Showing posts with label Indonesia Inspiring Stories. Show all posts
Showing posts with label Indonesia Inspiring Stories. Show all posts

Sunday, March 25, 2007

Sunny Sunday - 20


Indonesia Plus
Judul


Jadi Gembel. Itu pilihan Mustafa. Usianya 70 tahun. Tubuhnya kurus tapi liat. Bersama istrinya, Kadem mereka tinggal di kolong jembatan sungai Ciliwung di daerah Bukit Duri. Menempati rumah seadanya berukuran 3 x 3. Daerah kumuh dan becek. Mustafa bekerja sebagai tukang service jam tangan. Kadang juga nyambi jadi pemulung. Penghasilannya 25.000 sampai 300.000 seminggu. Tergantung. Asalnya dari Madura. Di tanah kelahirannya itu ia punya warisan tanah. Semua sudah dihibahkannya untuk dibangun madrasah dan mesjid. Ia juga tergolong jago service jam. Ketrampilannya ini membuatnya berkenalan dengan seorang pengacara kaya. Ia berhasil memperbaiki jam tangan milik pengacara itu. Konon buatan Swiss dan sudah dibawa kemana-mana tidak berhasil. Mustafa berhasil. Sejak saat itu hubungan mereka menjadi dekat. Bahkan kemudian diangkat saudara. Di kantong Mustafa ada handphone motorola pemberian sang pengacara. Sang pengacara berkali-kali minta mereka pindah ke salah satu rumahnya. Buat jagain. Mereka menolak. Alasannya, mereka tidak mau terima bantuan yang nantinya malah akan membelenggu kebebasan mereka.

Ayah's Plus Point:
Hidup ini penuh pilihan. Mau jadi apa kita, tergantung pilihan bijak kita. Semua pilihan pasti punya resiko. Tapi apapun pilihan kita. Dengarkan kata hati. Lakukan dengan bajik dan bijak. Dan melangkahlah dengan kepala tegak.

Sunday, March 18, 2007

Sunny Sunday - 19

Indonesia Plus
Pemburu Kusta Tiga Zaman


Paulus Osok adalah orang pertama Indonesia dan orang ketiga di dunia yang menerima penghargaan dari badan lepra dunia, The Nederlands Stichting voor Leprabestrijding (NSL) pada tahun 1989. Sebelumnya, ia juga pernah menerima penghargaan dari Menteri Kesehatan RI atas pengabdian dan jasanya bagi peningkatan usaha-usaha kesehatan, khususnya bidang higienis dan sanitasi. Selain itu, bersama istrinya Mama Benedicta Lau Manyauw Castro, menerima penghargaan Berkat Apostolik dari Paus Yohanes Paulus II atas jasa dan pengabdiannya selama 34 tahun bekerja untuk membantu penderita kusta (lepra) di Kabupaten Merauke. Ia menamatkan pendidikan sekolah perawat di Makassar tahun 1946. Pada periode 1959, Paulus Osok merintis pelayanan pemberantasan penyakit kusta dan frambusia yang selama ini tidak terlayani. Pekerjaan yang ditangani di luar pekerjaan rutinnya di RS Merauke. Kesabarannya mencari dan melayani/mengobati penderita kusta membuat ia dijuluki sebagai "Mantri Pemberantas Kusta". Keuskupan Agung Merauke menjulukinya "Bapa Pembela Kusta". Pada 15 Maret 2007, Paulus Osok meninggal dunia pada usia 85 tahun di Merauke Papua. Tapi karyanya tak pernah mati. (sumber:kompas.com)

Ayah’s Plus Point :
Sebuah karya kemanusiaan, yang bertolak dari "pengabdian" tidak kenal lelah dan ketulusan hati, di pelosok manapun itu terjadi harumnya pasti semerbak tercium ke seantero jagad. Mengatasi jarak dan waktu. Dan jejaknya melekat di hati siapapun. Semoga cerita-cerita "indah" seperti ini bisa semakin sering berkumadnang di Indonesia.

Sunday, March 11, 2007

Sunny Sunday -18


Indonesia Plus
Bersyukur


Pria sederhana berusia 25 tahun ini, sudah lima tahun menekuni profesinya. Ia hanya lulus SD. Sudah merantau sejak usia 14 tahun. Menguasai tiga bahasa. Sunda, madura, dan bahasa Indonesia. Dengan keahliannya, Yunus menjelajah rimba Jakarta. Menenteng bangku kecel dan gerobak dorong. Isinya jarum sol, sedotan sol, obeng, kakatua, palu, benang good year berbagai warna, lem, gunting, besi ambleng dan paku berbagai ukuran. Yunus memang berprofesi sebagai tukang sol keliling. Area kerjanya perumahan Pejaten Timur Jakarta Selatan. Penghasilannya tentu saja tidak menentu. 30 ribu kalo apes. 150 ribu kalo lagi rame. Alasan Yunus sederhana, ia lebih senang jadi tukang sol, karena jadi "bos" atas dirinya sendiri. Ia bisa menghidupi istrinya yang sedang hamil. Bisnisnya pun berkembang ke jual beli sepatu bekas. Dari profesinya ia merasa bisa membantu orang lain. Konon pernah ia lewat di sebuah rumah dan ditawari sepatu bekas. Yang punya rumah terpaksa jual sepatu anaknya untuk beli beras. Dari kejadian itu Yunus berkesimpulan, ia tidak sendiri bergulat dengan masalah kekurangan. Semua orang punya kesusahan sendiri. Yunus pun bersyukur atas apa yang ia miliki. (sumber : Kompas online)

Ayah's Plus Point :
Kekayaan kita tidak diukur dari seberapa besar yang berhasil kita kumpulkan. Tapi seberapa banyak yang bisa kita berikan. Mari belajar mensyukuri apa yang ada pada kita. Dan belajar memberi. Pun dari segala keterbatasan dan kekurangan kita.

Sunday, March 04, 2007

Sunny Sunday - 17


Indonesia Plus
The Professor


Ada yang istimewa di ajang Java Jazz Festival di Jakarta awal Maret 2007. Pengisi acaranya selain para musisi jazz berkelas dunia seperti Chaka Khan, Sergio Mendez, David Benoit, Jamie Culum, Dave Weckl, Level 42, Sadao Watanabe, Brian Simpson dan lain-lain. Tapi juga para musisi jazz tanah air. Seperti Bubi Chen, Elfa's Singer, Idang Rasjidi, Ruth Sahanaya, Titi DJ, Shanty, Marcell, Syahrani, Tompi, Rika Roeslan, dan masih banyak lagi. Di antara puluhan penampil ada satu grup unik. The Professor. Bukan saja namanya yang unik. Tapi juga personilnya. Dinamai The Professor karena memang personilnya adalah para profesor dan dosen perguruan tinggi Indonesia. Mulai dari rektor UI Usman Chatib Warsa, Psikolog Sarlito Wirawan yang main saksofon, dokter Ichramsyah sebagai vokalis, Raldi Artono Koestoer profesor teknik mesin yang memainkan flute, Paulus Wirotomo profesor sosiologi yang kebagian menggebuk drum, Martani Huseini profesor yang kebagian main saksofon dan Profesor Ronny Nitibaskara kriminolog yang pintar bermain mandolin. Mereka dibantu oleh para dosen biasa seperti Errie Iriani Sophiaan. Mereka rutin berlatih bahkan juga manggung di kafe Blog Kampus UI Depok. Di panggung, para profesor yang penuh wibawa ini di depan mahasiswanya ini, ternyata mengalami demam panggung. Tapi mereka juga bisa terbawa suasana dengan berjingkrak-jingkrak di atas panggung. Band ini dibiayai secara saweran dan tidak menjadikan honor sebagai tujuan utama. Jadi, dibayar dua sampai lima juta mereka tidak menolak. (Sumber : Gatra dan website JJF 2007)

Ayah's Plus Point:
Musik adalah bahasa universal. Alat komunikasi yang menghibur. Dan jarang bias arti. Yang bisa dipahami oleh siapa saja. Tak mengenal kasta. Tak mengenal gelar. Penyeimbang ruang kehidupan. Membuat hidup tak melulu monoton oleh grafis, kata dan angka. Tapi juga nada.

Sunday, January 28, 2007

Sunny Sunday - 16


Indonesia Plus
Runtuhkan Sekat, Sekarang Era Akses


Enam perguruan tinggi di Yogyakarta membangun kerja sama mengembangkan sistem interkoneksi perpustakaan digital online. Nantinya antar perguruan tinggi bisa saling mengkases data dan koleksi perpustakaan. Cetak maupun digital secara online melalui jaringan intranet. Konsep seperti ini sudah menjadi model di universitas di luar negeri. Kelima perguruan tinggi itu, yakni Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Universitas Negeri Yogyakarta, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Universitas Ahmad Dahlan, dan Institut Sains dan Teknologi "Akprind". Dengan begitu, sekat-sekat antar Perguruan Tinggi (PT) khususnya soal akses perpustakaan, akan terbuka. Selama ini akses peminjaman koleksi antarperpustakaan terkendala rasa kepemilikan yang terlalu kuat di masing-masing perpustakaan. Kini setiap sivitas akademika di sebuah PT bisa mengkases koleksi perpustakaan di PT lain secara terbuka. Sekarang adalah era akses bukan era kepemilikan. Di lain pihak ini juga bisa menyiasati masalah kekurangan anggaran dari tiap perpustakaan. (sumber : kompas.com)

Ayah’s Plus Point:
Sekat hanya akan menghambat kemajuan. Apalagi dalam pendidikan. Semakin lebar akses dibuka, semakin baik. Dalam dunia pendidikan, sudah saatnya kita tidak menjadi eksklusif. Tidak pelit berbagi ilmu. Karena semakin banyak ilmu disebar, semakin banyak pelajaran yang dituai.

Sunday, January 21, 2007

Sunny Sunday - 15


Indonesia Plus
From Indonesia With Love


Elfa Secioria dan Elfa’s Singers (yang terdiri dari Yana Julio, Lita Zein, Uci Nurul, dan Agus Wisman) melalui dua album "From Indonesia With Love" telah menjadi duta budaya. Dalam album ini ada medley lagu dari Tapanuli, Sunda, Betawi, Maluku, Timor, Sulawesi, dan Bali. Dalam khazanah musik Indonesia, sebenarnya bukan hanya Elfa yang mengekspresikan cinta Tanah Air ini melalui musik. Sebelum ini sudah ada album "Tanah Airku" (My Homeland) yang menampilkan Tri Ubaya Cakti Chorus dengan iringan Shanghai Philharmonic Orchestra. Twilite Orchestra dan Cisya Kencana Orchestra dalam sejumlah pergelarannya memainkan komposisi Nyanyian Negeriku gubahan Singgih Sanjaya yang juga memuat rangkaian lagu Tanah Air, mulai dari Bungong Jeumpa dari Aceh hingga Yamko Rambe Yamko dari Papua. Terakhir, menjelang Hari Kemerdekaan Agustus 2006, Orkes Kamar Capella Amadeus juga memainkan khazanah musik Tanah Air dengan sangat menggugah. Nyanyian "From Indonesia With Love" selain memberi rasa sukacita, juga menetaskan kembali sense of nationhood, rasa kebangsaan. Bahwa meski 300 suku dengan bahasa dan dialek berbeda itu, dengan nyanyian yang berlainan bahasa itu, semua ada dalam naungan satu ibu pertiwi. Indonesia indah yang hilang itu harus ditemukan kembali, antara lain melalui lagu-lagu elok tadi. Di tengah keterpurukannya, anak bangsa ini tak boleh kehilangan harapan. Lagu-lagu itu membenarkan peribahasa "Dum vita est, spes est". Selama masih ada hidup, harapan itu ada. (sumber:kompas.com)

Ayah’s plus point:
Banyak wadah untuk orang menunjukkan rasa cinta. Lagu, puisi, tulisan, bunga, ucapan, doa, tindakan, dll. Cinta membuat sesuatu yang biasa jadi luar biasa. Sesuatu yang hitam tidak terlihat kelam. Sesuatu yang pahit tetap dapat tertelan. Termasuk cinta kepada bangsa dan negara. Cinta jugalah yang menerbitkan harapan: Indonesia akan bangkit. Semoga.

Sunday, January 14, 2007

Sunny Sunday - 14


Indonesia Plus
Penemuan


Setiap malam hari, seorang nelayan berusia 45 tahun meninggalkan rumahnya. Ia pergi untuk menengok jaringnya yang direntangkan dengan bantuan belle (kaleng). Sudah 10 tahun ia menggeluti pekerjaannya. Baru enam bulan terakhir ia beralih menjadi perentang jala. Berharap ikan tersangkut dijaringnya tanpa perlu pergi melaut. Penghasilannya tidak menentu. Ia membawa pulang Rp. 20.000 sampai Rp. 30.000 per hari. Atau sekedar ikan untuk dimakan bersama keluarganya. Hidupnya berubah ketika pada Selasa, 9 Januari 2007 yang lalu, pada pukul 03.00 subuh, saat ia melihat jaringnya. Ia memang tidak menemukan ikan. Tapi ia menemukan sebuah benda asing. Yang bikin tambah istimewa adalah karena ternyata benda itu adalah benda paling dicari. Tidak kurang dari sebuah kapal berperalatan canggih dari Amerika, USS Mary Sears, pesawat Kanada King Air-200, pesawat Foker 50 milik Singapura, serta armada TNI AL mengubek-ubek Laut dan darat mencari petunjuk. Tapi, justru seorang nelayan dari Kabupaten Barru bernama Bakri-lah yang menemukan benda yang terakhir diketahui adalah tail horizontal stabilizer. Milik Adam Air KI 574 yang hilang dalam perjalanan Surabaya-Manado. Untuk “jasanya” tersebut, Bakri menerima 50 juta dari Wapres Jusuf Kalla, 2,5 juta dari Adam Air, dan 1 juta dari Kapolwil Pare-Pare. Bakri kini bersiap membeli perahu baru. (ditulis ulang dari berbagai berita di Media Indonesia Online)

Ayah’s Plus Point :
Kalau sesuatu itu memang bagian kita, akan kita peroleh. Sebaliknya jika sesuatu itu bukan bagian kita, maka sekeras apapun kita berusaha, tidak akan kita dapatkan. Tugas kita lakukan bagian kita sebaik-baiknya, selebihnya serahkan kepada Tuhan.

Sunday, December 10, 2006

Sunny Sunday - 13


Indonesia Plus
Tradisi Emas


Sejak Asian Games 1994 di Hiroshima, cabang olahraga bulutangkis memiliki tradisi menyumbangkan medali emas bagi kontingen Indonesia. Saat itu dari beregu putera yang menyumbang emas. Di Asian Games Bangkok 1998, dua emas disumbangkan oleh beregu putera dan ganda putera Ricky Subagdja dan Rexy Mainaky. Di Busan Korea Selatan tahun 2002, Taufik Hidayat menyumbang emas di tunggal putera. Tahun ini di Doha, Taufik menjaga tradisi emas itu, setelah menumbangkan Lin Dan dari China 21-15, 22-20. Ini merupakan emas kedua bagi kontingen Indonesia, setelah sebelumnya Ryan Lalisang secara mengejutkan menyumbang emas pertama lewat cabang olahraga bowling. (Sumber : Kompas)

Ayah's Plus Point:
Bulu tangkis bisa dikatakan sebagai satu-satunya cabang olahraga yang mengangkat nama Indonesia di dunia internasional secara konsisten. Lewat bulutangkis pula Indonesia berkibar di dunia internasional. Lewat Piala Thomas dan Uber, Olimpiade, Asian Games, Sea Games, All England dan juga Kejuaraan Dunia. Meraih prestasi memang bukan hal yang mudah. Mempertahankannya apalagi. Selamat untuk Ryan dan Taufik!

Sunday, December 03, 2006

Sunny Sunday - 12


Indonesia Plus
Fashion Show

Peragaan busana bukan sesuatu yang baru. Apalagi di Indonesia. Sering sekali diadakan. Mulai dari karya perancang negeri sendiri sampai karya desainer ternama dari Paris, Milan, dan New York. Jakarta memang sudah menjelma menjadi kota kosmopolitan. Trend fashion internasional dalam sekelebat waktu sudah muncul juga di Jakarta. Era globalisasi memang membuat dunia borderless. Tanpa batas. Tapi, baru-baru ini di Jakarta ada sebuah peragaan busana unik. Saking uniknya sampai dicatat di Museum Rekor Indonesia (MURI). Penyelenggaranya adalah Lembaga Pengajaran Tata Busana Susan Budiharjo. Dalam rangka usianya yang ke 25. Peragaan busana bertema "People At Work" ini digelar dengan menampilkan 184 busana karya rancang siswa alumnus LPTB Susan Budiharjo. Para alumnusnya memang sudah malang melintan sebagai desainer papan atas. Sebut saja Sebastian Gunawan dan Widhie Budimulia, yang karya-karyanya telah mendunia. Sebastian Gunawan bahkan pernah dinobatkan sebagai karya busana terbaik oleh federasi pakaian jadi internasional, IAF. Keunikannya adalah Susan mengubah panggung peragaan busana menjadi panggung drama teatrikal. Lengkap dengan properti alat berat seperti mobil dan bahkan binatang. (sumber : koran tempo.com)

Ayah's Plus Point :
Kreatifitas hanya berbatas langit. Kita punya banyak kesempatan untuk mengekplorasi. Mengembangkan. Dan menunjukkan hasilnya. Nggak ada batas untuk berkarya. Apalagi jika kita sanggup memberikan kontribusi bagi orang lain.

Sunday, November 26, 2006

Sunny Sunday - 11


Indonesia Plus Point
Keterbatasan Yang Tidak Membatasi


Faisal Rusdi menjadi bintang di Sasana Budaya Ganesha. Kerumunan pengunjung mengerubutinya. Faisal sedang melukis. Tapi ia bukanlah seorang pelukis terkemuka. Lukisannya pun biasa saja. Tapi orang tak berhenti berdecak kagum melihatnya. Itu karena Faisal bukan melukis sebagaimana biasanya. Terlahir sebagai seorang penderita Cerebral palsy, kelainan fungsi pada saraf motorik, membuat Faisal tidak dapat menggerakkan tunngkai lengan dan kakinya. Hanya karena tekadnya yang kuat dan teguh, ia berusaha keras untuk menyalurkan hobi yang telah ditekuninya selama 16 tahun terakhir, melukis. Namun, karena ketidakmampuannya menggerakkan tangannya, maka Faisal melukis dengan menggunakan mulutnya. Dan untuk itulah; untuk semangat tak kenal putus asa dan kemampuannya melukis dengan mulut, decak kagum penonton ditujukan.(sumber: www.kompas.com)
Ayah's plus point :
Kita kerap bukan dibatasi oleh keterbatasan fisik. Tapi dibatasi oleh ketakutan dan kekuatiran kita sendiri. Ketidakpercayaan diri. Ketidakberdayaan. Sehingga kerap kita menyerah sebelum berjuang. Mundur sebelum maju. Itu adalah kegagalan terbesar. Kekalahan telak dalam hidup.

Sunday, November 19, 2006

Sunny Sunday - 10


Indonesia - Plus
Terumbu Karang Untuk Kanker


Dr Ocky Karna Radjasa menemukan metode baru pemanfaatan terumbu karang tropis untuk obat antibiotik dan antikanker. Dosen kelautan dari Universitas Diponegoro Semarang ini berhasil mengisolasi berbagai bakteri yang bisa berfungsi sebagai "pabrik" bahan bioaktif. Upayanya itu juga secara tidak langsung mereduksi praktik pemanfaatan terumbu karang yang merusak lingkungan. Apa yang dilakukannya pun kini telah mendapat pengakuan dunia internasional. Banyak tawaran kerjasama dari luar negeri berdatangan. Swedia, Italia, Jerman, India, Korea dan Malaysia mengajukan penawaran itu. Di Indonesia, Dr Ocky Karna Radjasa memperoleh penghargaan Kehati Award V untuk kategori Cipta Lestari Kehati tahun 2006. Penghargaan yang diselenggarakan oleh Yayasan Keragaman Hayati Indonesia dan diserahkan oleh Menteri Negara Lingkungan Hidup Rahmat Witoelar. Sumber : Kompas.

Ayah's Plus Point :
Melakukan sesuatu karena ingin berkarya bagi orang lain adalah hal yang mulia. Memberikan yang terbaik. Masalah apakah hasil karya kita mendapat penghargaan formal atau tidak, itu bukan prioritas. Bukan tujuan utama. Bukan segala-galanya.

Sunday, November 12, 2006

Sunny Sunday - 09


Indonesia Plus
Hati Ibu


Ulung Hara Hutama mulai memasuki hari baru. Sebelum 1 Oktober 2006, mata dan kulitnya menguning, warna kotorannya kuning keputihan dan makin lama makin berwarna putih. Dokter menjatuhkan vonis : Ulung mengidap sumbatan saluran empedu. Billiary atresia. Nggak ada jalan lain selain cangkok hati. Didik dan Lisa, orang tuanya panik. Ulung baru berusia 15 bulan. Pilihan segera diambil, membawa Ulung ke Singapura untuk bertemu dengan dokter yang berpengalaman menangani cangkok hati. Karena di Indonesia belum ada satupun rumah sakit yang melakukan cangkok hati, apalagi pada bayi. Operasi transplantasi hati pertama kali dilakukan pada manusia pada Maret 1963 di Denver, Amerika Serikat. Singapura sudah mengembangkan operasi ini sejak tahun 1990-an. Niat orang tua Ulung urung karena diyakinkan oleh tim dokter RS Kariadi Semarang. Bersama dengan tim dokter dari Singapura, tim dokter RS Kariadi dibawah pimpinan Dr Yulianto Suwardi dengan anggota 83 dokter memulai persiapannya. Donornya adalah Lisa Olivia, Sang Ibu. Seperempat bagian dari liver milik Lisa akan ditanam menggantikan hati sang anak yang sudah rusak. 1 Oktober 2006, operasi 12 jam itu berjalan lancar. Sebulan kemudian Ulung mulai pulih. Lisa juga. (Sumber : Majalah Tempo)

Ayah's Plus Point :
Kasih Ibu kepada beta tak terhingga sepanjang masa. Hanya memberi tak harap kembali. Bagai sang surya menyinari dunia....

Sunday, November 05, 2006

Sunny Sunday - 08


Indonesia Plus
Mata Air Bukan Air Mata


Di Salatiga berlangsung Festival Mata Air 4-5 November 2006. Festival ini diprakarsai oleh para seniman asal Salatiga yang tergabung dalam komunitas Tanam Untuk Kehidupan (TUK). Puncak festival berlangsung di Sendang Senjoyo. Ada hiburan kesenian rakyat seperti tari, musik, teater, barongsai sampai peragaan mode. Ada diskusi lingkungan, penanaman bibit sampai bazaar informasi tentang lingkungan. Juga ada lomba lukis tentang lingkungan yang pesertanya adalah anak-anak. Salatiga terletak di ketinggian 450-800 meter di atas permukaan laut secara geografis memang kaya air. Kawasan Gunung Merbabu, Telomoyo dan Gajahmungkur yang mengelilinginya memasok air ke belik (mata air) di sekitar Salatiga. Festival Mata Air ini dilakukan untuk mengembalikan kepekaan orang kepada isyarat alam. Persoalan air di Indonesia, seperti kekeringan, hilangnya sungai bening, banjir, tanah longsor sebagian besar karena kurangnya kesadaran untuk memanfaatkan alam yang indah sebaik-baiknya. (Sumber berita : Kompas)

Ayah's Plus Point :
Alam punya cara sendiri untuk "berbicara" kepada kita. Kepekaan kita akan bahasa alam akan membuat kita terhindar dari bencana yang lebih besar. Kepedulian terhadap hal itu bisa dilakukan oleh siapa saja tanpa memandang kalangan, status, usia, gender. Dari profesi apa saja. Untuk urusan alam, kita semua berada dalam posisi yang sama penting untuk menjaga dan memeliharanya. Punya tanggung jawab yang sama besar untuk mewariskan mata air dan bukan air mata kepada generasi mendatang.

Sunday, October 29, 2006

Sunny Sunday - 07


Indonesia Plus
MUDIK


Hari Idul Fitri di Indonesia, selain ditandai dengan kesibukan persiapan perayaan. Juga selalu ditandai dengan budaya mudik. Orang berbondong-bondong kembali ke daerah asalnya. Ke kampung halaman. Untuk bersilahturahmi dalam rangka hari lebaran. Biasanya, pada setiap Lebaran, televisi dan radio di Indonesia punya mata acara tambahan. Siaran khusus arus mudik. Mulai dari H minus 7, sampai H plus 7. Isinya situasi lalu lintas sepanjang jalur utama mudik. Khususnya jalur-jalur favorit lewat darat seperti jalur Pantura (Pantai Utara) Jawa, jalur penyeberangan Merak - Bakaheuni Lampung, serta jalur selatan. Karena biasanya terjadi kemacetan panjang. Demikian juga pemantauan arus mudik di berbagai bandara, stasiun kereta api, terminal bis, dan pelabuhan. Perusahaan-perusahaan juga menyelenggarakan berbagai kegiatan corporate service seperti Mudik Gratis ke beberapa kota di Jawa dan Sumatera. Mulai dari perbankan (untuk para nasabah), perusahaan jamu (untuk para penjual jamu gendong), perusahaan mi instan (untuk para pedagang mi jalanan), sampai perusahaan teh celup. Kota besar seperti Jakarta biasanya berbalik lenggang pada saat-saat tersebut. (dari berbagai sumber)

Ayah's plus point :
Adalah baik untuk tidak melupakan dari mana asal kita, akar kita. Sehingga kita dapat bersyukur untuk apa yang kita miliki sekarang. Bersyukur untuk setiap rajutan kenangan yang pernah kita lewati. Bersyukur untuk kerabat dan handai taulan. There's no others place better than home. Selamat Mudik. Drive safely home, everybody.

Sunday, October 22, 2006

Sunny Sunday - 06


Indonesia Plus
Solidaritas


Gereja Kristen Jawa (GKJ) Manahan Solo, Jawa Tengah punya tradisi yang terus diperlihara selama 10 tahun terakhir. Namanya Peduli Kasih Nasi Murah. Kegiatan ini berlangsung khusus selama bulan ramadhan. Ibu-ibu anggota gereja secara sukarela mengolah makanan dan lauk pauk. Ada nasi, kari ayam, teme goreng, kerupuk, nasi sop, juga nasi timlo. Setiap hari disediakan 300 porsi. Lalu? Sepanjang bulan ramadhan puluhan penarik becak, buruh bangunan dan warga sekitar berdatangan ke halaman gereja. Bukan untuk ikut kebaktian. Tapi menunggu bedug dan suara azan untuk berbuka puasa. GKJ Manahan menyediakan paket berbuka puasa murah seharga Rp. 500 per orang. Buat para warga sekitar, hal itu merupakan berkat tersendiri. Dengan harga murah segitu, mereka dapat menyantap hidangan lengkap. Bagi gereja, ini merupakan cara berbagi kasih dan berkat bagi sesama. Bentuk penghormatan bagi umat muslim yang menunaikan puasa. Biaya pengadaan kegiatan ini merupakan sumbangan anggota jemaat.

Ayah's plus point :
Kasih meruntuhkan tembok. Menjembatani perbedaan. Kasih sejati tidak mempermasalahkan dengan siapa kita bergandengan tangan. Untuk siapa kita melakukan sesuatu. Kasih hanya memberi tanpa mengharap. Dan gereja mestinya berdiri di garis terdepan dalam menjalankan misi kasih ini. Selamat menunaikan ibadah puasa.

Sunday, October 15, 2006

Sunny Sunday - 05


Indonesia Plus
Master Pemulung


Setiap pagi sejak pukul 06.00, di pasar Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, seorang pria memunguti limbah buah, sayuran serta sisa makanan dari warung dan rumah makan. Di depan rumahnya penuh dengan tumpukan barang bekas hasil memulung. Juga sisa makanan. Ia memang bukan pemulung sembarangan. Ia pemulung kreatif. Yang menjadi pemulung karena melihat peluang. Setiap kali melewati Pasar Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Ia selalu terganggu melihat tumpukan sampah. Maka kemudian ia mengambil keputusan. Menjadi pemulung. Sisa makanan tersebut dibawa pulang untuk diberikan kepada ayam peliharaannya. Ternyata berhasil. Ayam jenis buras miliknya sekarang sudah mencapai ratusan ekor. Ia menemukan bahwa jika ayam diberi makan dari sisa makanan buah dan sayuran, kotoran ayam cenderung tidak berbau sama sekali. Pria yang menyebut dirinya pemulung ini punya kartu nama. Tertulis : H. Sudarmasto, SH, MPA. Ia pensiunan Kepala Sub bagian perpustakaan BKKBN. Pangkat pensiunnya IVd. Tapi uang pensiun nggak memadai. Maka muncullah ide jadi pemulung. Dengan begitu ia berhasil mengantar 3 anaknya lulus jadi sarjana. Dan menjadi satu-satunya pemulung bergelar Master. (sumber : Kompas)

Ayah's Plus Point :
Tidak ada pekerjaan yang terlalu kecil atau terlalu hina untuk dikerjakan. Sepanjang dikerjakan dengan kesungguhan hati. Dan selama tidak melanggar aturan. Maka kalau kita merasa putus asa dengan keadaan diri, coba lihat sekeliling kita. Peluang selalu tersedia. Tergantung apakah kita mencarinya dengan mata hati atau dengan hati buta. Buta oleh gengsi, arogansi, rendah diri, dan ketidakberdayaan.

Sunday, October 08, 2006

Sunny Sunday - 04

Indonesia Plus
Prestasi Dalam Sepi

Sejak Taman Kanak-Kanak hingga kuliah, ia selalu berhasil meraih peringkat teratas di kelasnya. Di SMA berbagai kegiatan ekstra kurikuler diikutinya. Mulai dari les bahasa Inggris, matematika, kimia, renang, tenis sampai marching band. Prestasi terbaik di bidang ekskul berhasil dicatatnya ketika menjadi mayoret trebaik dalam Festival Drum Band se Jawa Barat. Bahkan ketika menyelesaikan studinya di jurusan teknik arsitektur dalam waktu 4,5 tahun, ia mendapat predikat sebagai wisudawan terbaik. Sebagai hadiahnya, ia mendapat beasiswa untuk melanjutkan ke jenjang S2. Program S2 Institut Teknologi Bandung jurusan Desain Interior berhasil diselesaikannya dengan tesis berjudul Rumah Adat Mandailing di Sumatera Utara. Sebuah prestasi yang luar biasa telah diukir oleh Rachmita Maun Harahap, M.Sn. Wanita kelahiran Padang Sidempuan. Yang membuat itu menjadi prestasi yang membanggakan karena diukir oleh seorang penyandang tunarungu dan tunawicara. Berbagai tantangan berhasil ia lalui, sekarang ia menjadi pendiri Yayasan Tunarungu Sehjira (sehat jiwa raga). Untuk membantu anak tunarungu yang tidak mampu, dan yang kesulitan mendapat pekerjaan. (Taken from Femina magazine)

Ayah’s Plus Point :
Meratapi keadaan diri nggak akan produktif. Apalagi menyerah dengan keadaan dan takut menghadapi tantangan. Fisik bukan menjadi batas prestasi seseorang. Orang sukses adalah ketika ia nggak menyerah pada keadaan Senantiasa punya keinginan untuk maju. Karena orang yang nggak mau maju artinya ia sedang mundur.

Sunday, October 01, 2006

Sunny Sunday - 03


Indonesia Plus
Kisah dari FISIP UI


Dekan FISIP UI yang terpilih sejak 2002, Gumilar Rusliwa Somantri bikin gebrakan baru. Penataan kampus FISIP UI. Pertama, pembenahan fisik kampus; taman dan tempat parkir lengkap dengan ayam bekisar di sudut-sudutnya. Lingkungan jadi bersih. Tujuannya biar mahasiswa betah. Kedua, pembenahan dosen. Tiga program dicanangkan. Program Dosen Inti (dalam setahun, dosen diwajibkan menulis buku, melakukan penelitian dan jadi koordinator 2 mata kuliah. Untuk itu dosen dapat insentif Rp. 8,5 juta/bulan di luar gaji pokok); Program Sabbatical Leave (dalam 6 bulan, dosen dibebaskan dari segala tugas struktural dan administratif, harus menghasilkan buku. Insentifnya Rp.10 juta/bulan); Program Penulisan Buku Cepat (dalam 3 bulan, dosen harus bikin buku setelah proposal penulisannya disetujui tim penilai, kegiatan mengajar tetap, dapat insentif Rp. 6 juta/bulan untuk menulis buku). Tujuannya, agar dosen betah di kampus, tidak mencari "tambahan" di luar. Fasilitas gedung dan ruangan khusus dosen disiapkan, lengkap dengan komputer terkoneksi ke ratusan jurnal ilmu sosial di Amerika, Eropa dan Asia. Hasilnya, sejak diluncurkan, telah diterbitkan 9 buku karya dosen dan 150 makalah karya dosen dan mahasiswa dipresentasikan. Tahun ini FISIP juga meraih predikat kampus terbersih dan terindah di lingkungan UI. Sumber dananya? Dari berbagai program pendidikan komersial, pengelolaan kantin, parkir sampai fotokopi yang dikelola dengan transparan. (Taken from Tempo Magazine)

Ayah's Plus Point :
Di tengah derasnya kecaman minimnya perhatian terhadap para pendidik. Langkah pembenahan sekecil apapun bagai air sejuk di padang gersang. Nggak dibutuhkan seorang jenius untuk melakukan pembenahan. Cukup seorang yang punya keinginan dan hati nurani. Yang paling bijak adalah melakukan apa yang kita bisa, semaksimal yang kita mampu. Dimulai dari lingkungan kecil. Dimulai dari hal sederhana. Dimulai dari sekarang.

Sunday, September 24, 2006

Sunny Sunday - 02


Indonesia plus
Para Pembela Negara


Ini bukan ungkapan kiasan. Ini cerita tentang profesi Pembela. Mita Conference Hall, Tokyo Jepang menjadi saksinya. Melissa Butar-butar, Fitria Chairani, Novriadi Erman, dan Harjo Winoto sedang mempertahankan pendapat hukumnya terhadap sebuah negara yang baru saja memisahkan diri dengan induknya. Mereka adalah pengacara pihak tergugat. Setelah perdebatan panjang dengan penggugat juga dewan juri, secara meyakinkan, mereka memenangkan kasus itu. Dan membawa pulang Foreign Minister's Award. Itu hadiah tertinggi dalam perhelatan bertajuk "Kompetisi Pengadilan Semu Hukum Internasional Asia Cup 2006". Keempat nama di atas bukan para pengacara ternama. Mereka adalah para mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia yang baru duduk di tingkat 2 dan 3. Dalam debat berbahasa Inggris ini, mereka mengalahkan peserta dari Universitas Hongkong, Universitas Kyoto, Universitas Osaka, Universitas Malaya, Universitas Ateneo de Manila, Universitas Nasional Singapura, dan Universitas Chulalongkorn dari Thailand. (Taken from Tempo Magazine)

Ayah's plus point:
Para pelajar dan mahasiswa Indonesia banyak mencatat hasil membanggakan di pentas internasional. Mengharumkan nama bangsa. Di tengah berbagai gejolak dan situasi ekonomi dan politik yang belum mulus, mereka sanggup membawa angin sejuk. Mereka membuktikan di tengah situasi tidak menguntungkan sekalipun, bukan menjadi alasan untuk tidak berprestasi maksimal. Mereka memang pembela Indonesia yang sesungguhnya. Bravo.

Sunday, September 17, 2006

Sunny Sunday - 01


Indonesia Plus :
"Bonek" dari Bogor


"Bonek" yang ini positif. Namanya Ade Mulyana Aripin. Bersama beberapa temannya. Ia benar-benar bermodal nekad dan tekad. Empat setengah tahun silam, ia dan beberapa alumni IPB serta Universitas Gunadarma Depok mengajukan izin mendirikan SMK Informatika Bina Generasi di sebuah gang di pinggiran kota Bogor. Mereka dicemooh dan ditertawakan. Mereka menutup telinga. Jalan terus. Sebuah rumah di gang daerah Ciomas disulap jadi sekolahan. Itu kisah sedihnya. Sekarang, dalam usia balita, sekolah itu mendadak terkenal. Merajai lomba desain internet dan web nasional. Total sudah 15 penghargaan yang diraih. Bukan sekolah mentereng secara fisik. Tapi mentereng secara prestasi. (Taken from Tempo Magazine)

Ayah's plus point : Dimana ada kemauan pasti ada jalan. Kritik dan cemoohan hanya bisa dibungkam dengan prestasi. Kerap orang menjadi ciut nyali ketika diremehkan. Menjadi mundur sebelum berperang. Ketika menghadapi tantangan, yang paling dibutuhkan adalah semangat pantang menyerah. Kita tidak akan pernah tahu, apa yang akan terjadi selanjutnya. Sebuah penemuan besar, biasanya diawali dari sebuah ide kecil dan sederhana. Jadi, jangan pernah mencemooh "mimpi" orang lain. Jangan pernah meremehkan sebuah idealisme.