Friday, May 19, 2006

Catatan Harian

Day - 317b

Kereta api ke Jakarta jam 14.00. Pagi ga ada acara. Pram, teman saya, ngajak main ke Cibulan di daerah Kuningan. Sekitar 30 menit dari Cirebon. Waktu kecil pernah beberapa kali ke sana. Ga banyak berubah. Cibulan tuh kolam renang umum. Airnya dari mata air Gunung Ciremai. Dasarnya dari batu-batu bulat. Uniknya di kolam itu ada banyak sekali ikan. Besar-besar. Bahkan ada yang sampai lima kiloan beratnya.

Jadi kita berenang bersama ikan-ikan itu. Namanya ikan Kancra Putih. Mirip ikan mas. Cuma lebih panjang dan lonjong. Sisiknya kayak ikan arwana. Ga tau kenapa dibilang putih. Padahal ikannya biru kehitaman. Konon itu ikan keramat. Hanya ada di situ. Ga boleh diganggu. Kalo mati harus diperlakukan seperti manusia. Dibungkus kain kafan. Pake sajen. Dikubur. Ada kuncen-nya. Menurut mitos, kalo malam ikan-ikan itu berubah jadi wanita-wanita muda. Ga ada yang bisa buktiin sih. Namanya juga mitos :).

Dari Cibulan ke Linggarjati. 15 menitan. Zaman penjajahan dulu itu tempat perundingan antara Indonesia dan Belanda. Yang kemudian dikenal dengan sebutan Perjanjian Linggarjati. Ada kolam renang dan pemancingan. Kita sempat mancing. Lumayan, ga ada sejam dapat hampir empat kilo; ikan mas, bawal, nila. Ikan-ikannya sih dikasihkan ke orang :). Kebetulan teman punya oom ulang tahun.

Di Cirebon waktu tuh kayaknya banyak banget deh. Setengah harian bisa kemana-mana. Pulang dari Linggarjati masih sempet ke pasar beli oleh-oleh. Bisa ngerujak dulu segala. Sebelum jam 14.00 udah di stasiun. Kereta on time. Jam 17.00-an sudah sampai di Jatinegara. Welcome to the jungle.

Catatan Harian

Day - 317a

Cirebon oke. Kotanya ga kecil, ga besar. Ga macet. Cuma panasnya itu loh. Pinggir pantai sih. Kayak Semarang gitu. Makanan “kampungnya" asyik-asyik. Mie koclok di Pasar Balong, soto mie di Pekiringan, nasi jamblang di Pelabuhan, nasi lengko di Pagongan, empal gentong di Stasiun. Yummi.

Dulu, setelah akhirnya bisa berdamai dengan “panggilan” kependetaan, saya pengennya di Jemaat kecil di kota kecil. Tapi permohonan terakhir itu pun ga Tuhan kabulkan. Sejak selesai STT tahun 1991 sampai sekarang, saya justru dapat Jemaat besar di Jakarta. Begitulah hidup. Ga selalu berjalan seperti yang kita inginkan. "Tuhan ini saya. Pakai seturut kehendakMu." Itu saja selalu doa saya.

Baru baca di Koran, Barcelona menang lawan Arsenal yang sejak menit ke 18 bermain dengan 10 pemain. Kiper Jens Lehman kena kartu merah. Jadi kayak waktu lawan Chelsea di putaran pertama babak sebelumnya. Yaaa, kurang elok ah. Terlepas layak atau ga Lehman dikeluarkan. Hasil emang penting, tapi bagaimana mencapai hasil ga kalah penting kan.

Sama dengan gol ke gawang lawan. Golnya penting, tapi bagaimana proses terjadinya gol juga ga kalah penting. Makanya dari sekian banyak gol yang terjadi di sepakbola, hanya sedikit gol yang dikenang sampai sekarang. Kayak gol Maradonna ke gawang Inggris di Piala Dunia 1986. Atau gol Marco van Basten ke gawang Uni Soviet di Piala Eropa 1988. Simpati saya buat Arsenal. Betapun Arsenal telah menunjukkan permainan hebat. Dengan sebagian besar pemain muda pula.

Thursday, May 18, 2006

Catatan Harian

Day - 318

Bangun kepala sakit. Flu. Semalam tidur ga beres. Ngetik. Baca. Ketiduran di kamar kerja. Terbangun. Ga bisa tidur lagi. Terus ngetik lagi. Baca lagi. Bosen. Nonton Barcelona-Arsenal. Tapi cuma ujungnya. Barcelona menang 2-1. Berarti “ramalan” saya kemarin ga terlalu meleset :).

Jam 7.30 ke Stasiun Gambir. Mau ke Cirebon. Naik kereta api Cirebon Express Utama jam 8.45. Pimpin di GKI Pengampon. Sore acara keakraban lansia. Malamnya acara Malam Puji dan Sabda. Pergi berdua Dewi. Kezia dan Karen “titip” sama oma opa. Satu kelebihan naik kereta api dibanding naik pesawat, bisa SMS-an sepanjang jalan :).

Sampai di Cirebon siang. Dijemput teman. Nginep di rumah ia. Teman saya tuh “aneh”. Ia anak laki-laki paling besar. Sudah selesai kuliah. Tahun lalu ayahnya meninggal. Mewariskan toko dan perusahaan cukup besar. Boleh di bilang, hidupnya sudah mapan dan nyaman. Eh, katanya ia mau masuk sekolah teologi. Ibunya nentang. Setiap kali bertanya kepada pendetanya, bagaimana ia harus bersikap? Dijawab: “Kamu harus lebih taat kepada Tuhan, daripada kepada manusia.”

Saya setuju banget dengan ungkapan itu. Tapi masalahnya, apa masuk sekolah teologi selalu identik dengan taat kepada Tuhan?! Dan ikut keinginan ibu: bimbing adik-adik mengelola toko dan perusahaan peninggalan ayah, berarti ga taat kepada Tuhan?! Belum tentu kan. Ga sesederhana itu. Dan ga bisa hitam putih begitu. Kenapa ia pengen masuk sekolah teologi? Dan kenapa ibunya menentang ia? Pasti ada alasannya kan.

Wednesday, May 17, 2006

Catatan Harian

Day - 319

Sejak kemarin di koran “heboh” final Liga Champions Eropa subuh nanti. Barcelona lawan Arsenal. Saya jagoin Barcelona 2-0. Tapi asal tahu saja, “ramalan” saya lebih sering meleset :). Dari dulu saya suka Barcelona. Ga tahu kenapa. Rasa suka, seperti juga cinta, ga selalu butuh alasan kan. Hehehe.

Saya dapat SMS dari seorang teman: My head says Barca will win, but my heart says Gunners will win. Ia fans berat Arsenal. Barcelona emang banyak difavoritkan. Tapi ya, seperti kata ujar-ujaran: “bola itu bundar”. Perhitungan di atas kertas ga selalu sama dengan kenyataan di lapangan. Tahun lalu siapa duga Liverpool jadi juara. Ngalahin AC Milan. Hidup juga begitu kan. Ga selalu sama dengan perhitungan.

Baru baca majalah Basis. Rm. Franz Magnis-Suseno ultah ke 70. Ia lahir di Eckersdorf, Silesia, Jerman. Sekarang masuk wilayah Polandia. Datang ke Indonesia 1961. Menjadi WNI 1977. Guru Besar di STF Driyarkara hingga kini. Ia orang hebat. Tapi tetap rendah hati dan sederhana. Selamat ulang tahun, Romo. Tuhan memberkati.

Sore pimpin kursus menulis di STT Jakarta. Kelas terakhir. Kelas terakhir ini harusnya Rabu 3 Mei yang lalu. Tertunda. 3 Mei saya di Bali. 10 Mei pimpin di Bogor. Sebuah kegiatan yang sudah rutin bila “terputus” di tengah jalan, biasanya mengurangi semangat peserta. Tadi yang hadir hanya 9 orang. Berarti 7 orang ga hadir. Tapi dari yang 9 orang ini hasil akhirnya oke loh. Enam renungan, satu cerpen, dan beberapa refleksi dalam bentuk catatan harian. Rencananya akan dikirm ke koran, majalah atau website. PPWG STT Jakarta masih akan merancang kursus berkhotbah lanjutan dan seminar sehari tehnik menulis.

Catatan Harian

Day - 320

Di ambang bencana Merapi. Berita di koran: Gunung Merapi meluncurkan awan panas. Misteri alam. Dalam keadaan normal, paling asyik memandang Merapi dari tempat pengawasan Merapi di ujung hutan Kaliurang. Ga akan lupa deh. Burung elang melayang tenang. Di antara semburat cahaya matahari siang. Berlatar belakang kemegahan Merapi yang puncaknya dikelilingi awan tipis.

Waktu mahasiswa bersama beberapa teman, saya pernah kemping di kaki Merapi. Duh saya jadi teringat teman-teman kuliah dulu. Daeng, Joko, Yosafat, Yahya Tirta, Besel. Saya salah ga "nikmatin" masa kuliah. Banyak memendam “kemarahan”. Setelah masa itu berlalu dan jadi kenangan, baru saya tersadar betapa indahnya masa itu. Masa terbaik dalam hidup saya. Andai saja saya jalani masa itu dengan “nikmat”, pasti banyak “buah” yang saya petik. Arrggh! Penyesalan selalu datang terlambat.

Sore pimpin pembinaan mingguan Komisi Pembinan dan Pemuridan PMK IPB. Tehnik Konseling. Saya ga gitu konsen. Sepanjang siang ngalami hal yang ga enak. Malamnya ga bisa tidur pula. Duh. Duh. Yang hadir sekitar 50 mahasiswa. Saya senang mereka aktif bertanya. Waktunya kurang. Pulang malam. Mampir makan di Cafe Gumati. Tempatnya sih oke. Sampai rumah jam 23-an.

Monday, May 15, 2006

Catatan Harian

Day - 321

Hari ini ga ada yang khusus. Kalau ngikutin “tugas”, sebetulnya saya diminta pimpin ibadah pagi di BPK Gunung Mulia Jl. Raya Bogor. Saya “terpaksa” nolak. Habis gimana? Besok di PMK Bogor. Lusa di STT Jakarta. Kamis dan Jumat di GKI Pengampon Cirebon. Sabtu bina aktivis klasis Jakarta Timur, syukuran keluarga, dan Persekutuan Wilayah. Minggu empat kali khotbah. Padahal hari Sabtu dan Minggu kemarin baru dari Bandung. Acara Demuda. Kamis dan Jumat-nya dari Jogja. Sidang tesis. Jujur, saya merasa ga enak juga loh “nolak tugas” gitu. Tapi kalau semua tugas diikuti, kapan saya “ngisi bensin”? Andai saya punya sekretaris dan sopir pribadi seperti Aa Gym. Hehehe j/k.

Setelah antar jemput Kezia dan Karen sekolah seharian di rumah. Baca-baca lagi tesis. Ngetik. Sore ke rumah Pak Binsar. Ngobrolin tesis. Saya ceritakan “pembantaian” di sidang tesis. Ia cuma tertawa. “Bisa diduga,” katanya. “Tapi kan itu proses pembelajaran yang bagus.” Saya mengiyakan :).

Malam di La Piazza ketemu Franklin dan beberapa teman. Rencananya bicara skenario film, jebulnya bicara banyak hal. Mereka orang-orang yang “unik” dengan dunia dan prinsip-prinsip yang “khas”. Saya menghargai “kejujuran” dan “ke-apa-ada-an” mereka. Dari mereka saya dapat satu “pesan” buat para istri: Jangan sikapi “kebandelan” suami dengan kegarangan atau kenyinyiran. Ia akan tambah “nekad”. Sikapi dengan pengertian dan kebaikan. Jangan “usik” harga dirinya. Bikin ia merasa ga enak hati :). Mungkin ga lantas memperbaiki keadaan. Tapi minimal, ga akan memperburuk keadaan.

Sunday, May 14, 2006

Catatan Harian

Day - 322

Semalam ke The Valley. Daerah Dago terus ke atas. Makan sambil menikmati pemandangan kota Bandung di waktu malam. Asyik. Tempatnya romantis. Oke banget. Makanannya juga oke. Tapi perjuangan ke sananya itu loh. Apalagi sabtu malam. Sudah jalannya macet. Di sananya antri pula. Huhh!

Kita nginap di semacam "home stay" dekat Universitas Maranatha. Tempat kost-kost-an yang difungsikan juga jadi tempat penginapan. Cukup oke. Bersih. Tenang. Pagi saya pimpin ibadah Minggu. Gabungan anak-anak dan dewasa. Dilanjutkan acara kebersamaan. Sekalian acara perpisahan saya. Berat juga sih. Soalnya kita sudah akrab. Cocok. Padahal kita baru setahun gabung. Saya "dikerjain" teman-teman Demuda. Diguyur seember air sambil difoto. Katanya "syukuran" saya selesai sidang tesis. Mana saya ga bawa celana ganti. Bener-bener deh :).

Siang teman-teman pada jalan ke Factory Outlet. Saya ga ikut. Nengok mama. Sekalian ketemu kakak dan para ponakan. Mama seperti biasa kalo saya pulang bikin "krupuk ngojay". Makanan kesukaan saya waktu kecil. Krupuk ngojay tuh krupuk merah "digoreng" dengan pasir. Terus dimasukin ke kuah sambal oncom yang pedas banget. Hehmm, nikmat. Ngojay dalam Bahasa Sunda artinya berenang.

Kita kumpul lagi di Saung Kabayan. Makan. Terus ke All About Strawberry di Cimahi. Anak-anak pada pengen ke sana. Jam 16-an kita pulang. Beberapa teman Demuda ikut mobil saya. Sepanjang jalan kita ngobrol. Intinya kita pengen "berbuat" sesuatu yang berarti buat orang banyak. Seperti yang dilakukan oleh Aa Gym cs. Alangkah eloknya kan kalau hidup kita menjadi berkat.

What's Up?

Sabtu, 13 Mei 2006, jam 12.00

Keterangan foto : Saya menyerahkan buku-buku tulisan saya sebagai kenang-kenangan kepada KH. Abdullah Gymnastiar (AA Gym)

Daurat Tauhid banyak mengembangkan pelatihan seputar manajemen qolbu lintas agama. Juga berbagai bisnis; mulai dari radio, penerbitan buku dan majalah, tour dan travel, supermarket, rumah makan, guest house, sampai stasiun televisi.

Saturday, May 13, 2006

Catatan Harian

Day - 323

Pagi bersama teman-teman Pokja Demuda berangkat ke Bandung. Acara kebersamaan. Sekalian kunjungan ke Pesantren Daurat Tauhid. Ketemu dan berbincang-bincang dengan KH Abdullah Gymnastiar (Aa Gym). Yang ikut sekitar 30 orang termasuk anak-anak. Enam mobil. Di pintu keluar tol Cipularang macet. Biasa Bandung euy. Sampai di Daurat Tauhid jam 12-an. Kita diajak keliling kompleks Daurat Tauhid. Saya terkesan dengan kebersihan lingkungan di sana. Hampir ga ada sampah. Orang-orangnya pun ramah. Berjalan di sana walau kita ini "beda", tapi rasanya tuh "aman" gitu. Good. Good.

Silahturahmi lintas agama menurut saya penting. Apalagi di tengah sektarianisme agama yang begitu kuat sekarang ini. Silahturahmi bisa menghapus kesalingcurigaan dan kesalahpahaman. Merangkai kasih, membuang benci.

Kita dijamu makan siang oleh Aa Gym di rumahnya. Sambil lesehan dan ngobrol santai. Ia sosok yang rendah hati, ramah, dan sederhana. Saya sempat tanya bagaimana ia nyiapin kotbah di tengah kesibukannya yang luar biasa. Juga bagaimana membagi waktu buat keluarga. Ia bilang, sebulan permintaan ceramah bisa sampai 1200. Yang dipenuhi hanya sekitar 40. Ia punya 26 sekretaris untuk "nangani" urusan ceramah. Tapi ia tetap mentingin waktu untuk keluarga. Sesekali ia masih nganter anaknya sekolah atau istrinya belanja.

Sebelum pulang saya memberi ia beberapa buku saya sebagai kenangan-kenangan. Aa Gym juga memberi beberapa bukunya. Ga semua yang ia ucapkan saya setuju. Malah bertolak belakang dengan pendapat saya. Tapi secara umum prinsip-prinsip "moral" yang ia anut sangat oke.

Renungan Sabtu - 04

Namaku Ayub


Aku sungguh tidak habis mengerti, mengapa justru demikian yang harus aku alami. Anak-anakku mati ketika rumah tempat mereka berkumpul tersapu angin badai dan roboh menimpa mereka. Harta bendaku yang kuupayakan bertahun-tahun musnah dalam sekejap. Dan aku sendiri, sekujur tubuhku dari telapak kaki hingga ujung kepala terjangkit borok-borok yang menjijikkan.

Semuanya datang bertubi-tubi dan begitu tiba-tiba. Aku ibarat orang yang jatuh dari ketinggian ke tempat paling rendah, gelap dan kotor. O, sungguh penderitaan yang sempurna, dan tidak tertanggungkan.
Mengapa semua ini terjadi dalam hidupku?
Apa yang salah dari diriku?

Elifas, Bildad dan Zofar, para sahabatku, menuduh aku telah melakukan dosa besar. Itulah sebabnya mereka mendesak agar aku bertobat, mengakui dosa-dosaku, dan meminta ampun kepada Allah.
Tetapi dosa apa yang harus aku akui? Dosa macam apa yang telah aku perbuat, sehigga karenanya aku dan keluargaku harus menanggung penderitaan sehebat ini? Aku sungguh tidak tahu.

Ya, aku memang bukan orang yang tanpa cacat cela. Aku juga manusia biasa yang penuh kelemahan. Aku tentu pernah berbuat dosa. Tapi tolong tunjukkan kepadaku kekejian apa yang telah aku lakukan, sehingga dengan begitu aku pantas menanggung semua kemalangan ini.

Apakah aku pernah menzalimi dan menyengsarakan hidup orang lain, menipu dan mengkhianati kepercayaan orang lain? Atau pernahkah aku merampas hak-hak orang miskin dan lemah?
Apakah aku pernah melakukan perbuatan amoral, tindakan tidak senonoh yang melanggar kesusilaan? Atau pernahkah demi uang dan jabatan aku merekayasa kejadian biadab dengan mengorbankan orang-orang tidak bersalah?

Apakah aku pernah menghujat Allah, mempermainkan hukum-hukum-Nya atau menjual nama-Nya demi ambisi dan kepentingan pribadiku?
Tunjukkanlah kepadaku!
Akh, aku jadi tidak bisa mengendalikan kata-kataku sendiri. Maaf. Seribu kali maaf. Aku tidak bermaksud membela diri. Aku juga tidak bermaksud menyindir orang lain. Sama sekali tidak.

Tetapi memang, aku sama sekali tidak mengerti kalau semua penderitaan yang aku alami ini dianggap sebagai akibat dari dosaku. Sungguh aku tidak mengerti. Sebab aku tahu persis, banyak orang yang jelas-jelas berperilaku bobrok dan jahat hidupnya malah enak. Jangankan mengalami nestapa seperti yang aku alami, mereka malah hidup semakin subur makmur. Karena itu semakin congkak dan takaburlah mereka. Betapa tidak adilnya.

Aku tahu Elifas, Bildad dan Zofar tidak bermaksud buruk. Mereka justru mau membantuku, memberi solusi terhadap pergumulan batinku. Tetapi pemahaman mereka terlalu sempit, pandangan mereka sangat kerdil. Sehingga bukannya memahami, mereka malah menghakimi. Bukannya menopang dan menguatkan, mereka malah memojokkan dan memberati. Apakah segala hal yang terjadi dalam hidup, termasuk penderitaan dan kemalangan, selalu dapat diukur dengan hukum sebab akibat?

Hukum sebab akibat sesungguhnya terlalu sederhana untuk dipakai mengukur semua kejadian dalam hidup ini. Coba pikir, apakah orang yang sukses; kekayaannya segudang, jabatannya selangit, anak-cucunya hebat-hebat dijamin pasti orangnya baik dan saleh? Belum tentu! Jangan lupa, setan pun bisa memberi kekayaan dan kekuasaan asalkan orang mau tunduk kepadanya. Sama, orang yang susah pun belum tentu karena dosanya. Iya, kan?!
Jadi ada apa sebenarnya dibalik penderitaan yang aku alami ini? Mengapa aku harus menghadapi ini semua?
Mengenai itu aku sendiri tidak tahu. Entahlah. Tapi sudahlah. Dalam hidup ini memang ada banyak hal yang kadang-kadang tidak bisa kita urai dengan akal. Kita hanya bisa menerima, tanpa tahu sebabnya.

Toh aku bukan pemilik hidup ini. Hidupku hanyalah titipan. Aku hanya tinggal menjalani apa yang memang harus terjadi. Susah maupun senang. Kalau susah kiranya tidak membuat aku putus asa. Sebaliknya kalau senang tidak membuat aku takabur dan lupa diri. Setiap orang tanpa kecuali pada akhirnya akan menuju satu titik yang sama: kematian.

Yang penting apa pun yang terjadi dalam hidup ini, aku jalani dengan penuh iman dan pengharapan kepada Sang Khalik. Sehingga ketika Dia mengambil kembali hidup yang dititipkan-Nya, tidak ada yang aku sesali.
Aku bisa menghadapi panggilan pulang dari-Nya dengan kepala tegak dan hati tenang. Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku kembali ke dalamnya. Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil, terpujilah nama Tuhan
***
Dari buku: Di Manakah Allah Saat Aku Menderita? - Ayub Yahya

Friday, May 12, 2006

Friday's Joke - 03


Aturan

Seorang pemuda ditilang; naik sepeda motor melanggar rambu lalu lintas, harusnya verboden dia malah terus jalan.

“Kamu tidak melihat tanda verboden di sana?” tanya Pak Polisi, sambil menunjuk
ke arah rambu bergambar lingkaran merah dengan palang di tengahnya.

Sambil garuk-garuk nggak gatal dan setengah nyengir, si Pemuda menjawab, “Tandanya
sih saya lihat. Tetapi saya tidak melihat Bapak.”

Ayah's quote:
Begitulah kalau kepatuhan bukan didasarkan pada kesadaran dan ketulusan, tetapi lebih karena rasa takut kepada petugas atau hukuman. Sungguh kepatuhan yang rapuh.

Catatan Harian

Day - 324

Saya ada di Jogja. Hari ini maju sidang tesis. Saya ga tau kalo sidang tesis tuh terbuka. Teman atau keluarga bisa ikut nyaksiin. Jadi saya ga ngajak siapa-siapa. Saya maju sendirian. Mbak di sekretariat sampe tanya kok ga bawa "supporter" :). Tapi beberapa teman sih kirim sms. Malah ada yang udah kasih selamat. Hehehe jadi mkalu. Tesis saya judulnya: Materialisme versus Spiritualisme Yesus. Kajian iklan televisi dalam sorotan Kotbah di Bukit.

Mengingat persiapan dan “cara” bagaimana saya menulis tesis, boleh dibilang saya ini "berani mati". Dan benar. Saya dibantai habis. Habis-bis. Knock out. Yang nguji Pak Paulus, Pak Yahya dan Pak Bernie. Hasil akhir, tesis harus direvisi selambat-lambatnya akhir Juni. Ga usah sidang lagi. Kalau bisa beres minggu depan lebih baik. Hehhh. Lega. Lega. Yang penting kan episode paling "suram" dalam hidup ini sudah berlalu :).

Sebetulnya ada teman yang minta saya pimpin syukuran rumahnya. Dulu ia anggota jemaat GKI Kayu Putih. Tapi karena tesis harus revisi, saya masih harus konsultasi dengan dosen. Jadi ga bisa. Ia bilang, ga apa-apa ditunda saja. Pas kalau saya ke Jogja lagi nanti. Waktunya ga mendesak.

Sore balik ke Jakarta. Naik Adam Air jam 18.40. Delay satu jam. Alsannya: karena satu dan lain hal. Klise. Buhh! Penumpang pesawat di Indonesia tuh benar-benar “baik” dan "toleran" deh. Pesawat delay satu-dua jam ga marah ga apa. Nrimo. Atau ga bisa berbuat apa-apa? :). Saya ga tahu apa di negera lain juga gitu.

Thursday, May 11, 2006

Catatan Harian

Day - 325

Semalam pimpin Pembinaan Bersama Persekutuan Mahasiswa Kristen IPB di Kampus Dramaga. Yang hadir sekitar 300 mahasiswa. Jalanan di Bogor macet banget. Jam 16.30 dari Jakarta. Tiba di sana sekitar jam 19-an. Padahal acara mulai 18.30. Terlambat. Jujur sempet “jengkel” juga sih. Duh. Tapi segala kegusaran sirna melihat antusiasme para mahasiswa itu. Lebih-lebih dengar pengalaman dan kegiatan pelayanan mereka. Good. Saya pengen deh ikut men-support pelayanan mereka. Minimal dalam hal pimpin-pimpin acara mereka.

Bogor bener-bener deh. Macetnya tuh “keterlaluan”. Heran. Akar masalahnya kan jelas. Angkot itu loh. Udah kebanyakan, ngetem dan naik-turunin penumpang seenaknya pula. Ditambah para pedagang di pinggir jalan. Saya ga ngerti dengan Pemda, masak nangani soal “sepele” gitu saja ga bisa? Gimana nangani yang “gede-gede”. Tapi itu sih bukan ga bisa. Ga peduli saja.

Saya salut tuh sama teman saya. Ia mau loh rutin pelayanan di sana. Bisa tiga-empat kali sebulan. Mana nyetir sendiri. Cewek lagi. Sudah gitu, maaf, ga dapat honor pula. Salut. Salut. Wujud sebuah pelayanan yang sesungguhnya. Sepi ing pamrih. Hanya memberi tak harap kembali….. Hehehe koq jadi kayak lagu: “Kasih Ibu” :).

Acara sampai jam 21-an. Setelah acara selesai masih ada mahasiswa yang nanya-nanya. Ada juga yang minta tanda tangan di buku saya. Pulang makan dulu di Rawamangun. Sampai di rumah hampir tengah malam. Ga langsung tidur. Masih harus on internet pula.

Pagi-pagi sudah bangun. Temenin Dewi antar Kezia dan Karen sekolah. Biasanya sih Dewi sendiri. Karena hari ini mau ke Jogja, jadi saya sempetinlah. Siangnya pimpin acara syukuran pindah rumah seorang anggota jemaat. Jam 14 ke bandara. Mau ke Jogja. Naik Adam Air yang jam 15.50. Eh, delay satu jam.

What's Up?

Rabu, 10 Mei 2006, 18.30 Wib



Keterangan Foto : Saya ketika memimpin Pembinaan Bersama Persekutuan Mahasiswa Kristen, Institut Pertanian Bogor (PMK-IPB).

PMK-IPB memiliki delapan Komisi. Tiga Komisi pelayanan keluar. Komisi Pelayanan Siswa (KPS) yang melayani dengan menjadi guru agama Kristen di beberapa SMU dan SMP Negeri di Bogor, Komisi Pelayanan Anak (KPA) yang melayani beberapa panti asuhan dan sekolah minggu di bogor, Komisi Diaspora yang melayani jemaat desa terpencil seputar Bogor. Lima Komisi pelayanan ke dalam. Komisi Pelayanan Khusus (Kopelkhu) yang melayani sebagai pemerhati mahasiswa Kristen di IPB, Komisi Kesenian yang menampung talenta para mahasiswa kristen IPB di bidang seni, Komisi Persekutuan (Kompers) yang melayani semua kegiatan persekutuan mahasiswa di IPB, Komisi Pembinaan Pemuridan yang melayani pembinaan, dan Komisi Literatur (Komlit) yang melayani bidang perpustakaan, buletin anggur baru, web site dan publikasi.

PMK-IPB rutin mengadakan pembinaan untuk setiap komisi dan pembinaan bulanan. "Sumber daya" tersedia: kerinduan melayani sangat besar, tenaga siap pakai, ladang pelayanan. Mereka butuh pembinaan yang berkesinambungan. Kesulitan mencari pembicara karena jarak yang jauh dan jalanan yang macet-cet pula disiasati mereka dengan pemberdayaan alumni. Saya memiliki kerinduan untuk terlibat dalam pembinaan mereka. Bravo PMK IPB.

Rekomendasi

Seawalker

Nice experience. Ada di antara ikan-ikan. Besar kecil. Melihat dan "menyentuh" terumbu karang. Pemadangan dasar laut memang menakjubkan. Tenang. Penuh misteri. How Great Thou Art!

Bagi yang pengen tau more... Silahkan..... atau hubungi 0361- 281408

My Rating :
o Kudu dicoba
o Asyik
o Lumayan
o Ga lagi-lagi, deh...

Catatan Harian

Day - 326


Semalam nonton Teater Koma. Festival Topeng. Di Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki. Karya dan sutradara Budi Ros. Bagus. Cerita dan pementasannya oke. Khas Teater Koma. Hanya dibanding lakon-lakon yang lalu, guyonan dan sindirannya ga gitu greget. Saya terakhir nonton Teater Koma 12 tahun lalu. Lakon Semar Gugat. Beberapa pemainnya ikut main juga di Festival Topeng. Kayak Salim Bungsu, Dorias Pribadi, dan Sari Madjid. Yang jadi Semar-nya Budi Ros. Yang saya kepengen nonton dari Teater Koma tuh Sampek Engtay dan Republik Togog. Tapi ga kesampaian.

Pagi-pagi saya ditelepon. Baru nyalain komputer. Ada anggota jemaat yang meninggal. Seorang bapak. Usianya belum 55 tahun. Saya ngelayat. Kemarin malam katanya, ia masih ngobrol dengan istri dan adik-adiknya. Biasa saja. Ga ada tanda-tanda. Eh, paginya mendadak meninggal. Serangan jantung.

Hidup kita emang ga pasti. Kita berada di bawah bayang-bayang kematian. Kapan pun. Di mana pun. Dan dengan cara apa pun. Kalau sudah waktunya, ga bisa ga. Ga bisa dielakkan. Maka, “berjaga-jaga” itu perlu. Kita harus selalu siap sedia. Sebab kita kan ga tahu kapan. Tapi pasti akan tiba waktunya.

Siang dijemput Pak Binsar. Sudah janjian. Mau ngobrolin tentang tesis. Lusa saya maju sidang tesis. Semacam “pembekalan terakhir”. Pak Binsar ini “pembimbing ga resmi” untuk urusan tesis. Kita sambil makan di JP Bistro, Hotel Aryaduta. Asyik. Makanannya enak-enak. Sepuasnya lagi. Cuma ya, betapa pun enak dan melimpahnya, perut kan tetap ada batasnya. Pulang ke rumah menjelang sore. Langsung siap-siap ke Bogor. Pimpin pembinaan bersama Persekutuan Mahasiswa Kristen IPB.

Wednesday, May 10, 2006

What's Up?

Jakarta, Selasa, 9 Mei 2006, 14.00Wib



Keterangan Foto : Saya dan Dewi bersama Direktur Eksekutif dan Pengurus Yayasan Mitra Netra Jakarta

Yayasan Mitra Netra adalah lembaga yang bergerak di bidang pendidikan dan pengembangan tunanetra. Beberapa program antara lain: Kursus membaca huruf braille, penerbitan buku-buku braille dan "buku berbicara" (talking book), pelatihan dan pemberdayaan para tunanetra. Mottonya: Melihat dengan jari tangan. Program terbaru mereka adalah menerbitkan 1000 buku umum dengan huruf braille. Bekerja sama dengan penerbit dan pengarang. Selama ini yang diterbitkan hanya buku-buku pelajaran. Biaya dan tenaga yang dikeluarkan cukup besar karena itu dibutuhkan banyak pendukung.

Saya menyumbang empat buku saya: Ngejomblo Itu Nikmat, Tragedi dan Komedi, Bila Cinta Menyapa, dan Pacaran Ada Sebalnya, untuk di-translate ke huruf braille. Jadi keempat buku tersebut dalam waktu dekat dapat dinikmati oleh saudara-saudara kita penyandang tuna netra. Banyak hal lain yang bisa kita lakukan buat membantu saudara-saudara yang berada dalam "kegelapan" (arti yang sebenarnya loh, bukan kiasan) tersebut bisa dengan dana bisa dengan tenaga.

Ingin tau lebih banyak tentang mereka. Atau, silahkan kontak Ibu Indah Intantila dan Bp. Firdaus di Yayasan Mitra Netra (021) 7651386, intantila@mitranetra.or.id, firdaus@mitranetra.or.id.


Tuesday, May 09, 2006

Tuesday's Song - 03

BAPA YANG KEKAL
(Penyanyi: Franky Sihombing)


Kasih yang sempurna telah ku t’rima dari-Mu
Bukan karna kebaikanku
Hanya oleh kasih karunia-Mu, Kau pulihkan aku
Layakkanku ‘tuk dapat memanggil-Mu Bapa

Reff:
Kau b’ri yang kupinta.
Saat kumencari kumendapatkan
Ku ketuk pintu-Mu dan Kau bukakan.
S’bab Kau Bapaku, Bapa yang kekal.
Tak ‘kan Kau biarkan aku melangkah hanya sendirian
Kau selalu ada bagiku s’bab Kau Bapaku,
Bapa yang kekal

Renungan:
Kita adalah insan yang berharga di mata Tuhan. Untuk kita Dia mau berkorban begitu rupa. Maka jangan kecil hati. Jangan patah semangat. Jangan takut. Kita tidak pernah berjalan sendiri mengarungi lautan kehidupan ini. Tangan Tuhan tidak kurang panjang menopang kita. Kasih Tuhan tidak kurang lebar menaungi kita. Tetapi harus kita ingat pula, keberhargaan kita semata-mata karena kasih karunia Tuhan. Bukan karena kebaikan atau kehebatan kita. Maka, tidak pada tempatnya juga kalau kemudian kita menjadi sombong. Merasa paling benar. Paling baik. Aslinya kita ini dari debu tanah. Tuhanlah yang membuat kita berharga. Segala kemuliaan bagi Tuhan.

Catatan Harian

Day - 327

Pagi pimpin persekutuan lansia di GKI Kelapa Cengkir. Pelayanan lansia di GKI Kelapa Cengkir tuh “bagus”. Hidup. Persekutuannya seminggu sekali. Tiap hari Selasa. Banyak lansia dari gereja lain yang biasa ikut. Tadi yang hadir sekitar 80 orang-an. Dari jumlah itu opanya hanya dua orang. Ini petunjuk wanita lebih panjang usinya daripada pria? Bisa jadi :). Di persekutuan lansia pokok doa syafaatnya mesti deh banyak. Yang umum kayak pemerintah, bencana alam, dan pelayanan gereja. Dan yang khusus permintaan pribadi; mulai dari sakit tangan sampai batuk pilek, mulai dari susah tidur sampai cucu yang nonton TV melulu. Nah, tadi untuk yang khusus saja ada 24 pokok doa. Belum yang berulang tahun.

Siang ke Mitra Netra di daerah Lebak Bulus. Mitra Netra tuh yayasan rehabilitasi dan pendidikan para tunanetra. Mereka sedang punya program: “Seribu Buku Untuk Tunanetra”. Penerbitan 1000 buah buku umum diluar buku pelajaran dengan huruf braille. Saya menyumbang empat buku saya: Tragedi dan Komedi, Bila Cinta Menyapa, Pacaran Ada Sebalnya, dan Ngejomblo Itu Nikmat. Buku-buku itu nantinya bisa diakses di http://www.kebi.or.id.

Dulu waktu remaja, saya pernah beberapa kali jadi pembaca buku bagi para cacat netra di Wyata Guna Bandung. Sekarang teknologi lebih canggih. Mereka punya software yang bisa langsung meng-convert naskah dari huruf latin ke huruf braille. Saya sempet melihat pra-produksinya.

Membaca huruf braille caranya dengan meraba pakai jari tangan. Dibutuhkan kepekaan luar biasa. Ada satu orang yang memperagakan membaca huruf braille. Saya kagum sekali sekali. Teman saya sampai bilang, Tuhan maha adil. Mengambil yang satu, memberi yang lain. Pulang dari Mitra Netra saya dan teman-teman berjanji akan berbuat lebih buat yayasan ini. Minimal menyebarkan informasi tentang mereka. Atau mencarikan donatur. Saya percaya banyak koq orang yang sebetulnya mau nyumbang, tapi ga tahu kemana.

Monday, May 08, 2006

Catatan Harian

Day - 328


Pagi saya nengok Hendry. Anggota jemaat. Ia kena demam berdarah. Dirawat di Rumah Sakit Mitra Gading. Sekalian saya bawakan ia buku saya: “Di Manakah Allah Saat Aku Menderita?” Di Jakarta kasus demam berdarah kayaknya ga berhenti-berhenti deh. Ada saja yang kena. Ga tua, ga muda.

Hendry tuh murid katekisasi dulu. Ia baru menikah bulan Pebruari lalu di Gereja Khatedral. Istrinya dari keluarga Katolik. Saya dan Romo Andi yang melayani pemberkatan dan peneguhan nikahnya. Romo Andi masih muda. Ia dan saya ternyata pernah sama-sama kuliah di STF Driyarkara. Waktu saya ambil matrikulasi untuk masuk S2. Tapi selesai matrikulasi saya ga lanjut ke S2.

Saya senang dengan suasana Khatedral. Rasanya “agung” gitu. Baru masuk saja sudah terasa “khusuk”. Saya kira itu kelebihan gereja-gereja Katolik. Membangun gedung gereja baiknya emang ga sekadar memperhatikan “penampakan luar” dan fungsinya semata. Tapi juga makna dan “aspek spiritualnya”. Jadi yang dilibatkan jangan hanya ahli bangunan, tapi juga ahli teologi.

Siang ke Serpong. Nengokin papa. Papa dari Bandung. Sudah beberapa hari ini ada di rumah kakak. Jalan tol macet. Bener-bener deh Jakarta. Siang hari bolong macet juga. Jadi bukan hanya ga ada hari tanpa macet, tapi juga ga ada jam tanpa macet. Papa saya tuh boleh dibilang contoh orang yang “terkubur” karena kejujuran. Hidup ini penuh ironi. Ada orang yang jujur malah "terkubur, sedang orang yang ga jujur hidupnya makmur.

Sunday, May 07, 2006

Catatan Harian

Day - 329

Hari ini pagi harusnya saya khotbah di GKI Puri Indah. Dua kali. Jam 6.30 dan 8.30. Sudah diminta beberapa bulan sebelumnya. Tapi sekitar bulan lalu Pos Jemaat Kota Wisata katanya ga ada pengkhotbah. Padahal minggu pertama tuh jadwalnya pengkhotbah dalam. Yang lain pada ga bisa. Jadi okelah saya.

Sudah jadi komitmen bersama mendahulukan tugas di dalam. Dan saling “nutup”. Jadi kalau ada tugas di dalam yang ga terhindarkan, siapa yang bisa harus handle. Lagipula pikiran saya, ini mungkin akan jadi khotbah terakhir saya di Pos Kota Wisata. Malah dengan salah seorang pengurusnya waktu saya pimpin PA di sana tempo hari, saya sudah bicara soal acara perpisahan.

Saya telepon GKI Puri Indah. Bisa ga tugas saya digeser ke minggu lain. Kalau ga bisa, saya akan carikan pengganti. Karena waktunya masih sebulan, mereka bilang akan cari sendiri pengganti. Jadi di agenda saya jadwal hari minggu ini khotbah di Pos Kota Wisata. Tapi entah mis-nya dimana, tahu-tahu pengurus Pos Kota Wisata minggu lalu sudah mencari pengkhotbah luar. Ia katanya dapat info dari sekretariat gereja, semua pengkhotbah dalam ga bisa. Ya sudah. Masak pengkhotbah luar yang sudah dihubungi dibatalin. Pula, saya kan ga bisa juga ngotot harus khotbah di sana :). Jadi saya ga tugas di mana-mana. Mis-kom kayak gini ini nih yang sering bikin gak enak. Bikin masalah pada apa yang bukan masalah, nambah masalah pada apa yang sudah jadi maslah. Walau mungkin ga sengaja.

Siang pimpin Bina Atestan. Ada sekitar 30 orang-an. Di GKI Kayu Putih buat para anggota jemaat baru pindahan dari gereja lain biasa dilakukan pembinaan. Materinya seputar GKI secara umum; sekilas sejarah GKI, latar belakang tradisi, tata gereja, tata tertib. Juga seputar GKI kayu Putih; organisasinya, kegiatan-kegiatannya, lalu kalau perlu ini dan itu bagaimana.

Saturday, May 06, 2006

Catatan Harian

Day - 330


Kemarin sampai di rumah jam 19-an. Jalan dari bandara macet. Sempet turun tol di Tanjung Priok. Tapi malah lebih macet. Ampun deh. Jadi muter. Masuk tol lagi. Walau macet, tol lumayanlah masih jalan.

Pagi sampai siang pimpin Bina Khotbah di Persekutuan Mahasiswa Teologi Asal GKI Jabar di STT Jakarta. 20-an mahasiswa yang ikut. Dibanding angkatan saya dulu, rasanya angkatan ini lebih punya “harapan” deh :). Kesungguhan, kelakuan, dan kemauan untuk berkembang good. Mereka minta Bina Khotbah dilakukan satu atau dua kali lagi. Saya sih oke saja.

Ada satu mahasiswa yang rupanya mengoleksi semua buku saya. Bahkan ada satu buku yang saya sendiri sudah ga punya. Ia sengaja bawa buku-buku itu. Minta tanda tangan saya. Hehehe jadi terharu :). Jujur, saya suka “risih” kalau ada orang yang punya buku saya, terus minta bukunya saya tanda tangani. Rasanya minder. Emangnya saya ini siapa gitu?!! Buku-buku saya juga toh cuma buku ringan. Bukan buku yang putut “dihargai” segitunya.

Siang tadinya mau terus ke Bandung. Survei tempat acara kebersamaan Demuda. Tapi ga jadi karena beberapa orang ga bisa. Ya sudah. Saya ajak Kezia dan Karen ke Mal Arta Gading. Main di Amazone sebentar. Terus ke Gramedia. Dewi paduan suara di gereja. Saya sariawan berat nih. Makan sakit. Malam ada kondangan perninkahan di Le Meridien Sudirman

Renungan Sabtu - 03

Yonatan


Ada banyak tokoh dalam Perjanjian Lama yang dapat disebut sebagai pemimpin besar, terlepas dari segala kekurangan dan kelemahannya. Sebut saja misalnya Musa, Yosua, Debora, dan Gideon. Mereka adalah pahlawan di zamannya masing-masing. Satu lagi tokoh yang juga patut diketengahkan di sini adalah: Yonatan.

Memang, seumpama dalam film, Yonatan bukanlah tokoh utama. Perannya kalah pamor dibanding Daud. Atau bahkan Saul, ayahnya. Kitab 1 Samuel yang memuat kisahnya, lebih banyak menyoroti Daud dan Saul. Boleh dikata peran Yonatan hanyanya peran pembantu.

Namun toh Yonatan mempunyai reputasi yang baik; suatu hal yang perlu dimiliki oleh pemimpin di mana pun. Bahkan bisa jadi reputasinya itu juga lebih baik dibanding Daud dan Saul.

Daud memang Raja Israel yang sangat cemerlang. Ia berhasil mempersatukan seluruh Israel Raya. Tapi perbuatannya menghamili Batsyeba dan kemudian merekayasa kematian Uria, suami Batsyeba, prajuritnya yang setia, benar-benar telah mencoreng reputasinya.

Sedang Saul, lebih lagi. Betul, ia adalah Raja Israel yang pertama, tetapi iri hati dan kedengkiannya terhadap Daud telah menjerumuskannya ke dalam tindakan-tindakan amat tercela.

Lebih dari itu Yonatan juga memiliki karakter yang baik untuk menjadi seorang pemimpin. Ia seorang yang objektif; benar ya benar, salah ya salah. Ia tahu betul dalam konfliknya dengan Daud, Saullah yang salah. Kecemburuan Saul terhadap keberhasilan Daud telah membutakan akal sehat dan nurani Saul. Sehingga Saul sangat membenci dan ingin menyingkirkan Daud.

Dan Yonatan tidak tinggal diam. Sekalipun Saul adalah ayahnya, kalau salah ya tetap salah. “Mengapa ia harus mati? Apa yang dilakukannya?” tanyanya kepada Saul (1 Samuel 20:32).
Lawan dari objektif adalah subjektif; mencampuradukkan penilaian dengan perasaan pribadi. Benar dan salah, baik dan buruk, lebih ditentukan oleh perasaan suka dan tidak suka. Atau oleh kedekatan hubungan (= perkoncoan).

Kalau seseorang itu disukai atau kerabat dekat, dianggapnya selalu benar; seakan ia tidak ada celanya, lalu dibela mati-matian. Tapi sebaliknya kalau seseorang itu tidak disukai, dan tidak punya hubungan apa-apa, dianggapnya selalu salah; seakan dalam diri orang itu tidak ada kebaikannya sama sekali, lalu dicela habis-habisan. Orang yang subjektif tidak layak menjadi pemimpin.
*
Yonatan adalah seorang yang setia. Ia memang sama sekali tidak menyetujui sikap Saul terhadap Daud. Dalam sebuah perjamuan mereka bertengkar hebat. Keduanya sama-sama marah. Saul tidak dapat mengendalikan diri, ia lantas melemparkan tombak ke arah Yonatan. Dan Yonatan meninggalkan perjamuan itu dengan kemarahan yang menyala-nyala (1 Samuel 20:33-34). Selain tentunya ia juga sedih menerima perlakuan Saul begitu.

Namun toh Yonatan tidak meninggalkan ayahnya itu. Sekalipun kalau mau bisa saja ia pergi dan tidak peduli lagi dengan Saul. Bahkan ketika kekuasaan Saul mulai runtuh dan kehancuran sudah di depan mata, Yonatan tetap bersama-sama dengan Saul. Sampai akhir hayatnya Yonatan tidak pernah jauh Saul. Mereka sama-sama mati dalam peperangan (1 Samuel 31:1-4).
*
Yonatan juga bukan seorang yang haus kekuasaan. Saul membenci Daud selain karena iri hati, rupanya juga karena alasan lain. Dan alasan itu ada kaitannya dengan Yonatan. “Sebab sesungguhnya selama anak Isai itu hidup di muka bumi, engkau dan kerajaanmu tidak akan kokoh,” begitu Saul berkata (1 Samuel 20:31).

Dengan kata lain, Saul mempunyai harapan besar kelak Yonatanlah yang akan menggantikan kedudukannnya sebagai raja. Tapi ternyata Daud sangat populer. Di mata rakyat kepahlawanan Daud benar-benar telah menjadi legenda. Hal itu jelas bisa jadi ancaman besar bagi Yonatan. Maka, tidak ada jalan lain satu-satunya cara Daud harus disingkirkan.

Di dunia ini dari dulu sampai sekarang ada banyak pemimpin seperti Saul. Yang hanya memikirkan kekuasaan dan kepentingan pribadi. Yang membutakan diri terhadap kenyataan, bahwa ada orang lain yang lebih potensial dan lebih pantas. Yang malah melihat orang-orang itu sebagai ancaman. Yang lalu dengan cara halus maupun kasar berusaha menyingkirkannya. Yonatan tidak demikian. Ia tidak silau dengan jabatan dan kekuasaan. Karenanya ia tidak kehilangan objektifitasnya.

Andai saja semua pemimpin di dunia ini seperti Yonatan, betapa akan damainya dunia ini. Minimal tidak akan seburuk sekarang. Sebab tidak dapat disangkal, hal-hal buruk yang terjadi di muka bumi ini paling banyak disumbangkan oleh para pemimpin yang buruk.

***
Dari: Bersyukur Itu Indah - Ayub Yahya

Friday, May 05, 2006

Friday's Joke - 02


Topi


Pipin, 4 tahun, sangat dimanja oleh neneknya. Apa yang diinginkannya selalu nenek penuhi. Dari mainan sampai pakaian, dari makanan sampai buku.

Suatu malam sebelum tidur, Pipin berdoa. Suaranya keras sekali. “Tuhan, Pipin ingin sekali punya topi bergambar Winnie the Pooh dan teman-temannya. Tolong Pipin mendapatkannya. Amin.”

Ibu Pipin menegur, “Pipin, kalau berdoa tidak usah keras-keras begitu. Cukup dalam hati saja. Tuhan pasti dengar kok.”

“Tuhan memang dengar, Bu, tapi apa nenek juga dengar?” sahut Pipin.

Ayah's quote :
Sadar atau tidak, kerap kita berdoa dengan hati dan pikiran yang tertuju kepada manusia. Bukan kepada Tuhan. Maka, jangan heran kalau ada orang yang katanya tidak bisa berdoa di depan umum. Yang celaka, kalau doa tuh dijadikan alat untuk mengritik dan mempermalukan orang lain.

Catatan Harian

Day - 331


Kemarin malam acara penutupan. See you, rekans. Secara umum konven "Pesona Bali" ini okelah. Terutama Bali-nya :). Yang kurang oke tuh acaranya. Ini bukan cuma pendapat saya loh. Lebih besar pasak dari tiang. Saya pulang naik garuda jam 15.00. Tadinya saya mau geser ke kemaren malam atau tadi pagi. Tapi ga bisa. Tiketnya fix date. Ya udah.

Ada anggota jemaat punya saudara di Bali. Ia ngasih pinjam mobil dan sopir. Bersama beberapa teman jalan-jalan ke Ubud. Ke Museum Antonio Blanco. Bagus. Tempatnya oke. Lukisan-lukisannya juga oke. Antonio Blanco tuh pelukis asal Spanyol. Menetap di Bali sejak tahun 1950-an. Menikah dengan wanita Bali. Salah satu anaknya, Mario Blanco juga pelukis. Bedanya Antonio aliran ekspresionis romantis. Ia banyak melukis wanita telanjang. Tapi ga porno loh. Konon itu wujud hormat dan kagum ia terhadap wanita. Sedang Mario aliran naturalis romantis. Ia banyak melukis benda-benda alamiah kayak buah dan hewan.

Saya senang tuh tempat macam Museum Antonio Blanco. Inspiratif dan aspiratif. Saya bermimpi suatu saat punya tempat peristirahatan seperti itu. Jauh dari keramaian. Dikelilingi sawah. Pemadangan oke. Ada perpustakaan pribadi. Ada home theater. Seperangkat komputer dengan akses internet. Saya bisa menulis dan membaca dengan tenang dan nyaman. Asyik banget.

Terus kita ke Joger. Benar-benar kreatif tuh pencetus Joger. Salut. Salut. Salut. Pabrik kata-kata. Jualan kata-kata unik dan provokatif. Di t-shirt. Di pernak-pernik. Dari Joger terus ke bandara. Good bye, Bali.

Thursday, May 04, 2006

Catatan Harian

Day - 332


Hari ini acara jalan-jalan. Panitia nyediain beberapa bis. Rutenya Galuh, Tirta Empul, Kintamani, Ubud dan terakhir Tanah Lot. Seharian. Tapi yang punya acara sendiri cukup banyak juga. Saya termasuk yang punya acara sendiri. Habis kalo ikut rombongan acaranya dipadat-padatkan gitu. Ga akan nikmatin deh. Kayak “ngejar setoran”. Cuma sekilas-sekilas. Tempat ini begini. Tempat itu begitu. Terus foto-foto. Belanja. Selesai.

Just explore not experience. Hanya tau tapi ga “ngalami”. Jadinya ga “mengendap”. Apalagi dengan rombongan besar. Para Pendeta lagi :). Ngatur rombongan pendeta yang sudah biasa ngatur lebih ga gampang loh. Acara-acara indoor saja banyak terlambatnya hehehe.

Saya bersama Juswan. Kita ke Seawalker di daerah Sanur. Saya tau dari teman. Teman saya tau dari majalah. Namanya Seawalker karena betul-betul jalan kaki di dasar laut. Dalamnya sekitar 6 meter. Lamanya 30 menitan. Setiap orang pake helm beroksigen. Asyik loh. Ada pemandunya. Ngasih makan ikan. Dikerubungi ikan-ikan. Besar kecil. Lihat dari dekat dan “sentuh” terumbu karang. Asli nice experience. Pengennya sih berlama-lama. Saya suka pemandangan bawah laut. Rasanya tenang. Dan penuh misteri.

Makan siang bareng beberapa orang Jepang. Selesai makan, ada satu orang dari mereka yang mau merokok. Ia tanya kita, keberatan ga kalo ia merokok. Saya bilang keberatan. Ia ga jadi merokok. Perasaan di Indonesia jarang ada deh sopan santun gitu:). Elo mo terganggu mo kagak, yang ngerokok gue ini. Duit, duit gue. Mulut, mulut gue. Buhhhh!!

Wednesday, May 03, 2006

Catatan Harian

Day - 333


Pagi hujan deras. Acara mulai jam 7.30. Ibadah pagi. Saya koq ngerasa konven ini kayak persidangan deh. Materinya “berat”. “Formal”. Serasa “di awang-awang” :). Sesi yang sore lumayan “mendarat”. Menurut saya baiknya konven tuh yang “ringan-ringan” sajalah. Acara kebersamaan, keakraban, tukar informasi, sharing, saling kenal. 250 lebih pendeta, ga semua saling kenal loh. Walau sama-sama GKI. Apalagi acara “temu akbar” begini jarang-jarang. Ga lima tahun sekali. Salah satu “masalah” dalam kependetaan kan kerekanan.

Di Bali lagi hari raya Galungan. Toko-toko pada tutup. Jalanan agak sepi. Yang ramai pura-pura tempat beribadah. Dalam tradisi Hindu, Galungan adalah hari kemenangan darma atas adarma. Kebaikan atas kejahatan.

Siang dengan Juswan ke pantai Kuta. Duduk-duduk ngobrol di bawah pohon. Sinar matahari panas banget. Juswan tuh high quality jomblo :). Hehehe, aneh ya. High quality koq jomblo :). Sebagai pendeta ia punya banyak kelebihan; pintar musik, tahu banyak tentang liturgi dan peribadahan, jago komputer pula. Ia S-1 komputer, sebelum masuk sekolah teologi. Beruntung deh jemaat dimana ia jadi pendeta-nya. Emang baiknya sih seorang pendeta punya spesialisasi atau ketrampilan laen. Kayak Juswan.

Di pantai Kuta ngelihat orang-orang lagi surfing asyik banget. Jadi pengen belajar :). Kayaknya ga susah. Saya lihat ada seorang bule yang nyewa papan selancar terus diajarin kilat. Ga sejam ia udah bisa nyeluncur gitu. Suatu saat nanti deh.

Tuesday, May 02, 2006

Catatan Harian

Day - 334



Berangkat ke Bali. Konven pendeta GKI. Naik Garuda jam 9.20. Di bandara Cengkareng ketemu banyak teman pendeta. Tiga dari lima teman pendeta yang papasan nanya: “Jadi pindah? Kapan berangkat?”. Duh! Pengen deh rasanya bikin tulisan di karton, lalu di gantung di leher, “Pindah? Jadi. Kapan? Belum tau pastinya!”.

Saya bisa bayangin “be-te-nya” orang yang misalnya lagi sakit. Dirawat di Rumah Sakit. Terus tiap kali dikunjungi ditanya, “Sakit apa? Sudah berapa lama?”. Atau suami isteri yang sudah beberapa tahun menikah, tiap kali ketemu temannya ditanya, ”Anaknya berapa? Laki-laki atau perempuan?”. Puffz.

So, kalo mau tanya-tanya, apalagi cuma basa-basi, pikir dulu deh. Jangan malah bikin orang “be-te”. Lebih baik tanya yang laen-lah. Tentang buku baru kek. Film bagus kek. Atau tentang hobi. Tentang gereja. Tentang kejadian-kejadian yang lagi hangat. Atau apalah. Yang penting ga klise. Dan ga bikin “be te”.

Di Bali nginap di hotel Kuta Paradiso. Asyik. Ada lebih dari 250 orang pendeta dan penatua calon pendeta yang ikut. I like Bali. Ngerasain “aroma” Bali saja sudah “kesengsem” :). Saya terlambat ikut acara pembukaan. Mulainya jam 17.00. Saya lupa Bali dan Jakarta beda satu jam. Jam di handphone saya masih pake WIB :).

Tuesday's Song - 02

Tersembunyi Ujung Jalan
Kidung Jemaat 416

(Lagu : John Zundel 1870, Syair : wat de toekomst brengen moge, Jacqueline van der Waals 1863-1922, terjemahan I.S. Kijne 1899-1970)

Tersembunyi ujung jalan, hampir atau masih jauh;
'ku dibimbing tangan Tuhan ke neg'ri yang tak 'ku tahu.
Bapa ajar aku ikut, apa juga maksudMU,
tak bersangsi atau takut, beriman tetap teguh.

Meski LangkahMU semua tersembunyi bagiku,
hatiku menurut jua dan memuji kasihMU,
Meski kini tak 'ku nampak, nantiku berbahagia
apabila t'rangMU tampak, dengan kemuliaannya

Tuhan, janganlah biarkan, kutentukan nasibku.
B'rilah hanya kudengarkan, keputusan hikmatMU.
Aku ini pun selaku, kanak-kanak yang bebal
Bapa jua bimbing aku ke kehidupan kekal.


Renungan :
Kita tidak tau masa depan. Apa yang akan terjadi dan kita alami tidak jelas. Mungkin hujan. Mungkin panas. Tersembunyi. Maka, jangan jauh-jauh dari Tuhan. Supaya peka dengan tuntunan dan petunjukNya. Tak selalu memang kehendakNya sesuai kehendak kita. Kita taat saja. Patuh. Jangan sangsi. Dia adalah Tuhan yang bertanggung jawab.

Catatan Harian

Day - 335


Baca koran Kompas. Pramoedya Ananta Toer meninggal dunia. Hari Minggu kemarin. Jam 9. Usia 81 tahun. Ia penulis hebat. Tapi banyak “tersia-siakan”. Tetraloginya: Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Rumah Kaca, dan Jejak Langkah, sudah diterjemahkan ke dalam puluhan bahasa. Selamat jalan, Pak Pram.

Jam 8.30 pimpin persekutuan karyawan PT Media Interaksi Utama. Yang nerbitin koran Suara Pembaruan. Saya pernah “praktek” di Suara Pembaruan. Dua minggu. Waktu kuliah tingkat tiga. Berdua dengan Yanti Rusli, yang sekarang pendeta di Bandung. Nginepnya di Guest House STT Jakarta. Pulang pergi naik mikrolet. Jalan kaki ke depan RS Carolus. Terus naik M01. Turun di Kampung Melayu. Lanjut dengan M16.
Siang saya nonton di TV demontrasi buruh di seputar Bundaran Hotel Indonesia. Dalam beberapa kasus buruh emang “kasihan”. Gaji kecil. Tunjangan-tunjangan kayak kesehatan dan perumahan minim. Tapi dalam beberapa kasus lain pengusaha juga susah. Aturan yang ga “tegas”. Biaya-biaya “siluman”. Idealnya pemerintah ambil peran lebih aktif dan positif. Jangan cuma mau “ngeruk” pajak. Mungkin seperti di Cina. Industri di Cina sekarang maju luar biasa .

Bersama Dewi dan beberapa teman nonton Munich. Steven Spielberg. Di XXI Kelapa Gading. Film panjang. Banyak dialog. Tiga jam. Ngantuk. Mungkin juga karena jam tidur. Saya sempat tertidur sebentar. Intinya film itu hendak menunjukkan, kekerasan bila dilawan dengan kekerasan hanya akan melahirkan kekerasan baru.

Malam ketemu Frida bersama Budi dan Lidya. Makan seafood. Budi dan Lidya “warga” Gereja Presbitarian Bukit Batok, Singapura. Mereka lagi di Indonesia. Terus ketemu Franklin di rumahnya. Bicarain skenario film. Sempet lihat potongan film-film ia. Pulang hampir tengah malam. Besok ke Bali. Belum beres-beres nih. Helppp!!!