Wednesday, April 12, 2006

Catatan Harian - 354b

Jam 10 tadi pimpin PA kaum ibu. Bahas pengantar Surat Yakobus. PA kaum ibu bahannya berseri per kitab. Sebagian besar kitab dalam Alkitab rasanya suda dibahas deh. Bergantian. Cuma apa masih diingat? Entah :). Kadang saya tuh suka mikir gini, dari sekian banyak khotbah yang didengar, PA yang diikuti, berapa banyak yang diingat? Dari yang diingat, berapa banyak yang dijalankan? Jangan-jangan khotbah dan PA cuma jadi rutinitas. Dan gone with the wind.

Sore pimpin kursus menulis si STTJ. Ini pertemuan pertama dari empat kali pertemuan yang direncanakan. Surprise. Persertanya mencapai target masimal. 15 orang. Malah katanya, terpaksa ada yang ditolak. Beberapa orang peserta kursus berkhotbah yang juga saya pimpin bulan lalu ikut lagi. Pesertanya ada pendeta, calon pendeta, penatua, aktivis lembaga literatur. Per peserta bayar 500 ribu rupiah.

Terus terang saya agak grogi. Saya ga biasa pimpin acara yang pesertanya harus bayar. Baru tiga kali. Tehnik bercerita, tehnik berkhotbah, dan tehnik menulis. Semua yang adain Pusat Pelatihan Warga Gereja STTJ. Grogi karena, ya minder saja gitu :). Emang saya ini siapa, orang yang ikut acara saya sampai mesti bayar?!

Tapi saya juga jadi belajar sih. Dari mempersiapkannya. Saya jadi “dipaksa” cari-cari bahan. Juga dari diskusinya dengan dan antar peserta. Belajar karena mengajar. Saya appreciate dengan kerendahan hati para rekan pendeta yang mau nyempetin ikut kursus ini. Bayar lagi :))

Catatan Harian - 354a

Semalam selesai PA, teman-teman dari GKI Bektim ngajak makan. Hitung-hitung nostalgia, kata mereka. Kita makan di Seafood 212 Kelapa Gading. Dulu waktu masih di GKI Bektim, sering tuh selesai acara di gereja saya jalan bareng. Kalau dengan remaja dan pemuda biasanya makan. Kadang cuma makan roti bakar di pinggir jalan. Kalau dengan anak Sekolah Minggu, biasanya ke Gramedia Matraman. Atau berenang ke Tirta Mas.

Saya pikir, sebaiknya pendeta tuh jangan hanya duduk di “menara gading”. Ia juga harus lebur dengan jemaatnya. Jadi akrab. Jangan ada jarak. Tapi karena sikap itu, pernah saya dikritik. “Ga ada wibawa.” Bisa saja sih kritik itu benar. Dulu itu, dan juga sekarang, saya ga pernah mikir soal harus punya wibawa. Soalnya saya pikir, wibawa itu bukan sesuatu yang harus dicari.

Pagi saya ditelepon seorang teman. Ia bilang, Demuda disindir-sindir akan bubar seiring kepindahan saya. Saya “geli” bercampur sedih. Gelinya karena yang nyindir itu justru orang yang seharusnya membimbing Demuda. Kalau ia tahu Demuda akan bubar, mbok ya bimbing gitu. Bukannya disyukurin. Sedihnya, di gereja koq ada ya orang yang senang melihat yang lain gagal, dan susah melihat yang lain berhasil.

O ya, Demuda itu wadah persekutuan buat warga jemaat dewasa muda (usia 25-40 tahun sudah atau pun belum menikah). Di bawah naungan Komisi Pria. Di GKI Kayu Putih masih Komisi Wanita dan Komisi Pria. Kalau di Jemaat lain sudah lebur jadi Komisi Dewasa. Beberapa teman dan saya membidani Demuda, dari gagal total dan ditinggalkan pengurusnya sampai menjadi hidup. Pendek kata cukup “menjanjikan”. Sampai ada yang nyebut “bayi ajaib”.

Cermin-05

Murtad


Kerap orang mengartikan murtad sebagai perpindahan dari satu agama ke agama lain. Tentu saja dari sudut pandang agama yang ditinggalkan. Sedang kalau dari sudut pandang agama yang dimasuki dibilangnya bertobat. Maka murtad dan bertobat menjadi sesuatu yang relatif; tergantung dari sudut mana memandang.

Contoh dalam pro-kontra RUU Sisdiknas beberapa waktu lalu. Yang sekarang sudah jadi UU. Salah satu alasan yang pro adalah bahwa UU itu, katanya, akan menghindarkan pemurtadan. Artinya, kalau seorang beragama A bersekolah di sekolah beragama B, lalu orang itu pindah ke agama B, itu dibilangnya murtad.

Bagi saya arti murtad seperti itu sungguh dangkal. Kalau seseorang itu pindah agama, dan ternyata hidupnya jadi lebih baik, lebih menjadi berkat, lebih berguna bagi keluarga dan masyarakat di sekitarnya, kenapa tidak? Agama toh bukan tujuan. Ia hanyalah alat untuk seseorang itu hidup lebih baik, lebih manusiawi, lebih berguna, lebih memiliki damai sejahtera dan sukacita.

Murtad, bagi saya, justru kalau kita memanipulasi agama; memakai agama sebagai kendaraan politik, misalnya, atau menjadikan agama sebagai alat untuk memuaskan ambisi pribadi, meraih kekuasaan dan kekayaan. Murtad, bagi saya, adalah ketika kita bertindak dan berbuat yang justru malah menjadi promosi buruk bagi agama kita.

Tuesday, April 11, 2006

Catatan Harian - 355

Tadi pagi ada janji konseling di gereja. Seorang Ibu. Mungkin sudah empat atau lima kali ibu itu konseling dengan saya. Pernah juga saya temani ia ketemu psikolog di gereja.

Terus terang saya sudah kehabisan kata-kata nasehat. Habis persoalannya dari dulu itu-itu saja. Lebih dari setahun ga beres-beres. Menurut saya, kuncinya di ia juga koq. Masalahnya ia ga berani ambil keputusan. Jadi saya cuma mendengarkan ia. Terus saya ajak berdoa. Mudah-mudahan sedikit melegakannya. Kadang orang tu ga butuh nasehat koq, ia cuma pengen didengarkan.

Sore saya pimpin PA di GKI Bekasi Timur. Hujan. Mobil dipake anter anak-anak les. Jadi saya naik taksi. Nyari taxi susah. Hampir 10 menit saya berdiri di pinggir jalan. Mana jalan macet pula. Terlambat deh nyampe GKI Bektim. PA berseri seputar kata-kata Tuhan Yesus yang sulit. Saya diminta pimpin sebulan penuh, tapi saya bisanya cuma dua kali. Selasa ini dan selasa depan.

GKI Bektim tuh boleh dibilang ‘cinta pertama’ saya. Sebelum di Kayu Putih, saya sempat melayani di sana hampir lima tahun. Dulu saya punya pandangan sangat positif tentang orang gereja. Saya diangkat dari ‘dunia suram’ oleh orang gereja. Di GKI Bektim saya seolah terbangun dari tidur, bahwa ga semua yang namanya orang gereja tu 'baik'. Di antara ribuan domba, ternyata ada juga 2-3 serigala berbulu domba dan 3-4 serigala jadi-jadian :).

Monday, April 10, 2006

Catatan Harian - 356

Tadi pagi pimpin Paskah-an PSKB (Persekutuan Siswa Kristen Bogor) di Kebun Raya Bogor. Acaranya di tempat terbuka. Di bawah pohon. Duduk di tiker. Sangat informal. Ga jauh, ada acara kebaktian juga entah dari gereja mana. Pake band. Suaranya jelas banget.

PSKB itu wadah pelayanan siswa-siswa SMP dan SMU Kristen di sekolah-sekolah negeri se-bogor. Dikelola oleh Komisi Pelayanan Siswa (KPS) PMK-IPB. Agak aneh sebetulnya, kenapa ga dikelola oleh gereja-gereja yang ada di Bogor. Saya sangat appreciate dengan PMK-IPB. Para mahasiswa yang di tengah tugas belajarnya, masih nyempetin memikul tanggung jawab besar begitu. Bravo PMK IPB.

Sore rapat Paskah. Saya sebetulnya pengen ga hadir. Badan sakit-sakit. Kepala pusing. Pengen istirahat. Lagian sudah ada dua Pendeta laen dari seksi acara yang hadir. Tapi panitia Paskah tetap minta saya hadir. Kan saya Pendeta pendamping Panita Paskah, katanya. Jadilah saya hadir.

Rapat itu cuma pemantapan. Saya hadir atau ga sebetulnya ga pengaruh. Saya tuh paling ga enak deh, berada dalam situasi dimana saya ada atau ga ada sama saja. Lebih bae saya pake waktu untuk yang lebih berguna kan. Saya sering tu alami di gereja. Rapat-rapat yang mboten-mboten gitu deh.

Kata Hati-09

Tentang saat itu.
Aku seumpama menanti ajal.
Akan tiba saatnya. Pasti.
Tapi kapan? Entah


Segala yang di belakang tiba-tiba terasa indah
Sungguh aku berat melangkah
Tapi aku tidak bisa mundur
Point of no return

Pula, aku hanyalah seorang ‘hamba’
Yang harus tunduk
kemana saja ‘Sang Tuan’ mengutus

Sunday, April 09, 2006

Catatan Harian - 357b


Tadi khotbah kacau banget. Apalagi yang pertama. Duh. Secara fisik mungkin karena saya emang lagi capek banget. Seminggu ini saya ke luar kota terus. Surabaya, Jogja, Bandung. Dan secara psikis saya benar-benar ‘blank’ dengan tema dan bacaan Alkitabnya.

Tapi toh itu semua ga bisa dijadikan alasan. Biasanya pun dalam sikon yang sama, saya selalu menemukan jalan keluar buat ‘in’. Emang bukan harinya sajalah. Dalam sepak bola kan ada tuh saatnya seorang pemain bermain jelek. Ga seperti biasanya. Kecuali kalo emang udah biasanya jelek:)

Ada baiknya juga sih begitu. Biar jadi orang tu jangan sombong. Eling lan waspada. Nyebut. Ga selamanya kita di atas angin. Selesai kebaktian 3 rasanya lega banget. Seperti biasa kalau sudah menyelesaikan tugas maha sulit.

Siang saya tidur nyenyak. Sesuatu yang seminggu ini jarang saya dapatkan. Thank God.

Catatan Harian - 357a

Kemarin Sabtu ke Bandung. Pembinaan pengurus wilayah Kelapa Gading Utara. Saya pulang hari, karena hari ini harus melayani kebaktian pagi tiga kali. Bawa mobil sendiri. Tapi berangkatnya salah seorang ibu anggota pengurus ikut saya.

Jadi ia yang nyetir. Di jalan, sempet ngobrol banyak dengannya. Ia wanita tangguh. Senang banget nyetir mobil. Pernah mau jadi pembalap. Menurut ceritanya ia pernah amat sangat jaya. Sebelum kemudian jatuh. Benar-benar jatuh. Tapi justru kejatuhannya itulah yang membawanya kepada Tuhan. Karena itu ia ga menyesali kejatuhannya. Sekarang ia aktif dalam pelayanan gereja. Tuhan selalu punya cara untuk membawa “dombanya” pulang. Masalahnya, sang domba mau membuka hati atau mengeraskan hati?!

Acara di Bandung di Villa di Jalan Sersan Bajuri. Setelah makan malam, sekitar jam 19.30 saya pulang bersama Dewi, Kezia dan Karen. Saya nyetir sendiri. Kalau capek paling nanti gantian dengan Dewi. Di Bandung: Sabtu malam dikali long weekend ditambah hujan gerimis sama dengan macet-cet-cet. Dari Sersan Bajuri ke pintu tol Pasteur hampir sejam. Untung di tol Cipularang sampai Pulomas lancar. Jam 22.30 an sudah sampai rumah.

Mbak di rumah lagi pulang kampung. Jadi pulang ke rumah, ya harus beres-beres dulu. Selesai. Terus nyiapin khotbah. Tapi temanya aneh, nih. Ga jelas. Bacaan Alkitabnya juga nggak nyambung sama temanya. Yang kayak-kayak gini yang bikin repot. Tema dan bacaan Alkitab yang sudah ditentukan tuh emang bisa mempermudah nyusun kotbah, tapi bisa juga mempersulit. Duh. Kacau bener. Sampai jam 1 dini hari belum ketemu ide mau khotbah apa. Bayangkan! Lewat deh American Idol di televisi. Begitu juga Liga Inggris. Hiks! — “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal diri dan memikul salib!” Iye, iye deh, Tuhan, iye.

Saturday, April 08, 2006

Catatan Harian- 358

Kemarin, Kezia dan Karen bubaran sekolah beda setengah jam.Tanggung. Jadi Dewi nge-drop saya dan Karen di Mal Kelapa Gading. Terus ia jemput Kezia. Tadinya mau Dewi dan Karen yang di-drop. Saya yang jemput Kezia. Tapi Dewi katanya sekalian ada perlu beli lem, kertas warna dan lain-lain untuk tugas sekolah Kezia di toko seberang Penabur.

Saya paling ga bisa jalan-jalan cuma keliling-keliling ga tentu tujuan. Itu salah satu ciri khas makhluk mars, lebih mentingin hasil. Beda dengan makhluk venus yang lebih mentingin proses. Saya ajak Karen ke toko buku Sogo. Di sana buku-buku untuk anak-anaknya bagus-bagus. Jam 12-an Dewi dan Kezia gabung.

Kita makan di Hoka Hoka Bento. Biasa kalo ke HokBen, pesanannya: chicken spicy untuk Kezia. Ekkado untuk Karen. Terus shrimp ball, kuahnya yang banyak ga pake daun bawang. Kezia suka bakso udangnya. Karen suka kuahnya. Emak Bapaknya apa saja sisanya:). Lalu beef teriyaki. Satu berdua saya dan Dewi. Minumnya 1 teh botol. Plus air putih bawa sendiri. Kalo pergi-pergi jalan kemana-mana mesti bawa air minum. Air mineral di resto-resto gitu mahal. Lebih mahal dari bensin. Kezia tu demen HokBen. Lucunya ia biasa makan bagian yang paling disukai belakangan. Akibatnya, sering karena ia sudah kekenyangan, malah ga jadi kemakan. Emak Bapaknyalah yang ketiban rejeki. Karen lain lagi. Ia suka ekkado. Tapi yang biasa di makan cuma telur puyuhnya. Daging luarnya untuk Emak Bapaknya. Tapi karena Emaknya sudah banyak makan saladnya, jadi yang paling banyak “nyikat” sisa ke dua kurcaci itu ya, Bapaknya. Rejeki emang ga akan lari kemana hehehehe.

Tapi tadi itu, karena sudah kenyang, saya juga ga sanggup ngabisin, sisa dua chicken spicy, separuh mangkuk nasi, dan satu shrimp ball. Dewi bilang sayang. Tapi sayang gimana kalau udah kenyang. Malah nyiksa diri kan:)

Saya ga setuju orang suka menghambur-hamburkan makanan. Makanya kalo ambil makan secukupnya. Jangan berlebihan.Tapi saya juga ga setuju, kalo atas nama sayang makanan, lalu memaksakan diri makan. Bikin ga enak sendiri. Kalo cewek, jadi bikin gemuk tuh:). Makanan untuk tubuh, bukan tubuh untuk makanan. Kalo emang ga kuat makan ya udah jangan makan.

Friday, April 07, 2006

Kata Hati-08

Dia hanya mampir.
Tak selamanya dia tinggal.
Cepat atau lambat dia akan pergi.

Maka selagi dia ada, jaga dia dengan iman.
Peluk dia dalam cinta.
Perlakukan dia sebaik-baiknya dan sebenar-benarnya.
Nikmati saat-saat bersamanya.

Kelak bila dia pergi, kau tidak akan sesali.
Engkau akan iringi kepergian dia dengan kepala tegak hati lapang.

Dia adalah Sang Hidup.

Catatan Harian - 359

Semalam saya pimpin persekutuan wilayah. Di jalan mama dari Bandung telepon ke hand phone, tanya saya sudah sampai Jakarta belum? Keduluan deh. Saya sudah rencana telepon mama sepulang persekutuan wilayah. Begitulah mama.

Mama saya tuh bukan tipikal ibu yang “bijaksana”. Sering suka mau-maunya sendiri. Mudah tersinggung. Kadang ucapannya gak bisa di pegang; hari ini bicara A, besok lusa bicara B. Ia juga bukan tipikal wanita “pintar”. Ga pernah sekolah. Ga bisa baca tulis. Sejak balita mama dititipkan orang tuanya ke orang lain. Ia tidak pernah tahu siapa orang tuanya.

Tapi mama sangat care. Ia hafal ultah semua anak (8 orang) dan cucunya (20 orang). Ia pun seolah punya “feeling” lebih, tahu saja kalau anak ato cucunya sedang punya masalah. Demi anak dan cucunya mama selalu rela berkorban. Pernah, ia kan paling takut naik sepeda motor. Seumur-umur ia belum pernah naik sepeda motor. Tapi suatu kali kakak saya yang waktu itu rumahnya di pelosok Tangerang sedang ada masalah. Malam-malam mama nekad datang dari Bandung naik bis. Terus naik ojek.

Itulah mama saya dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Ia punya cara sendiri menyatakan rasa sayangnya, yang kadang kurang saya hargai. Utang saya kepadanya ga akan pernah bisa terbalas.

Thursday, April 06, 2006

Catatan Harian - 360

Siang pulang Jakarta. Naik Wings Air. Dianter Eko ke bandara. Salah satu enaknya punya teman, dalam banyak hal hidup jadi lebih mudah :). Semoga saya juga bisa jadi teman buat orang lain, seperti Eko buat saya.

Eko, saya kira, termasuk orang yang sudah memiliki kebebasan finansial. Menurut istilah Robert Kiyosaki. Toko rotinya di Klaten maju and sudah bisa jalan sendiri. Ia tinggal ngawasi. Ia jadi punya cukup waktu buat yang laen-laen; keluarga, nyalurin hobi, pelayanan, dsb.

Tapi kondisi bebas finansial ini ada “bahayanya”, kalo lantas jadi stagnan. Ga ada tantangan lagi. Ga terpacu. Hidup serba rutin. Itu-itu saja. Akibatnya jadi membosankan. Bikin jenuh. Jadi walo sudah bebas secara finansial, tetap butuh kreatifitas untuk beraktifitas.

Makan si Suharti jalan Adi Sutjipto. Ada teman dari Jakarta, yang kalo ke Jogja mesti nyempetin makan di Suharti situ. Saya tanya, kan di Jakarta juga ada Suharti? Ia bilang, ayamnya laen :). Entah deh lainnya di mana. Menurut saya sih sama saja. Mungkin karena saya tidak punya “kecerdasan ayamial”. Jadi nggak bisa bedain mana ayam Jogja mana ayam Jakarta :)).

Pesawat delay lebih dari sejam. Lihat-lihat buku di toko buku bandara. Ketemu buku pesanan Kezia dan Karen. Beli beberapa biji. Sampai di Jakarta hampir jam 4. Dijemput Dewi, Kezia dan Karen. Duh kangennya. Ini salah satu nikmatnya berkeluarga; ada yang ngangenin dan dikangenin. Thank God buat keluarga.

Wednesday, April 05, 2006

Catatan Harian - 361

Masih di Jogja. Semalam ga bisa tidur. Udah baca buku, ngetik, baca buku lagi. Ga bisa tidur juga. Terus nonton TV deh. Kebetulan lagi ada sepak bola. Liga Champions Eropa. Dulu saya suka sampe ngebela-belain begadang nonton sepak bola. Sekarang sih udah ‘bertobat’ :) Habis dipikir-pikir buat apa. Udah nonton, udah tau hasilnya, lalu so what gitu lho? Tinggal ngantuknya kan. Ga dapat apa-apa kecuali puas kalo kesebelasan favorit menang. Cuma gitu aja. Ibarat dapat barang harganya kemahalan.

Jam 5an baru bisa tidur. Jam 7.30 udah bangun. Agak flu. Agak pusing pula. Sariawan lagi. Duh! Beres-beres. Ke kampus. Mampir di warnet. Siang makan di warung pojok Jalan Supadi. Murah meriah. Cuma 3000 perak. Waktu keluar dari warung, kepala kepentok bagian atas pintu. Ga sakit sih. Soalnya dari tripleks tipis. Orang-orang yang makan di situ pada ketawa.

Udah sifat dasar manusia. Senang ngelihat orang laen celaka. Lihat saja film-film komedi yang memancing tawa penonton dengan adegan orang celaka; kecemplung got lah, ketiban ember lah, kejedot pintu lah. Macam-macam deh. Malam Jogja hujan lagi hujan lagi.

Tuesday, April 04, 2006

Catatan Harian - 362

Kemarin sampai di Jogja jam 10 malam. Dijemput Eko. Nginap di rumahnya. Paginya ke kampus urus tesis. Kedua dosen pembimbing setuju saya maju sidang. Akhirnya. Tapi, saya tau mereka setuju lebih karena tesis saya udah terlalu lama tertunda-tunda :). Ga apa-apalah. Toh saya juga ga ngejar nilai. Buat apa kan.

Saya sudah lama berhenti percaya dengan yang namanya nilai akademis. Seperti juga dengan gelar akademis. Menurut saya, kampus punya 'dunia'-nya sendiri. Keberhasilan di kampus ga lantas jadi petunjuk keberhasilan di dunia nyata. Juga sebaliknya. Bagi saya dunia kampus seumpama dunia rekreasi. Just for enjoy, bukan untuk dibela-belain :)

Siang sampai malam ‘kelayapan’ dari gramedia terus ke warnet terus ke social agency. Itu lo toko buku diskon di dekat Galleria. Nyari buku pesanan Kezia dan Karen, tapi ga ada juga. Dapatnya malah buku-buku buat bapaknya :). 6 buku lagi. Hujan gerimis. Mampir di Galleria lagi ada band di lantai dasar. Ribut banget. Ga betah. Bukan ga suka band, tapi dari tadi saya tu lagi pengen tenang.

Pulang naik becak. Cari becak susah. Bukan ga ada becak. Di depan Novotel banyak becak, tapi pada ga mau narik. Alasannya gerimis. Kayak ga butuh duit. Nyeberang. Juga sama. 2 becak pertama ga mau narik. Malah saling tunjuk. Ada satu bapak tua mau. Ga aji mumpung mentang-mentang gerimis kasih harga mahal. Saya jadi bersimpati dengan bapak itu. Turun saya kasih tiga kali lipat dari harga yang ia minta. Pas semua sisa uang di dompet.
Tak semua kemiskinan karena kemalasan.

Monday, April 03, 2006

Catatan Harian - 363

Tadi siang ke Plaza Tunjungan. Sempat ke Gunung Agung dan Gramedia cari buku pesanan Kezia dan Karen. Tapi ga ada.Terus makan soto madura di Gubeng. Penatua yang anter sempat tanya, “Ga apa-apa nih makan di pinggir jalan?” Saya bilang, justru saya lebih senang “makanan rakyat” begitu :). Lebih khas.

Sorenya, ke stasiun di antar mobil gereja. Saya mau terus ke Jogja, naik kereta api. Sudah lama saya ga naik Kereta Api. Sejak ada tiket pesawat murah -- cuma beda dikit dengan tiket kereta api, bahkan kadang lebih murah -- saya pilih naik pesawat. Lebih cepat. Jadi ga gitu capek di jalan.

Asyik juga naik kereta api. Mungkin karena sudah lama, jadinya exciting hehehe. Jadi punya banyak waktu untuk baca buku. Untuk merenung. Bisa lihat-lihat pemandangan persawahan di waktu senja lagi. Juga jadi punya banyak ide untuk nulis. Dan rasanya lebih santai. Ga setergesa-gesa naik pesawat. Waktu perjalanan emang jadi jauh lebih panjang. Tapi kalau dinikmati, perjalanan panjang ternyata asyik juga. Thank God. I am enjoy.

Kalau ke Surabaya atau Jogja, naik kereta api lagi ah. Saya akan ajak Dewi, Kezia dan Karen.

Catatan Harian - 364

Saya sedang di Surabaya. Semalam tidur hampir jam 2. Jam 4.30 subuh udah bangun lagi. Seperti biasa, kalau besoknya mesti khotbah, malamnya saya suka susah tidur. Buat saya berkhotbah itu tugas maha sulit. Bukan soal menyampaikannya, tapi karena gentar dengan tanggung jawabnya. Makin banyak ngomong, makin banyak pula yang harus saya pertanggungjawabkan, kan.

Tadi siang, rencananya mo makan kwetiau apeng. Katanya enak. Ga jadi. Habis, antri dapat nomor 20. Padahal saat itu yang dilayani baru nomor 10. Heran, makan kayak ke dokter aja, pake nomor antrian :) Lebih heran lagi, lha koq ada ya orang yang untuk makan saja rela bersusah-susah gitu. Padahal, kalo udah makan so what gitu kan? Jadinya pindah makan ke kwetiau akiat.

Setelah itu, pulang hotel. Pengennya sih tidur ngumpulin tenaga. Tapi tetep ga bisa tidur. Padahal hari ini, pagi khotbah dua kali; jam 6 dan jam 9. Sorenya khotbah dua kali lagi; jam 16.30 dan 18.30. Capek juga sih. Tambah lagi dari kemaren saya ga gitu fit. Tadi pagi pun suara udah serak dan agak batuk-batuk.

Malamnya oleh beberapa penatua diajak makan di Kampoeng Bamboe. Makan masakan Manado dan seafood. Saya sangat appreciate dengan GKI Ngagel. Perhatian terhadap pendeta tamu tuh besar gitu. Saya pernah pelayanan khotbah di luar kota; jangankan diajak makan, disediakan makan pun ga. Jadilah saya luntang-lantung sendiri cari makan :)).

Saturday, April 01, 2006

Catatan Harian - 365

Hari ini, jam 12 siang saya ke bandara. Diantar Dewi, Kezia dan Karen. Ke Surabaya naik Lion Air. Besok pimpin khotbah di GKI Ngagel. Dari Surabaya, rencananya Senin saya mau mampir ke Jogja. Mau ngurus tesis. Semoga kesadaran ini tak cepat berlalu. Sudah dua tahun tesis tertunda. Ga niat sih. Ga dikerja-kerjain.

Pram, teman saya ikut. Ia tuh orang yang takut naik pesawat. Saya bilang padanya, ketakutan itu harus dilawan. Jangan dituruti. Zaman terus berkembang. Orang ga bisa ga harus naik pesawat. Kalo takut-takut terus bisa tertinggal di landasan. Nah, mumpung ketakutan itu belum “besar” lawan. Kalahkan. Daripada nanti tambah bikin susah.

Sebetulnya, saya lagi nggak enak badan. Bawaannya lemes dan pengen tidur melulu. Tahu deh. Tadi, dalam perjalanan ke Bandara, saya menelpon mama di Bandung. Ngasih tahu, saya mau ke Surabaya terus ke Jogja. Saya merasa lebih tenang bepergian ke luar kota dengan diiringi doa mama.Lion Air kayaknya tahu hari ini April Mop. Pesawat delay dua jam. Bussett dah! Beberapa penumpang marah-marah. Kasihan petugas di counter ketiban pulung. Orang kecil selalu yang kena getah.

Saya ngantuk banget, tapi ga bisa tidur. Kursinya ga enak untuk tidur. Sudah gitu, di sebelah orang ngerokok. Padahal ada tanda larangan merokok di dekat situ. Susah deh di Indonesia. Ada aturannya pun ga kena : (( Di samping, Pram bisa pulas tidur sambil duduk. Dalam hati saya iri dengan ia. Enak bener, gampang tidur gitu.

Friday, March 31, 2006

Cermin-04

Ironi Hidup

Hidup ini penuh ironi. Teman saya, kariernya bagus, usianya belum 35 tahun sudah menduduki orang nomor dua di sebuah perusahaan besar. Mobil dinasnya Mercy keluaran baru. Tetapi dia tidak punya anak. Padahal sudah menikah hampir 12 tahun. Bukannya tidak pengen. Dia dan istrinya pengen sekali punya anak. Segala usaha sudah dilakukan. Nihil. Rumah luas dan megah miliknya terasa sepi.

Tetapi ada teman saya yang lain. Pekerjaannya hanya calo di terminal. Anaknya... ya ampun, enam orang! Saya sampai bingung, bagaimana dia kasih makan. Istrinya ya di rumah ngurusin anak-anak.

Bukan hanya itu itu ada orang yang kaya sekali sampai mungkin dia tidak tahu uangnya mau dipakai apa. Nyumbang sampai m-m-an dengan gampang saja. Tapi ada juga orang yang bahkan seratus dua ratus perak dia kumpulkan dengan telaten karena begitu berartinya.

Wednesday, March 29, 2006

Kata Hati-07

Kamu akhirnya pergi.
Meninggalkan sederetan kenangan indah
dalam batinku.
Yang akan kubingkai dalam relung cinta.

Bila kelak aku pergi
Semoga aku pun meninggalkan kenangan indah
di batin mereka?
Seperti kamu dalam batinku.

Cermin-03

Egois


Dulu, waktu masih di Jogja, setiap hari saya lewat Jalan Kaliurang; kalau mau ke kampus, atau antar anak sekolah, atau belanja ke supermarket. Rumah kontrakan saya di km. 13,5.

Jalan Kaliurang tidak begitu besar, tetapi dua arah cukup padat, terutama oleh sepeda motor. Apalagi pagi hari.

Maka, saya suka tidak habis pikir dengan pengendara mobil yang jalan perlahan sekali; sudah gitu, agak di tengah pula. Padahal di depannya kosong. Atau dua pengendara sepeda motor asyik ngobrol jalan paralel. Sedang jalan dari arah sebaliknya padat, jadi susah juga kalau mau nyusul. Sehingga kendaraan-kendaraan lain antri di belakang mereka.

Ya, mungkin mereka tidak sedang tergesa-gesa. Sedang santai. Tetapi bagaimana kalau misalnya di belakang mereka ada orang yang harus cepat-cepat tiba di kampus, atau di kantor, atau di rumah sakit? Saya pernah melihat ada kendaraan yang akhirnya memaksakan diri menyusul, dan serempetan dengan kendaraan lain dari arah berlawanan.

Susahnya kalau di dunia ini masih saja ada orang-orang yang egois; yang hanya memikirkan kepentingan dan urusannya sendiri. Andai setiap orang bisa bertenggang rasa dengan memikirkan kepentingan dan kebutuhan orang lain juga, betapa akan damainya dunia ini. Barangkali kita bisa memulai dari diri kita sendiri.