Sunday, August 13, 2006

Catatan Harian

Day - 234

Kamis, 10 Agustus 2006 -- Pagi berenang dengan Kezia dan Karen. Hari ini mereka masih libur sekolah. Saya ke kantor agak siangan. Rasanya sudah agak lama saya ga berenang bareng Kezia dan Karen. Waktunya susah “ketemu”. Dulu ketika di Jakarta waktu bersama relatif lebih banyak. Kolam renangnya yang “susah” :).

Di Jakarta kalau jalan paling ke mall. Di sini banyak sekali sarana buat bermain bersama keluarga; baik di dalam, maupun di luar apartemen. Cuma ya itu, waktunya yang susah. Kita harus pandai-pandai “menyediakan” waktu, memilih dan memilah pioritas. Kalau ga bisa-bisa kita asyik dengan kesibukan sendiri-sendiri. Ga punya waktu buat keluarga.

Jam 11 ke West Mall. Bersama Dewi, Kezia dan Karen. Janji ketemu teman. Sudah lama pengen ketemu, ga bisa-bisa. Teman kita tuh sudah lama tinggal di Singapore. 6-7 tahun. Anaknya waktu ke sini umur setahun-an. Sehari-hari bahasa Inggris, bahasa Indonesianya jadi ga gitu lancar. Salah satu pergumulan keluarga-keluarga Indonesia yang lama tinggal di luar negeri tuh bahasa anak-anak. Banyak anak-anak yang karena sejak kecil tinggal atau bahkan lahir di luar negeri, bahasa Indonesianya jadi ga lancar. Giliran mereka harus kembali ke Indonesia kelabakan.

Maka ga sedikit keluarga yang akhirnya memilih menetap di luar negeri. Walau tetap warga Negara Indonesia. Permanent Resident. Tapi ada loh teman saya yang anaknya besar di Singapura. Tapi bahasa Indonesianya tuh anak bagus. Bahasa Inggrisnya juga fasih. Kata teman saya itu sih, ia strict di rumah pakai bahasa Indonesia. Bagus juga begitu. Minimal anak jadi punya kemampuan berbahasa lebih dari satu. Dan juga, ia jadi tidak melupakan "akar-nya”.

LAGI PENGUMUMAN

Rekans,

Kabar baik. Saya mendapat beberapa pertanyaan perihal berhentinya blog ini. Baik langsung mau pun via SMS dan imel. Saya memutuskan menghentikan blog ini karena kesulitan tehnis. Beberapa teman kemudian memberi masukan. Tidak hanya itu, ada juga yang menawarkan diri membantu mengatasi kendala tehnis tersebut. Gayung bersambut.

Mudah-mudahaan dalam waktu dekat blog bisa lanjut lagi. Walau dengan "tampilan" and "isi" yang sedikit berbeda. Semoga.

Thanks atas perhatiannya.

AYUB YAHYA.

Friday, August 11, 2006

PENGUMUMAN

Rekans,

Ga kerasa blog ini sudah lima bulan “mengudara”. 11 Maret sampai 11 Agustus. Dalam kurun waktu tersebut menurut terakhir dari Site Meter (9 Agustus jam 10.56) blog ini telah dikunjungi 6.961 kali, dengan rata-rata perhari 82 kali. Hari ini 90 kali. Dan minggu ini 572 kali. Pengunjung paling banyak berasal dari Indonesia dan Singapore. Lainnya dari Jerman, USA, Australia, Inggris, Swedia, India, dll. Sebagian mungkin karena “kesasar” :)). Sebagian lagi sengaja tapi cuma iseng. Tapi ada beberapa juga yang bilang rutin buka setiap hari. Teknologi bisa menyatukan orang dari mana-mana.

Sekarang saya mohon PAMIT. Saya ga bisa lagi melanjutkan blog ini. Terima kasih atas komen, diskusi, dan waktu yang disediakan untuk sekadar “mampir”. Mohon maaf apabila ada yang tidak berkenan. Sampai bertemu lagi.


AYUB YAHYA

Wednesday, August 09, 2006

Catatan Harian

Day - 235

Tadi pagi berdua Dewi ngelawat yang sakit. Oom dari salah seorang pemuda GPBB. Ia baru dua minggu di Singapore. Sedang berobat di Gleneagles. Katanya kanker pita suara. Sudah berobat di rumah sakit di Jakarta. Ditangani salah seorang professor di rumah sakit itu. Langsung divonis harus operasi angkat pita suara. Ia keberatan. Lalu berobat di Singapore. Ternyata menurut dokter sini cukup diradiasi plus kemo. Kemungkinan sembuh 90 persen. Ia tunjukin hasil biopsy dari rumah sakit di Jakarta tersebut. Hanya tiga baris. Sampai dokter di sini geleng-geleng. Ga bisa diagnosa apa-apa. Karena ibarat sebuah laporan, ga ada kepala ga ada ekor. Akhirnya ia di-biposi ulang. Hasilnya sampai dua lembar katanya. Ia menceritakan pengalamannya itu dengan kejengkelan terpendam terhadap dokternya di Jakarta.

Ia bilang, di bagian oncology Gleneagles 90 persen pasien dari Indonesia akibat ketidak puasan terhadap dokter. Ada yang asal diagnosa. Ada yang asal operasi. Ada yang asal kasih obat. Macam-macam. Wah, wah, wah. Kalau betul begitu, yang saya bayangkan, kasihan orang-orang yang tidak punya uang. Dan tidak bisa berobat ke luar negeri. Kayak ke Singapore atau Penang Malaysia. Mereka harus menerima hasil dokter yang sangat ga bisa dipertangungjawabkan. Mungkin ini juga bisa menjawab, kenapa banyak sekali orang Indonesia yang berobat keluar negeri.

Waktu di Yogyakarta dulu saya juga pernah punya pengalaman buruk dengan dokter di rumah sakit. Dua kali. Pertama, asal diagnosa. Sampai beli obat mahal-mahal. Ga sembuh-sembuh. Diperiksa dokter lain, ternyata penyakitnya bukan itu. Kedua, dokternya "cuek bebek". Sepanjang meriksa diem terus. Waktu saya tanya kenapa, eh ia malah marah-marah. Ampun deh. Di koran saya juga kerap tuh baca keluhan terhadap dokter. Saya tahu pastilah ga semua dokter di Indonesia begitu. Di Jakarta saya kenal dokter-dokter yang baik. Tapi kalau karena nila setitik saja rusak susu sebelanga. Apalagi kalau nila "sebotol" kan. Menurut saya dokter-dokter yang "asal" tuh dosanya dua kali, terhadap pasien dan terhadap sesama dokter.

Hari ini National Day Singapore. Hari libur. Kita ada acara kebersamaan dengan remaja dan pemuda sampai sore. Sempet ikut main sepak bola futsal. Capek. Tapi asyik juga. Kebersamaan dan keakraban biasanya lebih bisa dibangun dalam acara-acara informal seperti itu. Malamnya pertemuan dengan keluarga-keluarga dalam rangka persiapan membuat buku untuk acara bulan keluarga. Pulang ke rumah Kezia dan Karen sudah tidur. Tadi pagi saya cuma sempet ketemu sebentar dengan mereka.

Wednesday's Games Idea - 10


Pilih Tantangan


Alat yang dibutuhkan : tiga uang logam, tiga cangkir kecil
Jumlah peserta : 15 - 30 orang
Waktu permainan : 15 - 30 menit
Aturan permainan :
Siapkan tiga uang logam dan tiga buah cangkir kecil. Letakkan ketiga cangkir itu di lantai dengan jarak yang berbeda; (kira-kira) dua meter, satu meter dan setengah meter. Lalu minta satu persatu atau beberapa peserta untuk melemparkan ketiga uang logam ke dalam cangkir. Mereka masing-masing boleh menentukan sendiri cangkir dengan jarak mana yang akan dilempari uang. Lihat hasilnya. Dan diskusikan: kenapa peserta ini memilih melemparkan uang ke cangkir yang paling dekat? Kenapa peserta itu memilih melemparkan uang ke cangkir yang paling jauh? Lalu Pembimbing membuat kesimpulan, bahwa dalam hidup ini kita perlu menentukan sasaran yang ingin kita capai, tetapi harus realistis. Seperti pada permainan ini; kalau memang tidak mungkin memilih cangkir yang paling jauh, ya jangan pilih itu. Tapi juga jangan yang terlalu mudah, misalnya dengan memilih cangkir paling dekat, karena itu tidak ada tantangannya.
Tujuan permainan :
Sama juga dengan kalau kita mau merumuskan cita-cita. Perlu idealis, tetapi juga sekaligus realistis. Jangan terlalu tinggi, tetapi juga jangan terlalu rendah.

Catatan Harian

Day - 236

Hari ini tadinya saya mau temeni Kezia dan Karen ke library. Kezia sekolah setengah hari. Karen masuk pagi. Jadi jam 10-an mereka sudah ada di rumah. Dari kemarin-kemarin ini mereka ngajak ke library. Saya ga sempet terus. Saya sudah bilang ke teman masuk kantor agak siang. Tapi apa mau di kata, kepala pusing banget. Ga jadi deh. Mereka ke library hanya dengan Dewi.

Agak siangan saya ke gereja. Ada teman dari Jakarta telepon. Ia katanya lagi mampir di Singapore. Tugas kantor. Cuma pulang hari. Pagi datang, sore pulang. Janjian ketemu makan di food court seberang gereja. Saya tuh senang pergi-pergi. Makanya saya suka membayangkan enaknya teman-teman yang karena tugas kantor bisa kunjungi berbagai daerah atau negara. Tapi pernah seorang teman yang sering pergi-pergi begitu malah ngeluh. Bosen dan capek, katanya. Ia bilang malah “enak” “kerjaan” yang kayak saya. Hehehe. Begitulah rumput di halaman rumah tetangga selalu kelihatan lebih hijau. Yang paling baik sih, nikmati apa yang ada kan. Setiap “tempat” ada suka dukanya sendiri.

Sore sambil tunggu rapat malamnya, saya ketemu beberapa teman pemuda. Kita ngobrol. Ada teman yang masuk sekolah guru. Jadi guru di sini sangat “di manjakan”. Sekolah dibayarin. Full. Di gaji pula. Bangsa yang maju memang biasanya sangat peduli dengan pendidikan masyarakatnya. Dua unsur penting dalam pendidikan adalah buku dan guru. Maka sejauh mana sebuah bangsa itu menghargai buku dan guru, akan sangat menentukan “kebesaran” bangsa itu. HIDUP GURU!!

Tuesday, August 08, 2006

Tuesday's Song - 15

Climb Every Mountain
(Soundtrack film "Sound of Music")
Music by Rodgers and Hammerstein

Climb every mountain, search high and low
Follow every by way, every path you know
Climb every mountain, ford every stream
Follow every rainbow, till you find your dream

A dream that will need, all the love you can give
Everyday of your life, for as long as you live

Climb every mountain, ford every stream
Follow every rainbow, till you find your dream

A dream that will need, all the love you can give
Everyday of your life, for as long as you live
Climb every mountain, ford every stream
Follow every rainbow, till you find your... dream...


Renungan :
Dalam hidup ini ada banyak gunung kehidupan, menanti kita daki. Ada banyak jeram penuh arus, menanti kita arungi. Hidup memang penuh perjuangan. Tantangan. Tugas kita adalah menaklukkannya. Menyelesaikannya hinga akhir. Semua itu ada untuk menempa kita. Demi tujuan hidup kita. Mimpi kita. Visi kita. Maka, jangan pernah menyerah. Jangan undur. Teruslah mendaki. Teruslah mengarungi. Bersama tuntunan tangan-Nya. Till you find your dream in His will.

Catatan Harian

Day - 237

Hari ini relatif nyantai. Seperti biasa hari Senin. Pagi ke gym. Olah raga. Terus berenang sama Karen. Karen sekolah siang. Terus ngetik. Nikmatnya hidup ini. Kalau pun ada yang mengurangi kenikmatan, itu adalah sariawan :). Oya, tadi waktu temenin Kezia tunggu school bus di halte, Kezia bilang, sekarang ia senang sekolah. Sudah banyak teman. Sudah bisa ikut menikmati kegiatan-kegiatan di sekolah. Kezia cerita begitu dengan wajah penuh senyum gembira. Saya senang sekali.

Siang saya dan Dewi diajak teman, suami istri, ke perpustakaan nasional di daerah Bugis. Katanya perpustakaan nasional luar biasa oke. Kita makan mie dulu, yang menurut info enak banget. Saya lupa di daerah mana. Deket China Town deh. Mie Sarawak. Dari situ jalan kaki ke China Town. Ada perlu dulu ke supermarket. Sekalian belanja. Ternyata belanjaannya lumayan banyak. Ga enak juga bawa-bawa barang belanjaan pergi ke perpustakaan. Ga jadi deh.

Malam ada pertemuan persiapan bulan keluarga di rumah. Kita rencana mau bikin buku renungan selama sebulan. Berkenaan dengan karakter keluarga. Mau melibatkan pasangan-pasangan suami istri untuk menulis. Saya dengan teman preacher yang akan edit. Kita juga sudah siapin tema-temanya. Tiap tahun sepeti juga di GKI, di GPBB ada bulan yang dikhususkan untuk keluarga. Bulan keluarga. Ini menunjukkan betapa pentingnya keluarga.

Dan memang, kebahagiaan dan penderitaan seseorang kerap kali berawal dari keluarga. Sulit membayangkan seseorang bisa bahagia, sekalipun ia sukses dalam hal karier, kalau keluarganya berantakan. Sebaliknya kalaupun mungkin persoalan mendera begitu rupa, tapi kalau keluarga kita rukun dan solid; kebahagiaan itu tetap tidak akan jauh-jauh dari kita. Pula, keluarga yang tangguh akan berdampak pada komunitas yang lebih luas. Ibu Teresa pernah bilang bahwa kedamaian dunia ini dimulai dari rumah dan keluarga yang penuh cinta.

Monday, August 07, 2006

Catatan Harian

Day - 238

Hari yang melelahkan. Tiga kali pimpin kebaktian. Jam 9.00 dan 11.00 di GPBB. Jam 14.30 di GPO. Selesai kebaktian dilanjutkan dengan acara tea time. Jemaat bisa ngobrol-ngobrol sambil minum teh dan kue-kue kecil. Pendeta dan Penatua juga bisa lebih kenal dekat dengan jemaat. Di Jemaat Indonesia di luar negeri acara begini biasa dilakukan. Mungkin karena sesama perantau, jadi lebih mudah ngumpul-ngumpul. Di gereja di Jakarta biasanya susah deh. Jemaat pada mo cepat pulang.

Lanjut rapat Majelis Jemaat. Ga lama sih kalau menurut ukuran rapat Majelis Jemaat di Jakarta. Dari jam 17 sampai jam 20-an. Lanjut lagi acara syukuran pembukaan restoran anggota jemaat di Lucky Plaza. Pulang ke rumah hampir jam 23.30. Dengan ngantuk dan perut kenyang :). Kezia belum tidur. Tunggu saya, katanya. Hiburan ga ternilai deh. Thx ya, Kez.

Sesudah beres-beres dan nemenin Kezia tidur, masih harus cek email. Ada beberapa email penting yang harus dibaca dan dibalas. Ga disangka juga ada teman dari Jakarta yang kirim SMS. Mulanya cuma tanya apa kabar, selanjutnya malah jadi sharing. Ia sedang bergumul. Baru dapat pacar. Tapi pacarnya itu Katolik. Sedang ia dan keluarganya GKI "tulen". Kalo udah di depan komputer ditemani teman sms-an, lupa deh sama capek :).

Hampir jam 2 baru tidur. Waktu berbaring di ranjang, rasanya lega banget. Kelegaan memang biasa mengiringi sebuah “perjuangan”. Kayak orang naik gunung deh. Ketika berjalan mendaki, lelah dan penat. Tapi setiba di ujung pendakian. Puncak gunung. Ngelihat ke bawah. Rasanya lega banget. Kurang lebih kayak begitulah perasaan saya malam ini. Tapi besok-besok gunung-gunung laen sudah menunggu didaki. Begitulah hidup. Dari satu “gunung” ke “gunung” laen. Tapi justru itu kan yang bikin hidup lebih hidup?! Bayangkan kalo hidup kita mulus dan lurus. Ga ada tantangan. Ga ada yang diperjuangkan. Betapa hambarnya. Membosankan. Maka tantangan hidup itu anugerah. Dan perjuangan adalah rahmat. Thx, God, untuk setiap "gunung" yang Engkau ijinkan saya daki.

Sunday, August 06, 2006

Catatan Harian

Day - 239

Pagi bangun-bangun agak flu. Padahal udah janjian sama beberapa teman pemuda mau bulutangkis di daerah Bukit Gombak. Ga jadi deh. Tiduran bentar. Terus ke gereja. Nyiapin bahan buat sore pimpin Persekutuan Pemuda. Juga buat besok kebaktian umum di GPBB dan GPO. Dewi dan anak-anak jalan-jalan ke Marina Square. Waktu kosong kita tuh beda. Kezia dan Karen kosong Sabtu dan Minggu. Lha saya justru sibuk. Senin saya relatif kosong. Lha Kezia dan Karen sekolah dan les.

Ada teman yang kirim SMS, “Gw otw Bandung nih. Adik sepupu gw masuk Baromeus. Katakan syalom pada mie kocok Suryani, siomay Cibunut dan batagor Kingsley”. Duh. Tiba-tiba jadi kangen Bandung nih. Tapi kapan ya bisa ke Bandung? Kalo soal makanan, Indonesia ga ada duanya deh.

Malam setelah Persekutuan Pemuda, beberapa teman pemuda datang ke rumah. Bantuin betulin komputer sekaligus pasang internet. Tempo hari udah coba tapi ga bisa. Ada alat atau data yang ga nyambung. Saya ini payah deh. Ga telaten "utak-atik" komputer. Jadinya "gaptek" gitu. Jadinya juga kurang bisa memaksimalkan manfaat komputer dan internet.

Jadi saya nih ibaratnya datang ke peseta besar. Ada rupa-rupa makanan yang mewah dan enak-enak di sana. Tapi yang saya makan cuma krupuk sebiji. Sayang banget kan. Tapi gimana ya, saya tuh benar-benar ga telaten pelajarin komputer. Jadi bisanya ya cuma pake. Mungkin karena belum dipaksa juga sih. Saya tuh agaknya emang harus "dipaksa". Kayak bahasa Inggris. Dari dulu-dulu saya ga telaten ngebiasain bahasa Inggris. Sekarang baru deh dipaksa harus ngebiasain.

Saturday, August 05, 2006

Renungan Sabtu - 13


Haman: Harga Sebuah Kedengkian

Sesungguhnya kurang apa lagi hidup Haman; ia kaya raya dan punya jabatan
tinggi di pemerintahan. Tentang dia dalam Alkitab bahkan dituliskan demikian, “Haman bin Hamedata, orang Agag, dikaruniailah kebesaran oleh Raja Ahasyweros, dan pangkatnya dinaikkan serta kedudukannya ditetapkan di atas semua pembesar yang ada di hadapan baginda” (Ester 3:1).

Pula, Haman mempunyai banyak anak laki-laki. Pada masa itu, seperti juga umumnya dalam masyarakat primitif, anak laki-laki kerap dipandang sebagai simbol kehormatan. Jadi, lengkaplah hidup Haman.

Namun toh tak urung ada yang mengganjal hati Haman. Memang, mana ada sih orang yang tidak punya persoalan dalam hidupnya? Sesuatu yang sebenarnya sepele, tetapi bagi Haman teramat mengganggu. Mordekhai-lah yang menjadi biang keladinya. “Akan tetapi semuanya itu tidak berguna bagiku, selama aku masih melihat si Mordekhai, si Yahudi itu, duduk di pintu gerbang istana raja,” begitu ia berkata kepada para sahabatnya dan Zeresy, istrinya (5:13).

Repot memang kalau seseorang tidak dapat bersyukur dengan hidupnya; ia cenderung tidak pernah merasa puas dengan yang ada. Hidupnya selalu terasa kurang lengkap. Padahal, katakanlah ia mendapatkan apa-apa yang diinginkannya, belum tentu hidupnya lantas menjadi lebih menyenangkan. Sifat tidak pernah puas, hanya akan membuat semua keinginannya seperti air laut; makin banyak diminum, makin membuat haus. Itulah Haman.

Lalu siapakah Mordekhai, yang kehadirannya sampai begitu mengganggu hati sang pembesar Haman? Ah, sebenarnya bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa pula. Ia hanya seorang buangan. Betul, ia orangtua angkat dari Ratu Ester, tetapi hubungan kekerabatannya itu rupanya tidak lantas membuat ia mempunyai jabatan tinggi di pemerintahan atau saham di perusahaan-perusahaan besar. Dalam Alkitab tidak secara jelas ditulis profesi dan kedudukan Mordekhai.

Dan kenapa Haman sampai begitu membenci Mordekhai, sebetulnya juga sepele. Bukan karena Mordekhai itu saingan beratnya, atau orang yang bisa mengancam kedudukannya. Bukan juga karena Mordekhai itu orang yang pernah berbuat culas atau curang kepadanya. Gara-garanya adalah Mordekhai tidak mau berlutut dan sujud kepada Haman (3:5). Cuma itu.

Begitulah orang kalau sudah diperbudak oleh status dan rasa hormat; sedikit saja ia merasakan ada gangguan atas kebanggaannya, seluruh dunia seakan roboh menimpa bahunya.

Maka, reaksinya pun tidak kurang mengerikan. Seperti Haman, “Ia menganggap dirinya terlalu hina untuk membunuh hanya Mordekhai saja, karena orang telah memberitahukan kepadanya kebangsaan Mordekhai itu. Jadi Haman mencari ikhtiar memusnahkan semua orang Yahudi, yakni bangsa Mordekhai itu, di seluruh Kerajaan Ahasyweros” (3:6). Bayangkan, hanya karena satu orang tidak mau sujud menyembah kepadanya, sebuah bangsa mau dilenyapkan.

Lebih celakanya, orang-orang di dekatnya bukan meredakan amarah dan panas hati Haman; mereka malah seumpama menyiram api yang tengah berkobar dengan bensin. “Suruh saja membuat tiang gantungan setinggi 22 meter. Lalu besoknya, pagi-pagi mintalah izin kepada raja untuk menggantung Mordekhai pada tiang itu. Dengan demikian kau dapat pergi ke perjamuan itu dengan hati yang tenang”. Begitu istri dan para sahabatnya mengusulkan (5:14).

Haman memandang usul itu baik adanya. Ia mendirikan tiang gantungan untuk menggantung Mordekhai. Tetapi apa yang kemudian terjadi? Ternyata “angin bertiup berbalik arah”. Kebajikan mengatasi kebatilan. Haman, si Angkara, yang hendak berbuat culas, akhirnya termakan oleh keculasannya sendiri. Ia digantung di tiang gantungan yang dibuatnya sendiri untuk menggantung Mordekhai (7:1-10). Selamat jalan, sang pembesar Haman!

Kisah Haman persis dengan telenovela di televisi. Di sana ada tokoh baik dan jahat. Yang baik, baik sekali. Yang jahat, jahat sekali. Penuh intrik yang licik. Tokoh jahat yang awalnya berada di atas angin, pada akhirnya harus mengalami nasib amat tragis. Sedang tokoh baik yang awalnya berada di bawah angin, pada akhirnya dapat tersenyum bahagia.

Pesannya, bagaimanapun juga kebaikan akan berbuahkan kebahagiaan. Dan sebaliknya bagaimanapun juga kejahatan akan berbuahkan kesengsaraan. Rupanya memang sudah menjadi semacam “hukum” yang berlaku di mana pun, kapan pun, dan buat siapa pun, “Apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya” (Galatia 6:7). Siapa yang menabur angin, ia akan menuai badai. Seperti Haman.

Andai saja Haman bisa mensyukuri apa yang sudah dicapai dan diperoleh dalam hidupnya; tidak dibutakan oleh status dan keinginannya untuk dihormati. Andai saja Haman tidak membiarkan dirinya dikuasai oleh kebencian, sehingga ia tidak perlu merancang kejahatan terhadap orang lain. Andai saja Haman memakai akal sehat, dan mendengar suara hati nuraninya.

Akan tetapi Haman sudah membayar semuanya itu. Dengan hidupnya: di tiang gantungan. Sungguh teramat mahal! Semoga kisah Haman cukup sampai di sini; tidak terulang lagi dalam sejarah.

dari buku Bila Cinta Menyapa - Ayub Yahya, Gloria

Catatan Harian

Day - 240

BAHAYA nih. Berat badan nambah kayaknya.Celana pada seret. Padahal baru sebulan di sini. Makan melulu sih. Alamat “rugi bandar” deh. Hehehe. Tapi ini semacam “warning”-lah. Ngerem makan dan banyak berolahraga. Konon kan, jadi orang tuh harus peka dengan “tanda-tanda alam”.

Siang janjian sama teman ketemu di Bukit Timah. Kita makan di Al-azhar Eating restaurant. Makanan India Malaysia. Sop buntutnya asyik. Teman saya nih tinggal di Semarang. Pernah kuliah di Trinity College. Jadi tau banyak soal Singapore. Kita terus jalan-jalan sebentar di Bukit Timah Shopping Centre. Itu salah satu pusat penyaluran pekerja rumah tangga. Berderet-deret kios agency-nya di sana. Dari Indonesia, Birma, Srilangka, Filipina.

Cerita teman saya, pekerja rumah tangga asal Filipina sangat diperhatikan pemerintahnya. Termasuk membuat semacam perjanjian dengan pemerintah Singapore tentang pekerjanya. Pekerja rumah tangga asal Filipinan dapat libur sehari seminggu. Juga ada pembatasan pekerjaan. Mereka misalnya, ga wajib nyuci mobil. Beda dengan pekerja rumah tangga asal Indonesia. Kesannya pemerintah ga mau tau. Malah bikin paspor saja bisa dipersulit. Padahal di Indonesia, mereka disebut pahlawan devisa.

Malam bawakan renungan di Persekutuan Kaum Bapak. Tentang uang. Intinya uang itu netral. Bisa membangun, bisa merusak. Tergantung bagaimana cara orang memakainya. Uang penting tapi bukan yang terpenting. Ia akan sangat berguna selama ia menjadi pelayan. Tapi akan sangat berbahaya kalau jadi tuan. Baik buruk seseorang ga ditentukan oleh uang yang dimilikinya. Kita ga bisa mempertuhan uang. Tapi juga ga bisa mempersetan uang.

Thursday, August 03, 2006

Catatan Harian

Day - 241

Jam sepuluh ke GPO bareng teman. Ada persekutuan bulanan para pendeta dan preacher GPO dan GPBB semua conggregasi. Hadir sekitar 25 orang. Ada beberapa pendeta dan preacher baru. Termasuk saya. Jadi sekalian perkenalan. Kita juga bicarakan rencana perayaan HUT ORPC ke 150 bulan Oktober 2006. Konon ORPC Singapore dirintis dan didirikan oleh orang Skotlandia. Karena itu persembahan yang terkumpul pada kebaktian HUT itu akan diserahkan ke gereja Skotlandia.

Di akhir acara kita dibagi kelompok. Saling mendoakan pakai bahasa masing-masing; Inggris, Mandarin, Indonesia dan Jerman. Amin-nya kan samalah. Jadi tau gitu kapan satu orang selesai berdoa :). Dari GPO terus ke True Way Presbyterian Church di daerah Queenstown. Ada seminar tentang missi. Katanya itu semacam pembinaan untuk orang-orang yang sudah atestasi ke ORPC. Seminarnya dalam bahasa Inggris. Saya ga gitu ngerti. Tapi hitung-hitung belajar dengar Inggris :).

Dari situ ke IKEA di Alexandra Road. Janji ketemu teman. Sekalian ketemu Dewi. Dewi tadi ikut pelawatan sama ibu-ibu ke ME dan NUH. IKEA tuh pusat furniture. Banyak barang seputar kebutuhan rumah tangga yang unik dan murah. Hotdog di lantai satunya enak tuh. Mungkin bentar lagi akan ada orang Indonesia yang beli franchise-nya. Lalu buka di Jakarta. Kayak Breadtalk dan J. Co Donuts.

Pulang naik bis. Jam pulang kantor dan sekolah sore bis mesti penuh berdesak-desakan. Jarang dapat tempat duduk. Mana bawa-bawa notebook dan buku-buku. Tiba di rumah dapat surat dari sekolah Kezia. Ia harus periksa mata. Kezia dan Karen tuh udah pake kacamata.

Wednesday, August 02, 2006

Catatan Harian

Day - 242

Di sini saya benar-benar diajar ngehargai waktu. Kayak tadi pagi. Mo ke gereja. Begitu keluar gerbang apartemen, bis sudah ada di halte. Saya lari biar ga ketinggalan. Lah sampai dekat halte bis sudah keburu jalan. Andai tadi saya jalan sedikit cepat, pasti akan keburu. Kalo sudah ketinggalan bis gini biasanya paling ga seperempat jam mesti tunggu bis berikut. Jadi jangan pernah bilang, “Ah, cuma beberapa detik!” :). Beberapa detik pun bisa menentukan loh.

Siang janjian ketemu teman di West Mall. Ia pendeta dari Semarang. Lagi di Singapore nengok ibunya. Dari gereja ke West Mall tuh sebetulnya ga jauh. Kalau jalan kaki nerobos gitu, paling 10 menit. Tempo hari pernah sama teman. Tadi saya coba jalan kaki. Lha, koq sampainya ke jalan itu lagi. Ujung-ujungnya saya kembali ke halte biasa tunggu bis lewat. Kalau naik bis sudah nunggunya lama, muter-muter lagi. Bener-bener parah nih saya kalau soal jalan. Ampun, ampun.

Katanya bulan ini dalam tradisi Cina terhitung bulan ketujuh. Seventh month. Biasa disebut juga Hungry Ghost Festival. Tanggal persisnya saya juga ga tahu. Pada bulan ini konon hantu-hantu berkeliaran. Di food court-food court dan lapangan kerap ada semacam meja sembahyang atau apa gitu. Ga gitu jelas. Pokoknya bagi orang yang percaya, takut keluar malam. Kalau jalan ga boleh nengok ke belakang. Transaksi jual beli rumah dan restoran sepi. Tapi itu katanya sih.

Sore nengok teman yang baru melahir kan di Mount Elizabeth. Anak ketiga. Konon di Singapore salah satu masalah yang dihadapi banyak keluarga adalah ga punya anak. Adopsi anak di sini mahal dan mesti antri. Kadang hidup emang ironis. Orang-orang yang pengen punya anak dan dari segi materi dan pendidikan mampu, malah susah punya anak. Sementara ada orang-orang yang keadaan ekonominya sulit lha koq malah gampang brojol. Saya ingat seorang kenalan. Pengangguran. Sesekali saja jadi calo angkot di Bandung. Anaknya tujuh. Tadi waktu lihat bayi. Doa. Duh. Saya tuh paling senang lihat bayi. Tenang. Tentram. Kayaknya surga tuh seperti itu deh :).

Wednesday's Games Idea - 09


Kejarlah Daku Kau Kutangkap


Bahan Yang Dibutuhkan : Kertas folio ½ halaman; setiap peserta mendapat dua lembar, Spidol atau alat tulis lainnya, Selotip
Jumlah peserta : 25 - 50 orang
Waktu permainan : 15 menit
Aturan permainan :
Masing-masing peserta mendapatkan dua helai kertas ukuran ½ folio dan alat tulis (sebaiknya spidol warna gelap). Mintalah setiap peserta menuliskan nama asli dan nama julukannya pada kertas pertama dengan memakai huruf yang cukup besar. Beritahukan kepada mereka agar peserta yang lain tidak melihat apa yang mereka tulis. Kemudian minta mereka menempelkan kertas yang sudah berisi nama asli dan nama julukan itu di punggung mereka sendiri dengan memakai selotip yang sudah disiapkan. Sisi yang berisi nama asli dan nama julukan harus menghadap ke luar agar nantinya bisa dibaca oleh orang lain. Setelah itu, minta mereka mempersiapkan kertas yang kedua beserta alat tulis mereka. Berilah waktu selama 10 menit agar setiap peserta berusaha untuk dapat membaca dan menuliskan nama asli dan julukan peserta yang lain dan pada saat yang sama berusaha agar kertas di punggungnya sendiri tidak terbaca oleh peserta lain. Sebelum dimulai, tetapkan syarat bahwa peserta tidak boleh menempel di dinding. Tegaskan juga bahwa peserta yang memiliki daftar nama paling pendek akan mendapat hukuman. Minta mereka juga untuk tidak keluar dari ruangan.
Tujuan permainan :
Ini adalah permainan perkenalan. Sekilas Kegiatan ini amat baik dipergunakan untuk memulai perkenalan sebuah kelompok besar yang belum saling mengenal. Yang ingin dicapai melalui kegiatan ini adalah agar para peserta bukan hanya mengenal nama peserta lain, namun juga satu segi lain dalam hidup peserta lainnya.

Tuesday, August 01, 2006

Catatan Harian

Day - 243

Dapat undangan dari National Council of Churches of Singapore (PGI-nya sini) untuk menghadiri kebaktian syukur Hari Kemerdekaan Singapore. Juga dapat buku judulnya: Colours of Love, A Collection of Stories and Fables from Various Religions in Singapore. Ada sepuluh cerita bijak yang berasal dari sepuluh agama. Termasuk Baha’i, Sikhism, Jainism, dan Judaism. Kristen di sini ga dibedakan Katolik dan Protestan kayak di Indonesia.

Saya belum pernah mendengar di Singapore terjadi kerusuhan atas dasar agama. Jangan sampe deh. Sejarah membuktikan, konflik atas dasar agama biasanya paling berdarah-darah dan sulit diperdamaikan. Makanya kerukunan antara agama tuh penting. Sama pentingnya dengan kebebasana beragama. Kerukunan dan kebebasan beragama harus berjalan seiring. Kerukunan ga boleh mengorbankan kebebasan. Tapi kebebasan juga jangan sampai mengganggu kerukunan. Kuncinya, menurut saya pada kedewasaan cara kita beragama. Konsisten dengan “identitas” agama kita, harus. Tetapi tanpa memandang agama lain sebagai musuh yang harus ditaklukkan.

Agama seharusnya memang menjadi sesuatu yang pribadi. Ga bisa dipaksakan. Ga bisa juga dilarang-larang. Negara sebaiknya juga sebaiknya ga usah ikut campur dengan urusan agama. Kecuali kalau agama sudah menjadi gangguan umum. Dan ga kalah penting juga kita sebagai umat beragama, jangan sampe sikap dan tindakan kita malah menjadi “promosi” buruk bagi agama kita. Kan aneh kalo kita menyebut diri orang beragama, tapi tindakan kita malah lebih buruk dari masyarakat umumnya. Preman berkedok agama.

Seharian ini di kantor. Dua hari ditinggal banyak hal yang mesti dikerjakan. Terutama baca imel :). Sorenya pas pulang, nunggu bis lama banget. Sampe setengah jam lebih. Duh. Kalo naik taxi sudah dari ujung ke ujung Singapore tuh. Bis yang ditunggu datang, tapi penuh banget. Berdesak-desakan. Persis di Jakarta. Bedanya ga sampai ada yang gelantungan di pintu :)). Ga biasanya deh begini. Hiburannya, sore ini ga ada acara khusus. Jadi bisa bercengkrama dengan keluarga. Kezia dan Karen sudah nagih berenang.

Tuesday's Song - 14

Dealova
Penyanyi : Once
Ciptaan : Opick

Aku ingin menjadi mimpi indah dalam tidurmu
Aku ingin menjadi sesuatu yang mungkin bisa kau rindu
Karena langkah merapuh tanpa dirimu ooh…
Karena hati telah letih
Aku ingin menjadi sesuatu yang selalu bisa kau sentuh
Aku ingin kau tahu bahwa ku selalu memujamu
Tanpamu sepinya waktu merantai hati
Ohh bayangmu seakan-akan…

Reff:
Kau seperti nyanyian dalam hatiku yang memanggil rinduku
padamu ooh…
Seperti udara yang kuhela kau selalu ada
Hanya dirimu yang bisa membuatku tenang
Tanpa dirimu aku merasa hilang…
Dan sepi…
dan sepi…
Selalu ada…
kau selalu ada…
selalu ada… kau selalu ada…

Renungan :

Cinta membuat yang tidak sempurna menjadi sempurna, yang tidak utuh menjadi utuh, yang tidak mungkin menjadi mungkin. Tapi itu baru satu sisi dari dua sisi cinta. Sisi lainnya: Cinta identik dengan kesakitan dan belenggu. Kita memang bisa merana tanpa cinta. Tapi tanpa cinta kita justru akan “merdeka”. Itulah paradoks cinta. Menghidupkan sekaligus mematikan. Tapi seperti kata Kahlil Gibran, "Apabila cinta memanggilmu, ikuti dia. Walau disayapnya tersembunyi sebilah pedang."

Catatan Harian

Day - 244

Seharian di rumah. Ga enak badan nih.Mungkin kecapekan. Pagi sesudah antar Kezia ke halte bis sekolah, terus tidur lagi. Di luar hujan.Udara dingin banget sampai selimutan. Bangun-bangun hampir jam 10. Main sama Karen. Ia libur sekolah hari ini. Kezia udah mulai enjoy dengan sekolahnya. Udah banyak teman. Ga pernah ngeluh lagi. Anak-anak cepat sekali menyesuaikan diri. Malah saya nih yang masih “tertatih-tatih” :).

Sore janjian sama teman ketemu di Lucky Plaza. Pergi berdua Dewi. Naik bis. Masuk Orchard agak macet. Jam-jam tertentu di jalan-jalan tertentu di Singapore suka macet juga. Cuma ga parah sampai puluhan meter ato ga jalan sama sekali.

Di lantai dasar Lucky Plaza lagi ada obral buku. Asyiknya di sini tuh sering ada obral buku. Bagus-bagus dan murah. Kamus Webster Bahasa Inggris 550 halaman cuma S$ 7. Buku 501 aktivitas untuk anak-anak hampir 1000 halaman cuma S$ 10.

Kita makan di Ayam Bakar Ojolali di lantai 3. Ayam bakar dan ikan bawal bakarnya oke tuh. Sambalnya enak. Rasanya itu sambal paling enak deh di Singapore :). Sop buntutnya juga asyik. Katanya Lucky Plaza tuh tempat ngumpul orang Filipina. Setahun belakangan ada beberapa resto Indonesia yang buka. Jadi kalo lagi di Singapore dan pengen makan makanan Indonesia, ke Lucky Plaza saja.

Monday, July 31, 2006

Catatan Harian

Day - 245

Ga kerasa udah harus kembali ke Singapore. Dua hari di Jakarta repot dengan urusan ceramah dan acara keluarga. Hari ini agak kosong. Siang janjian ketemu beberapa teman. Makan di resto seafood favorit di Kelapa Gading. Rasanya ini makanan terenak yang pernah saya makan dalam sebulan terakhir :). Lidah tuh emang ga bisa ketuker koq. Hehehe. Tadinya sih teman-teman mo bungkusin untuk Dewi. Tapi saya udah kebanyakan bawa barang.

Waktu pindahan tempo hari masih ada beberapa barang yang belum terbawa. Terutama buku-buku. Jadi mo saya bawa sekarang. Beberapa teman laen juga ngasih macam-macam vitamin dan madu. Katanya supaya saya, Dewi dan anak-anak ga cepat sakit. Mereka bilang masa penyesuaian di luar negeri pasti ga gampang. Saya jadi terharu dengan perhatian mereka. Thx temans.

Saya sempat pula diajak hadir di rapat Pokja Demuda. Tapi ga keburu. Sore udah harus di bandara. Sempat berbincang di telpon. Saya beri beberapa masukan berkenaan dengan tema dan pembicara. Demuda bulan Juli ga ada kegiatan. Sad. Saya ngerasa “salah” juga. Konon pemimpin yang baik adalah pemimpin yang bisa menyiapkan pengganti. Jadi ketika ia “turun” atau “pergi”, program-program tetap jalan. Ga ada yang kurang. Saya “salah” ga nyiapin Demuda tanpa saya. Atau mungkin saya terlalu cepat “pergi”. Demuda lagi bagus-bagusnya ditinggal. Saya memang bukan tipe pemimpin yang baik.

Dari Cengkareng 19.40. Sampai di Changi hampir 22.30. Ke rumah naik taxi. 30 menit dari bandara. Di sini naik mobil 30 menit tuh jauh loh. Bisa dari ujung ke ujung :). Di Jakarta, dari Kelapa Gading ke Rawamangun saja bisa 30 menit. Hehehe. Welcome to the “jungle”.

Sunday, July 30, 2006

Catatan Harian

Day - 246

Hari ini mimpin kursus Teknik Menulis Kreatif di Pusat Pembelajaran Warga Gereja (PPWG) STT Jakarta. Tiga sessi. Jam 9.00-15.00. Jumlah pesertanya diluar dugaan. Tadinya saya minta maksimal 15 orang, tapi yang ikut ternyata 29 orang. Itupun katanya, ada beberapa yang terpaksa ditolak karena kapasitas ruangan ga cukup. Pesertanya beragam. Dari remaja, ibu rumah tangga, sampe pensiunan. Dari pelajar, pengusaha sampe pendeta. Dari warga jemaat GKI, GKP, HKBP, GPIB, sampe GBI. Dari yang belum punya pengalaman menulis sama sekali, sampe yang udah menulis buku yang siap diterbitkan. Ada dua peserta khusus datang dari Bandung. Beberapa peserta ikut pelatihan, karena tertarik setelah membaca buku saya.

Seperti pada pelatihan menulis sebelumnya, saya membuat materi kursus lebih banyak latihan. Diselingi beberapa permainan. Saya senang dengan antusiasme para peserta. Mereka aktif terlibat. Bertanya, bermain, mengerjakan tugas, membacakan tulisannnya. Banyak yang awalnya berpikir, ga bisa menulis. Tapi setelah melewati sessi latihan kemudian menyadari bahwa menulis ternyata ga sesulit yang diduga. Saya percaya, semua orang yang bisa membaca bisa menulis. Kecuali karena “kelainan”. Menulis tuh keterampilan yang bisa dipelajari koq. Bakat tentu saja ada pengaruhnya, tapi sebagian besar tergantung kemauan, kerja keras dan kebiasaan.

Dalam perjalanan menuju STT di Jalan Proklamasi, saya menerima telpon dari penerbit Gloria. Ada dua berita gembira yang saya terima. Pertama, buku saya yang baru, seputar pernikahan, akan segera terbit. Itu buku yang saya tulis di minggu-minggu terakhir saya di Jakarta. Kedua, buku Seri Sketsa Iman, ada 4 biji, menempati rangking 1 sampai 4 buku terlaris di Gloria saat ini. Saya senang. Bukan apa-apa. Tandanya kan buku saya diterima orang. Bagi saya "honor" terbesar dari menulis, adalah ketika buku saya dibaca orang. Saya suka terharu loh kalo tiba-tiba ketemu orang yang ga saya kenal, lalu bilang bahwa ia senang membaca buku saya.

Sorenya saya nyempetin ke rumah kakak di Serpong. Dianter teman. Ini malam terakhir saya ada di Jakarta. Besok sore sudah harus kembali ke Singapore.