dulu duduk perkaranya. Jangan main hantam. Konon ada tiga jenis orang. Orang bijak berpikir dulu baru bertindak. Orang bodoh bertindak dulu baru berpikir. Orang bebal bertindak dan tidak penah berpikir.

Catatan Harian

Day - 206

Kamis, 7 September 2006 -- Kezia dan Karen masih libur sekolah. Bertiga Dewi mereka main ke Science Centre. Mereka demen banget tuh ke sana. Pulangnya mereka cerita dengan sangat exciting. Menurut saya, bagus sekali kalau anak-anak sejak kecil diperkenalkan dengan teknologi dan ilmu pengetahuan. Tapi dengan cara yang pas dan menarik gitu. Biasanya kan itu jadi "momok" yang menakutkan di sekolahan. Pendekatan bermain sambil belajar bisa bikin itu ga jadi sesuatu yang “menakutkan”. Malah sebaliknya, jadi hiburan. Bagus buat perkembangan wawasan dan fantasi anak-anak.

Jadi ingat Indonesia. Saya ngebayangin seandainya saja anak-anak Indonesia pun punya fasilitas dan akses yang luas terhadap ilmu pengetahuan, betapa akan luar biasanya. Dengan segala "keterbatasan" saat ini saja, Indonesia bisa menghasilkan anak-anak pintar. Juara Dunia Olimpiade Fisika tahun ini kan dari Indonesia. Jonathan Pradana Mailoa. Belum anak-anak berprestasi lainnya yang ga terekspose. Sayang perhatian terhadap pendidikan anak-anak di Indonesia belum mendapat prioritas utama.

Bukan hanya di bidang science. Di bidang olahraga juga Indonesia punya talenta-talenta hebat. Di tenis ada Angelique Wijaya, juara Wimbledon junior. Sekarang Anggie ga kedengaran lagi kiprahnya. Di sepakbola dari Indonesia punya pemain-pemain hebat macam: Adjat Sudrajat, Ricky Yacob, Adolf Kabo, Frans Sinatra, Kurniawan, Bima Sakti, Bambang Pamungkas, dsb. Di tingkat internasional mereka "layu sebelum berkembang". Talenta hebat tanpa lingkungan yang kondusif, percuma juga kan. Jangan-jangan seorang berbakat seperti Ronaldinho atau Sharapova kalau lahir di Indonesia mungkin juga ga akan "mendunia" seperti sekarang:(.

Hari ini, seperti biasa pagi ngantor. Siang ngajar katekisasi. Malam rapat di gereja. Sorenya janjian sama Dewi, Kezia dan Karen di stasiun Bukit Batok MRT. Kita mau jemput teman dari Jakarta. Hari ini ada tiga orang teman dari Jakarta yang nelpon. Di sini saya punya "tugas" tambahan. Nemenin teman atau tamu dari Indonesia. Buat kami itu bagai pengobat rindu dengan Indonesia. Cuma kadang waktunya suka ga pas. Misalnya kalau saya pas lagi ada tugas lain. Sementara mereka di Singapore cuma singkat. Ngepasin waktunya itu loh. Jadi kadang ga semua bisa saya temenin. Sorry ya, temans.

Thursday, September 07, 2006

Thursday Hot Issue - 02


Pluto Lenyap di Praha


The Fact :
Sidang Majelis Umum Serikat Ahli Ilmu Falak Dunia (International Astronomical Union) di Praha, Republik Cek, pada 24 Agustus 2006 "menghapus" Pluto dari daftar planet dalam tata surya. Pluto dianggap tidak memenuhi kriteria sebagai planet. Orbitnya tidak sebidang. Massa-nya terlalu kecil untuk menghasilkan gaya tarik yang sanggup menahan bentuk permukaannya hingga tak cerai berai. Diameter Pluto hanya 2.306 km (bandingkan dengan bumi yang 12.746 km atau Jupiter yang 138.346 km) dengan jarak ke matahari 5,9 miliar km. Pluto butuh waktu 248 tahun untuk mengelilingi matahari (bumi butuh 365 hari). Pluto ditemukan pertama kali oleh astronom Amerika Clyde Tombaugh pada tahun 1930. Tombaugh meninggal tahun 1997 dan berharap abunya bisa dilabuhkan di benda langit temuannya itu. Pluto kini menyandang status baru : planet kerdil. (sumber : Majalah Tempo)

The Lessons :
Pengetahuan manusia dibanding alam semesta ciptaan Allah sungguh sangat terbatas. Maka aneh kalau kita begitu pongah dengan segala pencapaian dan prestasi kita. Betapa pun kita ini kecil di hadapan alam. Setiap pencapaian harusnya membuat kita makin tunduk dan luruh dalam sembah syukur kepada-Nya. Seperti padi yang makin berisi makin runduk. Atau seperti kata tag-line iklan mobil, if you already on the top, the only way to up to the next level, is down to earth.

Catatan Harian

Day - 207

Rabu, 6 September 2006
-- Hari terakhir retreat. Ibadah pagi diisi dengan Perjamuan Kudus. Terus lanjut session pembinaan. Penutup acara evaluasi. Sempet ngomong-ngomong sama teman-teman. Kita janjian mau main bulutangkis. Bareng istri masing-masing. Asyik juga. Menurut saya pembinaan wawasan dan pengetahuan buat para pendeta sama pentingnya dengan pembinaan kesehatian dan kerekanan. Dan pembinaan kerekanan dan kesehatian ini akan sangat terasa dalam kegiatan informal. Saya sendiri ga bisa bulutangkis. Tapi yang penting kan ketemunya, ngobrolnya, candanya, akrabnya.

Siang rombongan meninggalkan Johor Bahru. Menurut hikayat, kota ini dibangun tahun 1855 oleh Sultan Abu Bakar. Namanya konon diambil dari bahasa Arab "jauhar" yang berarti permata yang berharga. Waktu masuk Singapore, semua barang diperiksa pakai x-ray. Padahal waktu masuk Malaysia ga diperiksa begitu. Masuk saja gitu. Ga tahu kenapa koq beda begitu ya. Beda negara, beda standar :). Pulang ke rumah terus beres-beres. Cucian numpuk. Rumah ditinggal dua hari "ngeres" debu nih. Di Jakarta kalau pulang habis bepergian begini biasanya langsung tidur. Ada mbak yang beresin. Di sini semua dikerjakan sendiri. Bagus juga sih. Jadi dibiasakan mandiri. Anak-anak juga dibiasakan ga tergantung sama orang lain.

Di jalan saya baca di koran tentang perseteruan William Galas dan Jose Mourinho pelatih Chelsea. Galas tuh sudah 5 tahun main di Chelsea. Ia termasuk pemain yang sangat diandalkan. Ia bek serba bisa. Mourinho bisa tempatkan ia di kiri, kanan atau tengah. Sekarang mereka malah saling serang. Mourinho nuduh Galas mau bikin gol bunuh diri. Sebuah tindakan sangat tercela di dunia persepakbolaan. Galas balik nuduh Mourinho plin-plan dan ga ngehargai ia.

Yang saya kepikir, koq bisa ya. Mereka kan sudah bekerja sama begitu baik selama ini. Ibarat dua sahabat saling mendukung, saling men-support. Galas turut andil mengantar Chelsea jadi juara Liga Inggris dua tahun berturut-turut. Sebaliknya Mourinho juga berjasa besar mengangkat karier Galas. Dalam sepakbola manager dan pemain ibarat "jodoh" kan. Lha sekarang koq saling serang dan jatuhin gitu. Seolah dua musuh bebuyutan. Begitulah sebuah relasi kalau dasarnya "transaksional". Bukan relasi persahabatan sejati. Hanya dekat karena ada kepentingan. Habis manis lalu sepah pun dibuang.

Wednesday, September 06, 2006

Wednesday's Games Idea - 14


Jam Tanganku


Jumlah peserta : kelompok kecil sampai sedang (15-30 orang)
Alat yang dibutuhkan : barang-barang personal milik peserta yang dipakainya saat itu, misalnya jam tangan, dompet, topi (sebaiknya jam tangan).
Waktu yang dibutuhkan : 15-30 menit
Aturan permainan :
Kumpulkan jam tangan 3 orang peserta. Mintalah mereka secara bergantian mempresentasikan/menceritakan kepada seluruh peserta tentang gambaran jam tangan milik mereka masing-masing. Sedetil-detilnya. Setelah selesai mempresentasikan, peserta yang lain dipersilahkan bertanya tentang jam tangan tersebut. Misalnya, apa mereknya; apakah ada tanggal atau tidak; apakah angkanya latin atau romawi; angkanya lengkap atau tidak; warna dasarnya, dan lain-lain. Bahaslah apakah mereka sanggup mengenali secara detil sebuah benda yang mereka pakai setiap hari. Bahkan yang mereka lihat lebih dari belasan kali setiap hari.
Tujuan permainan :
Sesuatu yang sudah biasa kadang kurang mendapat perhatian. Nggak dihargai. Contohnya, nafas dan waktu. Sering nggak diperhatikan dan dihargai, karena sesuatu yang biasa. Jangan menunggu sampai sesuatu itu hilang dari kita baru menghargainya. Tetapi, hargailah apa yang kita miliki saat ini. Begitu juga dengan orang-orang di sekeliling kita.

Catatan Harian

Day - 208

Selasa, 5 September 2006 -- Hari ini acara pagi hanya sampai jam 11.00. Terus disambung lagi jam 19.30. Di antara waktu itu acaranya makan dan istirahat. Rencananya mau ada sepak bola. Tapi hujan. Jadi acara bebas. Dengan beberapa teman saya sempet berbincang. Just tanya "asal usul" dan kesukaan :). Sekalian ngebiasain bahasa Inggris. Hehehe. Menurut saya, di acara retreat pendeta seperti ini yang penting tuh acara kebersamaan. Jadi bisa lebih saling kenal dan lebih akrab.

Yang surprise tuh Kezia dan Karen. Ada anak-anak lain seusia mereka yang ikut retreat. Mereka langsung bisa "nyambung" loh. Ngobrol dan main kejar-kejaran. Pakai bahasa Inggris. Anak-anak emang amazing ya. Cepat sekali beradaptasi. Ibarat komputer otak mereka bisa langsung ngolah data yang masuk. Termasuk data dalam Bahasa Inggris. Sedang saya sudah terbiasa ngolah dalam Bahasa Indonesia. Bisa juga karena mereka ga terlalu mikirin takut salah ngomong. Pokoknya ngomong. Jadi lebih lepas dan tanpa beban. Kalo orang dewasa kan pake mikir dulu. Banyak takutnya :).

Agak sore hujan reda. Kita sekeluarga berenang. Hotel Sofitel Palm Resort ini fasilitasnya bagus. Tempatnya bagus, pemandangannya juga oke. Tapi sayang service-nya, ga gitu memuaskan. Makanannya juga ga gitu cocok sama anak-anak. Banyak lalat lagi. Heran deh. Untung Dewi bawa mie instan dari rumah. Perempuan tuh emang punya "insting" untuk yang begitu-begitu kali ya :). Jam 19.30 kita masuk session lagi. Ada acara diskusi juga.

Tadi sayup-sayup dengar lagu Ebiet G. Ade. Titip Rindu Buat Ayah. Di Malaysia dengar lagu Ebiet. Rasanya gimana gitu. Tiba-tiba saya jadi ingat Papa saya. "Ayah dalam hening sepi kurindu, untuk menuai padi milik kita". Saya ga punya kenangan menuai padi dengan Papa. Papa bukan petani. Tapi saya punya kenangan dibonceng pake sepeda tua kemana-mana oleh Papa. "Bahumu yang dulu tegap legam terbakar matahari...". Saya jadi ingat kenakalan dan kelakuan ga baik saya terhadap Papa :(. Maafin saya, Pa. Papa sekarang sudah "rapuh" termakan usia. Kelak sayapun akan merapuh. Semoga saya masih punya kesempatan membahagiakan Papa. Semoga pula, saya pun bisa meninggalkan kenangan indah buat Kezia dan Karen. Sekecil apa pun. Sebagaimana Papa terhadap saya.

Tuesday, September 05, 2006

Catatan Harian

Day - 209

Senin, 4 September 2006 -- Hari ini ke Johor Bahru, Malaysia. Retreat pendeta dan preacher gereja Presbitarian Singapore. Bersama Dewi, Kezia dan Karen. Tadi waktu berangkat dari rumah, cari taxi ga dapet-dapet. Sampe 20 menit lebih kita berdiri di pinggir jalan. Akhirnya on-call. Kalau on-call ada biaya tambahan. Jadi lebih mahal. Tempo hari teman pernah bilangin kalo lagi jam sibuk, taxi kadang suka sengaja "ngumpet". Biar dapat order on-call gitu. Hari Senin pagi termasuk jam sibuk.

Kita ngumpul di Gereja Presbyterian True Way di daerah Queenstown. Kita datang terlambat. Sudah ditungguin :). Bareng-bareng naik bis ke Johor Bahru. Pesertanya kalau dihitung sama anak-anak, ada sekitar 100 orang. Presbyterian Church Singapore tuh terdiri dari dua Presbyteri. Kalau di GKI klasisnya-lah. Presbyteri Bahasa Inggris dan Bahasa Mandarin. Dalam Presbyteri Bahasa Inggris ada tiga kongregasi: Bahasa Inggris, Jerman dan Indonesia. Yang Bahasa Indonesia hanya ada di GPO dan GPBB. Retreat ini adalah retreat Presbyteri Bahasa Inggris. Di GKI istilahnya Konven. Acaranya sih so far so sama-lah.

Ada pembinaannya. Ceramah dan diskusi. Topik utama “The Pastoral Ministry”. Pembicaranya pendeta dari Australia yang ngajar di sekolah teologi di Singapore. Saya hanya ngerti dikit-dikit. Untung ada hand-out materinya. Baca lebih ngerti :). Waktu diskusi, saya juga lebih banyak dengerin. Hitung-hitung latihan denger-lah. Lalu ada meeting-nya juga. Bahas beberapa masalah intern. Buat saya pribadi ga gitu berkaitan sih. Saya justru dapat banyak masukan dan pengetahuan baru dari ngobrol-ngobrol dengan sesama peserta saat break.

Tempat retreat-nya di Sofitel Palm Resort, Johor Bahru, Malaysia. Di daerah Senai. Tempatnya lumayan oke-lah. Sekitar 60 km dari Singapore. Ga gitu jauh. Ini untuk pertama kalinya saya bepergian lintas negara pake jalan darat. Pengalaman baru. Mengunjungi tempat baru buat saya adalah pengalaman menyenangkan. Kesempatan untuk belajar sesuatu. Dan tentu, menulis sesuatu juga :).

Monday, September 04, 2006

I Like Monday - 01

Inspiring Singapore :
"Paying Forward"


Chen Huifang, seorang pelajar di Singapore, menerima sebuah email luar biasa. Isinya, ia akan menerima uang sebesar $4,000. Ayahnya bekerja sebagai supir taxi. Ibunya seorang ibu rumah tangga. Uang sebesar itu diterimanya dalam bentuk beasiswa. Peristiwa biasa. Yang luar biasa, adalah pengirim email itu. Orang yang memberi uang itu. Ia adalah Darren Lim. Pria berumur 25 tahun. Baru menyelesaikan sekolah. Sekarang bekerja sebagai analis bank. Darimana uang itu? Dari gaji pertamanya. Ia berkomitmen dan berinisiatif untuk membantu siswa lain yang butuh biaya sekolah.* Ia memilih tidak menggunakan pendapatannya untuk dirinya sendiri. Tetapi untuk orang lain. Berapa banyak dari kita yang mau berkorban bagi kepentingan orang lain? Bahkan untuk orang yang tidak kita kenal sekalipun? Apa yang kita tabur, akan kita tuai. Mungkin tidak sekarang. Mungkin tidak sempat kita nikmati. Tapi akan kita tuai. Suatu saat.
(*Sumber berita : Channelnewsasia.com)

Catatan Harian



Day - 210

Minggu, 3 September 2006 -- Hari ini ga khotbah. Tapi tetap “bertugas” di dua kebaktian. Nyalamin dan nemenin jemaat tea time. Acara tea time tuh oke sekali loh. Buat kenal dekat dengan jemaat. Hari ini juga pembukaan bulan keluarga. Tadi buku renungan bulan keluarga dibagikan. Saya yang wartakan lisan penggunaan dan peruntukan buku tersebut. Di sini pendeta juga biasa bawakan warta lisan kalau ada hal-hal yang penting dan perlu stressing. Saya ga biasa bawakan warta lisan begitu. Jadi masih "gagap". Di Jakarta kan tentang warta lisan biasanya urusan penatua :).

Saya senang sekali dengan buku renungan keluarga ini. Jemaat juga sangat responsif. Malah ada yang usulin sebulan sekali. Buku tersebut ditulis barang-bareng para pasangaan suami istri. Formatnya: narasi dan ilustrasi singkat berkenaan dengan karakter kristiani seperti rendah hati, setia, murah hati, dan ramah. Lalu ada pertanyaan dskusi berangkat dari ayat-ayat Alkitab. Buku tersebut bisa dipakai sebagai bahan persekutuan di keluarga inti atau keluarga rohani. Atau juga teman sekos satu rumah. Kalau di Jakarta buku semacam ini bisa jadi bahan KTB. Setahu saya salah satu kesulitan bikin KTB di beberapa gereja di Jakarta adalah bahan. Bahan yang ada biasanya dari gereja ga sealiran. Sementara bahan sendiri ga ada.

Siang ikut latihan vokal grup keluarga senior. Untuk penutupan bulan keluarga 24 September ada vokal grup dadakan, para suami istri dari keluarga senior. Saya dan Dewi ikutan juga. Secara "manusiawi" saya sih sebetulnya daripada disuruh nyanyi lebih baik disuruh khotbah deh. Hehehe. Bayangkan khotbah saja buat saya sudah begitu berat. Dan kalau saya lebih milih khotbah daripada nyanyi. Bisa dibayangkan beratnya nyanyi buat saya. Tapi karena ini ramai-ramai okelah. Kalau salah kan ga ketahuan.

Sore rapat majelis di GPO. Berangkat bareng teman. Di sini saling jemput oleh teman yang punya mobil tuh bisa menjadi sarana kearakaban juga. Di jalan kita bisa sambil ngobrol. Ga kerasa sudah dua bulan saya di GPBB. Sementara Dewi dan anak-anak jalan-jalan ke West mall. Besok retreat pendeta dan preacher gereja presbitarian se-Singapore beserta keluarga di Malayasia. Jadi perlu siap-siap beli-beli makanan dan susu buat anak-anak. Di sini ga cemaslah jalan-jalan malam-malam naik bis. Saya sebetulnya “berbeban” nih dengan ret-ret. Bukan apa-apa. Pasti cuma saya lagi deh yang Inggrisnya kacau :).

Sunday, September 03, 2006

Catatan Harian

Day - 211

Sabtu, 2 September 2006 -- Kemarin pulang kantor saya salah naik bis. Asyik telepon dan SMS jadi naik bis yang salah. Baru sadar setelah agak jauh. Koq jalannya lain. Terus turun deh. Nyeberang. Nunggu bis yang sama arah sebaliknya. Tapi lama banget. Padahal malamnya kan ada acara lagi. Jadi naik taxi. Eh, taxi pertama sudah naik. Sopirnya bilang ga tahu Hillview. Sudah saya jelasin, dekat Bukit Timah. Biasanya sopir taxi sudah tahu kalau dibilangin Bukit Timah. Ia tetap bilang ga tahu. Kalau mau saya tunjukin jalannya. Akhirnya saya turun. Saya naik taxi lain. Taxi kedua langsung oke.

Waktu kemudian saya cerita ke teman. Ia bilang sopir pertama tadi sengaja “nakal”. Ga mungkin ga tahu. Apalagi sopir taxi pasti kan bawa peta. Ia mungkin ga mau karena jarak dekat. Emang sih dengan taxi dari tempat saya turun sampai rumah cuma sebentar sekali. Teman saya bilang, taxi di sini kadang ada juga yang nakal. Resep ia kalau naik taxi ingetin saja nomor taxinya. Sebab peraturan di sini keras. Kalau sampai dlaporkan bisa kehilangan ijin kerja. Peraturan yang tegas dan jelas, itu salah satu yang bikin Singapore menjadi negara yang relatif aman.

Hari ini seperti biasa ngantor. Siang sempat ikut makan bareng dengan remaja di food court depan gereja. Terus ngajar katekisasi. Lanjut pimpin persekutuan pemuda. Sebelum pulang sempet makan malam bareng juga dengan pemuda. Acara makan bareng tuh sangat biasa. Maklum kan sebagian besar “anak kost”. Ini menjadi acara rutin dan justru sangat bagus buat keakraban dan kebersamaan. Kadang kita sulit cari waktu ketemu. Pakai jam makan siang atau malam. Sambil ngobrol.

Besok ga ada tugas khotbah. Rasanya lega benget. Inilah pertama kali dalam dua bulan hari minggu saya ga khotbah :). Rasanya seperti orang yang bisa berisitirahat dengan tenang gitu. Hehehe. Main sama anak-anakpun terasa “lebih lepas” gitu. Ga “dibebani” pikirin besok. Sampai ketiduran dalam kelegaan. Hehehe. Tengah malam hampir subuh terbangun. Di Indonesia kalau jam-jam segini terbangun tinggal setel TV. Akhir minggu kan biasa ada sepakbola. Di sini TV acaranya standar-standar saja. Baru sadar betapa di Indonesia kita tuh sangat dimanjakan TV. Sepakbola ada liga Italy, Spanyol, Inggris. Belum special F1. Atau moment khusus olahraga lain kayak tenis dan tinju. Kita bisa nonton bebas. Di sini mana ada televisi siarin acara-acara “mahal” begitu. Kalau mau nonton pasang TV Cable. Bayar. Mana ada negara yang memanjakan masyarakatnya dengan acara TV selain Indonesia kan. Jadi siapa bilang Indonsia itu “krisis”?

Saturday, September 02, 2006

Renungan Sabtu - 16


Kepercayaan


Di depan rumah ada penjual buah-buahan yang suka lewat. Biasanya sekitar jam-jam dua-an. Siang-siang. Pakai gerobak dorong.

Suatu hari saya mau beli. “Manis gak, Bang?” tanya saya. “O, manis, Pak. Jeruknya manis, mangganya juga manis. Dijamin deh,” jawabnya meyakinkan.
Lalu saya beli jeruk dua kilo, mangga dua kilo. Saya kupas satu jeruk yang sudah dikilo: kecut. Satu lagi: kecut juga. “Lha, kok kecut sih?” protes saya. Dia cuma nyengir. Tanpa berkata apa-apa.

Di rumah saya kupas mangganya: kecut juga. Alhasil, jeruk dan mangganya tidak ada yang kemakan. Ya, sudah. Saya tidak mau lagi beli. Dia masih suka lewat di depan rumah. Tetapi belakangan, saya tidak pernah melihatnya lagi.

Kepercayaan adalah modal utama dalam bisnis apa pun. Maka, jangan sekali-kali menodai kepercayaan. Sebab sekali kepercayaan itu runtuh, biasanya akan sangat sulit dipulihkan kembali.

Prinsipnya: Buatlah orang lain percaya, lalu pertahankan kepercayaan itu sekuat
tenaga. Bukan untuk siapa-siapa, tetapi untuk diri kita juga. Paling tidak, supaya hidup kita tidak menjadi lebih sulit.

Dari buku Tragedi dan Komedi - Ayub Yahya, diterbitkan oleh Grasindo

Friday, September 01, 2006

Catatan Harian

Day - 212

Jumat, 1 September 2006 -- Hari yang padat. Pagi sampai siang pimpin kebaktian tutup peti. Yang meninggal orang Indonesia. Jenazah mau dibawa ke Klaten sore harinya. Saya naik MRT ke Bishan. Ketemu teman di sana. Lalu kita sama-sama ke Casket di daerah Toa Payoh. Casket tuh toko yang jual peti mati, tapi sekaligus bisa menyediakan jasa untuk ngurus surat-surat berkenaan dengan kematian. Disitu ada ruangan untuk kebaktian. Katanya bisnis Casket di situ sudah tiga turunan. Di Jakarta saya dengar ada perusahaan yang join dengan rumah duka di rumah-rumah sakit. Jualan peti mati dan aksesoris “pemakaman”. Konon itu bisnis milyaran. Apa bisa “tenang” dari bisnis ginian ya?! Wow.

Pulang ke gereja ngajar katekisasi. Ada seorang pekerja rumah tangga yang mau baptis. Katanya sudah lama ia bergumul dengn kekristenan. Dari percakapan, ia orang yang pintar untuk ukuran seorang pekerja rumah tangga. Menarik mendengar pergumulan ia sampai akhirnya mau baptis. Saya paling hati-hati kalau soal beginian. Berdasarkan pengalaman di Jakarta. Ga sedikit orang mau baptis tuh dengan motivasi “ga-ga”. Tapi ia beda. Dari cara ia bicara, dan kualitas bicaranya, saya yakin ia “tulus”. Itu merupakan sebuah keputusan yang diambilnya dengan sadar dan yakin.

Sebelumnya ia sempet cerita tentang lika-liku gimana ia sampai di Singapore. Ia berasal dari sebuah desa di Purwodadi. Lewat agen ia dibawa ke Jakarta. Kemudian setelah beberapa bulan ia dikirim ke Singapore. Gajinya katanya 290 sing dolar. Tapi selama 8 bulan ia hanya dibayar 10 dolar. Yang 280 untuk agen yang ngebiayai ia sampai Singapore. Kasihan. Tenaga kerja Indonesia di luar negeri tuh paling rentan. Kebanyakan karena ketidaktahuan mereka. Dan juga ketidakpedulian pemerintah.

Hari ini anak-anak libur sekolah . Teacher's Day. Kezia dan Karen main ke Science Centre di daerah Jurong East. Mereka diajak teman yang bersama anak-anaknya main ke sana. Sementara Dewi ikut persekutuan Komisi Wanita. Malamnya saya pimpin persekutuan pria yang diperluas. Diperluas maksudnya karena yang ikut boleh siapa saja. Ibu-ibu, pemuda, pasangan dari keluarga muda. Pulang sampe rumah jam 11-an. What a day.

Friday's Joke - 13


LANGSING



Setelah sekian lama tidak bertemu, Ana akhirnya berkesempatan bertemu dengan sepupunya Ani. Ana kaget melihat Ani yang badannya "melar".
Supaya tidak menyinggung sepupunya itu, Ana berkata kepada sepupunya Ani,
"Berenang adalah latihan yang baik untuk menjaga tubuh tetap langsing dan ramping".
Mendengar itu, Ani yang memang tidak senang berolahraga itu, menjawab dengan sewot,
"Kamu pikir begitu? Terus kenapa aku nggak pernah melihat ikan paus yang langsing perutnya?"

Ayah's quote :
Kritik memang bukan hal yang menyenangkan untuk didengar. Lebih dibutuhkan kebesaran hati daripada ketajaman pendengaran. Ketika dikritik, sering kita lebih suka defensif daripada introspeksi. Mencari pembenaran. Dan bukan solusi. Padahal kritik yang dikelola dengan baik, bisa jadi lecut bagi perbaikan diri.

Fresh From The Oven

And They Lived Happily Ever After
Ayub Yahya, 2006
Penerbit : Gloria Graffa, Yogyakarta


What inside ?

Tahukah Anda : Apa saja pondasi dalam rumah tangga? Bahwa kuatir untuk menikah itu wajar? Bahwa Pernikahan tanpa konflik itu cuma mitos? Bahwa pernikahan itu penjara? Bahwa marriage life is full of surprise? Bahwa daster dan fitness punya pengaruh dalam pernikahan? Bahwa pernikahan itu ga melulu cerita romansa? Bahwa ada hewan sejenis Coptotermes dan Sedotermes dalam pernikahan juga? Bahwa ada cara bikin seks tambah indah dalam pernikahan? Bahwa tune-up pernikahan itu perlu? Bahwa ada cara bikin pria tiga kali jatuh cinta? Bahwa jodoh anda bisa ketemu di ATM? Jawabannya lengkap ada dalam buku ini.

What People Said?

Bagaikan sebuah berlian, penulis mengajak kita melihat Pernikahan dari berbagai sudut. ‘Pernikahan ibarat sebuah taman’; ‘pernikahan ibarat gunung’; ‘rayap-rayap pernikahan’; dlsb. Semua ditulis dalam bahasa yang ‘enak’ untuk dicerna. (Preacher Budianto, GPBB - Singapore)
Buku ini sanggup membuat pandangan kita terhadap penikahan yang sesungguhnya terbuka. Takjub karena menemukan hal yang baru dan lebih detil. Lebih kecil lagi. Dan makin detil lagi. Sampai tidak ada celah untuk menemukan hal lain lagi. Selengkap itulah buku ini membahas tentang pernikahan. Gambaran yang lengkap, detil, apa adanya, membuka wawasan, menarik, dan terutama praktis dan applicable. Gaya khas tulisan-tulisan Ayub Yahya. (Ayaco AE. Xavierra, penulis prolog)

Who Should Read This Book?

Bagi Anda yang tengah mempersiapkan pernikahan, atau punya niat untuk menikah, atau punya angan-angan untuk menikah, buku ini bisa menjadi sebuah “manual to start” yang tepat. Dan bagi Anda yang telah menikah, buku ini tidak kurang manfaatnya, bisa menjadi “Manual for service”. Anda akan terbimbing, terdorong, terpandu untuk menyuburkan, merawat, dan menjaga pernikahan Anda.

Ayub Yahya's Wish : May all of you live happily ever after.

On Sale September 2006 at leading bookstores in Indonesia and at GPBB - GPO Singapore

Catatan Harian

Day - 213

Kamis, 31 Agustus 2006 -- Besok Teacher's Day. Hari libur nasional. Anak-anak merayakannya hari ini. Kebiasaan pada hari guru, anak-anak memberi hadiah kepada guru mereka. Hadiah sederhana. Macam gantungan kunci atau pulpen. Atau berupa kartu ucapan bikinan sendiri. Intinya mendorong anak-anak mengapresiasi guru. Good. Budaya yang sangat bagus. Di gereja baik juga ada kebiasaan serupa untuk para GSM.

Karen masuk sekolah pagi. Jadi pulang lebih pagi. Kezia sekolah biasa. Dewi pelawatan sama ibu-ibu Komisi wanita. Tadinya saya mau ke kantor siang. Setelah Dewi pulang. Tapi ada yang harus dikerjakan pagi ini. Buku renungan keluarga. Jadi berdua Karen saya ke gereja. Ketemu teman. Anaknya teman Kezia dan Karen di SM. Ia ngajak Karen main ke rumahnya. Karen mau. Ya, sudah. Sekalian titip. Pulang saya jemput atau ia anterin ke gereja. Rumah ia ga jauh dari gereja. Di sini banyak keluarga muda. Jadi biasa saling titip anak-anak gitu. Hehehe.

Seharian hujan nih. Saya pulang agak siang. Harus tunggu Kezia pulang sekolah. Waktu di bis ada “encek-encek” tanya-tanya pakai bahasa Mandarin. Saya ga ngerti. Encek itu lalu pakai bahasa Melayu patah-patah. Masih ga gitu jelas sih. Yang saya tangkap; encek itu tanya saya ini China, bukan? Kalau China mestinya bisa bahasa Mandarin :))). Saya cuma nyengir.

Jam 9 malam janjian ketemu beberapa teman pemuda di KFC West Mall. Di sini nyari waktu ketemu susah. Jadi kadang kalau emang penting ya ambil waktu malam. Kita bicarain pengembangan Warta Jemaat. Kita sepakat Warta Jemaat bisa ga cuma sebagai sarana informasi kegiatan gereja. Tapi juga bisa jadi sarana pembinaan. Tapi kalau mau total ubah kan susah. Jadi kita mau bikin semacam sisipan dalam Warta Jemaat. Isinya artikel atau renungan yang berguna buat Jemaat. Saya pergi berdua Kezia. Ia mau ikut karena katanya besok kan libur. Dan ia pengen jalan-jalan naik bis malam-malam. Dewi sama Karen di rumah. Karen agak ga enak badan.