Thursday, May 11, 2006

Catatan Harian

Day - 326


Semalam nonton Teater Koma. Festival Topeng. Di Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki. Karya dan sutradara Budi Ros. Bagus. Cerita dan pementasannya oke. Khas Teater Koma. Hanya dibanding lakon-lakon yang lalu, guyonan dan sindirannya ga gitu greget. Saya terakhir nonton Teater Koma 12 tahun lalu. Lakon Semar Gugat. Beberapa pemainnya ikut main juga di Festival Topeng. Kayak Salim Bungsu, Dorias Pribadi, dan Sari Madjid. Yang jadi Semar-nya Budi Ros. Yang saya kepengen nonton dari Teater Koma tuh Sampek Engtay dan Republik Togog. Tapi ga kesampaian.

Pagi-pagi saya ditelepon. Baru nyalain komputer. Ada anggota jemaat yang meninggal. Seorang bapak. Usianya belum 55 tahun. Saya ngelayat. Kemarin malam katanya, ia masih ngobrol dengan istri dan adik-adiknya. Biasa saja. Ga ada tanda-tanda. Eh, paginya mendadak meninggal. Serangan jantung.

Hidup kita emang ga pasti. Kita berada di bawah bayang-bayang kematian. Kapan pun. Di mana pun. Dan dengan cara apa pun. Kalau sudah waktunya, ga bisa ga. Ga bisa dielakkan. Maka, “berjaga-jaga” itu perlu. Kita harus selalu siap sedia. Sebab kita kan ga tahu kapan. Tapi pasti akan tiba waktunya.

Siang dijemput Pak Binsar. Sudah janjian. Mau ngobrolin tentang tesis. Lusa saya maju sidang tesis. Semacam “pembekalan terakhir”. Pak Binsar ini “pembimbing ga resmi” untuk urusan tesis. Kita sambil makan di JP Bistro, Hotel Aryaduta. Asyik. Makanannya enak-enak. Sepuasnya lagi. Cuma ya, betapa pun enak dan melimpahnya, perut kan tetap ada batasnya. Pulang ke rumah menjelang sore. Langsung siap-siap ke Bogor. Pimpin pembinaan bersama Persekutuan Mahasiswa Kristen IPB.

Wednesday, May 10, 2006

What's Up?

Jakarta, Selasa, 9 Mei 2006, 14.00Wib



Keterangan Foto : Saya dan Dewi bersama Direktur Eksekutif dan Pengurus Yayasan Mitra Netra Jakarta

Yayasan Mitra Netra adalah lembaga yang bergerak di bidang pendidikan dan pengembangan tunanetra. Beberapa program antara lain: Kursus membaca huruf braille, penerbitan buku-buku braille dan "buku berbicara" (talking book), pelatihan dan pemberdayaan para tunanetra. Mottonya: Melihat dengan jari tangan. Program terbaru mereka adalah menerbitkan 1000 buku umum dengan huruf braille. Bekerja sama dengan penerbit dan pengarang. Selama ini yang diterbitkan hanya buku-buku pelajaran. Biaya dan tenaga yang dikeluarkan cukup besar karena itu dibutuhkan banyak pendukung.

Saya menyumbang empat buku saya: Ngejomblo Itu Nikmat, Tragedi dan Komedi, Bila Cinta Menyapa, dan Pacaran Ada Sebalnya, untuk di-translate ke huruf braille. Jadi keempat buku tersebut dalam waktu dekat dapat dinikmati oleh saudara-saudara kita penyandang tuna netra. Banyak hal lain yang bisa kita lakukan buat membantu saudara-saudara yang berada dalam "kegelapan" (arti yang sebenarnya loh, bukan kiasan) tersebut bisa dengan dana bisa dengan tenaga.

Ingin tau lebih banyak tentang mereka. Atau, silahkan kontak Ibu Indah Intantila dan Bp. Firdaus di Yayasan Mitra Netra (021) 7651386, intantila@mitranetra.or.id, firdaus@mitranetra.or.id.


Tuesday, May 09, 2006

Tuesday's Song - 03

BAPA YANG KEKAL
(Penyanyi: Franky Sihombing)


Kasih yang sempurna telah ku t’rima dari-Mu
Bukan karna kebaikanku
Hanya oleh kasih karunia-Mu, Kau pulihkan aku
Layakkanku ‘tuk dapat memanggil-Mu Bapa

Reff:
Kau b’ri yang kupinta.
Saat kumencari kumendapatkan
Ku ketuk pintu-Mu dan Kau bukakan.
S’bab Kau Bapaku, Bapa yang kekal.
Tak ‘kan Kau biarkan aku melangkah hanya sendirian
Kau selalu ada bagiku s’bab Kau Bapaku,
Bapa yang kekal

Renungan:
Kita adalah insan yang berharga di mata Tuhan. Untuk kita Dia mau berkorban begitu rupa. Maka jangan kecil hati. Jangan patah semangat. Jangan takut. Kita tidak pernah berjalan sendiri mengarungi lautan kehidupan ini. Tangan Tuhan tidak kurang panjang menopang kita. Kasih Tuhan tidak kurang lebar menaungi kita. Tetapi harus kita ingat pula, keberhargaan kita semata-mata karena kasih karunia Tuhan. Bukan karena kebaikan atau kehebatan kita. Maka, tidak pada tempatnya juga kalau kemudian kita menjadi sombong. Merasa paling benar. Paling baik. Aslinya kita ini dari debu tanah. Tuhanlah yang membuat kita berharga. Segala kemuliaan bagi Tuhan.

Catatan Harian

Day - 327

Pagi pimpin persekutuan lansia di GKI Kelapa Cengkir. Pelayanan lansia di GKI Kelapa Cengkir tuh “bagus”. Hidup. Persekutuannya seminggu sekali. Tiap hari Selasa. Banyak lansia dari gereja lain yang biasa ikut. Tadi yang hadir sekitar 80 orang-an. Dari jumlah itu opanya hanya dua orang. Ini petunjuk wanita lebih panjang usinya daripada pria? Bisa jadi :). Di persekutuan lansia pokok doa syafaatnya mesti deh banyak. Yang umum kayak pemerintah, bencana alam, dan pelayanan gereja. Dan yang khusus permintaan pribadi; mulai dari sakit tangan sampai batuk pilek, mulai dari susah tidur sampai cucu yang nonton TV melulu. Nah, tadi untuk yang khusus saja ada 24 pokok doa. Belum yang berulang tahun.

Siang ke Mitra Netra di daerah Lebak Bulus. Mitra Netra tuh yayasan rehabilitasi dan pendidikan para tunanetra. Mereka sedang punya program: “Seribu Buku Untuk Tunanetra”. Penerbitan 1000 buah buku umum diluar buku pelajaran dengan huruf braille. Saya menyumbang empat buku saya: Tragedi dan Komedi, Bila Cinta Menyapa, Pacaran Ada Sebalnya, dan Ngejomblo Itu Nikmat. Buku-buku itu nantinya bisa diakses di http://www.kebi.or.id.

Dulu waktu remaja, saya pernah beberapa kali jadi pembaca buku bagi para cacat netra di Wyata Guna Bandung. Sekarang teknologi lebih canggih. Mereka punya software yang bisa langsung meng-convert naskah dari huruf latin ke huruf braille. Saya sempet melihat pra-produksinya.

Membaca huruf braille caranya dengan meraba pakai jari tangan. Dibutuhkan kepekaan luar biasa. Ada satu orang yang memperagakan membaca huruf braille. Saya kagum sekali sekali. Teman saya sampai bilang, Tuhan maha adil. Mengambil yang satu, memberi yang lain. Pulang dari Mitra Netra saya dan teman-teman berjanji akan berbuat lebih buat yayasan ini. Minimal menyebarkan informasi tentang mereka. Atau mencarikan donatur. Saya percaya banyak koq orang yang sebetulnya mau nyumbang, tapi ga tahu kemana.

Monday, May 08, 2006

Catatan Harian

Day - 328


Pagi saya nengok Hendry. Anggota jemaat. Ia kena demam berdarah. Dirawat di Rumah Sakit Mitra Gading. Sekalian saya bawakan ia buku saya: “Di Manakah Allah Saat Aku Menderita?” Di Jakarta kasus demam berdarah kayaknya ga berhenti-berhenti deh. Ada saja yang kena. Ga tua, ga muda.

Hendry tuh murid katekisasi dulu. Ia baru menikah bulan Pebruari lalu di Gereja Khatedral. Istrinya dari keluarga Katolik. Saya dan Romo Andi yang melayani pemberkatan dan peneguhan nikahnya. Romo Andi masih muda. Ia dan saya ternyata pernah sama-sama kuliah di STF Driyarkara. Waktu saya ambil matrikulasi untuk masuk S2. Tapi selesai matrikulasi saya ga lanjut ke S2.

Saya senang dengan suasana Khatedral. Rasanya “agung” gitu. Baru masuk saja sudah terasa “khusuk”. Saya kira itu kelebihan gereja-gereja Katolik. Membangun gedung gereja baiknya emang ga sekadar memperhatikan “penampakan luar” dan fungsinya semata. Tapi juga makna dan “aspek spiritualnya”. Jadi yang dilibatkan jangan hanya ahli bangunan, tapi juga ahli teologi.

Siang ke Serpong. Nengokin papa. Papa dari Bandung. Sudah beberapa hari ini ada di rumah kakak. Jalan tol macet. Bener-bener deh Jakarta. Siang hari bolong macet juga. Jadi bukan hanya ga ada hari tanpa macet, tapi juga ga ada jam tanpa macet. Papa saya tuh boleh dibilang contoh orang yang “terkubur” karena kejujuran. Hidup ini penuh ironi. Ada orang yang jujur malah "terkubur, sedang orang yang ga jujur hidupnya makmur.

Sunday, May 07, 2006

Catatan Harian

Day - 329

Hari ini pagi harusnya saya khotbah di GKI Puri Indah. Dua kali. Jam 6.30 dan 8.30. Sudah diminta beberapa bulan sebelumnya. Tapi sekitar bulan lalu Pos Jemaat Kota Wisata katanya ga ada pengkhotbah. Padahal minggu pertama tuh jadwalnya pengkhotbah dalam. Yang lain pada ga bisa. Jadi okelah saya.

Sudah jadi komitmen bersama mendahulukan tugas di dalam. Dan saling “nutup”. Jadi kalau ada tugas di dalam yang ga terhindarkan, siapa yang bisa harus handle. Lagipula pikiran saya, ini mungkin akan jadi khotbah terakhir saya di Pos Kota Wisata. Malah dengan salah seorang pengurusnya waktu saya pimpin PA di sana tempo hari, saya sudah bicara soal acara perpisahan.

Saya telepon GKI Puri Indah. Bisa ga tugas saya digeser ke minggu lain. Kalau ga bisa, saya akan carikan pengganti. Karena waktunya masih sebulan, mereka bilang akan cari sendiri pengganti. Jadi di agenda saya jadwal hari minggu ini khotbah di Pos Kota Wisata. Tapi entah mis-nya dimana, tahu-tahu pengurus Pos Kota Wisata minggu lalu sudah mencari pengkhotbah luar. Ia katanya dapat info dari sekretariat gereja, semua pengkhotbah dalam ga bisa. Ya sudah. Masak pengkhotbah luar yang sudah dihubungi dibatalin. Pula, saya kan ga bisa juga ngotot harus khotbah di sana :). Jadi saya ga tugas di mana-mana. Mis-kom kayak gini ini nih yang sering bikin gak enak. Bikin masalah pada apa yang bukan masalah, nambah masalah pada apa yang sudah jadi maslah. Walau mungkin ga sengaja.

Siang pimpin Bina Atestan. Ada sekitar 30 orang-an. Di GKI Kayu Putih buat para anggota jemaat baru pindahan dari gereja lain biasa dilakukan pembinaan. Materinya seputar GKI secara umum; sekilas sejarah GKI, latar belakang tradisi, tata gereja, tata tertib. Juga seputar GKI kayu Putih; organisasinya, kegiatan-kegiatannya, lalu kalau perlu ini dan itu bagaimana.

Saturday, May 06, 2006

Catatan Harian

Day - 330


Kemarin sampai di rumah jam 19-an. Jalan dari bandara macet. Sempet turun tol di Tanjung Priok. Tapi malah lebih macet. Ampun deh. Jadi muter. Masuk tol lagi. Walau macet, tol lumayanlah masih jalan.

Pagi sampai siang pimpin Bina Khotbah di Persekutuan Mahasiswa Teologi Asal GKI Jabar di STT Jakarta. 20-an mahasiswa yang ikut. Dibanding angkatan saya dulu, rasanya angkatan ini lebih punya “harapan” deh :). Kesungguhan, kelakuan, dan kemauan untuk berkembang good. Mereka minta Bina Khotbah dilakukan satu atau dua kali lagi. Saya sih oke saja.

Ada satu mahasiswa yang rupanya mengoleksi semua buku saya. Bahkan ada satu buku yang saya sendiri sudah ga punya. Ia sengaja bawa buku-buku itu. Minta tanda tangan saya. Hehehe jadi terharu :). Jujur, saya suka “risih” kalau ada orang yang punya buku saya, terus minta bukunya saya tanda tangani. Rasanya minder. Emangnya saya ini siapa gitu?!! Buku-buku saya juga toh cuma buku ringan. Bukan buku yang putut “dihargai” segitunya.

Siang tadinya mau terus ke Bandung. Survei tempat acara kebersamaan Demuda. Tapi ga jadi karena beberapa orang ga bisa. Ya sudah. Saya ajak Kezia dan Karen ke Mal Arta Gading. Main di Amazone sebentar. Terus ke Gramedia. Dewi paduan suara di gereja. Saya sariawan berat nih. Makan sakit. Malam ada kondangan perninkahan di Le Meridien Sudirman

Renungan Sabtu - 03

Yonatan


Ada banyak tokoh dalam Perjanjian Lama yang dapat disebut sebagai pemimpin besar, terlepas dari segala kekurangan dan kelemahannya. Sebut saja misalnya Musa, Yosua, Debora, dan Gideon. Mereka adalah pahlawan di zamannya masing-masing. Satu lagi tokoh yang juga patut diketengahkan di sini adalah: Yonatan.

Memang, seumpama dalam film, Yonatan bukanlah tokoh utama. Perannya kalah pamor dibanding Daud. Atau bahkan Saul, ayahnya. Kitab 1 Samuel yang memuat kisahnya, lebih banyak menyoroti Daud dan Saul. Boleh dikata peran Yonatan hanyanya peran pembantu.

Namun toh Yonatan mempunyai reputasi yang baik; suatu hal yang perlu dimiliki oleh pemimpin di mana pun. Bahkan bisa jadi reputasinya itu juga lebih baik dibanding Daud dan Saul.

Daud memang Raja Israel yang sangat cemerlang. Ia berhasil mempersatukan seluruh Israel Raya. Tapi perbuatannya menghamili Batsyeba dan kemudian merekayasa kematian Uria, suami Batsyeba, prajuritnya yang setia, benar-benar telah mencoreng reputasinya.

Sedang Saul, lebih lagi. Betul, ia adalah Raja Israel yang pertama, tetapi iri hati dan kedengkiannya terhadap Daud telah menjerumuskannya ke dalam tindakan-tindakan amat tercela.

Lebih dari itu Yonatan juga memiliki karakter yang baik untuk menjadi seorang pemimpin. Ia seorang yang objektif; benar ya benar, salah ya salah. Ia tahu betul dalam konfliknya dengan Daud, Saullah yang salah. Kecemburuan Saul terhadap keberhasilan Daud telah membutakan akal sehat dan nurani Saul. Sehingga Saul sangat membenci dan ingin menyingkirkan Daud.

Dan Yonatan tidak tinggal diam. Sekalipun Saul adalah ayahnya, kalau salah ya tetap salah. “Mengapa ia harus mati? Apa yang dilakukannya?” tanyanya kepada Saul (1 Samuel 20:32).
Lawan dari objektif adalah subjektif; mencampuradukkan penilaian dengan perasaan pribadi. Benar dan salah, baik dan buruk, lebih ditentukan oleh perasaan suka dan tidak suka. Atau oleh kedekatan hubungan (= perkoncoan).

Kalau seseorang itu disukai atau kerabat dekat, dianggapnya selalu benar; seakan ia tidak ada celanya, lalu dibela mati-matian. Tapi sebaliknya kalau seseorang itu tidak disukai, dan tidak punya hubungan apa-apa, dianggapnya selalu salah; seakan dalam diri orang itu tidak ada kebaikannya sama sekali, lalu dicela habis-habisan. Orang yang subjektif tidak layak menjadi pemimpin.
*
Yonatan adalah seorang yang setia. Ia memang sama sekali tidak menyetujui sikap Saul terhadap Daud. Dalam sebuah perjamuan mereka bertengkar hebat. Keduanya sama-sama marah. Saul tidak dapat mengendalikan diri, ia lantas melemparkan tombak ke arah Yonatan. Dan Yonatan meninggalkan perjamuan itu dengan kemarahan yang menyala-nyala (1 Samuel 20:33-34). Selain tentunya ia juga sedih menerima perlakuan Saul begitu.

Namun toh Yonatan tidak meninggalkan ayahnya itu. Sekalipun kalau mau bisa saja ia pergi dan tidak peduli lagi dengan Saul. Bahkan ketika kekuasaan Saul mulai runtuh dan kehancuran sudah di depan mata, Yonatan tetap bersama-sama dengan Saul. Sampai akhir hayatnya Yonatan tidak pernah jauh Saul. Mereka sama-sama mati dalam peperangan (1 Samuel 31:1-4).
*
Yonatan juga bukan seorang yang haus kekuasaan. Saul membenci Daud selain karena iri hati, rupanya juga karena alasan lain. Dan alasan itu ada kaitannya dengan Yonatan. “Sebab sesungguhnya selama anak Isai itu hidup di muka bumi, engkau dan kerajaanmu tidak akan kokoh,” begitu Saul berkata (1 Samuel 20:31).

Dengan kata lain, Saul mempunyai harapan besar kelak Yonatanlah yang akan menggantikan kedudukannnya sebagai raja. Tapi ternyata Daud sangat populer. Di mata rakyat kepahlawanan Daud benar-benar telah menjadi legenda. Hal itu jelas bisa jadi ancaman besar bagi Yonatan. Maka, tidak ada jalan lain satu-satunya cara Daud harus disingkirkan.

Di dunia ini dari dulu sampai sekarang ada banyak pemimpin seperti Saul. Yang hanya memikirkan kekuasaan dan kepentingan pribadi. Yang membutakan diri terhadap kenyataan, bahwa ada orang lain yang lebih potensial dan lebih pantas. Yang malah melihat orang-orang itu sebagai ancaman. Yang lalu dengan cara halus maupun kasar berusaha menyingkirkannya. Yonatan tidak demikian. Ia tidak silau dengan jabatan dan kekuasaan. Karenanya ia tidak kehilangan objektifitasnya.

Andai saja semua pemimpin di dunia ini seperti Yonatan, betapa akan damainya dunia ini. Minimal tidak akan seburuk sekarang. Sebab tidak dapat disangkal, hal-hal buruk yang terjadi di muka bumi ini paling banyak disumbangkan oleh para pemimpin yang buruk.

***
Dari: Bersyukur Itu Indah - Ayub Yahya

Friday, May 05, 2006

Friday's Joke - 02


Topi


Pipin, 4 tahun, sangat dimanja oleh neneknya. Apa yang diinginkannya selalu nenek penuhi. Dari mainan sampai pakaian, dari makanan sampai buku.

Suatu malam sebelum tidur, Pipin berdoa. Suaranya keras sekali. “Tuhan, Pipin ingin sekali punya topi bergambar Winnie the Pooh dan teman-temannya. Tolong Pipin mendapatkannya. Amin.”

Ibu Pipin menegur, “Pipin, kalau berdoa tidak usah keras-keras begitu. Cukup dalam hati saja. Tuhan pasti dengar kok.”

“Tuhan memang dengar, Bu, tapi apa nenek juga dengar?” sahut Pipin.

Ayah's quote :
Sadar atau tidak, kerap kita berdoa dengan hati dan pikiran yang tertuju kepada manusia. Bukan kepada Tuhan. Maka, jangan heran kalau ada orang yang katanya tidak bisa berdoa di depan umum. Yang celaka, kalau doa tuh dijadikan alat untuk mengritik dan mempermalukan orang lain.

Catatan Harian

Day - 331


Kemarin malam acara penutupan. See you, rekans. Secara umum konven "Pesona Bali" ini okelah. Terutama Bali-nya :). Yang kurang oke tuh acaranya. Ini bukan cuma pendapat saya loh. Lebih besar pasak dari tiang. Saya pulang naik garuda jam 15.00. Tadinya saya mau geser ke kemaren malam atau tadi pagi. Tapi ga bisa. Tiketnya fix date. Ya udah.

Ada anggota jemaat punya saudara di Bali. Ia ngasih pinjam mobil dan sopir. Bersama beberapa teman jalan-jalan ke Ubud. Ke Museum Antonio Blanco. Bagus. Tempatnya oke. Lukisan-lukisannya juga oke. Antonio Blanco tuh pelukis asal Spanyol. Menetap di Bali sejak tahun 1950-an. Menikah dengan wanita Bali. Salah satu anaknya, Mario Blanco juga pelukis. Bedanya Antonio aliran ekspresionis romantis. Ia banyak melukis wanita telanjang. Tapi ga porno loh. Konon itu wujud hormat dan kagum ia terhadap wanita. Sedang Mario aliran naturalis romantis. Ia banyak melukis benda-benda alamiah kayak buah dan hewan.

Saya senang tuh tempat macam Museum Antonio Blanco. Inspiratif dan aspiratif. Saya bermimpi suatu saat punya tempat peristirahatan seperti itu. Jauh dari keramaian. Dikelilingi sawah. Pemadangan oke. Ada perpustakaan pribadi. Ada home theater. Seperangkat komputer dengan akses internet. Saya bisa menulis dan membaca dengan tenang dan nyaman. Asyik banget.

Terus kita ke Joger. Benar-benar kreatif tuh pencetus Joger. Salut. Salut. Salut. Pabrik kata-kata. Jualan kata-kata unik dan provokatif. Di t-shirt. Di pernak-pernik. Dari Joger terus ke bandara. Good bye, Bali.

Thursday, May 04, 2006

Catatan Harian

Day - 332


Hari ini acara jalan-jalan. Panitia nyediain beberapa bis. Rutenya Galuh, Tirta Empul, Kintamani, Ubud dan terakhir Tanah Lot. Seharian. Tapi yang punya acara sendiri cukup banyak juga. Saya termasuk yang punya acara sendiri. Habis kalo ikut rombongan acaranya dipadat-padatkan gitu. Ga akan nikmatin deh. Kayak “ngejar setoran”. Cuma sekilas-sekilas. Tempat ini begini. Tempat itu begitu. Terus foto-foto. Belanja. Selesai.

Just explore not experience. Hanya tau tapi ga “ngalami”. Jadinya ga “mengendap”. Apalagi dengan rombongan besar. Para Pendeta lagi :). Ngatur rombongan pendeta yang sudah biasa ngatur lebih ga gampang loh. Acara-acara indoor saja banyak terlambatnya hehehe.

Saya bersama Juswan. Kita ke Seawalker di daerah Sanur. Saya tau dari teman. Teman saya tau dari majalah. Namanya Seawalker karena betul-betul jalan kaki di dasar laut. Dalamnya sekitar 6 meter. Lamanya 30 menitan. Setiap orang pake helm beroksigen. Asyik loh. Ada pemandunya. Ngasih makan ikan. Dikerubungi ikan-ikan. Besar kecil. Lihat dari dekat dan “sentuh” terumbu karang. Asli nice experience. Pengennya sih berlama-lama. Saya suka pemandangan bawah laut. Rasanya tenang. Dan penuh misteri.

Makan siang bareng beberapa orang Jepang. Selesai makan, ada satu orang dari mereka yang mau merokok. Ia tanya kita, keberatan ga kalo ia merokok. Saya bilang keberatan. Ia ga jadi merokok. Perasaan di Indonesia jarang ada deh sopan santun gitu:). Elo mo terganggu mo kagak, yang ngerokok gue ini. Duit, duit gue. Mulut, mulut gue. Buhhhh!!

Wednesday, May 03, 2006

Catatan Harian

Day - 333


Pagi hujan deras. Acara mulai jam 7.30. Ibadah pagi. Saya koq ngerasa konven ini kayak persidangan deh. Materinya “berat”. “Formal”. Serasa “di awang-awang” :). Sesi yang sore lumayan “mendarat”. Menurut saya baiknya konven tuh yang “ringan-ringan” sajalah. Acara kebersamaan, keakraban, tukar informasi, sharing, saling kenal. 250 lebih pendeta, ga semua saling kenal loh. Walau sama-sama GKI. Apalagi acara “temu akbar” begini jarang-jarang. Ga lima tahun sekali. Salah satu “masalah” dalam kependetaan kan kerekanan.

Di Bali lagi hari raya Galungan. Toko-toko pada tutup. Jalanan agak sepi. Yang ramai pura-pura tempat beribadah. Dalam tradisi Hindu, Galungan adalah hari kemenangan darma atas adarma. Kebaikan atas kejahatan.

Siang dengan Juswan ke pantai Kuta. Duduk-duduk ngobrol di bawah pohon. Sinar matahari panas banget. Juswan tuh high quality jomblo :). Hehehe, aneh ya. High quality koq jomblo :). Sebagai pendeta ia punya banyak kelebihan; pintar musik, tahu banyak tentang liturgi dan peribadahan, jago komputer pula. Ia S-1 komputer, sebelum masuk sekolah teologi. Beruntung deh jemaat dimana ia jadi pendeta-nya. Emang baiknya sih seorang pendeta punya spesialisasi atau ketrampilan laen. Kayak Juswan.

Di pantai Kuta ngelihat orang-orang lagi surfing asyik banget. Jadi pengen belajar :). Kayaknya ga susah. Saya lihat ada seorang bule yang nyewa papan selancar terus diajarin kilat. Ga sejam ia udah bisa nyeluncur gitu. Suatu saat nanti deh.

Tuesday, May 02, 2006

Catatan Harian

Day - 334



Berangkat ke Bali. Konven pendeta GKI. Naik Garuda jam 9.20. Di bandara Cengkareng ketemu banyak teman pendeta. Tiga dari lima teman pendeta yang papasan nanya: “Jadi pindah? Kapan berangkat?”. Duh! Pengen deh rasanya bikin tulisan di karton, lalu di gantung di leher, “Pindah? Jadi. Kapan? Belum tau pastinya!”.

Saya bisa bayangin “be-te-nya” orang yang misalnya lagi sakit. Dirawat di Rumah Sakit. Terus tiap kali dikunjungi ditanya, “Sakit apa? Sudah berapa lama?”. Atau suami isteri yang sudah beberapa tahun menikah, tiap kali ketemu temannya ditanya, ”Anaknya berapa? Laki-laki atau perempuan?”. Puffz.

So, kalo mau tanya-tanya, apalagi cuma basa-basi, pikir dulu deh. Jangan malah bikin orang “be-te”. Lebih baik tanya yang laen-lah. Tentang buku baru kek. Film bagus kek. Atau tentang hobi. Tentang gereja. Tentang kejadian-kejadian yang lagi hangat. Atau apalah. Yang penting ga klise. Dan ga bikin “be te”.

Di Bali nginap di hotel Kuta Paradiso. Asyik. Ada lebih dari 250 orang pendeta dan penatua calon pendeta yang ikut. I like Bali. Ngerasain “aroma” Bali saja sudah “kesengsem” :). Saya terlambat ikut acara pembukaan. Mulainya jam 17.00. Saya lupa Bali dan Jakarta beda satu jam. Jam di handphone saya masih pake WIB :).

Tuesday's Song - 02

Tersembunyi Ujung Jalan
Kidung Jemaat 416

(Lagu : John Zundel 1870, Syair : wat de toekomst brengen moge, Jacqueline van der Waals 1863-1922, terjemahan I.S. Kijne 1899-1970)

Tersembunyi ujung jalan, hampir atau masih jauh;
'ku dibimbing tangan Tuhan ke neg'ri yang tak 'ku tahu.
Bapa ajar aku ikut, apa juga maksudMU,
tak bersangsi atau takut, beriman tetap teguh.

Meski LangkahMU semua tersembunyi bagiku,
hatiku menurut jua dan memuji kasihMU,
Meski kini tak 'ku nampak, nantiku berbahagia
apabila t'rangMU tampak, dengan kemuliaannya

Tuhan, janganlah biarkan, kutentukan nasibku.
B'rilah hanya kudengarkan, keputusan hikmatMU.
Aku ini pun selaku, kanak-kanak yang bebal
Bapa jua bimbing aku ke kehidupan kekal.


Renungan :
Kita tidak tau masa depan. Apa yang akan terjadi dan kita alami tidak jelas. Mungkin hujan. Mungkin panas. Tersembunyi. Maka, jangan jauh-jauh dari Tuhan. Supaya peka dengan tuntunan dan petunjukNya. Tak selalu memang kehendakNya sesuai kehendak kita. Kita taat saja. Patuh. Jangan sangsi. Dia adalah Tuhan yang bertanggung jawab.

Catatan Harian

Day - 335


Baca koran Kompas. Pramoedya Ananta Toer meninggal dunia. Hari Minggu kemarin. Jam 9. Usia 81 tahun. Ia penulis hebat. Tapi banyak “tersia-siakan”. Tetraloginya: Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Rumah Kaca, dan Jejak Langkah, sudah diterjemahkan ke dalam puluhan bahasa. Selamat jalan, Pak Pram.

Jam 8.30 pimpin persekutuan karyawan PT Media Interaksi Utama. Yang nerbitin koran Suara Pembaruan. Saya pernah “praktek” di Suara Pembaruan. Dua minggu. Waktu kuliah tingkat tiga. Berdua dengan Yanti Rusli, yang sekarang pendeta di Bandung. Nginepnya di Guest House STT Jakarta. Pulang pergi naik mikrolet. Jalan kaki ke depan RS Carolus. Terus naik M01. Turun di Kampung Melayu. Lanjut dengan M16.
Siang saya nonton di TV demontrasi buruh di seputar Bundaran Hotel Indonesia. Dalam beberapa kasus buruh emang “kasihan”. Gaji kecil. Tunjangan-tunjangan kayak kesehatan dan perumahan minim. Tapi dalam beberapa kasus lain pengusaha juga susah. Aturan yang ga “tegas”. Biaya-biaya “siluman”. Idealnya pemerintah ambil peran lebih aktif dan positif. Jangan cuma mau “ngeruk” pajak. Mungkin seperti di Cina. Industri di Cina sekarang maju luar biasa .

Bersama Dewi dan beberapa teman nonton Munich. Steven Spielberg. Di XXI Kelapa Gading. Film panjang. Banyak dialog. Tiga jam. Ngantuk. Mungkin juga karena jam tidur. Saya sempat tertidur sebentar. Intinya film itu hendak menunjukkan, kekerasan bila dilawan dengan kekerasan hanya akan melahirkan kekerasan baru.

Malam ketemu Frida bersama Budi dan Lidya. Makan seafood. Budi dan Lidya “warga” Gereja Presbitarian Bukit Batok, Singapura. Mereka lagi di Indonesia. Terus ketemu Franklin di rumahnya. Bicarain skenario film. Sempet lihat potongan film-film ia. Pulang hampir tengah malam. Besok ke Bali. Belum beres-beres nih. Helppp!!!

Sunday, April 30, 2006

Catatan Harian - 336b

Pagi ke Gereja. Nyambut jemaat bersama Penatua yang bertugas. Pendeta yang berkotbah anak remaja ketika dulu saya di GKI Bektim. Ga kerasa 14-15 tahun yang lalu. Waktu begitu cepat. Tiba-tiba saya ngerasa sudah tua:).

Siang ke RS Abdi Waluyo di daerah Menteng. Nengok. Ada ayah anak pemuda yang sakit dirawat di sana. Berangkat bareng beberapa anak pemuda. Pulang mau makan es teller di jalan Bandung. Katanya enak. Muter-muter nyari. Ketika ketemu, eh ga jualan. Hujan gede. Beberapa hari ini Jakarta terus-terusan hujan.

Malam ada teman ngajak makan di restoran seafood di Pantai Mutiara Pluit. Beberapa hari yang lalu ia ultah. Rame-rame sih. Dengan teman-teman lain. Dewi, Kezia dan Karen juga ikut. Baru pertama saya ke daerah itu. Rumah-rumahnya bagus-bagus. Gede-gede. Megah-megah. Luar biasa deh. Rumah-rumah yang di pinggir pantai malah punya dermaga sendiri. Ada yacht pribadi segala. Huihhhh, keren!

Tapi jujur saya ga akan bisa nikmatin andai pun tinggal di rumah kayak gitu. Saya lebih merindukan rumah kontrakan di Jogja dulu. Rumah lama. Lantai masih dari ubin. Tapi bersih mengkilap. Halaman banyak pohon. Depan dan samping rumah sawah. Kalo pagi ramai suara burung. Malam suara kodok dan jangkrik. Rasanya tentram. Maklum saya kan lahir dan besar di udik :).

Catatan Harian - 336a

Di acara Radio Pelita Kasih semalam saya merasa "ga oke" . Rasanya ga lepas. Kagok gitu. Maklum sudah lama ga siaran. Waktunya juga terbatas. Lagian sudah ada skenarionya yang cukup “ketat”. Respon pendengar sih cukup oke-lah. SMS yang masuk hampir 30-an. Telepon cuma satu karena dibatasi. Kalau "dibuka" bisa banyak tuh. Saya punya mimpi, ngasuh sebuah acara radio. Interaktif, santai, tapi “berisi”. Semacam obrolan ringan gitu. May be someday.

Tujuh-delapan tahun lalu bersama beberapa teman, saya pernah ngasuh acara SENADA (Seputar Anak Muda). Di RPK juga. Kerja sama RPK dengan GKI Kayu Putih. RPK sudah banyak berubah. Dulu letak bangunannya di depan, sekarang di belakang. Masih di komplek Suara Pembaruan. Peralatannya lebih canggih. Yang ga berubah operator telpon dan musiknya. Masih Mas Tami.

Dari RPK saya dijemput beberapa teman. Mau jalan-jalan malam. Mumpung besok ga ada tugas, katanya. Kan jarang-jarang. Dewi juga ikut. Salah seorang teman sampai meng-cancel acaranya :). Kita jalan ke daerah Kemang. Ke tempat nongkrong anak-anak muda.

Makan di sebuah cafe. Saya ga ingat namanya. Pokoknya halaman terbuka gitu. Terus dikasih payung-payung. Banyak stand penjual makanan. Rame banget. Cuma saya ga betah. Habis pada ngerokok. Ga cewek ga cowok. Dulu waktu saya remaja, rasanya remaja apalagi cewek ga sebebas itu deh ngerokok. Zaman makin maju. Tapi dalam banyak hal malah makin mundur. Waktu pulang saya sempat tertidur di mobil. Ngantuk banget. Dua hari ini tidur saya ga ketentuan.

Saturday, April 29, 2006

Catatan Harian - 337

Siang pimpin kebaktian syukur pembukaan kantor notaris seorang teman di daerah Hayam Wuruk. Ia anggota pengurus Pokja Demuda. Berangkat dari gereja bareng anggota pengurus Demuda lainnya. Saya sebetulnya sudah bukan pendeta pendamping Pokja Demuda. Tapi masih full-support. Apalagi masih ada program “zaman saya” yang tertunda. Saya sangat menikmati keakraban dengan pengurus Pokja Demuda.

Setelah makan siang, kita lanjut rapat rutin Pokja Demuda. Rencananya bulan Mei pengurus Pokja Demuda bersama keluarga akan ke Bandung. Acara kebersamaan. Pelayanan gerejawi adalah pelayanan kolektif. Maka, penting sekali ada relasi yang baik dan akrab di antara sesama pengurus. Anggota pengurus boleh jago-jago, pinter-pinter, tapi kalau ga ada relasi yang baik, ga akrab, ya “hancur”. Ga akan sehati. Malah potensial konflik. Jadi perlu tuh acara-acara kebersamaan diberi ruang.

Malam ada wawancara live di Radio Pelita Kasih (RPK). Seputar masalah jomblo :). Gara-gara buku Ngejomblo Itu Nikmat, jadi sering tuh saya dimina bicara soal kejombloan hehehe. Pernah di sebuah gereja saya diminta bawakan acara dengan topik itu. Eh yang datang banyaknya orang-orang tua. Benar. Sebagian karena cucunya ada yang jomblo. Sebagian anaknya yang jomblo. Hehehe malah orang tua yang resah. Anak atau cucunya yang ngejomblo malah tenang-tenang. Buktinya ga ikutan acara itu :).

Besok ga ada tugas khotbah. Leganya. Jarang-jarang loh hari Sabtu malam bisa saya lewati dengan kelegaan begini. Sungguh merupakan sebuah kemewahan :). Setiap minggu kelima sebetulnya pertukaran pengkhotbah se-GKISW Jabar. Cuma mungkin karena saya dianggap sudah “pindah”, jadi ga dijadwalin. Kayak minggu lalu. Jujur, saya sih senang-senang saja hehehe.

Renungan Sabtu - 02b


Salomo - lanjutan

Itulah Salomo dengan segala kebesaran dan kebijaksanaannya. Sungguh seorang anak muda yang lengkap. Idaman setiap orang. Boleh dibilang tidak ada celanya. Tetapi tahukah Anda bagaimana perjalanan hidup Salomo kemudian? Sebuah tragedi!

Dalam 1 Raj. 11:1-13 ditulis bagaimana Salomo jatuh ke dalam penyembahan berhala. Dia banyak mencintai perempuan asing, yang membuat hatinya berpaling dari Tuhan. “Demikianlah Salomo mengikuti Asytoret, dewi orang Sidon, dan mengikuti Milkom, dewa kejijikan sembahan Amin, dan Salomo melakukan apa yang jahat di mata Tuhan, dan ia tidak dengan sepenuh hati mengikuti Tuhan, seperti Daud, ayahnya.” (Ayat 5-6).

Karena perbuatan Salomo itu, anak cucunya turut menanggung akibat. Kerajaan Israel setelah Salomo terpecah menjadi dua; selatan dan utara. Tidak pernah akur. Penuh intrik dan politik. Masa-masa keemasan Israel Raya hanya tinggal kenangan. Musnah sudah kejayaan yang telah dengan susah payah dibangun oleh Daud. Bangsa Israel bahkan sempat menjadi bulan-bulanan, dibuang ke negeri Babel. Sungguh sebuah akhir yang menyesakkan.

*
Lantas apa yang bisa kita pelajari dari kisah hidup Salomo? Pertama, pasangan hidup yang salah, bisa membawakan kita kedalam tragedi. “Hati Salomo telah terpaut kepada mereka dengan cinta……….. istri-istrinya itu mencondongkan hatinya kepada allah-allah lain.” (1 Raj. 11:2b, 4). Barangkali tepat kalau dikatakan, Salomo telah dibutakan oleh cinta. Sehingga akhirnya dia kehilangan sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya: iman.

Kedua, mengendalikan diri (self control) itu perlu. Tanpa pengendalian diri, kita akan mudah tergelincir kedalam kehancuran. Kekuasaan dan kekayaan Salomo amatlah besar (1 Raj. 10:14-29). Dengan kekuasaan dan kekayaannya itu, boleh dikata, Salomo dapat memperoleh apa pun yang diinginkannya. Bayangkan, Salomo sampai memiliki 700 istri dari kaum bangsawan dan 300 gundik (1 Raj. 11:3). Seperti apa gaya hidup Salomo, Alkitab memang tidak secara jelas mengungkapkannya. Tetapi dengan jumlah istri dan gundik sebanyak itu, ditambah kekuasaan dan kekayaan begitu besar, Salomo seumpama mobil super mewah – serba canggih, nyaman, dan menyenangkan – tetapi tidak memiliki rem. Blong.

Ketiga, seseorang yang sejak mudanya berperilaku baik, bahkan juga rajin dan taat menjalankan kewajiban agama, tidak serta merta seterusnya akan menjadi orang baik-baik. Manusia itu bisa berubah. Kalau tidak waspada, ia juga bisa jatuh terjerumus ke jalan yang salah. Pada waktu muda Salomo adalah seorang yang berhikmat; semua orang mengaguminya (1 Raj. 10:24), tetapi pada waktu tuanya Salomo toh bisa jatuh kedalam dosa (1 Raj. 11:4). Maka, seperti nasihat Petrus, “Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya.” (1 Pet. 5:8).

** Dari buku Bila Cinta Menyapa: Ayub Yahya

Renungan Sabtu - 02a


Salomo

Siapa yang tidak kenal salomo. Pada usia muda dia sudah menjadi orang nomor satu di Kerajaan Israel Raya, mewarisi tahta Raja Daud, ayahnya. Batas kekuasaanya sangat luas; mulai dari sungai Efrat sampai negeri orang Filistin dan sampai tapal batas Mesir (1 Raj. 4:21). Sepeninggalan Raja Daud, Kerajaan Israel memang sedang berada di puncak kejayaan.

Dia seorang yang pintar, diyakini banyak menulis wejangan hikmat; baik berupa peribahasan, sajak, pepatah, maupun kata-kata mutiara. Kitab-kitab Amsal (bahasa Ibrani: masyal), Pengkhotbah (qohelet), dan Kidung Agung (syir-hasysyirim), menurut tradisi dianggap ditulis oleh atau berasal dari Salomo.

Dia seorang yang saleh, ketika Tuhan menawarkan kepadanya, “Mintalah apa yang hendak Kuberikan kepadamu”, Salomo tidak lantas aji mumpung, misalnya dengan minta kekayaan lebih banyak atau kerajaannya tambah jaya. Dia hanya minta hikmat. Itu pun bukan untuk dirinya sendiri, tetapi supaya dia bisa memimpin bangsanya dengan baik dan benar (1 Raj. 3:1-15).

Seandainya saja setiap pemimpin bangsa-bangsa di dunia ini memiliki kesalehan seperti Salomo; tidak kemaruk harta atau kekuasaan, betapa akan tata tentramnya bumi ini. Banyak sudah terjadi dalam sejarah, ketamakan dan kerakusan para pemimpin pada akhirnya bukan hanya menjerumuskan diri mereka sendiri, tetapi juga menyengsarakan rakyat banyak yang tidak bersalah.

Dia juga seorang yang bijaksana. Kasus “monumental” yang pernah ditanganinya adalah kisah dua orang wanita yang sama-sama mengaku diri sebagai ibu dari seorang bayi. Tidak ada bukti material. Ketika itu belum dikenal DNA, yang bisa membuktikan orang tua kandung seorang anak. Yang ada hanyalah pengakuan kedua wanita itu, yang tentunya sangat subyektif.

Perkara sangat sulit? Bagi orang kebanyakan barangkali iya, tetapi tidak bagi salomo. “Potong bayi itu menjadi dua, dan berikan masing-masing satu potong kepada kedua wanita itu!” begitu katanya. Tentu, gegerlah hadirin yang mendengar; bagaimana mungkin seorang bayi dipotong menjadi dua?! Tidakkah itu tindakan yang sadis tidak berperikemanusiaan?!

Akan tetapi, toh kita semua tahu akhirnya. Kisah itu berakhir bahagia; kebenaran terungkap, siapa ibu kandung sang bayi siapa bukan ketahuan juga. Sebab di dunia ini mana ada seorang ibu yang rela anak dari kandungannya dipotong menjadi dua. Dia akan lebih rela mengorbankan kebahagiaannya sendiri demi sang anak lepas dari nestapa mengerikan itu. (to be continued)