Tuesday, November 21, 2006

Tuesday's Song - 29

Seperti Bapa Sayang AnakNya
Penyanyi : Gloria Trio, Ciptaan : Julita Manik


Bapa, besar sungguh kasih setiaMu
Nyata sungguh perlindunganMu
Tak satu kuasa mampu pisahkan
Aku dari kasihNya

Bapa, ajarku s'lalu hormatiMu
Ajarku turut perintahMu
Brikanku hati 'tuk menyembahMu
Dan bersyukur setiap waktu

Reff.
S'perti bapa sayang anaknya
Demikianlah Engkau mengasihiku
Kau jadikan biji mataMu
Kau berikan s'mua yang ada padaMu

S'perti bapa sayang anaknya
Demikianlah Kau menuntun langkahku
Hari depan indah Kau beri
RancanganMu yang terbaik bagiku

Renungan :
Betapa bahagianya ketika kita dipandang dan diperlakukan sebagai orang yang istimewa. Milik yang berharga. Dikasihi dan dicintai apa adanya. Pun di tengah kebebalan dan ketidaksetiaan kita. Betapa bahagianya ketika mengetahui Tuhan nggak pernah menyerah mengasihi kita. Tuntunan dan kasihNya tetap. Untuk mengantar kita pada masa depan rancanganNya.

Catatan Harian

Day - 132

Senin, 20 November 2006 -- Kemarin ngobrol dengan teman yang anaknya seusia Kezia. Ia cerita nilai rata-rata raport anaknya 90,4. Ranking 10 di kelasnya. Nilai rata-rata kelas 99 dari total maksimal 100. Wah. Wah. Ia juga cerita, anak temannya nilai rata-rata raportnya 80.5. Nilai segitu ranking 30 dari 30 anak. Wah. Wah. Segitu ketatnya persaingan nilai di sekolah sini. Bahkan sejak di primary.

Memang sih itu di sekolah bagus. Di kelas yang anaknya pinter-pinter pula. Tapi saya dengar di semua sekolah di sini ya begitu. Anak-anak sekolah di pacu untuk dapat nilai setingginya. Dari dulu saya ga pernah setuju dengan sistem ranking di sekolah. Bagi saya sistem ranking adalah salah bentuk peng-dehumanisasi-an. Anak seolah-olah bisa diklasifikasikan berdasarkan angka-angka matematis.

Kezia sekolah di sekolah "biasa". Ia juga "cuma" masuk kelas nomor tiga. Bukan kelas anak-anak top. Saya ga akan mengenjot ia untuk dapat nilai setinggi-tingginya. Saya masih percaya nilai akademis bukan segalanya. Bagi saya "masa kanak-kanak" jauh lebih penting daripada sederet angka-angka nilai. Yang penting ia sudah belajar maksimal. Perkembangan intelektual emang penting, tapi jauh lebih penting perkembangan emosional dan spiritual kan.

Hari ini ga ada acara. Ada teman dari Jakarta datang. Ia mau berobat di sini. Besok janjian saya akan temenin ia operasi. Kita ke library di Jurong East. Ini perpustakaan regional. Oke banget. Ruangannya ditata begitu rupa membuat pengujung nyaman. Buku-bukunya bagus-bagus dan banyak pula. Ada ruangan konsultasi buat anak-anak. Library tuh salah satu hal yang membuat saya iri dengan Singapore. Karena sekarang lagi musim liburan sekolah. Kita jadi boleh pinjem double. Biasa Kezia dan Karen pinjem masing-masing 4, sekarang masing-masing boleh 8. Hari ini seharian hujan.

Monday, November 20, 2006

I Like Monday - 12


Inspiring Singapore
Jigsaw Puzzle for Life

Di Singapore Management University, ada sebuah puzzle raksasa. Ukurannya 7 meter panjang dan tiga meter tinggi. Setiap potongan dijual seharga S$ 2. Saat ini telah terjual lebih dari 10,000 potongan puzzle. Hasil penjualannya akan disumbangkan bagi penderita ginjal dyalisis. Para pasien ginjal dyalisis diharapkan dapat menikmati sumbangan sebesar S$ 85,000 dari kegiatan aksi amal ini. The Kidney Dyalisis Foundation mengatakan bahwa setiap potongan puzzle tersebut mewakili harapan setiap pasien untuk mendapatkan kesempatan hidup yang lebih baik.* Banyak cara untuk menunjukkan kita peduli kepada orang lain. Namun intinya, selama kita masih punya kesempatan untuk melakukan hal yang berharga bagi orang lain lakukanlah itu. Nggak harus hal besar. Nggak harus dalam bentuk dana. Apapun bisa kita lakukan. Termasuk hal yang "ringan dan sepele" seperti; menerima dan menjadi sahabat bagi mereka yang membutuhkan, dukungan semangat dan doa, bahkan seulas senyum, sapaan, dan tepukan ringan di punggung.

Sumber : Channel News Asia/Yahoo Singapore

Catatan Harian

Day - 133

Minggu, 19 November 2006 -- Pagi ke gereja. Semalam kurang tidur nih. Keasyikan ngetik :). Habis tanggung juga. Saya lagi coba ngumpulin humor-humor untuk dibukukan. Formatnya agak beda dengan buku-buku humor yang sudah ada. Sebetulnya banyak nih ide untuk terbitin buku. Cuma tenaganya nih yang ga ada. Enaknya kalau ada semacam "sekretaris", saya tinggal ngomong begini begitu. Terus ditranskrip. Lalu saya edit lagi. Wah, bisa sangat produktif tuh :). Nanti-lah kalau sudah pensiun kali. Hehehe.

Hari ini saya ga tugas khotbah di GPBB. Seperti biasa, setelah kebaktian di GPBB, makan dulu di food court seberang gereja. Sempet hujan deras. Tapi cuma bentar. Siangnya ke GPO. Naik Taxi. Ngantuk banget. Di taxi sempet ketiduran tuh. Tahu-tahu dibangunin sopir taxi. Sudah nyampe :). Turun taxi masih "lungu-lungu", sampai lupa minta receipt. Hehehe.

Di GPO, saya pimpin kebaktian Maria Marta. Kebaktian khusus Maria Marta di GPO sebulan sekali. Setiap minggu ketiga. Minggu-minggu lainnya gabung dengan kebaktian umum. Yang hadir sekitar 40 orang. Disambung pimpin kebaktian Natal pelaut. Yang hadir lebih deh 100 orang. Mungkin karena acara Natalan. Dilanjutin ramah tamah. Masakan Manado :). Ruangannya gantian dengan kongrerasi lain, jadi acaranya agak "udag-udagan". Tapi semua berjalan dengan lancar.

Di GPO ketemu teman dari GKI Kayu Putih. Kemarin sempet SMS-an sih. Hampir setiap ke GPO mesti deh ketemu teman dari Jakarta. GPO letaknya di pusat kota sih. Banyak orang Indonesia yang lagi mampir di Singapore, kebaktian di GPO. Apalagi kalau lagi musim liburan. Wah bisa ketemu sekaligus beberapa orang tuh. Saya dan keluarga tuh senang ketemu teman dari Indonesia. Bisa jadi pengobat kangen. Kita terus janjian mo ketemu lusa. Dinner.

Sunday, November 19, 2006

Sunny Sunday - 10


Indonesia - Plus
Terumbu Karang Untuk Kanker


Dr Ocky Karna Radjasa menemukan metode baru pemanfaatan terumbu karang tropis untuk obat antibiotik dan antikanker. Dosen kelautan dari Universitas Diponegoro Semarang ini berhasil mengisolasi berbagai bakteri yang bisa berfungsi sebagai "pabrik" bahan bioaktif. Upayanya itu juga secara tidak langsung mereduksi praktik pemanfaatan terumbu karang yang merusak lingkungan. Apa yang dilakukannya pun kini telah mendapat pengakuan dunia internasional. Banyak tawaran kerjasama dari luar negeri berdatangan. Swedia, Italia, Jerman, India, Korea dan Malaysia mengajukan penawaran itu. Di Indonesia, Dr Ocky Karna Radjasa memperoleh penghargaan Kehati Award V untuk kategori Cipta Lestari Kehati tahun 2006. Penghargaan yang diselenggarakan oleh Yayasan Keragaman Hayati Indonesia dan diserahkan oleh Menteri Negara Lingkungan Hidup Rahmat Witoelar. Sumber : Kompas.

Ayah's Plus Point :
Melakukan sesuatu karena ingin berkarya bagi orang lain adalah hal yang mulia. Memberikan yang terbaik. Masalah apakah hasil karya kita mendapat penghargaan formal atau tidak, itu bukan prioritas. Bukan tujuan utama. Bukan segala-galanya.

Catatan Harian

Day - 134

Sabtu, 18 November 2006 -- Pagi tadinya mau ikut teman-teman pemuda kunjungan ke Kapal Doulus di Harbourfront. Tapi kepala cenut-cenut nih. Sariawan pula. Badan ga gitu fit. Jadi di rumah saja. Tiduran sambil baca buku Instant Persuasion, 35 aturan komunikasi yang akan mengubah hidup Anda. Karangan Laurie Puhn. Itu buku lama sih. Dulu sudah baca, cuma belum tamat :). Saya tuh kalau baca buku biasa loncat-loncat. Buku ini belum tamat, sudah loncat ke buku lain. Loncat lagi ke buku yang lainnya lagi. Jadinya jarang buku yang sampai habis dibaca.

Buku Instant Persuasion oke-lah. Kiat-kiat yang ditawarkan cukup praktis. Beberapa contoh: "Jangan fokus pada kesalahan orang lain." Lalu, "Jangan menawarkan diri untuk sesuatu yang sebetulnya Anda ga pengen lakukan." Jangan memberikan nasihat pada seseorang kalau ga diminta." Satu lagi, "Jangan sia-siakan kesempatan untuk memuji seseorang di depan umum untuk sesuatu yang ia telah lakukan dengan baik." Beberapa memang bukan kita baru, tapi masih relevan-lah.

Imel-imelan sama teman. Muncul ide bikin cerita silat :). Salah satu mimpi saya menulis cerita silat. Saya sangat terkesan dengan trilogi dari Chin Yung: Sia Tiaw Eng Hiong, Sin Tiauw Hiap Lu, dan To Liong To. Saya juga senang sekali dengan cerita-cerita silat Jawa karangan Khoo Ping Ho. Waktu remaja saya pernah nulis buku dongeng, judulnya Rangga Bocah Ajaib. Tadinya itu mau dibikin serial, tapi ga kesampaian. Suatu saatlah saya nulis cerita silat. Atau ya, terusin buku Rangga itu :).

Sore pimpin persekutuan keluarga muda. Temanya optimis dan beriman. Saya agak ga konsen nih. Padahal ini pertama kali pimpin di persekutuan keluarga muda. Tapi waktu diskusi sih cukup seru. Sampai lewat waktu. Baik di keluarga senior, maupun keluraga muda kalau diskusi mesti seru deh. Saya juga jadi banyak belajar-lah.

Saturday, November 18, 2006

Renungan Sabtu - 28

Yang Tak Sempat Terucap
Kesan-Pesan Dalam Rangka HUT 60 Tahun
Pdt Eka Darmaputera PhD

Grogi. Saya grogi ketika diminta Pak Santo (MC), ke depan, dan ditanya tentang kesan saya terhadap tulisan-tulisan Pak Eka. Itu sungguh di luar dugaan. Tidak ada dalam skenario.

Sempat memang terpikir mau bicara apa, tetapi segera saya ingat waktu yang sangat ketat. Acara perayaan ulang tahun Pak Eka--setelah ibadah setengah jam; yang ditandai dengan potong kue, nyanyi "Happy Birthday", dan serah terima buku ke beberapa orang--lalu dilanjutkan dengan apresiasi buku-buku Pak Eka direncanakan tidak lebih dari satu jam.

Yang lebih bikin grogi adalah "nama-nama besar" yang hadir. Walah, gimana pula ini. Rasanya seperti "dibawa jatuh ke dalam pencobaan", he, he, he. Ya, saya bicara juga sih akhirnya. Lha, ditanya, masak tidak ngejawab. Cuma kering dan ya tidak ada apa-apanyalah. Saya cuma bilang waktu itu, saya kagum dengan kedalaman dan keluasan sekaligus keringanan tulisan-tulisan Pak Eka.

Namun, it's oke. Toh saya bisa mengutarakan apa yang tidak sempat terucap lewat tulisan kelak. Saya yakin momen ini tidak berhenti sampai di sini. Pasti ada kelanjutannya. Dan benar, teman-teman di Gloria berencana hendak melanjutkan momen ini di website. Syukur. Sebab sangat tidak enak loh menyimpan sesuatu yang ingin diucapkan, tetapi belum sempat terucap.

Awalnya. Bermula dari percakapan ngalor-ngidul tentang buku dengan Ang Tek Khun di rumah kontrakan saya sekitar awal Oktober. Percakapan biasa saja; tidak direncanakan, tidak juga dengan tujuan apa-apa. Just omong-omong. Kebetulan kami bertetangga, satu RW beda RT. Saya banyak berguru tentang lika-liku penerbitan buku pada rekan yang satu ini. Siapa tahu suatu saat kelak saya bisa punya penerbitan sendiri. Tidak salah kan bermimpi?! :)

Ketika itu buku Pak Eka, "Beragama Dengan Akal Sehat", sudah beredar. Sedang buku "Dengarlah yang Dikatakan Roh" sudah hampir rampung dicetak. Dan "Khotbah Yesus Di Bukit" masih dalam proses awal. Ketiga buku tersebut merupakan kumpulan tulisan Pak Eka yang baru, yang secara rutin dimuat dalam rubrik Sabda, Sinar Harapan (yang kemudian dimuat juga di website GloriaNet, ed).

Perbincangan lalu mengarah pada tulisan-tulisan lama Pak Eka yang belum diterbitkan. Kami juga menyinggung soal ulang tahun Pak Eka bulan November. Persis yang ke-60. Kami punya kesamaan rasa terhadap Pak Eka; kagum sekaligus sayang. Dari perbincangan itu terlontar ide, untuk membuat acara khusus guna menyambut momen tersebut. Tentunya yang berhubungan dengan buku.

Singkat kata, ide itu terus bergulir. Dan berkembang. Mendapat dukungan dari banyak pihak. Termasuk--yang penting--Pak Eka juga tidak keberatan.

Persiapan selanjutnya mengalir begitu saja. Kecuali saat terakhir menjelang keberangkatan ke Jakarta, tidak ada rapat khusus. Teman-teman Gloria memang setiap hari bertemu. Dan saya bisa lewat telepon. Hingga hari H-nya memang ada saja yang direncanakan tidak jadi, dan yang jadi padahal tidak direncanakan. Tetapi toh semuanya berjalan dengan lancar. Puji Tuhan atas perkenan-Nya.

Saya kagum dengan dedikasi dan ritme kerja teman-teman Gloria. Mereka antusias dan sungguh-sungguh sekali menyiapkan acara ini. Padahal sebagian besar dari mereka mungkin hanya tahu Pak Eka. Itu pun dari tulisan-tulisannya. Tidak mengenal dekat, apalagi punya hubungan formal. Rasa sayang dan apresiasi kadang memang tidak ditentukan oleh jarak formal.

Saya kebagian peran menyiapkan buku-buku Pak Eka yang akan diterbitkan. Gloria memberi kebebasan penuh; bukan hanya soal buku macam apa, tetapi juga soal berapa banyak yang bisa disiapkan.

Oleh karena waktu yang sangat singkat--sekitar dua minggu--saya konsentrasi pada tulisan-tulisan Pak Eka di Sinar Harapan dulu dan Suara Pembaruan. Targetnya sebenarnya satu atau dua buku sudah bagus. Tetapi dalam perjalanan ternyata bisa empat buku: "Mengapa Harus Salib?", "Iklan Bagi Anak Hilang", "Tanpa Plus, Tanpa Minus", dan "Ketika Takut Mencengkram". Sungguh di luar dugaan. (Plus satu buku lagi yang diluncurkan--tulisan-tulisan terbaru dengan judul "Khotbah Yesus di Bukit", ed).

Peran saya relatif tidak terlalu sulit. Selain memang saya enjoy, tulisan-tulisan sekaliber Pak Eka juga tidak perlu diapa-apakan lagi. Saya hanya memilih-milah; mengelompokkan setiap tulisan ke dalam satu tema tertentu. Lalu mengganti beberapa judul tulisan yang agak overlap, sedikit menyesuaikan isi pada satu-dua tulisan, dan memberi judul setiap bab. Terakhir, menulis kata pengantar. Saya mendapat masukan juga dari teman-teman Gloria.

Kesan. Saya hanya penikmat tulisan-tulisan Pak Eka. Bukan pengamat. Sebab kapasitas saya memang kurang memadai untuk mengambil posisi sebagai pengamat. Jadi sangat sulit buat saya kalau mau bicara soal kesan. Kecuali kalau kesan itu sebatas pada kulit luar. Tidak sampai ke daging, apalagi tulang sumsum--kalau daging dan tulang sumsum, itu porsinya para pendekar mumpuni.

Sebagai penikmat, saya menangkap ketajaman tulisan-tulisan Pak Eka; tanpa tedeng aling-aling, tanpa basa-basi--seumpama gerakan silat Huang Fei Yung, legenda dalam cerita silat, sekali sabet dua-tiga orang musuh terjengkang. Saya juga merasakan kejutan-kejutan yang ditimbulkan--seumpama jurus-jurus Sakuraba, jagoan asal Jepang di Pride Fighting Championship; tidak terpikirkan, tidak terduga. Kadang malah menjungkirbalikkan apa yang selama ini dipahami. Coba saja simak, sekadar menyebut contoh, Ester dan Yang Merah-merah dalam "Tanpa Plus, Tanpa Minus".

Kalau pun ada yang "sedikit kurang", menurut hemat saya, barangkali pada bahasa. Kadang-kadang Pak Eka lebih bergaya lisan daripada tulisan. Misalnya, dengan memakai kata "tapi" di awal paragraf. Harusnya "Akan tetapi" atau "Namun". Ya, tidak soal sih. Toh tidak ada pengaruhnya terhadap isi. Cuma bagi yang suka menulis terasa agak janggal juga.

Dan kalau saya bandingkan, tulisan-tulisan Pak Eka dulu; ketika masih aktif menulis di Suara Pembaruan, dan sakitnya belum separah sekarang--"Mengapa Harus Salib?", "Iklan Bagi Anak Hilang", "Tanpa Plus, Tanpa Minus", dan "Ketika Takut Mencengkram"--terkesan lebih jernih dan lebih lepas.

Dalam tulisan-tulisan baru di Sinar Harapan; setelah sekian lama tidak menulis renungan di koran--"Beragama Dengan Akal Sehat", "Dengarlah Yang Dikatakan Roh", dan "Khotbah Yesus Di Bukit"--terkesan agak "berat". Seperti kalau orang bicara, tidak lagi rileks. Pendeknya, dalam tulisan-tulisan Pak Eka yang baru, saya agak--sekali lagi agak, tidak sama sekali--kehilangan salah satu hal yang selama ini menjadi kekuatannya: "keringanan". Atau mungkin saya yang mengalami kemunduran.

Seorang teman bilang, mungkin saking banyaknya yang ingin Pak Eka tulis setelah sekian lama tidak menulis. Apalagi sejak 1998--ketika itu Pak Eka sudah tidak lagi menulis di Suara Pembaruan, kecuali saat Natal dan Tahun Baru--sampai kini bangsa Indonesia betul-betul dihantam oleh bertubi-tubi persoalan. Pak Eka adalah seorang yang amat mencintai bangsanya. Melihat semua yang terjadi, sangat mungkin ia merasa geram, marah, sedih, ingin berbuat sesuatu tetapi juga tidak berdaya.

Bisa jadi begitu. Tetapi menurut saya, sederhana saja, karena sakitnya yang tambah parah. Memang, energi intelektual Pak Eka itu luar biasa. Jauh melampaui energi fisiknya. Bayangkan, dalam sakitnya pun ia tetap bisa produktif. Tetapi toh sedikit banyaknya kelelahan dan kesakitan fisik akan mempengaruhi kejernihan dan keringanan pikiran.

Terima kasih. Saya sungguh beruntung mendapat kesempatan dari Gloria, dan perkenan dari Pak Eka untuk mengedit buku-bukunya. Dan memberi kata penutup pada salah satu buku yang lain. Sekali lagi terima kasih.

Selain saya bisa ikut terkenal he, he, he. Selama sekitar dua minggu "bergumul" dengan tulisan-tulisan Pak Eka, saya juga bisa banyak belajar--bahkan lebih banyak, dibanding saya belajar mata kuliah "Agama dan Masyarakat" selama satu semester di pasca sarjana Duta Wacana--Betul. Ini bukan melebih-lebihkan. Agama dan Masyarakat adalah bidangnya Pak Eka.

Padahal, kalau diibaratkan kue, tulisan-tulisan yang saya edit itu sebetulnya hanya "remah-remah" dari kue besar dan enak yang dibikin Pak Eka. Sedang potongan "dagingnya" sudah diambil oleh banyak pihak. Yang paling banyak mendapat, siapa lagi kalau bukan panitia buku emiritasi Pak Eka dulu, yang berhasil menerbitkan kumpulan tulisan Pak Eka dalam buku sangat tebal. It's oke. Setiap orang punya bagian tertentu dalam hidupnya. Pula yang penting toh bukan berapa besar bagian yang di dapat, tetapi bagaimana memanfaatkan bagian yang ada.

Ketika saya bertemu Pak Eka di rumahnya, sehari sebelum acara, terus terang hati saya sebetulnya agak gentar. Buku-buku Pak Eka yang saya edit itu karena keterbatasan waktu tidak sempat Pak Eka periksa. Jadi dari saya langsung ke penerbit. Tidak ke Pak Eka dulu. Saya kuatir Pak Eka kecewa atau bagaimanalah. Soalnya saya tahu kalau untuk urusan karya Pak Eka sangat perfeksionis. Walau juga saya tahu, Pak Eka seorang yang sangat bisa menghargai upaya seseorang. Betapa pun kecilnya. Tetapi setelah Pak Eka, dan juga Bu Evang, bilang senang--dan bahkan kemudian ditelepon, Pak Eka bilang puas--saya lega sekali. Plong. Kelegaan yang sama, saya yakin akan dirasakan juga oleh teman-teman Gloria.

Ke depan saya berharap akan makin banyak lagi tulisan-tulisan Pak Eka; entah makalah-makalah di seminar, atau yang dimuat di berbagai majalah dan koran, yang bisa diterbitkan. Rasanya sayang sekali kalau tulisan-tulisan itu hanya numpuk di dus. Dan menjadi harta karun yang tidak tersentuh. Padahal kalau dibaca banyak orang, pasti akan jadi berkat yang luar biasa. Apalagi untuk urusan arsip, Pak Eka--seperti juga untuk urusan kesehatan--maaf--agak ceroboh. Sebab, konon banyak sekali tulisan-tulisannya itu yang entah di mana.

Saya yakin sekali, kerjasama Pak Eka dan Gloria akan menjalin simbiosis mutualisma. Yang paling merasakan manfaat dari kerjasama ini, siapa lagi kalau bukan masyarakat luas. Khususnya gereja. Semoga.
Sebuah tulisan dalam rangka mengenang Alm. Pdt Eka Darmaputera. Gereja kehilangan salah satu pemikir besar. Saya kehilangan mentor dan tokoh yang saya kagumi dan hormati. Selamat jalan, Pak Eka.

Catatan Harian

Day - 135

Jumat, 17 November 2006 -- Saya baru tahu dari teman situs google video. Di situ bisa down load klip-klip video lucu. Yang saya suka funny soccer. Ada banyak tuh video-video lucu seputar sepakbola. Kayak wasit yang keserimpet bola, pemain yang sudah ngehadapi gawang melompong tapi gagal nyetak gol, kiper yang sudah bisa nangkep bola lalu lepas dan pas ada pemain lawan jadinya gol, atau pemain yang "berlagak" gocak-gocek bola tahunya kekait kaki sendiri. Macem-macem deh.

Dipikir-pikir secara normal aneh juga. Bayangin saja, sudah tinggal ngehadapi gawang kosong. Tinggal ceplosin bola. Lha, bisa gagal. Kiper juga. Ada kiper yang dioper kawan bola pelan. Ia tendang, meleset. Jadi diserobot lawan. Gol. Dan yang bikin blooper tuh kadang bukan pemain kacangan loh. Pemain ternama juga. Kayak Nwanko Kanu, Paul Scholes, Paul Robinson, bahkan David Beckham. Ada-ada saja. Hidup memang ga selalu bisa diurai dengan akal. Ada saja "faktor x" di luar yang normal terjadi :).

Siang ada rapat dengan teman pendeta dan preacher dari kongregasi Inggris. Kita mau bikin kebaktian syukur gabungan bulan Januari yang akan datang. Berkenaan dengan dimulainya renovasi gedung gereja. Kalau sudah rapat atau ikut acara-acara dengan konggreasi lain, saya tuh ga bosan-bosannya nyeselin diri kenapa dulu ga telaten belajar bahasa Inggris. Kalau dulu telaten kan sekarang lancar. Jadi bisa "berbuat" lebih banyak lagi gitu. Hiks.

Terus ikut ramah tamah dengan ibu-ibu Komisi Wanita. Hari ini persekutuan Komisi Wanita terakhir untuk tahun ini. Seperti biasa selesai acara Komisi Wanita ada sedikit makan-makan. Buat saya ini salah satu kesempatan ngobatin kangen makanan Indonesia. Hehehe. Malamnya masih ada acara Family Fellowship daerah Hillview. Pergi dan pulang bareng teman. Sampai rumah hampir jam 10.30-an.

Friday, November 17, 2006

Friday's Joke - 24


Rencana Yang Gagal


Pono duduk di dalam sebuah bar. Ia menatap hampa pada gelas minumannya. Wajahnya murung dan kuyu. Kurang lebih satu jam lamanya ia tercenung begitu. Kemudian, datanglah seorang supir truk, yang biasa bikin onar di bar itu. Ia merebut gelas minuman Pono dengan kasar, lalu meneguknya sampai habis. Pono menangis. Supir truk itu merasa iba, ia menepuk bahunya dan berkata, “Kawan, aku cuma bercanda. Aku ganti minumanmu. Nggak usah menangis. Aku nggak biasa melihat pria muda bersikap cengeng."

Pono menjawab, "Bukan itu masalahnya. Hari ini hari terburukku. Pertama, aku telat bangun sehingga nggak menghadiri rapat penting di kantor. Bos memarahiku habis-habisan. Kedua, bubaran kantor mobilku ternyata raib dicuri. Polisi tidak bisa melakukan apa-apa. Ketiga, ketika aku pulang naik taksi, dompetku ketinggalan di taksi dan akhirnya hilang. Keempat, saat aku pulang ke rumah, istriku ternyata sedang serong dengan tukang kebunku. Kelima, di bar ini aku berpikir untuk bunuh diri dengan minum racun. Tapi Anda malah merebut dan meminumnya!"

Ayah's quote:
Bahkan pun kalau mau iseng, pikirkan dulu. Jangan sampai malah bikin celaka diri sendiri :)

Catatan Harian

Day - 136

Kamis, 16 November 2006 -- Hari ini Karen bagi raport. Good. Sacara umum baik emotional and social, intellectual, maupun physical development oke-lah. Paling banyak A (very good). Beberapa B (good). Ga ada yang I (improving). Satu-satunya yang C (satisfactory) tuh "rests quietly" :). Komen gurunya di raport: "Karen shows pride in her work and assumes responsibilities well. Keep it up."

Buat kita nilai raport Kezia dan Karen menunjukkan mereka sudah melewati saat-saat sulit penyesuaian diri di sini. Kita ber-thx berat kepada para guru Sekolah Minggu yang ganti berganti datang ke rumah "ngajarin" Kezia dan Karen. Semoga kelak kalau ada orang lain yang berada pada posisi seperti kita, kita juga bisa "hadir" seperti teman-teman GSM itu; memberi perhatian dan support yang diperlukan. Thx, rekans.

Agak siangan saya ke kantor. Dapat info dari teman tentang Phantom of Opera yang akan main di Esplanade. Saya buta dengan opera. Kalau teater saya suka. Tapi kata teman itu opera kelas dunia. Ia sendiri sudah nonton dua kali, dan masih pengen nonton lagi. Teman lain bilang bagus buuanget. Katanya banyak orang dari Indonesia yang sudah "ngincer" nonton opera itu. Pertunjukannya sendiri masih bulan Maret atau April 2007. Tapi sekarang pun tiketnya sudah susah dipesan. Jadi pengen nonton juga. Saya sudah minta tolong teman sih pesan tiket.

Saya tuh ga terlalu bisa mengapresiasi musik klasik. Mungkin karena saya ga pinter :). Saya kenal orang-orang yang suka musik klasik, semuanya orang-orang pinter. Saya sih suka musik yang ringan-ringan saja. Kayak Richard Clyderman atau ya Kenny G. Paling mentok Kitaro :). Sudah coba sih nyukai musik klasik, tapi koq ya ga bisa. Konon kan musik ada hubungan dengan kepintaran. Untuk soal ini saya termasuk "kelas menengah ke bawah-lah".

Thursday, November 16, 2006

Thursday Hot Issue - 12


Kunjungan Bush


The Fact :
George W. Bush, Presiden Amerika Serikat, berencana akan melakukan kunjungan kenegaraan ke Indonesia. Bush baru akan datang tanggal 20 November. Tapi sejak dua minggu sebelumnya, banyak pihak yang sudah mulai sibuk. Pihak Kebun Raya Bogor sibuk menyiapkan helipad di samping kolam teratai. Rencananya "Marine-One" nama sandi helikopter tipe Sikorsky VH-3D atau yang dikenal dengan Black Hawk akan mendaratkan Bush setelah Air Force One parkir di Lanud Halim Perdana Kusumah. Aparat kepolisian adalah pihak yang nggak kalah sibuknya. Keamanan berlapis yang akan dilakukan oleh polisi membuat apel siaga dan berbagai latihan digelar. Para menteri dan pejabat pemerintah Indonesia juga sibuk. Mempersiapkan agenda yang akan dibahas, antara lain tentang bantuan kesehatan untuk program imunisasi, juga bantuan pasca tsunami. Kesibukan lain datang dari para mahasiswa. Mereka tidak henti-hentinya menggelar demo menentang kehadiran Presiden Bush ke Indonesia. Masyarakat Bogor juga resah karena ada kabar pengacakan signal handphone dan tentu saja pengamanan super ketat di Bogor. Ki Gendeng Pamungkas juga nggak mau kalah, katanya ia berniat nyantet Presiden Bush. (Sumber : Media Indonesia Online)

The Lessons :
Menjadi tuan rumah yang baik adalah nilai yang luhur. Secara elegan, pintu rumah kita bisa terbuka bagi siapapun. Tapi, nggak usah alergi mengungkapkan ketidaksenangan hati kita. Yang penting adalah cara menyampaikannya. Sampaikanlah dengan cara elegan dan bukan anarkis. Jangan merusak citra rumah sendiri.

Wednesday, November 15, 2006

Catatan Harian

Day - 137

Rabu, 15 November 2006 -- Hari ini Kezia bagi raport. Good. Ia bisa masuk kelas Rubi lagi. Di sini tuh anak-anak sekolah dikelompokan berdasarkan "kemampuan" akademis. Kelas Rubi adalah kelas yang nomor tiga dari tujuh atau delapan gitu. Saya lupa. Saya kira untuk anak yang masuk di tengah dan orang asing pula, pencapaian Kezia cukup oke. Di resume keseluruhan ada tulisan dari gurunya: "excellent". Buat saya yang membanggakan bukan nilainya, tapi perjuangan Kezia untuk mencapai hasil itu.

Pengelompokan siswa berdasarkan kemampuan begitu saya rasa, ada baiknya ada buruknya. Baiknya, siswa yang pinter ga akan terhambat. Dan siswa yang kurang pinter juga akan lebih terbimbing. Tapi buruknya, anak-anak yang kurang pinter bisa jadi frustrasi dan merasa rendah diri. Saya pribadi berkeyakinan sekolah bukan jaminan sukses dalam karier seseorang. Tapi itu dalam konteks Indonesia. Dalam konteks Singapore, korelasi sekolah dan sukses dalam karier ternyata erat sekali. Makanya konon, banyak anak sekolah di sini yang frustrasi.

Hari ini saya kesal banget. Ceritanya, awal bulan lalu kan kita betulin water heater kamar mandi. Habis 500 $. Kata teman, itu kemahalan. Harga normal 300 $ ganti baru dengan instalasi. Sudah gitu kan ternyata bocor. Kita sudah lapor ke tukang service-nya. Ia janji akan datang, eh ga datang. Dan ga ada kabar berita. Sampai empat kali begitu. Belum lagi beberapa telepon yang ga diangkat-angkat.

Akhirnya saya minta bantuan teman. Mungkin karena saya orang asing di sini, jadi dikerjain. Sudah harga "digetok", keluhan dipandang sebelah mata pula. Siapa yang ga kesal. Kalau di Indonesia saya bisa tulis surat pembaca ke koran. Lha, di sini saya ga tahu. Katanya sih ada juga lembaga perlindungan konsumen gitu di sini. Cuma prosesnya malah bikin lelah sendiri. Ampun deh. Ampun.

Wednesday's Games Idea - 24


Komunikasi Bisu


Jumlah peserta : kelompok besar, di bagi dalam kelompok kecil
Bahan yang Dibutuhkan : Beberapa bundel koran (satu bundel adalah satu hari terbitan, lengkap dengan semua halamannya), sesuai dengan jumlah kelompok. Akan lebih baik kalau setiap bundel berasal dari satu nama koran, misalnya Kompas atau Suara Pembaruan.
Waktu yang dibutuhkan :15-30 menit
Aturan permainan:
Lembar-lembar koran setiap bundel diacak dan ditukar dengan lembar-lembar koran yang ada pada bundel lain, sehingga membentuk satu bundel koran dengan lembar-lembar yang terdiri dari beberapa hari terbitan. Peserta dibagi dalam kelompok. Satu kelompok terdiri dari 6-8 orang. Setiap kelompok mendapat satu bundel koran yang sudah berlainan lembar terbitan itu. Tugas setiap kelompok adalah menyusun bundel koran yang dimilikinya sehingga kembali lengkap satu edisi terbitan. Syaratnya, antara satu kelompok dengan kelompok lain harus saling memberi, tidak boleh saling meminta. Dan selama proses tukar-menukar lembar koran tidak ada yang boleh berbicara.
Tujuan permainan:
Dibutuhkan kepekaan untuk memahami kebutuhan orang lain. Dibutuhkankan kerendahan hati untuk mengerti maksud orang lain. Dan, betapa pentingnya komunikasi untuk melakukan semua itu.

Tuesday, November 14, 2006

Catatan Harian

Day - 138

Selasa, 14 November 2006 -- Pagi ke GPO. Ada rapat dengan teman pendeta dan preacher GPO dan GPBB. Fokus rapat nyusun tema khotbah untuk tahun depan. Waktu saya di GKI Bekasi Timur dulu, dan kemudian juga di GKI Kayu Putih, tema khotbah biasanya disusun per tahun. Melibatkan beberapa aktivis. Modusnya mirip seperti nulis buku; ada tema besar selama setahun, lalu dibagi "bab-bab", dibagi lagi "sub-sub bab". Jadi arahnya tuh jelas.

Saya sebetulnya bermimpi, tema khotbah tuh ga hanya disusun per tahun. Tapi minimal per tiga tahun. Jadi dalam kurun waktu tiga tahun ke depan, kita ingin jemaat kita tuh gimana. Setelah itu lalu kita pecah per tahun per tahun. Saya rasa tema khotbah harus mendapat perhatian sangat besar. Digumuli dengan serius. Sebab satu-satunya kegiatan rutin gereja yang melibatkan jemaat paling banyak, hanya kebaktian Minggu. Tema-tema khotbah harus punya arah berkenaan dengan visi dan misi gereja. Sekaligus bertolak dari kebutuhan dan realitas yang ada.

Makan siang bareng teman-teman di Kopitiam depan Meseum dekat GPO. Saya makan Hokian Mie. Tapi ga seenak yang diseberang GPBB :). Dari situ bareng teman sempet lihat-lihat film di Cathay Cinepleks. Pengen juga saya nonton film. Selama di sini saya belum pernah nonton film nih. Film James Bond lagi ditunggu-tunggu. Diputer di sini tanggal 16 Nov. Tapi tiket sudah bisa di-book dari kemarin. Tadi kita sih cuma lihat-lihat. Terus pulang naik bis. Dari Orchad ke rumah naik bisa bisa 1 jam lebih. Sempet tertidur di bis. Ngantuk banget.

Saya ga ke kantor. Ga ada yang khusus juga. Malam rapat sie acara Natal di West Mall :). Di West mall dengan pertimbangan lebih ngriit waktu, dan bisa sekalian dinner gitu. Di Singapore Natal memang sangat meriah. Jauh lebih meriah dibanding dengan di Indonesia. Tapi GPBB dan GPO Natal relatif tidak "sesibuk dan seramai" di Jakarta. Maklum juga akhir tahun malah jemaat banyaknya pulang ke Indonesia :).

Tuesday's Song - 28

Jalan Hidup Tak Selalu
NKB 170 - Syair asli : Love's Rainbow oleh Flora Kirkland,
diterjemahkan oleh : E.L. Pohan

Jalan hidup tak selalu, tanpa kabut yang pekat
Namun kasih Tuhan nyata, pada waktu yang tepat
Mungkin langit tak terlihat, oleh awan yang tebal
Di atasnyalah membusur p'langi kasih yang kekal

Reff.
Habis hujan tampak pelangi, bagai janji yang teguh
di balik duka menanti, pelangi kasih Tuhanmu

Jika badai menyerangmu, awan turun menggelap
Carilah di atas awan pelangi kasih yang tetap
Lihatlah warna-warninya, lambang cinta yang besar
Tuhan sudah b'ri janjiNya, jangan lagi kau gentar

Jauhkan takut, putus asa, walau jalanmu gelap
perteguh kepercayaan dan langkahmu pertegap
"Tuhan itu ada kasih", itulah penghiburmu
di atas duka bercahaya pelangi kasih Tuhanmu.

Renungan:
Selama hidup di dunia, kita tidak akan lepas dari yang namanya pencobaan; entah berupa sakit penyakit, kerikil-kerikil dalam rumah tangga, tantangan-tantangan di pekerjaan, atau apa saja. Dalam situasi demikian, iman memungkinkan kita melihat dan merasakan karya kasih Allah di balik badai pekat apa pun dalam kehidupan. Bahwa betapa pun, rancangan Tuhan bukanlah rancangan kecelakaan, tapi rancangan damai sejahtera untuk memberikan kepada kita hari depan yang penuh harapan.

Catatan Harian

Day - 139

Senin, 13 November 2006 -- Hari ini rencananya kita mau ke Vivo City. Ngelihat kapal Doulos. Terus sorenya mau ke Orchad. Jalan-jalan di sepanjang Orchad setelah di-light-up. Kezia dan Karen, mau kita liburkan sekolahnya. Kezia toh sudah ga ada pelajaran. Dan Karen, kalau TK ga apa-apalah sesekali bolos sekolah. Habis kita nyari waktu bisa pergi berempat tuh susah.

Tapi jadinya ga sesuai rencana. Kezia oke ga sekolah. Malah senang ia :). Tapi Karen ga oke. Ia ngotot mau sekolah. Kita rayu-rayu mau ngelihat "Kapal Besar", tetap ia pilih sekolah. Jadi ya sudah, kita harus tunggu Karen sekolah dulu. Dan berarti harus salah satu, ke Vivo City atau ke Orchad. Kita pilih ke Vivo City. Orchad bisa besok-besok.

Sore jam 3-an, setelah Karen pulang sekolah, kita ke Vivo City. Naik bis dari depan rumah satu kali. Sekitar 45 menit. Kita langsung ke Kapal Doulos. Ga kepikir deh, kapal segede itu bisa merapat persis di pinggir mall :). Doulos tuh kapal misi. Mottonya "Serving The Nations". Seangkatan dengan Titanic. Dibikin tahun 1914. Pernah masuk "The Guiness Book of Record". Para awaknya terdiri dari tenaga sukarela dari berbagai negara. Luar biasa.

Kita ke book fair-nya. Bukunya bagus-bagus. Juga CD-CD-nya. Harganya relatif murah pula. Pengennya lama-lama di sana, cuma ya biasa deh Kezia dan Karen kalau sudah dapatin buku yang mereka mau, pengennya cepat-cepat pulang :). Kita ke Toys R Us bentar. Lihat-lihat doang. Kezia dan Karen sih ribut minta beli ini itu. Tapi kita sudah janji ga beli apa-apa. Terus pulang. Naik bisa yang sama. Sampai rumah jam 10-30an.

Monday, November 13, 2006

I Like Monday - 11


Inspiring Singapore :
Duolos, Mission Through Books


Misi membawa ilmu pengetahuan, bantuan dan harapan ke berbagai negara, itulah yang menjadi tujuan Doulos. Kapal yang dibangun tahun 1914 --dua tahun lebih muda dari Titanic--, membawa 348 crew dari 50 negara. Semuanya adalah tenaga kerja sukarela. Terdiri daripara dokter, insinyur, guru, bahkan koki profesional. Kapal Duolos membawa lebih kurang 6.000 judul buku dari berbagai kategori bacaan. Ilmu pengetahuan dan sains, buku masakan, karya-karya literatur, hingga buku anak-anak. Dalam 28 tahun terakhir, tercatat Duolos telah dikunjungi oleh 18 juta orang dari lebih dari 100 negara. Misi kemanusiaan yang dilakukan antara lain menyumbangkan 15 box buku untuk sekolah yang berada di daerah pedesaan Kamboja, membangun 25 perpustakaan di Srilangka, dan menyumbangkan buku dan rak buku untuk para narapidana di Bangkok. Saat ini Doulos sedang merapat di Promenade di Vivo City, Singapore. Ini adalah kunjungan Duolos yang ke 14 kali ke Singapore setelah lawatan terakhirnya di tahun 2001. Dan akan berada di Singapore dari tanggal 10-19 November 2006.* Buku adalah jendela ilmu pengetahuan. Minat baca yang tinggi berkorelasi positif dengan kemajuan tingkat pendidikan sebuah bangsa. Maka patut diacungin jempol ketika ada perhatian yang besar terhadap keberadaan buku di tengah masyarakat. Sudah saatnya pula kita menanamkan kecintaan terhadap buku sedini mungkin. Dan membuka akses selebar-lebarnya kepada sebanyak mungkin orang untuk mendapatkan kesempatan membaca buku.

Sumber : Channel News Asia/Yahoo Singapore

Catatan Harian

Day - 140

Minggu, 12 November 2006 -- Pagi ke gereja. Pimpin pelayanan baptis anak, baptis dewasa dan sidi. Yang khotbah teman. Menariknya, walau temanya masih seputar Doa Bapa Kami, tapi ia mengambil bahan bacaan Alkitab dari kitab 1 Tawarikh. Dan bisa klop. Good. Harus diakui bahwa ada kitab-kitab dalam Alkitab yang sangat jarang dikhotbahkan. Terutama dalam Perjanjian Lama. Jadi seolah ada "kanon dalam kanon".

Di GKI sedang "heboh" tentang liturgi dengan menggunakan lectionari. Sudah diputuskan di persidangan Majelis Sinode. Cuma dalam pelaksanaan rupanya ada "kesulitan". Salah satu tujuan lectionari adalah untuk "pemerataan" bahan bacaan Alkitab yang dikhotbahkan supaya jangan itu-itu terus. Saya kira ini baik. Hanya mungkin pelaksanaannya ga bisa drastis. Perlu juga "menatar" para pendeta bikin khotbah dengan menggunakan lectionari.

Tadi waktu pelayanan sidi saya sempet "error". Salah menyebutkan nama :). Di GPBB tuh ruangan kebaktian agak sempit. Ga memungkinkan naruh meja kecil deket mimbar untuk ngeletakin kertas "contekan". Ga kayak waktu di Kayu Putih. Jadi kalimat-kalimat standar dan nama-namanya harus "hafal mati". Nah, tadi ada nama yang panjang dan agak sulit diucapkan. Sudah nyebut sebagian, terus lupa kepanjangannya. Hilang konsentrasi deh. Ampun. Ampun.

Dari gereja terus ikut acara syukuran teman yang anaknya tadi di sidi. Makan siang sambil ngobrol. Sampai agak sorean. Kembali ke gereja sebentar, terus ke GPO. Ada rapat pleno Majelis Jemaat jam 5. Rencana cuma sampai jam 7, molor sampai hampir jam 9. Hehehe. Ada saja materi yang "ga perlu", tapi toh "harus" dibicarakan. Pulang bareng teman. Sampai rumah 9.30-an.

Sunday, November 12, 2006

Sunny Sunday - 09


Indonesia Plus
Hati Ibu


Ulung Hara Hutama mulai memasuki hari baru. Sebelum 1 Oktober 2006, mata dan kulitnya menguning, warna kotorannya kuning keputihan dan makin lama makin berwarna putih. Dokter menjatuhkan vonis : Ulung mengidap sumbatan saluran empedu. Billiary atresia. Nggak ada jalan lain selain cangkok hati. Didik dan Lisa, orang tuanya panik. Ulung baru berusia 15 bulan. Pilihan segera diambil, membawa Ulung ke Singapura untuk bertemu dengan dokter yang berpengalaman menangani cangkok hati. Karena di Indonesia belum ada satupun rumah sakit yang melakukan cangkok hati, apalagi pada bayi. Operasi transplantasi hati pertama kali dilakukan pada manusia pada Maret 1963 di Denver, Amerika Serikat. Singapura sudah mengembangkan operasi ini sejak tahun 1990-an. Niat orang tua Ulung urung karena diyakinkan oleh tim dokter RS Kariadi Semarang. Bersama dengan tim dokter dari Singapura, tim dokter RS Kariadi dibawah pimpinan Dr Yulianto Suwardi dengan anggota 83 dokter memulai persiapannya. Donornya adalah Lisa Olivia, Sang Ibu. Seperempat bagian dari liver milik Lisa akan ditanam menggantikan hati sang anak yang sudah rusak. 1 Oktober 2006, operasi 12 jam itu berjalan lancar. Sebulan kemudian Ulung mulai pulih. Lisa juga. (Sumber : Majalah Tempo)

Ayah's Plus Point :
Kasih Ibu kepada beta tak terhingga sepanjang masa. Hanya memberi tak harap kembali. Bagai sang surya menyinari dunia....

Saturday, November 11, 2006

Catatan Harian

Day - 141

Sabtu, 11 November 2006 -- Kemarin sore waktu ke GPO naik taxi, mau masuk ke Orchad macet sekali. Biasanya kalau week-end di sana memang macet. Tapi kayaknya ga semacet itu deh. Kata teman mungkin karena ada light-up di Orchad. Light-up penyalaan secara serentak lampu-lampu hiasan Natal di sepanjang jalan dan mal-mal di Orchad. Orchad menjelang Natal dan tahun baru seperti biasa rame banget. Dihias "habis-habisan". Natal di sini benar-benar sudah menjadi bisnis gede-gedean.

Pulang dari GPO dengan beberapa teman makan di seberang Bukit Timah Plaza. Ada restoran India Melayu yang buka 24 jam di situ. Sop buntut dan Prata Tissue-nya enak. Pulang ke rumah hampir jam 12. Dewi, Kezia dan Karen juga baru pulang dari mancing udang di daerah Pasir Ris. Diajak teman. Jadi kita masih ngobrol dulu. Kata Dewi, udangnya sama dengan yang di Gubuk Mang Engking, Yogyakarta. Hehehe.

Agak sore ada percakapan Majelis Jemaat dengan para calon penerima baptis dan sidi. Terus ikut Family Fellowship di Choa Chu Kang. Untuk Family Fellowship ini kita pakai buku Down to Earth Spirituality, Spritualitas yang membumi, menjumpai Tuhan dalam kehidupan yang biasa dan membosankan, penulisnya R. Paul Stevens. Bertolak dari kisah keluarga Yakub. Buku yang menarik.

Kisah keluarga Yakub tuh penuh "pernak-pernik". Tipikal keluarga dengan banyak masalah; pilih kasih orang tua, tipu muslihat, perseteruan kakak-adik, dsb. Topik yang tadi kita bahas tentang kelahiran. Sharing dari buku dan dari kehidupan sehari-hari. Dilanjutkan ramah tamah. Pulang sampai rumah jam 10-an. Besok ga ada pelayanan khotbah, tapi ada pelayanan baptis anak dan dewasa serta peneguhan sidi.

Renungan Sabtu - 27


Anugerah Itu : Eka Darmaputera


Barangkali tidak ada yang tahu, bahwa bagi saya, berkenalan dengan Pak Eka, lantas menjadi rekan sekerja, lebih dari itu menjadi dekat, ibarat mimpi yang menjadi kenyataan. Ceritanya begini.

Dulu sekali, saya masih mahasiswa semester tiga di Duta Wacana, buku Pak Eka, Etika Sederhana Untuk Semua, terbit. Ketika itu di kalangan teman-teman sekampus nama Pak Eka sudah "harum"; sosok dan tulisannya kerap menjadi bahan pembicaraan. Ada beberapa teman yang saya tahu rajin sekali mengkliping tulisan Pak Eka di Suara Pembaruan. Saya juga suka mengklipingnya, cuma ya sesekali. Soalnya saya tidak selalu punya uang untuk beli koran.

Saya membaca habis buku itu. Dan amat terkesan. Materi yang berat dan sarat, dipaparkan dengan bahasa sederhana. Dengan cara yang menarik dan kreatif pula. Ini memang salah satu dari banyak kelebihan Pak Eka: Membuat sesuatu yang sulit dicerna menjadi enak dibaca dan perlu. Sampai kini istilah "pemandu wisata" yang Pak Eka pakai untuk menyebut perannya dalam buku itu, masih kerap saya "pinjam" kalau memimpin acara pembinaan.

Setelah membaca buku itu saya berkeinginan berkirim surat ke Pak Eka. Selain karena dari buku itu ada beberapa hal yang ingin saya percakapkan, juga saya terilhami oleh surat-menyurat Walter Trobisch dengan gadis bernama Karen yang kemudian dibukukan. Siapa tahu surat-menyurat Pak Eka dengan saya juga bisa dibukukan, begitu saya pikir. Ketika itu tidak terbersit sedikit pun dalam benak saya, bahwa suatu saat saya akan menjadi rekan sekerja Pak Eka.

Lalu saya menulis surat. Namun entah mengapa, setelah tiga lembar folio dan belum selesai saya berhenti. Mungkin karena tertunda-tunda menyelesaikan, jadi malah tidak pernah selesai. Pendek kata saya tidak jadi berkirim surat ke Pak Eka. Surat yang belum selesai itu saya robek. Jadi ibarat orang bermimpi, mimpi belum selesai sudah terbangun. Ya, sudah.

Sampai tiga setengah tahun kemudian setelah saya lulus, tidak dinyana oleh BPMS bersama dua rekan yang lain saya ditempatkan di GKI Bekasi Timur sebagai calon pengerja. Penempatan calon pengerja lulusan STT 1991 waktu itu memang unik, berbeda dari sebelum dan sesudahnya. Mungkin saking uniknya saya sendiri malah tidak tahu bagaimana menuliskannya di sini. Para "saksi mata" dan yang mengalami pasti tahulah.

Selanjutnya empat tahun lebih saya, kalau mau memakai istilah yang bombastis, "senasib dan sepenanggungan" dengan Pak Eka di GKI Bekasi Timur. Sekali lagi ini istilah bombastis, makna yang sebenarnya silakan tafsirkan sendiri. Saya berelasi lebih dekat dengannya. Saya kerap bercerita kepadanya, dan mendengar ceritanya. Saya banyak belajar darinya; entah melalui obrolan dengannya yang selalu aspiratif, atau bahkan melalui sikap "diamnya".

Bagaimana perasaan saya terhadap Pak Eka, barangkali bisa disejajarkan dengan perasaan Thio Cui San, ayah Tio Bu Ki, terhadap gurunya, Thio Sam Hong, pendiri Bu Tong Pay, dalam cerita silat Golok Pembunuh Naga; antara kagum dan hormat, antara segan dan sayang. "Tapi guruku tak usah lari keras. Sekali ia berjalan atau berlari pelan-pelan, kami sudah tidak dapat mengikutinya," begitu kata Cui San suatu ketika. Ya, Pak Eka tidak perlu bicara banyak, cukup anggukan dan senyuman dalam sikap diamnya itu sudah berarti sangat banyak buat saya. Berlebihan? Buat orang lain, barangkali iya. Tetapi buat saya tidak. Memang itulah yang saya rasakan. Dan karena saya yang menulis kesan ini, apa boleh buat, Anda, pembaca, lebih baik terima saja. Atau, berhenti sampai di sini dan lupakan.

Dari GKI Bekasi Timur saya membawa banyak kenangan. Ada kenangan pahit, dan karenanya ingin saya lupakan. Ada kenangan manis yang akan terus saya ingat, dan bingkai menjadi hiasan dalam dinding kehidupan saya. Dan salah satu kenangan manis itu adalah sosok seorang Eka Darmaputera. Bisa jadi karena itu, sampai kini, lima tahun kemudian, saya masih merasa dekat dengan Pak Eka. Bahkan istri saya, dan mungkin anak saya yang baru genap setahun usianya.

Dalam kurun waktu itu, untuk ukuran orang sesibuk Pak Eka, cukup kerap kami bertemu. Pernah sepulang bersama dari suatu acara di Kinasih, saya dan Pak Eka mampir di Bogor menjemput "mantan pacar" (sekarang sudah jadi istri) saya pulang. Pak Eka mungkin tidak tahu, waktu itu saya bangga sekali. Bayangkan, saya bisa mengajak Pak Eka menjemput pacar!

Pernah Pak Eka, bersama Bu Evang, juga datang ke rumah. Nengok Kezia, anak saya yang baru lahir. Ketika itu saya sedang tidak ada di rumah. Dari istri, saya dengar Pak Eka sempet menggendong si Kezia. Tapi anak itu malah nangis. Keras lagi. Untuk yang satu ini, saya tidak punya komentar. Jadi, lewatin saja bacanya. Tapi toh tetap, saya merasa perlu menuliskannya di sini. Namanya juga kenangan. Boleh saja 'kan orang memilih kenangan yang hendak diingatnya.

Sekitar tiga minggu lalu saya bertemu dengan Pak Eka di rumahnya. Kami berbincang tentang suatu hal. Tidak banyak yang berubah pada Pak Eka. Senyum dan raut wajahnya tetap cerah; sikap dan sapaannya, yang membuat siapa pun yang menerimanya merasa "berharga", tetap segar. Ya, bagi Pak Eka sepertinya memang tidak ada orang yang "terlalu kecil" untuk diperlakukan "besar".

Kalau pun ada yang berubah, itu adalah fisiknya. Pak Eka sekarang jauh lebih kurus. Keriput di leher makin mempertegas itu. Saya tahu tentang penyakit yang menggeroti tubuhnya. Dan saya hanya bisa berdoa buatnya. Sambil tetap yakin, tak ada yang bisa menggerogoti cinta di hati saya, dan di hati banyak orang, terhadap Pak Eka. Pak Eka adalah anugerah dari Tuhan, kalau bukan yang terbesar, pastilah salah satu di antara yang besar.

Tulisan ini dibuat khusus saat emeritasi Alm. Pdt Eka Darmaputera, PhD. Merupakan versi asli dari tulisan berjudul "Sepotong Cinta buat Pak Eka" yang dimuat dalam buku Atas Nama Cinta - Ayub Yahya, diterbutkan oleh Kairos. Disajikan kembali sebagai satu dari dua tulisan khusus untuk mengenang Alm. Pak Eka yang lahir tanggal 16 November.

Catatan Harian

Day - 142

Jumat, 10 November 2006 -- Pagi ngobrol sama teman pendeta yang nginep di rumah. Ia spesialisasi liturgi. S2 ia tentang liturgi. Sasya banyak nimba ilmunya. Kalau baca sendiri buku seputar liturgi boring-lah. Apalagi saya bukan peminat ilmu liturgi. Tapi diobrolin ternyata asyik juga. Agak siangan setelah antar Karen ke bus stop kita terus ke West Mall. Bareng Dewi dan teman lain. Kita lunch di Mayim. Resto yang terkenal chicken feet-nya.

Teman saya itu dari Semarang, ia bawain mangga Harum Manis. Enak tuh. Mateng pohon. Di sini mangga jarang yang bagus. Ga pernah beli. Pernah saya lihat mangga Thailand. Gede-gede. Satu 3$. Teman saya itu bilang waktu dulu ia studi di sini dua tahun-an, sampai ngimpi-ngimpi makan mangga :). Mangkanya ia oleh-olehin kita mangga. Yang suka mangga tuh Dewi. Saya sih biasa sajalah. Ada teman lain juga yang suka banget mangga. Kita bagi ke ia.

Dari West Mall saya terus ke gereja. Pimpin persekutuan Komisi Wanita. Hujan deras banget. Minggu depan persekutuan Komisi Wanita terakhir untuk tahun ini. Selanjutnya libur. Di sini tuh akhir tahun jemaat banyak yang pulang ke Indonesia. Jadi kegiatan gereja relatif berkurang. Persekutuan pemuda dan remaja pada bulan-bulan ini juga libur. Melihat acara yang sudah direncanakan kayaknya Natal tahun ini akan menjadi Natal "tersantai" saya dalam 15 tahun terakhir. Hehehe.

Sore ikut ceramah liturgi di GPO. Interesan sekali. Teman saya ini selain memang sangat menguasai seluk beluk liturgi. Presentasinya pakai power point juga sangat oke. Mulai dari beberapa kesalahpahaman, misalnya istilah liturgis untuk pemandu ibadah. Ini keliru harusnya liturgos. Lalu peran-peran dalam kebaktian. Kerap jemaat berperan sebagai penonton, para petugas kebaktian adalah pemain, dan Tuhan adalah sutradara. Ini keliru. Harusnya, yang jadi pemain adalah jemaat. Sutradara adalah para petugas kebaktian. Dan Tuhan penonton. Good. Bravo, teman.

Friday, November 10, 2006

Friday's Joke - 23

Perampokan di Bank


Siang itu sekelompok perampok nekat beraksi di sebuah bank di jantung kota. Mereka membawa senjata api. Salah seorang perampok menodongkan senjatanya ke arah kasir.
"Serahkan semua uang yang ada di brankas, atau nama kamu tinggal pulang!!!" ancam si rampok.
Sambil ketakutkan si kasir menjawab,
"Maksud bapak 'pulang tinggal nama' kali?"
"Jangan coba-coba mengalihkan pembicaraan!" kata si rampok.

Ayah's quote :
Betapa sulitnya mengakui kesalahan. Konon manusia adalah "the great manufacturer". Handal membuat sesuatu. Beberapa dari kita sangat handal membuat kebaikan, beberapa lagi sangat handal membuat masalah, dan sisanya sangat handal membuat alasan.

Catatan Harian

Day - 143

Kamis, 9 November 2006 -- Siang pelawatan dengan ibu-ibu Komisi Wanita. Hujan deras nih. Malah di daerah East Coast, got di tengah jalan sampai kayak sungai deras. Tapi ga sampai banjir sih :). Asyik banget rasanya lihat "sungai" deras di tengah kota gitu. Jadi ingat waktu banjir besar di Jakarta beberapa tahun lalu. Saya sempet tuh naik perahu karet di sungai di tengah jalan Boulevard Kelapa Gading :). Waktu itu kita ngirimin makanan dan evakuasi orang yang terjebak banjir.

Minggu-minggu ini Singapore musim hujan. Tapi jadi enak. Udara jadi sejuk. Saya baca di internet, Jakarta tengah bersiap menghadapi banjir :). Di daerah tertentu di Jakarta malah ada yang langganan banjir. Tiap akhir tahun, musim hujan mesti banjir. Sampai sudah begitu biasanya. Memang ga gampang sih tangani banjir. Singapore bisa tangani masalah Banjir karena pembangunan di negeri pulau ini dari awal direncanakan. Sedang Jakarta pembangunan ga terencana dengan baik gitu. Dimana-mana perencanaan dari awal itu perlu. Karena lebih mudah mengatur sesuatu yang baru daripada merombak yang sudah jadi.

Di gereja juga begitu. Kalau sejak masih “kecil”; jemaatnya belum banyak, kegiatannnya belum padat, sudah direncanakan dan disiapkan dengan matang. Visi dan misinya jelas. Bisa lebih terarah. Program-program pembinaan, administrasi gereja dan juga struktur organisasi bisa lebih jelas arahnya. Dan ga tambal sulam. Rasanya ga sedikit gereja besar yang karena dulunya ga ditata dan direncanakan dengan baik. Jadinya hanya “menggelinding” saja. Database jemaat ga ada. Akhirnya, kegiatan-kegiatan pelayanan kepada jemaat jadi ga maksimal. Untuk ngatur lagi biasanya lebih sulit. Walau bukan berarti ga mungkin.

Sepulang pelawatan saya ga langsung pulang. Terus ke gereja. Selain karena hujan deras, malamnya ada rapat misi di gereja. Jadi sekalian gitu. Rapat kelar jam 10-an. Hari ini juga ada teman pendeta dari Indonesia datang. Ia mau pimpin pembinaan dan khotbah di GPO dan GPBB. Ia nginep di rumah. Jam 11.30 ia sampe ke rumah dianter teman. Saya ga bisa jemput karena hari ini jadwal saya padat banget.

Thursday, November 09, 2006

Thursday Hot Issue - 11


Tommy Bebas


The Fact :
29 November 2001, prestasi kepolisian Indonesia dipuji dimana-mana. Hari itu, buronan kelas kakap berhasil ditangkap. Tommy Soeharto, anak mantan Presiden Soeharto yang telah berkuasa 32 tahun, yang buron beberapa waktu ditangkap di Jalan Maleo Jakarta Selatan. Di persidangan Tommy menghadapi empat tuduhan sekaligus. Terlibat pembunuhan Hakim Agung Syafiudin Kartasasmita, pemilikan senjata api dan bahan peledak di dua tempat dan melarikan diri. Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat menghukum Tommy 15 tahun penjara pada Juli 2002. Hasil Peninjauan Kembali Mahkamah Agung membuat hukuman tersebut berkurang menjadi 10 tahun. Tommy menghuni LP Batu Nusakambangan dan kemudian dipindahkan ke LP Cipinang. Di balik jeruji konon Tommy mendapatkan perlakukan istimewa dibanding dengan napi lain. Selama di penjara, Tommy menerima remisi 36 bulan 5 hari. Dan terakhir mendapatkan pembebasan bersyarat pada 30 Oktober 2006. Tommy hanya menjalani 4 tahun 11 bulan dari total masa hukumannya, dan keluar sebagai orang bebas. Siap kembali memimpin jaringan bisnisnya. Sementara keluarga Hakim Agung Alm. Syafiudin Kartasasmita harus menerima "keadilan" versi hukum ini tanpa bisa protes. (Sumber : Majalah Tempo)

The Lessons :
Kerap keadilan adalah hal yang paling sulit dicari di dunia ini. Penuh dengan ambigu. Penuh dengan celah. Juga ruang untuk dalih dan dalil. Nggak jarang demi alasan keadilan seseorang malah mengorbankan rasa keadilan orang lain. Mungkin nggak ada hakim yang adil di dunia ini. Nggak ada hukum yang mampu dijalankan secara konsisten. Tapi, bukankah kita tidak hanya "hidup" saat di dunia ini saja? Dan, bila saat itu tiba, keadilan yang hakiki akan dinyatakan.

Wednesday, November 08, 2006

Catatan Harian

Day - 144

Rabu, 8 November 2006 -- Siang saya ikut acara FOMOS. Fellowships of Missional Organizations of Singapore. Semacam link beberapa lembaga missi di Singapore. Bagusnya begitu, lembaga-lembaga kristiani tuh "kerja" bareng. Ga sendiri-sendiri. Bersinergi. Jadi bisa lebih berdaya guna dan berhasil guna. Apalagi untuk tujuan missi. Pertemuan semacam ini bertujuan menyelaraskan langkah.

Di derah Central. Acaranya sederhana; makan siang, lalu doa dan presentasi singkat. Sambil ngobrol juga dengan pendeta dari gereja-gereja lain. Yang saya senang nyanyinya, walau acaranya sangat informal dan cuma diiringi dengan gitar satu biji, tapi rasanya tuh semangat dan "hidup" gitu. Nyanyi dengan penghayatan, seolah syair lagu itu benar-benar keluar dari hati dengan nyanyi yang sekadar "mengucapkan", emang beda deh.

Pulang naik taxi. Ngobrol sama teman. Ia denger dari siaran TV Channel News Asia, katanya berdasarkan Country Brand Index 2006, Singapore adalah negara nomor 2 di dunia dalam hal nightlife, dining dan shopping. Soal shopping, ga salahlah. Buktinya orang Indonesia pun banyak yang senang shopping di sini :). Apalagi kalau musim sale. Dining, Singapore memang punya banyak restoran dengan standar kebersihan dan kenyamanan yang oke. Tapi jangan tanya soal rasa deh. Terus terang, saya sih ga gitu cocok. Soal nightlife, saya ga tahu. Habis belum pernah juga sih sengaja keluyuran malam-malam.

Malam rapat Board of Management di GPO. Sampai jam 10-an. Pulang naik bis bareng teman. Di sini "asyiknya" malam-malam naik kendaraan umum aman-aman saja gitu. Soal keamanan ini saya kerap bertanya-tanya; di Singapore koq bisa aman, kenapa di tempat lain kayak Jakarta atau mana lagi gitu, ga bisa ya. Apa petugas keamanan di Singapore lebih "hebat" dari para "penggangu keamanan" yang ada di sini? Atau karena di Singapore tuh orang sudah saking sibuknya, jadi sudah ga bisa mikirin buat "gangguin" orang lain? Hehehe.

Wednesday's Games Idea - 23


Memecahkan Balon


Jumlah peserta : Kelompok besar, dibagi dalam kelompok-kelompok kecil yang sama banyak.
Alat yang dibutuhkan : Balon
Waktu yang dibutuhkan : 15 - 30 menit
Aturan permainan :
Kepada seluruh anggota kelompok diberikan balon untuk ditiup dalam ukuran yang tidak terlalu besar. Setelah itu,mintalah semua anggota berbaris memanjang. Letakkan setiap balon di antara punggung anggota yang di depan dengan perut anggota yang di belakang. Mereka berbaris merapat dengan balon ada di antara setiap anggota. Dalam satu aba-aba, mintalah kelompok tersebut untuk berlomba memecahkan balon tanpa memegang balon tersebut. Kelompok yang paling cepat waktunya memecahkan semua balon, menjadi pemenangnya.
Tujuan permainan :
Dalam sebuah kelompok, ketika masing-masing orang punya tujuan sendiri, yang kerap terjadi adalah upaya untuk mencapai tujuan tersebut. Berlomba untuk menyelesaikan tanggung jawabnya. Masalahnya, nggak jarang itu dilakukan dengan mengabaikan tugas orang lain. Dan akhirnya membengkalaikan tujuan bersama.

Catatan Harian

Day - 145

Selasa, 7 November 2006 -- Pagi ke kantor. Siang janjian ketemu Dewi dan Kezia di West Mall. Lunch. Hari ini Karen giliran sekolah. Kezia libur. Sekalian kita beli DVD player. Lagi ada diskon. Saya diajarin teman, kalau mau beli apa-apa di sini sebaiknya pas lagi diskon. Di sini kalau diskon bener-bener diskon. Ga akal-akalan, misalnya harganya dinaikin dulu :).

Dari West Mall Dewi terus ke gereja. Ia ada rapat Komisi Wanita. Saya dan Kezia sempet keliling-keliling dulu sebentar cari puzzle. Kezia lagi demen banget sama puzzle. Tempo hari ia dapat puzzle dari GSM-nya. Yang 500 biji. Ia bisa tuh nyusun. Ia senengnya bukan main. Jadi ia minta dibeliin puzzle lagi. Tapi tadi nyari-nyari ga ada. Kita terus pulang. Mesti tungguin Karen. Ia pulang sekolah jam 2.30.

"Bakat-bakat" kepintaran dan ketelatenan Kezia sejak kecil sudah tampak. Waktu kecil sekali, persisnya usia berapa saya lupa, kayaknya 3 tahunan gitu. Ia sudah bisa pasang puzzle yang 60. Waktu itu mbak yang kerja di rumah saja ga bisa gitu. Kezia ini kayaknya "nurunin" ketelatenan Dewi :). Bedanya, apa-apa ia ga mau kalah. Nah, kalau ini nurunin saya. Hehehe. Bedanya walau ga mau kalah, saya suka kalah melulu. Kezia entah kadang ia punya energi lebih buat menang.

Di rumah saya coba pasang DVD, eh ga bisa. Sudah bisa, gambarnya hilang lagi. Kayaknya gangguan di colokannya. Di utak-atik bisa ada gambar ga ada suara. Nyerah. Sudah janji sama toko sih, dalam 7 hari kalau ada apa-apa bisa dituker. Sore kita ke Paragon. Perginya ikut ibu-ibu Komisi Wanita yang anter Dewi pulang. Mau beli puzzle. Ada di toys 'r us di sana. Kezia yang 500. Karen yang 106. Sempet makan sate "Tori Q". Kezia dan Karen lahap banget tuh. Eh, rupanya itu sate sudah ada cabangnya di Plaza Indonesia dan Pondok Indah Mall di Jakarta

Tuesday, November 07, 2006

Tuesday's Song - 27

Tuhan Yang Pegang
Ira F. Stanphill, terj. KP Nugroho

Tak kutahu 'kan hari esok, namun langkahku tegap.
Bukan surya kuharapkan, karna surya 'kan lenyap.
O tiada kugelisah akan masa menjelang;
kuberjalan serta Yesus. Maka hatiku tenang

Reff.
Banyak hal tak kufahami dalam masa menjelang.
Tapi t'rang bagiku ini: Tangan Tuhan yang pegang.

Makin t'ranglah perjalanan, makin tinggi aku naik.
Dan bebanku makin ringan, makin nampaklah yang baik.
Di sanalah t'rang abadi, tiada tangis dan keluh;
Di negri sebr'ang pelangi, kita k'lak 'kan bertemu.

Tak ku tahu 'kan hari esok, mungkin langit 'kan gelap.
Tapi Dia yang berkasihan melindungi 'ku tetap.
Meski susah perjalanan, g'lombang dunia menderu.
Dipimpin-Nya 'ku bertahan sampai akhri langkahku.

Renungan:
Kita nggak pernah tahu apa yang akan terjadi hari esok. Dunia ini penuh ketidakpastian. Apa yang sekarang terang esok-lusa bisa berubah menjadi buram. Dan sebaliknya. Tapi toh di tengah segala ketidakpastian itu ada satu hal pasti: Tuhan nggak pernah jauh dari kita. Tangan kita selalu ada dalam genggaman-Nya. Maka, jangan takut dengan masa depan. Apa pun yang kita hadapi sekarang. Berjalanlah dengan iman. Dan bertahanlah. Tuhan beserta kita.

Catatan Harian

Day - 146

Senin, 6 November 2006 -- Saya senang, baca di detik.com Chelsea kalah 1-2 dari Tottenham Hotspur :). Dulu waktu Chelsea "dipegang" Ruud Gullit, saya mendukung Chelsea. Menurut saya Gullit-lah yang merubah Chelsea jadi kesebelasan multi-ras. Lalu Gullit "dikudeta" oleh Gianluca Vialli, simpati saya ke Chelsea hilang. Lalu Claudio Ranieri datang. Saya mendukung Chelsea lagi. Lalu Roman Abramovich dan Jose Mourihno masuk. Habis deh simpati saya dengan Chelsea.

Abramovich datang dengan uangnya. Ia seolah mau membeli semua pemain terbaik. Buat saya ini ga fair. Kasihan klub-klub yang dengan telaten membesarkan pemainnya. Sesudah "jadi" di beli. Sedang Mourinho datang dengan kesombongannnya. Betul di bawah mereka Chelsea bisa sampai juara Liga Inggris dua kali berturut-turut. Sesudah 50 tahun ga bisa-bisa merebut gelar itu. Intinya, uang dan prestasi ga serta-merta merebut simpati. Prestasi bagus, kalau tidak diringi dengan kerendahan hati dan kesediaan untuk respek dengan orang lain malah akan menuai antipati juga.

Seharian ini saya ga kemana-mana. Di rumah. Siang Dewi ke acara ulang tahun anggota jemaat di Lucky Plaza. Teman di Komisi Wanita. Karen ikut. Ia libur. Kezia sekolah. Jadi saya di rumah. Ga kemana-mana. Baca. Ngetik. Balas imel. Sore setelah Dewi pulang, kita sudah niat mau jalan. Tapi hujan juga. Jadi ga jadi. Kita di rumah saja main komputer. Baca buku.

Saya dan Dewi agak "bergumul" dengan Karen. Ia belum bisa baca. Mungkin ia bingung juga kali. Dari Jakarta ia belum bisa baca bahasa Indonesia. Lalu sekarang malah belajar baca Inggris. Karen tuh ga tekun. Ga telaten. Sifatnya mirip saya. Talenta Karen itu bicara dan kreatif. Padahal Kezia seusia ia sudah lancar baca. Kita sudah berusaha ajarin. Ga mempan. Saya tuh takutnya "nurunin" saya gitu :). Dulu saya bica baca pun baru naik kelas 4 SD. Bayangin. Bisa naik kelas karena maklum sekolah di kampung kan.

Monday, November 06, 2006

I Like Monday - 10


Inspiring Singapore:
Save Our Sea


Tujuh puluh orang penyelam dari angkatan laut dan SUBA School International melakukan penyelaman khusus di sekitar Pulau Hantu. Penyelaman ini menjadi tidak biasa karena tujuannya bukan menikmati pemandangan bawah laut. Tapi untuk membersihkan sampah-sampah yang ada di dasar laut sekitar Pulau Hantu. Proyek sukarela yang dilakukan dalam rangka program Clean and Green Week yang ada di bawah proyek Save Our Sea ini berhasil membersihkan area dasar laut dari sampah. Program ini sudah berlangsung selama lima tahun terakhir. Lokasi penyelaman di Singapore sangat terbatas. Pulau Hantu adalah salah satu lokasinya. Maka, memelihara kebersihan lokasi ini menjadi sebuah tanggung jawab. Tidak saja bagi generasi saat ini. Tapi juga bagi generesi mendatang. Dalam waktu dua jam penyelaman sedalam 15 meter tersebut, para penyelam berhasil membersihkan area seluas tiga kali lapangan basket Pulau Hantu dari sampah-sampah. * Alam yang kaya adalah anugerah untuk kita. Yang perlu kita lakukan hanya merawatnya. Memeliharanya untuk dijadikan warisan bagi anak cucu kita. Tugas mulia manusia di dunia, salah satunya adalah memelihara bumi. Bumi tempat kita tinggal akan sanggup memenuhi semua kebutuhan yang kita butuhkan. Tapi, tidak sanggup memenuhi semua ketamakan manusia. Pergunakan dan pelihara secara bertanggung jawab. Mulailah dari hal-hal kecil. Biasakan sejak usia dini. Selamat berinvestasi pada lingkungan.

*Sumber : Channel NewsAsia/YahooSingapore

Catatan Harian

Day - 147

Minggu,5 Nopember 2006 -- Hari ini khotbah tiga kali. Di GPBB dan GPO. Saya ke gereja pagi-pagi. Dewi bersama Kezia dan Karen agak siangan. Sekolah Minggu di sini memang agak siang. Dewi sekaligus ikut kebaktian kedua. Waktu naik bis tadi ada seorang ibu negur dengan ramah, “Are you a pastor?” Mungkin karena ia melihat dari pakaian saya. Terus ia cerita, ia dari juga jemaat Gereja Presbiteryan. Dari konggregasi bahasa Mandarin di mana gitu, saya lupa. Yang pasti bukan dari Bukit Batok.

Selama saya di sini, inilah sapaan ramah pertama kali saya dapat terima dari orang Singapore. Hehehe. Mungkin ciri khas kota besar atau negara maju begitu. Orang saking sibuknya dengan kerjaan. Tergesa-gesa dengan urusan masing-masing. Akibatnya seolah nggak punya waktu untuk sekadar beramah tamah dengan orang lain. Di lingkungan gereja juga kadang seperti itu tuh. Cuek gitu. Karena beda konggregasi juga sih, jadi nggak saling kenal. Mungkin ada baiknya juga dibikin acara keakraban lintas konggregasi.

Khotbah seperti biasa yang pertama agak “belepotan”. Ada saja yang “kelewat” dari yang dipersiapkan. Yang kedua dan ketiga sih “relatif” lebih siap. Selesai kebaktian dua sudah rutin kita lunch di food court seberang. Ramai-ramai. Bagusnya dekat gereja ada food court, bisa jadi sarana keakraban. Ada baiknya juga kalau di gereja tuh ada “kantin” gitu ya. Bisa jadi tempat sarana “kongkow”. Jadi sesudah kebaktian jemaat ga terus pulang. Di Bandung mungkin kayak GKI Taman Cibunut. Di sana makanannya enak-enak tuh.

Di GPO tadi sempet ada jemaat yang minta ketemu khusus. Ia tengah berobat di sini. Sekilas ia biasa saja. Ga kelihatan sakit. Tapi katanya, kanker sudah menyebar dalam tubuhnya. Kita berdoa bersama. Pulang naik bis. Sempet salah bis. Teman kasih tau bis nomor 171 lewat jalan rumah saya. Ternyata ga. Bukan ia bohong. Masalahnya ia ga tau rumah saya tepatnya dimana. Taunya nama jalannya doang :). Sampai rumah jam 7.30-an pm. Kezia dan Karen ngajak ke library. Ada buku yang harus dicari. Dewi juga sekalian mau beli susu-nya anak-anak.

Sunday, November 05, 2006

Sunny Sunday - 08


Indonesia Plus
Mata Air Bukan Air Mata


Di Salatiga berlangsung Festival Mata Air 4-5 November 2006. Festival ini diprakarsai oleh para seniman asal Salatiga yang tergabung dalam komunitas Tanam Untuk Kehidupan (TUK). Puncak festival berlangsung di Sendang Senjoyo. Ada hiburan kesenian rakyat seperti tari, musik, teater, barongsai sampai peragaan mode. Ada diskusi lingkungan, penanaman bibit sampai bazaar informasi tentang lingkungan. Juga ada lomba lukis tentang lingkungan yang pesertanya adalah anak-anak. Salatiga terletak di ketinggian 450-800 meter di atas permukaan laut secara geografis memang kaya air. Kawasan Gunung Merbabu, Telomoyo dan Gajahmungkur yang mengelilinginya memasok air ke belik (mata air) di sekitar Salatiga. Festival Mata Air ini dilakukan untuk mengembalikan kepekaan orang kepada isyarat alam. Persoalan air di Indonesia, seperti kekeringan, hilangnya sungai bening, banjir, tanah longsor sebagian besar karena kurangnya kesadaran untuk memanfaatkan alam yang indah sebaik-baiknya. (Sumber berita : Kompas)

Ayah's Plus Point :
Alam punya cara sendiri untuk "berbicara" kepada kita. Kepekaan kita akan bahasa alam akan membuat kita terhindar dari bencana yang lebih besar. Kepedulian terhadap hal itu bisa dilakukan oleh siapa saja tanpa memandang kalangan, status, usia, gender. Dari profesi apa saja. Untuk urusan alam, kita semua berada dalam posisi yang sama penting untuk menjaga dan memeliharanya. Punya tanggung jawab yang sama besar untuk mewariskan mata air dan bukan air mata kepada generasi mendatang.

Saturday, November 04, 2006

Catatan Harian

Day - 148

Sabtu, 4 November 2006 -- Pagi sampai siang kita beberes rumah. Seminggu sekali mesti ada waktu beberes agak "besar-besaran" kayak gini:). Sesuatu yang kalau di Jakarta jarang kita lakukan hehehe. Tapi asyik jugalah beberes begini. Jadi sarana "keakraban" keluarga juga. Semua jadi terlibat. Segala sesuatu kalau dijalani dengan hati gembira, jadi ga terasa berat kan. Agak siangan ada tukang yang datang ke rumah betulin listrik. Pemanas air di rumah sejak dua hari lalu korslet.

Siang ke ke gereja. Hari ini saya ngajar katekisasi. Di gereja lagi ada acara garage sale dalam rangka fund-rising pembangunan gereja. Penyelenggaranya dari kongregasi Inggris. Penggalangan dana untuk gereja memang sebaiknya diupayakan terutama oleh jemaat sendiri. Akan memupuk rasa memiliki dan kebersamaan antar jemaat. Sorenya saya ikut persekutuan Komisi Pemuda bentar. Nggak bisa lama-lama. Mesti ke Kedutaan Indonesia.

Saya janjian sama Dewi dan anak-anak ketemu di Bukit Batok. Terus kita sama-sama ke rumah teman di daerah Clementi. Dari sana, kita bareng-bareng naik mobil teman ke Kedutaan. Ada undangan untuk ngikutin acara indokustik 2006. Itu acara festival band akustik Indonesia di Singapore. Lumayan ramai juga yang datang. Acara-acara di kedutaan biasanya lumayan rame. Karena biasanya jadi ajang ngumpul-ngumpul orang Indonesia. Apalagi tadi juga ada bazaar.

Tapi terus terang saya ga gitu nikmati acara festival musiknya itu. Abis musiknya keras-keras gitu. Sampai nggak jelas kata-kata dalam lagunya. Kan kekuatan lagu itu selain musik juga liriknya. Jadi kalo ada sebuah lagu dinyanyikan tapi ga jelas liriknya ya ga enak didengar juga jadinya. Saya kadang ga ngerti, apa enaknya sebuah lagu yang suaranya keras menghentak begitu. Rasanya pengertian akustik kan justru ga terlalu “garang” gitu musiknya. Mungkin ini menyangkut selera saja:). Jam 8-an kita pulang. Saya mesti nyiapin kotbah buat besok. Teman nganterin sampe ke rumah.

Renungan Sabtu - 26


Citra Keluarga Kristen

Petikan syair lagu dari NKB 204:2: “Hidupmu kitab terbuka dibaca sesamamu. Apakah tiap pembacanya melihat Yesus dalammu? Reffrein: Nyatakan Yesus dalammu. Nyatakan Yesus dalammu. Sampaikan Firman dengan hati teguh. Nyatakan Yesus dalammu.”

Ada seorang teman yang memberi kesaksian. Ia bukan dari keluarga Kristen. Ia studi di luar negeri. Ia berkenalan dengan sebuah keluarga Kristen yang mengundang ia untuk ikut acara “kumpul-kumpul” di rumah mereka. Sebagai anak rantau dan jauh dari keluarga, ajakan tersebut tentu saja menyejukkan.

Sejak itu ia kerap berelasi dengan keluarga itu. Ia sungguh terkesan dengan sikap hidup, kebaikan, kasih, keramahan yang ditunjukkan keluarga itu terhadapnya. Sehingga kemudian ia pun jadi tertarik dengan kekeristenan. Dan akhirnya dibaptis dan menerima Tuhan Yesus.

Setiap hari kita berelasi dan berinteraksi dengan orang lain. Mereka melihat sikap dan perilaku kita, mendengar perkataan kita. Sebagai keluarga Kristen, apakah kita sudah menunjukkan sikap dan kata-kata yang mencerminkan kasih Kristus. Sehingga melalui keluarga kita, orang lain melihat dan merasakan sapaan kasih-Nya?

Oleh Dewi Christiany & Ayub Yahya, Dari Buku Renungan Bulan Keluarga GPBB-Singapore

Catatan Harian

Day - 149

Jumat, 3 November 2006 -- Siang berdua Dewi ke Mount Elizabeth Hospital. Melawat teman pendeta dari Surabaya yang dirawat di sini. Teman saya tuh ke Singapore beberapa minggu lalu buat nganter istrinya check up. Istrinya ternyata membaik, ia-nya sendiri malah yang dindikasikan ada "kelainan" pada jantungnnya. Dan segera ditangani. Jadi alih-alih temenin istri berobat, malah jadi ditemani istri berobat.

Waktu ia ke sini beberapa minggu lalu saya juga sempet nengok. Waktu itu saya tahunya dari milis pendeta GKI. Berita dari milis kesannya tuh "gawat darurat". Sampai-sampai beberapa teman nitip doa yang "serem-serem" :). Ketika kita ketemu eh ia malah "segar-bugar". Kita malah ngobrol dan gurau-gurau. Berita kalau dari "mulut ke mulut" bisa bias tuh. Apalagi kalau sudah ditambah "penyakit" suka melebih-lebihkan. Mungkin emang begitu kali ya kecenderungan manusia, senang berita bombastis.

Orchard road sudah dihias-hias menyambut Natal. Di mal-mal juga begitu. Kata teman, Natal di Singapore emang meriah, walau kekristenan di Singapore sendiri sebetulnya ga "semeriah" kayak di Indonesia. Natal memang sudah menjadi "komoditi", semacam "barang" yang laku dijual. Jadi yang dipentingin bukan lagi maknanya, tapi bisnisnya. Repotnya, kita orang-orang Kristen sendiri kerap terbawa arus ikut-ikutan "dalam bisnis Natal".

Dari Mount Elizabeth saya terus ke gereja. Dewi pulang. Kan harus tunggu anak-anak pulang sekolah. Saya ada acara Komisi Wanita. Ada acara Talk Show yang menampilkan beberapa suami sebagai narasumber. Saya dan teman jadi moderator juga. Di Kayu Putih dulu saya kerap jadi moderator acara. Tapi baru kali ini dalam sebuah acara yang singkat moderatornya dua orang:). Tapi tadi diskusinya seru juga. Hidup gitu. Narasumbernya juga oke. Pendengar juga merespon aktif.

Friday, November 03, 2006

Friday's Joke - 22


Sopir Taksi

Setelah berjalan sekian lama, penumpang menepuk pundak sopir taksi untuk menanyakan sesuatu. Reaksinya sungguh tak terduga. Sopir taksi begitu terkejutnya sampai tak sengaja menginjak gas lebih dalam dan hampir saja menabrak mobil lain. Akhirnya ia bisa menguasai kemudi dan menghentikan mobilnya di pinggir jalan. "Tolong, jangan sekali-sekali melakukan itu lagi," kata sopir taksi dengan wajah pucat dan menahan marah. "Maaf, saya tidak bermaksud mengejutkan. Saya tidak mengira kalau menyentuh pundak saja bisa begitu mengejutkan Bapak." Supir taksi itu masih dengan wajah pucat pasi menjelaskan "Persoalannya begini, ini hari pertama saya jadi sopir taksi. Bapak juga merupakan penumpang pertama. Sebelumnya saya adalah sopir mobil jenazah."

Ayah's Quote :
Jika sesuatu tindakan itu baik, biasakanlah. Jika sesuatu itu tindakan yang buruk, jangan dibiasakan. Karena mengubah kebiasaan bukan hal yang mudah.

Catatan Harian

Day - 150

Kamis, 2 November 2006 -- Di Pekanbaru tempo hari saya sempet ke Gramedia. Beli buku "Meninggalkan Keangkuhan, Bersahabatkan Keberhasilan, Memasuki Keheningan", kumpulan wawancara Gede Prama di berbagai majalah. Dan "The Innocent Rebel", sisi aneh orang Jakarta. Ini kumpulan feature di majalah Djakarta. Kayak buku "Jakarta Under Cover", tapi ya lebih "realistis" gitu :).

Menarik membaca perjalanan hidup seorang Gede Prama. Ia berangkat dari nol. Katanya, ia hidup dari "keterpaksaan" ke "keterpaksaan" lainnya. Saya jadi berpikir tentang diri saya sendiri. Banyak hal yang dulu kalau dipikir-pikir saya tuh ga bisa. Tapi karena dipaksa keadaan jadi bisa juga :). Kayak ngomong di depan umum. Pertama kali saya ngomong di depan umum tuh waktu jadi Ketua Komisi Remaja di Bandung dulu. Ya ampun groginya. Sampai saya inget betul, ketika itu cuma bisa berdiri mematung. Lalu teman-teman pada nertawain. Seperti kata Sidney Sheldon, orang tuh akan bisa kalau harus.

Buku "The Innocent Rebel" menarik juga. Ada cerita tentang sarjana teologi yang dirawat di RSJ Grogol. Lalu cerita para wanita "baik-baik" yang bekerja di tempat "remang-remang". Juga cerita tentang orang-orang yang anti banget dengan sepakbola, "lucunya" alasan antinya itu ada yang memakai agama. Buku ini oke-lah untuk sekadar tahu sisi-sisi lain kehidupan di kota Jakarta.

Siang pelawatan berdua teman, kunjungan ke teman-teman pemuda yang bekerja di daerah Ang Mo Kiu. Cuma saya ga bisa ikut makan karena harus terus pulang. Dewi antar ponakan ke bandara. Kezia dan Karen ga ada yang tunggu pulang. Dari Ang Mo Kiu saya naik taxi. Hampir jam 2 saya tiba di halte bus. Kezia sudah tunggu di sana. Tapi saya lupa ga bawa kunci rumah. Duh. Jadi berdua Kezia tunggu dulu Karen. Karen pulang jam 2.30. Baru kita ke West Mall. Makan. Jam 5-an Dewi gabung dari bandara. Malam ada anak rohani yang datang ke rumah. Kita dinner sambil ngobrol.

Thursday, November 02, 2006

Thursday Hot Issue - 10


Berkaca Diri


The Fact:
Chelsea nggak saja kesebelasan kaya raya tapi juga hebat. Dua tahun terakhir ini mereka juara Liga Inggris. Di ajang Liga Champion 2006 baru-baru, pada partai kandang mereka melindas Barcelona 1-0. Sedang pada partai tandang Barca mereka tahan 2-2. Di sana juga berkumpul pemain-pemain kelas dunia. Mereka juga punya manager kelas dunia. Sayangnya kemenangan dan kehebatan Chelsea sering ternoda oleh pernyataan-pernyataan yang nggak sportif yang dikeluarkan oleh Jose Mourinho, sang manager. Setelah pertandingan Barca dan Chelsea 1 November kemarin di Nou Camp, Mourinho kembali mengkritik pemain-pemain Barca yang melakukan diving. Pertandingan berjalan keras. Marquez dan Gudjohnsen dari Barca memang beraksi agak berlebihan. Tapi sayangnya mata Mourinho seolah nggak menangkap aksi yang sama yang dilakukan oleh para pemain Chelsea seperti Essien, Lampard, Robben dan terutama Drogba. di Liga Inggris para pemain Chelsea bahkan punya julukan "the group of cardwaver" (pemain yang kerap "minta" kartu dari wasit untuk lawannya dengan cara beraksi berlebihan). Drogba bahkan sampai dijuluki "Pemenang Piala Oscar" untuk aksi-aksi divingnya. Sayang, kehebatan Mourinho harus ternoda oleh sikapnya yang cenderung nelihat kesalahan lawan tanpa berkaca diri. (Sumber : Kompas)

The Lessons:
Betapa menyebalkan orang yang bisanya mengkritik orang lain, tanpa mau berkaca diri. Yang sukanya melihat selumbar di mata orang lain, sedang balok di matanya sendiri nggak dilihat. Orang yang hyper-critical (tukang kritik), biasanya adalah orang yang hypo-critical (paling pantas "dikritik").

Catatan Harian

Day - 151

Rabu, 1 November 2006 -- Di sini tuh kan sering ada buah-buahan yang saya belum pernah lihat di Indonesia. Kayak buah yang orang-orang sini sebuat "Kurma Muda" dan "Jojoba". Ga tahu deh nama sebenarnya apa. Ya, bisa saja sih sebenarnya di Indonesia ada, cuma sayanya yang ga tahu. Kemarin di China Town saya lihat dua jenis buah yang ga pernah saya lihat. Harganya murah cuma 3$ satu plastik. Dan yang satu lagi 2$ tiga biji. Saya beli. Sampai di rumah, Dewi komplein. Ternyata keduanya sudah sering kita beli. Cuma karena sudah agak membusuk jadi lain warnanya gitu. Saya ga sangka. Habis kan dibungkus rapih-rapih. Dan kelihatannya bagus. Ga bisa dimakan. Dibuang. Ketipu deh. Siapa bilang di sini "jujur-jujur"?!

Pagi antar ponakan test sekolah di Bukit View Secondary School. Ia sebetulnya sudah ga gitu minat sekolah di sini. Cuma sudah terlanjur daftar. Habis kalau ia masuk sekarang, rugi waktu juga sih. Satu tahun setengah. Kalau mau ga terlalu rugi waktu, daftarnya pas lulus SD. Jadi masuk secondary one. Ruginya cuma setengah semester. Atau bisa juga sudah naik kelas dua SMU, masuk Junior College. Tapi katanya, berat banget kalau langsung masuk Junior College. Ponakan saya sekarang sudah kelas 1 SMU. Mau ga mau ia masuk Secondary three. Saya lihat banyak juga anak-anak dari Indonesia yang daftar. Kebanyakan pakai agen.

Terus saya ke kantor. Siang sekalian lunch jemput lagi ponakan. Ia bilang, tesnya gampang :). Saya sih paling ga suka ikut-ikut test sekolah kayak gitu. Habis "trauma". Seringnya ga keterima. Hehehe. Dalam sejarah hidup saya, tiga kali ikut test di sekolah favorit. Ketiganya ga keterima. Kalau sekolah yang ga pakai test, atau yang saingannya dikit, boleh-lah. Untuk soal kemampuan akademis saya tuh memang "payah" koq. Mungkin karena saya ga gitu “in” dengan sekolah formal :).

Sore saya ada rapat di gereja. Dewi anter ponakan ke bandara. Kezia dan Karen "dititip" di teman GSM. Dari bandara Dewi telepon, ternyata tiket salah. Itu tiket untuk tanggal 5 Nopember. Salah saya juga waktu ambil tiket itu ga diperiksa. Pengalaman, kalau periksa apa-apa tuh yang teliti. Kelemahan saya, suka kurang merhatiin detail. Jadi waiting list. Tapi urutan 9. Ampun deh. Diurus-urus akhirnya bisa tuh besok tetap naik Garuda yang jam 16.45.

Wednesday, November 01, 2006

Wednesday's Games Idea - 22


Permainan Tradisonal - 02


4. Main Bekel
Bisa dimainkan oleh dua sampai empat anak. Pemain akan menyebarkan biji bersamaan dengan melambungnya bola. Selama bola melambung, pemain mengambil biji-biji bekel yang berjumlah enam buah. Ia harus mengambil biji bekel tanpa menyentuh biji bekel yang lain. Setelah semua diambil, biji bekel kembali disebar dan pemain mengambil biji bekel dengan jumlah yang makin meningkat dua, tiga, empat, dst dalam satu lambungan bola. Bangsa Yunani dan Romawi kuno juga memainkan permainan ini. Mereka menggunakan tulang jari domba sebagai bijinya. Baru pada abad-19 biji bekel terbuat dari logam.

5. Egrang
Permainan ini perlu latihan khusus keseimbangan tubuh. Alatnya adalah terbuat dari dua bambu setinggi dua meter atau lebih. Tumpuan berdirinya terletak 60 cm dari tanah. Dengan egrang ini orang kemudian berjalan. Yang sudah mahir bahkan bisa sambil berlari. Egrang juga dimainkan dalam permainan sirkus.

6. Gasing
Gasing berbentuk silinder mirip tabung dengan batang kayu persis di tengah atas dan bawah. Kayu di bawah sebagai tumpuan berputar, sedangkan yang di atas untuk tempat melilitkan talinya. Kayu gasing biasanya dari kayu ringan seperti dari pohon jambu atau pohon asam. Permainan ini asyik dimainkan berkelompok. Cara bermainnya dengan melilitkan tali pada kayu bagian atas, lalu gasing dilempar sambil menarik tali. Gasing akan berputar.

(sumber : Kompas)

Catatan Harian

Day - 152

Selasa, 31 Oktober 2006 -- Sariawan tambah parah nih. Satu hilang dua muncul. Duh. Saya kalau tidur ga benar mesti sariawan. Kata teman, jangan anggap enteng sariawan. Efeknya bisa ke jantung dan macem-macem. Entah deh. Yang saya tahu sariawan tuh penyakit ringan, tapi paling menyiksa. Ngomong susah. Makan susah. Diam juga susah :(

Siang pelawatan. Bareng Dewi dan teman dari Komisi Wanita. Karen juga diajak. Ia libur. Bulan ini ada tiga anggota jemaat yang melahirkan. Di salah seorang teman yang dikunjungi saya melihat satu seri buku tentang merawat bayi. Mulai dari cara mandiin, mijitin, sampai kalo ada kejadian khusus pada bayi. Dulu waktu Dewi hamil, kita juga banyak baca buku panduan macam gitu. Saya ga tahu apakah adanya buku-buku panduan itu kemajuan atau kemunduran. Hehehe. Sebab orang-orang tua dulu kan ga ada yang pakai buku panduan gitu. Mama saya buta huruf. Anaknya delapan. Ga pake buku panduan :).

Teman cerita, ia sudah ngurus passport bayinya. Aturan sekarang kalau orang tua PR, bayinya pun harus diurus punya PR. Dalam waktu 42 hari. Untuk punya PR harus ada passport. Ngurus passport sekarang repot. Lebih tepat diper-report-in. Kedutaan kan di daerah Tanglin, cuma untuk difoto mesti ke Orchad dulu. Sedang foto di tempat lain ga bisa. Sekali foto 15$. Kalau foto di tempat biasa cuma 5$. Soal foto passport terpisah tempat begitu banyak dikeluhkan tuh. Tapi biasa kan di Indonesia, “Kalau bisa dipersulit ngapain dipermudah”. Yang kasihan WNI kayak TKWI gitu. Bukannya dibantu, malah diper-sulit.

Dari pelawatan terus ke kantor. Ga ada yang khusus sih. Kecuali ngecek beberapa hal. Agak sorean antar ponakan ambil tiket pesawat di daerah Bugis. Ia mau pulang Jakarta. Test di sekolah kedua tanggal 4 ia lepas. Habis juga ga enak terlalu lama bolos katanya. Masalahnya semua penerbangan ke Indonesia sampai tanggla 5 nopember full-booked. Tadinya saya mau antar ia pulang. Tanggal 5 hari Minggu. Senin atau Selasanya saya balik lagi Singapore. Tapi setelah dicari-cari ternyata besok kalau cuma satu seat ada tuh. Rundingan-rundingan ponakan oke pulang sendiri.