Thursday, March 08, 2007

Thursday's Hot Issue - 20


Elegant Exit


The Fact :
Liga Champions sudah menyelesaikan babak 16 besar. Sekarang tersisa 8 klub yang siap berlaga di babak berkutnya. Sebagian klub lolos dengan susah payah. Dan harus ditentukan dengan gol terakhir. Chelsea ditentukan oleh gol Ballack. PSV Eindhoven oleh gol Alex. Bayer Munchen oleh gol Lucio. Ada yang beruntung karena selisih gol kandang dan tandang, seperti Liverpool yang walau kalah dari Barcelona tapi lolos. Dari semua yang mengisi gol di babak 16 besar ini, satu gol yang sedikit istimewa. Gol Henrik Larsson saat Manchester United melawan Lille. Istimewa bukan saja karena golnya yang indah. Tapi karena momennya. Liga Champion tersebut merupakan laga terakhir bagi Larsson buat MU di ajang Champions. Tanggal 12 Maret ia harus kembali ke klub Helsingborg Swedia. MU tidak memperpanjang masa peminjamannya karena Larsson juga punya komitmen terhadap keluarga dan klubnya. Ketika pertama kali merumput bersama MU di ajang Liga Inggris, Larsson menyumbangkan satu gol ke gawang Aston Vila. Ketika akan pergi meninggalkan MU, Larsson menyumbangkan satu gol ke gawang Lille. Maka wajar saja setelah Fergie menariknya keluar di menit ke 67 untuk digantikan oleh Allan Smith, seluruh Old Trafford mempersembahkan standing ovation buatnya. Fergie menyambutnya di tangga. Sebuah kado perpisahan yang manis.

The Lessons :
Ada saat datang, ada saat pergi. Ada saat "ada", ada saat "tiada". Ada saat ketemu, ada saat berpisah. Ketika pergi, yang tinggal adalah sebuah "jejak". Henrik Larsson sudah meninggal jejak indah dimasa singkat keberadaannya di MU. Elegant exit. Kita akan pun cepat atau lambat akan "pergi" dari tempat "sekarang" kita "ada". Jejak apa yang akan tinggalkan?!

Wednesday, March 07, 2007

Catatan Harian

Day - 25

Rabu, 7 Maret 2007 -- Pagi bareng Dewi ke Gleneagle. Nengok teman. Ia kena demam berdarah. Baru pulang dari Jakarta. Terus ke gereja. Malam ada syukuran di rumah teman. Baca Kompas on line. Indonesia lagi-lagi musibah lagi. Duh. Ibarat luka, gempa bumi di Sumatera Barat masih berdarah-darah. Tahu-tahu pesawat Garuda terbakar di Jogja. Puluhan korban jiwa. Prihatin. Prihatin.

Kalau musibah alam seperti gempa bumi, kita pun mungkin ga bisa berbuat apa-apa. Kecuali tunduk, luruh, sujud kepada Sang Khalik. Tapi kalau musibah kecelakaan pesawat, harusnya kan ada yang bisa dilakukan. Khususnya oleh para “petinggi” yang berwenang. Masalahnya di Indonesia nyawa manusia kayaknya tuh ga “berharga”.

Di Italia satu orang korban jiwa gara-gara kerusuhan sepakbola, semua orang “kebakaran jenggot”. Pemerintah langsung turun tangan. Kompetisi dihentikan, walau karena itu harus rugi jutaan dolar. Di Perth, Australia, seorang anak kecil meninggal ketabrak mobil, pemerintah membangun monumen peringatan di tempat kejadian.

Di Indonesia kecelakaan terus terjadi. Darat, laut, udara. Korban pun berjatuhan. Tapi pemerintah seolah ga bergeming. Heran. Kecelakaan pesawat dalam hitungan bulan sudah 3 kali terjadi. Adam Air hilang. Lalu Adam Air lagi, tergelincir dan “robek” di Surabaya. Dan sekarang Garuda. Di dunia ini mungkin ga ada negara di mana kecelakaan pesawat begitu sering terjadi selain di Indonesia. Sad.

Wednesday's Games - 32


Bermain Balon


Jumlah Peserta : kelompok kecil sampai sedang, dibagi ke dalam dua kelompok
Alat yang dibutuhkan : Balon. Di dalam ruangan besar atau diluar ruangan.
Waktu yang dibutuhkan :15-30 menit
Aturan permainan:
Bagilah seluruh peserta ke dalam dua kelompok yang sama besar. Kemudian mintalah mereka untuk memutuskan dimana setiap anggotanya berdiri. Dan menentukan posisi gol masing-masing. Jelaskan bahwa nantinya setiap kelompok harus berlomba mengisi sebanyak mungkin gol. Tapi, sekali mereka berdiri di satu posisi, mereka tidak boleh berpindah sama sekali. Mereka boleh menggunakan kaki, tangan atau kepala untuk saling mengoper bola, tapi tidak boleh berpindah tempat. Regu yang menang adalah yang paling banyak mengisi gol. Dalam permainan ini, kelompok yang bekerja sama mengoper balon akan lebih mudah menang daripada kelompok yang berusaha untuk mengisi gol sebanyak mungkin tanpa kerja sama.
Tujuan permainan :
Kompetisi memang perlu. Orang akan lebih terpacu mencapai tujuan ketika berkompetisi. Tapi kerap yang terjadi, kompetisi malah terjadi dalam satu kelompok. Musuh seolah ada di dalam dan bukan di luar.

Catatan Harian

Day - 26

Selasa, 6 Maret 2007 -- Pagi bersama beberapa ibu dari Komisi Wanita melawat ke Mount Alvernia. Rumah Sakit Katolik di daerah Thompson. Kata teman itu rumah sakit relatif paling murah di Singapore. Pelayanannya juga bagus. Perawatnya ramah. Tiap pasien dikunjungi suster untuk didoakan. Good. Rumah sakit Kristen harus ada bedanyalah dengan rumah sakit umum.

Kita ngunjungi seorang Ibu. Belum pernah ketemu sebelumnya. Saya tahu ia dari teman pendeta di Jakarta. Ia SMS ada salah seorang anggota jemaatnya yang sakit. Berobat di Singapore. Sendirian. Suaminya ga bisa nemenin karena harus kerja di Jakarta. Datang paling kalau weekend. Kita berdoa. Terus saya kasih buku: Ku Gapai Hadir-Mu.

Saya ga tahu detil sakitnya. Ga tanya pula. Kalau ngelawat orang sakit saya berusaha ga tanya banyak tentang sakitnya. Itu kan pertanyaan standar. Bayangkan kalau setiap yang datang pertanyaannya sama. Itu. Kan kasihan yang sakit. Kecuali ia yang cerita sendiri. Buat saya kunjungan tuh lebih pada pendampingan. Berdoa. Menghibur. Menguatkan. Ga harus bicarain sakitnya apa. Berapa lama. Gimana rasanya.

Terus kita nengok seorang oma di daerah Clementi. Agak siang pulang. Naik MRT. Dapat SMS dari teman. Riau dan Padang diguncang gempa. Efeknya sampai ke Singapore. Malah katanya beberapa tempat seperti di Suntec City orang-orang sampai dievakuasi. Saya tanya ke teman di Jakarta. Katanya di Jakarta ga kerasa. Rupanya Indonesia selain kirim asap, juga kirim gempa ke Singapore. Malam ada rapat di gereja.

Tuesday, March 06, 2007

Tuesday Song - 38

Song of The Heart
Artist : Prince. Soundtrack Happy Feet


U might make a different song, yes that's right it's true
That don't make anybody more or less as good as u
If u can't feel the music that's all u really need
Then turn this party all the way out
Good time guaranteed

Everybody get up, Clap your hands and dance 2 the beat
Whatever u do little darlin' it's cool, Just get up out your seat
And wave a flag because everybody plays a part
One world united singing the song of the heart

Look ... everybody makes mistakes, Oh yeah, not one or two (right!)
But that don't make the dirty little things they say about u true (U tell 'em!)
Step aside little babies and watch me do my thing
I don't even need a good reason to do, Listen to me sing

Everybody get up, Clap your hands and show them what u got
Tonight we gonna jam from now until eternity
Don't u stop - make it hot oh!
And wave a flag because everybody plays a part
One world united singing this song of the heart

Come on! Watch me now!

Oh, I don't care what the people say
This is my life, I just got to like that okay (okay?)
They can go fly their momma's kite, Hooray! (we got it!)

All right I'm going to tell u one more time, Listen ...Unh
One world, One world, One world united
Singing a song, Singing a song
Singing a song of the heart

Feel me? Oh yeah! Feel me? Keep singing!
U can do u, I do me, Whateva! Get going y'all!
The song of the heart

Renungan :
Tidak ada manusia sempurna. Tiap kita pernah berbuat salah. Tapi hidup toh tidak surut ke belakang. Tapi melesat ke depan. Kubur masa lalu. Jadikan itu cermin. Berpikir positif akan membuat kita menjalani hidup ke dengan ringan. Mengikuti kata hati.

Catatan Harian

Day - 27

Senin, 5 Maret 2007 -- Bagi saya Senin tuh bisa dibilang hari “recovery”. Setelah kegiatan padat di hari-hari sebelumnya. Cuma ga tahu kenapa, kerap hari Senin saya malah flu gitu. Kayak hari ini. Hidung mampet. Meler. Ga nyaman. Salah saya juga sih. Ga bisa diam. Ga bisa kalau ga ngapa-ngapain. Ga hari kerja ga hari libur. Ngetik. Baca. Mungkin begitu cara tubuh “protes”:).

Waktu santai perlulah. Benar-benar santai gitu. Katanya di Eropa dan Amerika sekarang ini sedang berkembang trend kerja baru. Bukan mendorong orang menjadi hardworker, tapi smartworker. Di Italia misalnya diterapkan 5 jam kerja setiap hari. Waktu kerja dioptimalkan. Efisien tapi tetap produktif. Orang jadi punya waktu untuk menikmati hidup. Untuk diri sendiri juga untuk keluarga. Good. Kerja untuk hidup, bukan hidup untuk kerja kan :).

Menurut saya semua itu tergantung kita juga koq. Gimana ngatur prioritas. Juga tergantung orang-orang sekeliling kita. Gimana mereka memahami pilihan kita. Seperti hari ini. Mestinya saya datang ke acara pertemuan para Bapak. Tapi dipikir-pikir saya sudah lama ga pergi bareng keluarga. Jadi saya ijin ga datang. Teman-teman sih ngerti. Thx, temans.

Jadi hari ini saya bisa membayar “utang” ke Dewi, Kezia dan Karen. Temenin Dewi belanja keperluan sehari-hari. Terus malamnya sehabis Kezia dan Karen les Mandarin, kita jalan ke Bukit Panjang Plaza. Naik bis. Sekalian nyari raket badminton buat Kezia. Belum semua “lunas” sih. Masih “ngutang” nemenin mereka berenang. Terutama Karen. Ia katanya pengen nyobain berenang malam-malam :).

Monday, March 05, 2007

I Like Monday - 22


Inspiring Singapore
Collaboration


Kerjasama antar negara tidak melulu harus diwujudkan dalam bentuk kerjasama ekonomi, pertahanan dan keamanan atau kegiatan formal lainnya. Jalur kerjasama kebudayaan juga bisa menjadi saluran yang efektif untuk mempererat hubungan antar negara. Singapore dan Rusia melakukan hal itu. Vladimir Martynov, komponis Rusia menerjemahkan visinya tentang Singapore dalam ekspresi musik dengan menggunakan berbagai genre musik jazz. Kolaborasi dengan Singapore Symphoni Orchestra. Mereka juga didukung oleh para selebriti Singapore dan siswa dari sekolah lokal. Kolaborasi ini menandai dibukanya forum bisnis antara Singapore dan Rusia. * Manusia adalah makhluk sosial. Tidak bisa hidup tanpa orang lain. Selalu membutuhkan orang lain. Jadi entah dalam scope kecil antar orang. Juga dalam tatanan yang lebih besar antar negara. Perlu untuk membangun ikatan. Mempersempit jarak. Dan memperlebar kesepahaman. Sehingga perbedaan dimaknai sebagai kekayaan.

Sumber : Yahoo Singapore/Channel News Asia

Sunday, March 04, 2007

Catatan Harian

Day - 28

Minggu, 4 Maret 2007 -- Semalam tidur hampir jam 3. Jam 6.30-an sudah bangun. Khotbah tiga kali. Presentasi buat bantuan banjir Jakarta di GPBB. Ke gereja bekal nasi. Bawa bekal sendiri ngirit waktu banyak daripada makan diluar. Saya agak “trauma” pernah terlambat pimpin kebaktian di GPO gara-gara ga dapat taxi. Jadi saya pikir naik MRT saja. Lebih pasti. Spare waktunya harus lebih panjang. Syukur-syukur dapat taxi.

Hari Minggu nyari taxi dari Bukit Batok ke Orchard susah. Apalagi Cap Go Meh. Dalam kalender China Cap Go Meh tuh hari ke 15 setelah Imlek. Saat bulan purnama pertama yang menandai awal tahun. Hari terakhir masa perayaan tahun baru Imlek. Kalau Imlek adalah perayaan di tingkat keluarga, Cap Go Meh bisa dibilang public entertaint-lah gitu.

Di Tiongkok biasa disebut juga Hari Raya Lampion. Pada malam hari orang-orang memasang lampion warna warni. Di beberapa negara dikenal sebagai Hari Valentine China. Zaman dulu para muda-mudi menjadikan Cap Go Meh sebagai ajang untuk saling bertemu; siapa tahu dapat jodoh :). Di Penang, Malaysia, ada tradisi para gadis yang belum menikah berkumpul bersama dan melemparkan jeruk ke laut.

Ke GPO ternyata ada teman yang anterin pakai mobil. Tiba di sana jadi kepagian. Daripada ketelatan kan. Pulang juga ada teman yang anterin sampai rumah. Kalau naik mobil cuma 20 menitan gitu. Jadi bisa istirahat sebentar. Malamnya ada acara “kumpul-kumpul” di rumah teman. Ia jago masak. Mie kuah bikinannya oke sekaleee. Mie paling enak yang pernah saya makan selama di sini :).

Sunny Sunday - 17


Indonesia Plus
The Professor


Ada yang istimewa di ajang Java Jazz Festival di Jakarta awal Maret 2007. Pengisi acaranya selain para musisi jazz berkelas dunia seperti Chaka Khan, Sergio Mendez, David Benoit, Jamie Culum, Dave Weckl, Level 42, Sadao Watanabe, Brian Simpson dan lain-lain. Tapi juga para musisi jazz tanah air. Seperti Bubi Chen, Elfa's Singer, Idang Rasjidi, Ruth Sahanaya, Titi DJ, Shanty, Marcell, Syahrani, Tompi, Rika Roeslan, dan masih banyak lagi. Di antara puluhan penampil ada satu grup unik. The Professor. Bukan saja namanya yang unik. Tapi juga personilnya. Dinamai The Professor karena memang personilnya adalah para profesor dan dosen perguruan tinggi Indonesia. Mulai dari rektor UI Usman Chatib Warsa, Psikolog Sarlito Wirawan yang main saksofon, dokter Ichramsyah sebagai vokalis, Raldi Artono Koestoer profesor teknik mesin yang memainkan flute, Paulus Wirotomo profesor sosiologi yang kebagian menggebuk drum, Martani Huseini profesor yang kebagian main saksofon dan Profesor Ronny Nitibaskara kriminolog yang pintar bermain mandolin. Mereka dibantu oleh para dosen biasa seperti Errie Iriani Sophiaan. Mereka rutin berlatih bahkan juga manggung di kafe Blog Kampus UI Depok. Di panggung, para profesor yang penuh wibawa ini di depan mahasiswanya ini, ternyata mengalami demam panggung. Tapi mereka juga bisa terbawa suasana dengan berjingkrak-jingkrak di atas panggung. Band ini dibiayai secara saweran dan tidak menjadikan honor sebagai tujuan utama. Jadi, dibayar dua sampai lima juta mereka tidak menolak. (Sumber : Gatra dan website JJF 2007)

Ayah's Plus Point:
Musik adalah bahasa universal. Alat komunikasi yang menghibur. Dan jarang bias arti. Yang bisa dipahami oleh siapa saja. Tak mengenal kasta. Tak mengenal gelar. Penyeimbang ruang kehidupan. Membuat hidup tak melulu monoton oleh grafis, kata dan angka. Tapi juga nada.

Saturday, March 03, 2007

Catatan Harian

Day - 29

Sabtu, 3 Maret 2007 -- Siang ke kawinan teman di GPO. Bareng Dewi, Kezia dan Karen. Ini pernikahan paling banyak melibatkan pendeta yang saya tahu :). Kebaktian pemberkatan dan peneguhan dilayani tiga pendeta. Satu pimpin liturgi. Satu pimpin pemberkatan dan peneguhan. Satu pimpin khotbah. MC di acara ramah tamah di gereja pendeta. MC di acara resepsi di gedung juga pendeta. Jadi total lima pendeta.

Saya kebagian jadi MC di resepsi di gedung. Tempatnya di Asian Civilisations Museum (ACM). Deket Hotel Fullertone. Dari kemarin-kemarin sudah dag dig dug tuh. Khotbah walau masih suka nervous tapi sudah biasalah. Jadi moderator seminar atau talk-show sudah sering juga. Tapi jadi MC kawinan di gedung? Ini pertama kali, Bo. Piuhh. Apalagi lihat teman yang MC-in acara ramah tamah bagus. Tambah “gentar” :). Ga pe-de. Tapi point of no return. Jadi ya que sera sera.

Saya suka pemilihan museum sebagai tempat resepsi. Unik. Good. Begitu juga pemilihan tumpeng yang dipotong. Bukan kue. Menyimbolkan “keindonesiaan”. Good. Akan jauh lebih "Ngindonesia" lagi kalau tumpengnya bukan nasi, tapi tempe :). Dress Code para undangan batik. Panitia dan mempelai juga pakai batik. Jadi ga hanya MC yang pakai batik. Hehehe. Dan lagu-lagu yang disetel macam Bendera-nya Coklat atau Kebyar-Kebyar-nya Gombloh.

Apalagi kalau musik pengiring ketika mempelai masuk Indonesia Pusaka. Koq jadi kayak acara kenegaraan :). Namanya juga kalau. Hehehe. Secara keseluruhan acara; baik yang di gereja maupun yang di gedung, "mengalir" mulus dan rapih. Good. Appreciate buat panitia. Doa saya untuk kedua mempelai, kiranya "semulus" dan "serapih" itu jugalah perjalanan mereka dalam bahtera rumah tangga.

Renungan Sabtu - 36


Nama

Hampir semua orang mengenal Yudas Iskariot. Dia adalah salah seorang dari dua belas murid Tuhan Yesus. Jabatan resminya bendahara. Sepanjang sejarah orang mengingatnya, mengenang ciuman mautnya di Taman Getsemani, dan..………. mengutuknya sebagai pengkhianat!

Tetapi tahukah Anda, kenapa Yudas mengkhianati Tuhan Yesus? Jelas bukan karena uang. Sebab kalau karena uang, kenapa dia menghargai-Nya hanya 30 keping uang perak. Kalau mau, tentunya dia bisa meminta harga yang jauh lebih tinggi. Dan pula, setelah mendapatkan uang itu kenapa dia malah membuangnya?

Juga jelas bukan karena Yudas membenci-Nya. Sebab kalau betul karena benci, tentunya dia merasa senang ketika Tuhan Yesus akhirnya ditangkap. Kenapa dia malah menyesal setengah mati sampai-sampai nekad gantung diri.

Lalu karena apa? Kuat dugaan, karena Yudas ingin memaksakan kehendaknya. Dia ingin Tuhan Yesus bertindak sesuai dengan keinginannya, berlaku seperti yang dia mau. Begitulah kalau keinginan sudah menjadi tuan. Segala cara akan dihalalkan. Suara hati tidak lagi didengar.

Tetapi masalahnya di sini bukan itu. Masalahnya adalah nama. Kata Yudas adalah bentuk Yunani dari kata Ibrani Yuda, yang artinya: Terpujilah Tuhan. Sungguh sebuah nama yang indah. Tetapi kenapa kenyataannya malah seorang pengkhianat? Benar kata Shakespeare, "What's in a name?", apalah arti sebuah nama.

Nama tidak menjadi jaminan perilaku penyandangnya. Seperti, sebut saja, orang yang bernama Luhur, bisa jadi kelakuannya malah rendah. Atau orang yang bernama Aquinas, tidak dijamin pribudi dan kepandaiannya seluhur Thomas Aquinas, seorang filsuf sekaligus teolog hebat pada Zaman Skolastik. Sama juga dengan orang yang namanya Ayub, tidak lantas dia panjang sabar dan tahan banting seperti tokoh Ayub dalam Alkitab..

Jadi sebuah nama bisa saja sekadar pepesan kosong. Indah artinya, tetapi tidak sesuai dengan perilaku penyadangnya. Seperti Yudas Iskariot. Artinya bagus, tetapi jebulnya justru seorang pengkhianat.

Sungguh berat memang menyandang beban arti sebuah nama. Lebih berat dari menyandang segala atribut kesarjanaan. Barangkali jauh lebih baik seorang yang bernama Jangkrik atau Kuya, tetapi memiliki pribudi seorang satria pinandita.


Dari Buku Potret Diri Tanpa Bingkai - Ayub Yahya, diterbitkan oleh Gloria Graffa

Catatan Harian

Day - 30

Jumat, 2 Maret 2007 -- Pagi ke kantor. Ada beberapa hal yang mesti disiapin. Siang pulang. Dewi ada acara Komisi Wanita. Saya mesti tungguin Kezia dan Karen pulang sekolah. Untuk urusan begini saya dan Dewi fleksibel. Pekerjaan domestik kan bukan cuma jadi tanggung jawab salah satu. Sama-samalah. Untungnya waktu saya di kantor juga agak "longgar".

Sore persiapan untuk presentasi "missi Jakarta". Lanjut bina pranikah. Saya hanya dampingi. Topik seputar ekonomi. Pembinaan para pasangan yang mau menikah seperti ini penting jadi perhatian gereja. Mengarahkan mereka. Memberi gambaran yang obyektif tentang kehidupan rumah tangga. Menikah gampang. Yang sulit kan mempertahankannya. Jadi persiapan matang itu perlu. Harus. Romansa masa pacaran beda loh dengan kehidupan nyata pernikahan.

Saya senang melihat antusiasme beberapa pasangan. Walau sibuk kerja, bela-belain datang. Malah ada pasangan yang prianya kerja di Singapore. Ia sih rutinlah datang. Tapi pacarnya kerja di Jakarta. Ga bisa selalu datang. Seminggu ini ia khusus datang dari Jakarta. "Ngejar" materi pembinaan. Good. Tapi ada juga yang pasangannya selalu ga bisa datang. Sibuk katanya. Jadi ia datang sendiri gitu.

Sebisa mungkin kita berikan waktu alternatif. Tapi waktu alternatif itu pun ternyata ia ga bisa. Kwakk. Saya jadi mikir, belum nikah saja sudah susah nyisihin waktu. Gimana kalau udah nikah? :). Kesibukan kerap jadi alasan utama. Tapi saya pribadi sih berkeyakinan untuk sesuatu yang kita anggap penting pastilah ada waktu. Masalahnya bukan diwaktu koq, tapi di kita juga.

Friday, March 02, 2007

Friday's Joke - 32


Percaya

Dua orang gadis kecil sedang berbincang-bincang selepas kebaktian Sekolah Minggu. Gadis kecil pertama berkata, “Apa kamu percaya kalau iblis itu ada?” Gadis kecil kedua menjawab, “Saya tidak begitu percaya. Mungkin sama saja dengan Sinterklas. Lama-lama kita tahu, ternyata itu cuma ayahmu saja.”

Ayah’s Quote :
Kepercayaan tuh “rapuh”. Sekali ternoda, sulit dibersihkan. Sekali lancung di ujian, seumur hidup tak dipercaya.

Thursday, March 01, 2007

Catatan Harian

Day - 31

Kamis, 1 Maret 2007 -- Seharian hujan. Dari semalam. Dapat SMS ini: “Rupanya saya belum lulus ujian dari Tuhan. Tumor yang disisakan masih betah nempel dan cairan di otak besar masih tampak banyak. Ini kalau lihat MRI-nya. Pantas saya masih suka pusing. Besok ketemu dokternya lagi. Terus terang saya down. Ingin nangis. Tapi di depan suami saya harus kuat. Tolong doakan ya.”

Zaman makin maju. Teknologi kedokteran makin canggih. Tapi penyakit juga makin aneh-aneh. Penyakit “baru” bermunculan. Tempo hari ada teman yang dioperasi. Katanya kista di rahim. Tapi sudah nempel dan bersatu dengan usus. Jadi harus “dibeset” gitu. Ada pula teman yang punya masalah di maagnya. Diidentifikasi kanker. Tapi belum pasti. Untuk memastikan konon harus ditembak dengan nuklir.

Zaman orang tua atau kakek nenek kita dulu, rasanya jarang banget dengar penyakit “aneh-aneh” gitu. Benar juga, bahwa sebagian besar yang terjadi pada tubuh kita itu juga ada “andil” kita. Entah gaya hidup. Pola makan. Atau juga pola kerja. Juga “andil” orang lain. Lingkungan yang ga sehat. Polusi udara. Pemanasan global.

Malam ada gladi resik teman yang mau menikah di GPO. Naik MRT. Di Ang Mo Kiu semua penumpang diturunin. Ga tahu kenapa. Dua kali saya ngalami begitu. Untung spare waktunya agak lama. Jadi tiba ga terlambat lah :). Saya ga ikut sampai selesai. Banyak hal yang harus dipersiapkan. Minggu ini bener-bener padat nih. Duh.

Thursday's Hot Issue - 19


Global Warming



The Fact :
Kejadian alam belakangan ini benar-benar aneh. Tidak saja di Indonesia. Tapi juga di seluruh dunia. Angin tornado. Banjir besar. Badai salju. Hujan es. Kabut asap. Angin puting beliung. Kemarau panjang. Dan lain-lain. Semuanya terjadi dalam kadar yang tidak biasanya. Para ilmuwan mengklaim bahwa bencana iklim ini terjadi karena pemanasan global. Isu yang sudah beberapa tahun belakangan ini menjadi isu internasional. Sayangnya kerap terpinggirkan. Penyebabnya tidak lain dan tidak bukan adalah polusi yang berasal dari bahan bakar fosil yang menaikkan suhu abad ini. Sehingga mencairkan es di kutub dan menghancurkan sistem iklim. Bahkan Sekjen PBB Ban Ki-moon mengingatkan bahwa bahaya akibat pemanasan global sama berbahayanya dengan akibat perang. Ia menganggap sudah saatnya PBB tidak saja terfokus pada pencegahan dan resolusi konflik tapi juga pada krisis iklim dan pemanasan global. Karena pengaruh bencana akan merembet kepada pertumbuhan ekonomi, penyebaran penyakit, pola imigrasi dan perubahan lain yang juga tidak menutup kemungkinan menyulut perang dan konflik. (Sumber : Kompas)
The Lessons :
Kerusakan alam. Kerusakan lingkungan. Kerusakan iklim. Ada andil kita di dalamnya. Sekecil apapun itu. Saatnya berpikir sebaliknya. Berkontribusi dalam perbaikannya. Untuk hal itu, mari bertanya : Seberapa besar andil kita?

Catatan Harian

Day - 32

Rabu, 28 Februari 2007 -- Lagi banyak yang sakit dan berobat ke sini. Sampai agak sore tadi saya nengok tiga orang di tempat yang berbeda. Satu dirawat di Thompson Medical Centre. Satu dirawat di General Hospital. Satu lagi di Gleneagle. Yang Pertama dan kedua hanya cek. Mereka sudah operasi beberapa minggu lalu. Yang ketiga mau operasi siang tadi.

Masih ada beberapa lagi yang "waiting list". Selama di sini, ada 2 tempat yang paling sering saya kunjungi; West Mall dan rumah sakit. Selain gereja tentunya. Hehehe. West Mall karena dekat rumah. Sudah “panggilan jabatan”. Dalam kondisi “kritis” doa dan pendampingan bisa sangat berarti. Seperti air sejuk di tengah padang tandus. Kadang just “hadir” pun bagi mereka sudah cukup.

Begitulah. Dalam hidup ini kadang ada hal-hal yang ga terhindarkan. Seperti sakit. Dalam situasi demikian yang bisa kita lakukan adalah berubah sudut pandang. Pendampingan perlu dalam kerangka membuka sudut pandang positif ini. Ada buku bagus dari Pak Eka Darmaputera. Ketika Aku Lemah Maka Aku Kuat. Buku itu bertolak dari pengalaman pribadi Pak Eka menghadapi sakitnya.

Mirip dengan Victor Frankl. Psikolog berkebangsaan Yahudi. Ia salah seorang korban keganasan Hitler. Sempat mengalami penyiksaan fisik sangat berat. Tapi bisa bertahan. Dan bebas. Lalu menciptakan teori yang disebutnya “logothearpy”. Menemukan makna di balik penderitaan akan membuat seseorang mampu bertahan. Malam rapat Majelis. Dari siang hujan ga berhenti-berhenti.

Wednesday, February 28, 2007

Wednesday's Games Idea - 31


Negosiasi


Jumlah peserta : Kelompok kecil sampai besar, dibagi berpasangan (berdua)
Alat yang dibutuhkan : Lembaran uang Rp. 1000 atau koin Rp. 100 sebanyak jumlah pasangan
Waktu permainan : 30 menit
Aturan Permainan :
Mintalah seluruh peserta untuk mengambil pasangan. Tidak perlu beda jenis kelamin. Bagikan kepada tiap pasangan selembar atau satu buah uang. Sampaikan bahwa setiap peserta harus berusaha keras agar uang tersebut menjadi miliknya. Caranya dengan melakukan negosiasi kepada pasangannya. Yang menang adalah yang berhasil mendapatkan uang tersebut. Larangan dalam permainan ini adalah kontak fisik. Mintalah para peserta untuk berusaha keras mendapatkan uang tersebut. Di akhir permainan, tanyakan beberapa contoh alasan peserta akhirnya memberikan uang tersebut kepada pasangannya.
Tujuan permainan :
Negosiasi itu cara halus mendapatkan yang kita inginkan. Kemampuan kita meyakinkan orang. Dan kehandalan kita berkomunikasi penting di sini. Tapi, tidak jarang, orang menghalalkan segala cara demi tercapainya keinginannya. Kadang dengan paksaan. Kerap bahkan dengan janji palsu.

Tuesday, February 27, 2007

Catatan Harian

Day - 33

Selasa, 27 Februari 2007 -- Kemarin malam sampai rumah sekitar jam 12. Naik taxi. Sebetulnya jam 10.40-an sudah turun dari pesawat. Tapi di Changi ada pemeriksaan. Agak lama juga. Antri. Selama bolak-balik ke sini ga pernah diperiksa ketat begitu. Sampai note book pun harus dikeluarin dari tas. Di x-ray. Biasanya turun dari pesawat langsung ke counter imigrasi.

Pagi ke kantor. Just ngecek kalau-kalau ada yang penting. Beberapa hari "ga nongol" di gereja saya suka merasa "gimana gitu". Ga tenang. Siang pulang. Beres-beres. Sore harus ke Batam. Ada peneguhan pendeta di GKI Bukit Indah Sukajadi. Pulang hari. Berangkat bareng teman. Dari Harbour Front Singapore ke Harbaour Bay Batam lancar. Cuma ombak agak tinggi. Tapi ga seberapalah dibanding turbulence di pesawat kemarin :).

Saya punya kenangan manis dengan GKI Batam. Pernah 2 minggu “tugas” di sana. Cukup akrab. Dulu belum di gedung yang sekarang. Masih pinjem. Juga belum ada pendeta tetap. Pendeta yang “tugas” gantian. Gedung gerejanya yang sekarang bagus. Gedung baru. Ga mewah sih. Dari penampakan luar malah kesannya “sederhana”. Tapi begitu masuk ke dalam terasa sekali “auranya”. Rasanya teduh. Tenang. Nyaman.

Ini bangunan gereja terbagus yang pernah saya lihat di GKI. Mewah dan bagus menurut saya beda. Di jakarta ada beberapa gereja yang mewah. Tapi just mewah. Ga bagus. Ga memberi “keteduhan” apalagi “kenyamanan”. Malah orang yang sederhana jadi “sungkan” masuk gereja kan. Ibarat orang, hanya cakep tapi ga "berjiwa" gitu. Bravo, GKI Batam. Suatu saat saya akan ke sini lagi. Ambil foto-fotonya.

Tuesday's Song - 37

You
Sing by Basil Valdez


You give me hope,
The strength, the will to keep on;
No one else can make me feel this way
And only you,
Can bring out all the best I can do;
I believe you turn the tide,
And make me feel real good inside.

You pushed me up,
When I'm about to give up;
You're on my side when no one seems to listen
And if you go,
You know the tears can't help but show
You'll break this heart and tear it apart;
Then suddenly the madness starts

CHORUS:
It's your smile,
Your face, your lips that I miss,
Those sweet little eyes that stare at me
And make me say, I'm with you through all the way.

'Cause it's you,
Who fills the emptiness in me;
It changes ev'rything, you see,
When I know I've got you with me

Renungan :
Punya seseorang yang bisa mengisi “kekosongan” jiwa. Membuat langkah lebih ringan. Menjadikan hari lebih indah. Hidup lebih hidup. Ketika ia tiada, yang tertinggal hanya kekosongan. Tapi, bukankah tanpa jarak, relasi malah jadi kehilangan makna?

Catatan Harian

Day - 34

Senin, 26 Februari 2007 -- Hari ini masih ada beberapa "urusan" yang harus diselesaikan sebelum balik Singapore. Ketemu kakak dan ponakan di Mal Kelapa Gading. Sempat ke Gramedia. Biasa kalau ke toko buku, ga tahan ga beli buku :). Terus ketemu teman dari GKI Kayu Putih. Bicarain kerjasama seputar pelayanan masyarakat pasca banjir. Gambaran dan rencananya.

Tiga lingkup yang bisa digarap bareng. Pertama, berkaitan dengan pendidikan. Termasuk mikirin pengadaan tenaga guru. Juga perbaikan saran dan prasaran sekolah, seperti buku pelajaran dan perpustakaan. Kedua, masalah kesehatan. Selain pengobatan cuma-cuma, perlu ada yang lebih komprehensif. Kayak penyadaran pola hidup sehat. Ketiga, pemberdayaan masyarakat. Bisa melalui pelatihan atau kursus ketrampilan. Juga penciptaan peluang kerja.

Sore ke bandara diantar teman. Value Air cancel. Alasan perawatan. Klise :). Ditransfer ke Lufthansa. Baguslah. Jadi lebih cepat 30 menit. Pesawatnya juga lebih “oke” :). Perjalanan lancar. Sampai kira-kira di atas Palembang (ada "peta" di televisi pesawat), terjadi turbulence. Cukup keras. Beberapa menit. Para cabin crew yang sedang bagiin makanan diminta duduk sama pilot. Wajah mereka tampak tegang. Penumpang kanan kiri tegang. Saya ya gentar juga.

Pertama kali saya ngalami ketegangan kayak gini di pesawat. Yang terlintas pertama wajah Dewi, Kezia dan Karen. Jangan-jangan ga akan ketemu mereka lagi. Duh. Jadi ingat Adam Air yang jatuh. Juga Silk Air beberapa tahun lalu. Kebayang gimana perasaan para penumpangnya. Duh. Kata teman di sekitar Palembang memang suka kejadian begitu. Karena konon ada “udara kosong” atau apa gitu. Thx, God! Landing juga dengan selamat di Singapore.