Sunday, July 09, 2006

Catatan Harian

Day - 266

Pertama kotbah di GPBB dalam status sebagai pendeta sini, pimpin Perjamuan Kudus dan pelantikan personalia komisi. Tadi ke gereja naik bis. Jadi inget waktu pertama ke Jakarta tahun 1991, kemana-mana naik kendaraan umum.Kalo ada pelayanan kotbah pagi hari di tempat jauh, bisa subuh-subuh saya berangkat dari rumah. Waktu itu saya kost di daerah Kayu Manis.

Pulang acara gereja seringnya malam-malam, saya biasa naik bemo atau mikrolet. Kalo terpaksa bajaj. Pernah saya dipalak, dikejar waria, naik taksi diturunin entah dimana. Macam-macam deh. Setelah tiga tahun saya baru dapat kendaraan sepeda motor. Itupun sempat dipermasalahkan :). Kalo sekarang mengenang saat-saat itu,jujur saya bersyukur ngalami yang namanya “masa perjuangan”. Segala yang pahit di masa lalu akan terasa manis kalo dikenang.

Ada teman-teman dari Jakarta main ke rumah. Ngobrol tentang banyak hal. Mereka sempat ikut kebaktian juga. Malamnya saya dan keluarga diajak makan di Marche Suntec sama Pak Uripto dan keluarga. Ikut juga beberapa keluarga laen. Juga Paduan Suara dari Indonesia yang tadi ngasih pujian di kebaktian.

Pak Uripto usia udah 80 lebih masih sehat. Berbicang dengannya sungguh interesan. Semangat pelayanannya luar biasa. Konon ada penelitian, orang-orang tua yang hidupnya dekat dengan Tuhan, aktif dalam pelayanan, selalu bersyukur hidupnya lebih sehat dan produktif.

Catatan Harian

Day - 267

Pagi-pagi jalan-jalan sama Kezia dan Karen keliling seputar rumah. Asyik. Banyak pohon. Udara bersih. Segar. Cuma lagi sariawan nih. Jadi ga gitu nikmatin. Jam 9 ke gereja. Ada satu hal yang harus diberesin. Selebihnya sih ga ada acara khusus.

Naik bis. Agak-agak takut kelewat sampai haltenya saya hitung. Halte ke delapan turun :) Ada teman-teman dari Jakarta yang lagi “dolan” ke Singapore. Dewi dan anak-anak yang temenin. Besok mereka mau kebaktian di GPBB. Pas besok Perjamuan Kudus, dan saya yang pimpin.

Siang dengan salah seorang penatua, angkut-angkut ranjang, kasur dan meja setrikaan ke rumah. Pake mobilnya. Saya tuh suka kagum dengan orang-orang yang mau berkorban waktu, tenaga, uang untuk orang lain. Padahal ia sendiri ga dapat untung apa-apa. Semoga saya bisa menjadi orang seperti itu.

Saya lihat, salah satu “kekayaan” gereja dimanapun adalah, selalu ada orang yang mau berkorban waktu, tenaga, dana, bahkan perasaan tanpa pamrih. Selain dasarnya adalah pelayanan kepada Tuhan. Di GKI Kayu Putih saya juga kenal banyak sekali orang yang tulus begitu. Mereka mau berkorban tanpa pamrih. Di perusahaan atau pemerintahan hampir ga ada kan yang demikian.

Saturday, July 08, 2006

Renungan Sabtu - 09


Faktor X

Di Piala Dunia 2002 Perancis dan Argentina benar-benar terluka. Mereka harus menerima kenyataan tersingkir di babak awal. Kesedihan Zidane dan derita Batistusta berbaur dengan tangisan ribuan suporter, membuat luka itu semakin perih.

Padahal jauh sebelum Piala Dunia digelar, hampir semua pengamat sepakbola menjagokan mereka. Dua legenda hidup, Pele dan Beckenbauer, menyebut pertemuan kedua kesebelasan sebagai final ideal.

Pendapat tersebut jelas bukan tanpa alasan. Perancis, juara Piala Dunia 1998 dan Piala Eropa 2000, adalah kesebelasan bertabur bintang; ada Zinedine Zidane, ada Thierry Henry, ada David Trezeguet. Zidane adalah salah satu pemain termahal dan terbaik di dunia. Henry dan Trezeguet baru saja mengokohkan dirinya sebagai top scorer di liga Inggris dan Italia.

Argentina tidak kalah pamor. Mereka adalah kesebelasan pertama yang lolos dari zona Amerika Latin. Lolos dengan perkasa pula; hanya satu kali kalah dari Brasil, itu pun dalam partai tandang. Siapa yang tidak kenal nama-nama seperti Gabriel Batistusta, Hernan Crespo, dan Juan Sebastian Veron.

Akan tetapi perhitungan di atas kertas toh tidak selalu sama dengan kenyataan. Dari tiga pertandingan Perancis bahkan tidak mencetak satu gol pun. Mereka juga sempat dipermalukan oleh Senegal, kesebelasan dari negeri antah berantah. Argentina kalah bersaing dari Inggris dan Swedia.

Hidup, seperti juga sepakbola, tidak selalu bisa diperhitungkan. Nalar manusia terlalu sederhana untuk mengurai seluruh kompleksitas hidup. Maka, selalulah beri ruang pada “faktor x”. Imbangi perencanaan dengan fleksibilitas. Minimal, kalau sampai terjadi yang tidak terduga, kita siap.

dari Buku Tragedi dan Komedi - Ayub Yahya, diterbitkan oleh Grassindo

Friday, July 07, 2006

Catatan Harian

Day - 268

Pagi ditelpon sekolah Kezia. Katanya Kezia sakit. Dewi dan saya jemput ke sekolahnya. Naik bis. Ternyata Kezia hanya flu biasa. Setelah tidur siangnya ia ceria lagi. Ada teman dari Jakarta kunjungi. Saya ajak ia ke gereja. Lihat kantor saya. Ia bilang bae sekali kalo kantor gereja seperti itu. Ruangan ga perlu “besar”. Orang yang nangani juga ga usah banyak. Yang penting job description jelas. Jadi lebih “rapih” dan efektif. Kelak kalo saya kembali ke Indonesia, saya berharap punya kesempatan menerapkan sistim dan “budaya” administrasi gereja seperti di sini.

Saya tuh ke sini benar-benar seperti sedang bersekolah lagi. Bersekolah di sekolah kehidupan. Baik kehidupan sehari-hari, maupun kehidupan bergereja. Semoga saya bisa lulus dengan bae. Dan kelak pulang membawa “ilmu” yang berguna. Minimal ga malu-maluin. Agak sore mendadak saya flu berat. Hidung meler kepala pusing. Kata teman, itu biasa penyesuaian Jakarta – Singapore.

Oh ya, tadi ikutan acara tea time ibu-ibu Komisi Wanita. Sekalian berkenalan. Salah satu kelebihan jemaat-jemaat Indonesia di luar negeri yang saya lihat adalah keakraban. Mungkin karena “sekampung halaman”. Jadi ada perasaan senasib sepenanggungan.

Pulang ke rumah, minum actifed terus tidur bentar. Kepala agak berat nih. Malam jam 8 di blok lain ada semacam acara sekolah minggu. Yang ngadain pribadi dan bukan gereja. Kezia dan Karen diundang. Mereka senang tuh.

Thursday, July 06, 2006

Catatan Harian

Day - 269

Pagi hujan. Teman-teman bilang pergi-pergi sebaenya bawa payung. Karena bisa tiba-tiba hujan. Hari pertama di Singapore. Saya harus belajar lagi “hidup”. Mulai dari hal paling sehari-hari, kayak naik MRT dan naik bis, sampai hal yang berkenaan dengan “tugas” di gereja. Saya bersyukur teman-teman di sini sangat meng-support. Mereka bukan hanya “ngajarin” ini itu, tapi juga membesarkan hati saya. Semoga saya bisa menjadi teman seperti mereka bagi orang lain yang berada dalam posisi saya sekarang.

Teman-teman bilang dibanding para “pendahulu” saya yang tugas di sini, saya sudah jauh lebih “enak”. Sudah ada yang “mempersiapkan” jalan. Semoga saya juga bisa membuat penerus saya kelak lebih “nyaman” dan lebih mudah. Saya pernah dengar cerita dari adik saya, di tempat ia bekerja kalo ada orang baru malah “diplonco”:)

Siang sampai sore rapat denga tim “pengerja”. Bicarakan banyak hal berkenaan dengan pelayanan di Gereja Prebyterian Orchard (GPO) dan Gereja Presbyterian Bukit Batok (GPBB). Saya sudah mulai kebayang “kemudahan” dan “kesulitannya”. Dimana-mana pastilah ada tantangannya. Menurut saya, seberat apapun tantangannya akan lebih ringan dihadapi kalo para gembala juga penatua kompak sehati.

Sore ke gereja GPBB. Lihat kantor saya. “Enaknya” di sini semua termasuk yang sederhana sejak awal sudah jelas. Saya surprise juga kantor saya dengan segala isinya full sudah siap. Pokoknya saya hanya “bawa” diri dan tinggal pake gitu. Semoga ini adalah tanda-tanda baik untuk saya bisa “bekerja” maksimal.

Catatan Harian

Day - 270

Hari terakhir di Indonesia. Semua barang sudah beres. Tinggal berangkat. Saya masih bisa nyempetin kunjungi beberapa anggota jemaat. Sampai siang. Jam 14.30 ke bandara. Di antar teman. Mereka banyak sekali membantu saya. Sepanjang jalan menelpon dan ditelpon, ngirim SMS dan terima SMS. Menelpon dan kirim SMS untuk pamitan. Ditelpon dan terima SMS good luck dan met jalan.

Di Bandara sudah ada beberapa teman yang nunggu. Mereka datang khusus untuk nganter saya. Tersadar, saya tuh kerap kurang bersikap baik terhadap teman-teman. Dan mereka membalas dengan kebaikan. Ada ungkapan bijak, pembalasan paling elegan terhadap keburukan seseorang yaitu dengan ngebaiki-nya. Waktu masuk boarding, ngelambai ke teman-teman, perasaan saya berkecamuk. Antara lega dan sedih. C u, rekans. I love you all.

Pesawat agak terlambat. Saya naik Adam Air. Saya kalo mau naik pesawat salah satu pertimbangannya adalah harga. Baru waktunya. Sampai di Singapore jam 9-an waktu Singapore. Dijemput.

Sampai di rumah Kezia dan Karen nyambut dengan heboh. Rupanya banyak yang pengen mereka ceritakan. Bagi saya tempat dimanapun yang penting Dewi dan anak-anak betah. Saya sangat terhibur dengan kegembiraan dan semangat mereka.

Wednesday, July 05, 2006

Wednesday's Games Idea - 05


Memasukkan Benang ke Jarum

Bahan yang Dibutuhkan : Jarum sebanyak tiga buah, tiga utas benang
Jumlah peserta : 3 orang dan 1 orang pencatatwaktu
Waktu : 15 - 30 menit
Aturan permainan :
Berikan kepada masing-masing peserta sebuah jarum dan seutas benang. Peserta ketiga mendapat jarum yang lebih besar. Peserta pertama mendapat kesempatan memasukkan benang ke dalam jarumnya. Untuk itu Anda harus menutup mata kirinya dengan tangan. Si pencatat waktu menghitung berapa lama dia berhasil merampungkan tugasnya. Kemudian peserta kedua mendapat kesempatan dengan mata kiri yang juga ditutup. Peserta ketiga, yang mendapat jarum lebih besar, juga ditutup matanya. Namun oleskan lipstik atau arang pada tangan Anda, sehingga ketika menutup matanya, lipstik/arang itu menempel pada matanya. Dengan mudah dia akan memasukkan benangnya, karena jarum yang besar. Namun dia tentu tidak akan menyadari lipstik/arang di matanya. Hadirin lain tentu akan tertawa. Biarkan hingga dia menyadari keadaan dirinya. Setelah itu minta diri membersihkan mukanya. Setelah itu, berikan refleksi mengenai ucapan Yesus dalam Matius 7:3, “Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui?” Kaitkan dengan pepatah Indonesia, “Jarum di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tak tampak.”
Tujuan permainan :
Untuk memberi kesadaran betapa sukarnya menyadari kesalahan diri sendiri, sementara begitu mudahnya melihat kesalahan orang lain.

Catatan Harian

Day - 271

Siang acara dengan beberapa penatua di rumah. Doa bersama dan sedikit ramah tamah. Intinya, walau jauh tetaplah keep contact. Toh sebuah peran ga dibatasi oleh kehadiran fisik. Apalagi dengan teknologi komunikasi sekarang yang sudah begitu canggih. Saya bisa sharing ide lewat email, misalnya.

Seharian ini saya menerima beberapa tamu dan dapat banyak sekali telepon. Ya, just to say good luck-lah. Ada yang mendoakan saya lewat telepon karena ia sendiri ga bisa datang ke rumah. Thx, rekans. Ada dua telepon “aneh”. Pertama, dari kasir Tata Usaha gereja. Ia katanya disuruh oleh Bendahara untuk bilang, bahwa uang 2 juta yang saya harus bayar karena kecelakaan Dewi tahun lalu akan di potong dari bon-bon pengeluaran saya dua bulan terakhir. Kedua, dari salah seorang anak buah koster. Ia katanya disuruh oleh Ketua Sarpras untuk menyampaikan, bahwa serah terima kunci mobil dan rumah pastori bisa lewat ia saja :)). “Aneh-nya” kenapa harus karyawan yang menyampaikan keputusan itu?! Yang pertama, mungkin karena itu keputusan yang “ga enak”?? :)). Yang kedua, mungkin karena ybs. terlalu sibuk :)).

Saya suka sedih kalau ingat berbagai “kejanggalan” yang terjadi di gereja. Gereja mana saja-lah. Kejanggalan yang dimaksud segala hal yang membuat orang berpikir, “Koq bisa di gereja terjadi begitu”. Saya jadi teringat sebuah artikel tentang kepemimpinan di internet. Banyak perusahaan sekuler yang mengadopsi nilai-nilai kekeristenan dari Alkitab. Tapi ironinya, ga sedikit gereja yang justru mengaborsinya. Jadi gereja bukannya menggarami dunia, tapi malah “digarami” oleh dunia. Lebih sedihnya justru itu terjadi juga di gereja saya sendiri. Siapa yang salah? Yang pasti sebagai pendetanya, saya ikut bersalah.

Tuesday, July 04, 2006

Tuesday's Song - 10

Kemesraan
Penyanyi : Iwan Fals dkk

Suatu hari dikala kita duduk di tepi pantai
dan memandang ombak di lautan yang kian menepi
burung camar terbang bermain di derunya air
suara alam ini hangatkan jiwa kita

Sementara sinar surya perlahan mulai tenggelam,
suara gitarmu mengalunkan melodi tentang cinta
Ada hati membara erat bersatu
getar seluruh jiwa tercurah saat itu

Reff.
Kemesraan ini janganlah cepat berlalu
kemesraan ini ingin kukenang selalu
hatiku damai, jiwaku tentram di sampingmu
Hatiku damai, jiwaku tentram bersamamu.


Ayah's quote :
Teman adalah anugerah. Teman yang dengannya kita merasa akrab; yang bersamanya kita merasa sukacita dan damai; yang karenanya hidup kita menjadi lebih hidup; yang untuknya kita mau memberi yang terbaik tanpa perhitungan untung dan rugi. Buat Jemaat GKI Kayu Putih, Thx. Thx. Thx.

Monday, July 03, 2006

Catatan Harian

Day - 272

Akhirnya beres juga. Tinggal yang “kecil-kecil”. Saya sudah beberapa kali pindah rumah. Ini kali kepindahan “terbesar” dan “terberat”. Capek lahir batin. Untung ada teman yang benar-benar care dan ngebantu all out. Kalau saya kerjakan sendiri, ga sanggup deh. Tengkiu sobat. Tengkiu. Jujur, perpisahan ini membawa saya pada satu kesadaran, bahwa saya tuh ga “sendirian”. Selama ini saya kerap berpikir, ga punya “teman”. Alone. Tapi ternyata saya salah. Sayalah yang terlalu menutup diri. Mungkin karena saya “termakan” keyakinan saya sendiri bahwa, menjadi pendeta berarti harus siap “sendirian”.

Saya dapat SMS ini. Asli saya kutip. “Selamat jalan Pdt (......) *satu kata ini ga saya kutip, sebab rasanya koq berlebihan*. Bagi semua lintasan masyarakat Indonesia terutama orang2 kecil yang selalu dapat perhatian Pdt. Terima kasih atas kebaikanmu.” Tadinya saya ga tahu SMS itu dari mana. Saya balas, bilang terima kasih dan tanya ini siapa. Ternyata yang kirim itu salah seorang Satpam gereja. Ia bukan Kristen. Ia kirim lagi SMS, katanya waktu acara peneguhan saya, ia ga sempet nyalami.

Mungkin sih itu cuma ungkapan “celetukan”. Ga mewakili kenyataan yang sebenarnya. Toh rasanya saya ga pernah melakukan sesuatu yang “istimewa” terhadap ia. Kecuali menganggap dan memperlakukannya sebagai teman. Saya selalu meyakini keberhasilan sebuah gereja, ga hanya ditentukan oleh para “elite-nya” (pendeta, penatua, pengurus), tapi juga oleh orang-orang “kecil” (satpam, tukang parkir, karyawan). Di mata Tuhan mereka sama berharganya. Peran mereka ga kalah besarnya. Karena itu bagi saya, mereka juga adalah rekan sekerja.

Malamnya perpisahan dengan pengurus wilayah Kelapa Gading BCS dan sekitarnya bersama keluarga di Pronto Restoran Sport Mall. Akrab. Penuh canda dan tawa. Ga “berjarak”. Berada di tengah Jemaat selalu memunculkan rasa haru dalam diri saya. Saya dapat hadiah PDA. Wow. Saya tuh sudah lama berencana beli PDA, supaya saya bisa “menulis” di mana pun dan kapan pun. Cuma setiap mau beli, ada saja yang harus didahulukan. Eh, ga disangka-sangka dikasih. Thx, rekans. Tapi saya sadar, dibalik setiap “berkat” ada tanggung jawab. Semoga dengan PDA ini saya bisa lebih produktif menulis. Kelak salah satu buku saya yang terbit akan saya persembahkan khusus buat wilayah Kelapa Gading BCS dan sekitarnya.

Sunday, July 02, 2006

Catatan Harian

Day - 273

Baru bangun tidur sudah dapat kabar buruk. Brasil kalah 1-0 dari Perancis. Maka bagi saya, Piala Dunia sudah berakhir. Dari dulu favorit saya Brasil. Jangan tanya kenapa saya suka Brasil. Dan bukan Argentina. Atau Inggris. Atau Italia. Atau Perancis. Cinta toh bukan akibat. Karenanya ia ga butuh sebab. Ga butuh alasan.

Paginya mimpin kebaktian Perjamuan Kudus di Pos Kota Wisata Cibubur. Di akhir kebaktian diadakan acara perpisahan dengan saya. Pos Kota Wisata ini potensial. Belum dua tahun terbentuk, tapi sudah berkembang begitu pesat. Anak sekolah minggu hampir 100 orang. Pengunjung kebaktian sudah lebih dari 200. Menurut saya sudah saatnya Pos Kota Wisata punya full timer.

Siangnya diajak nonton sama teman-teman dari Bekasi Timur. Di Djakarta Teater Thamrin. Nonton Superman Returns. Film yang sekarang lagi heboh diomongin orang. Di bioskop saya sempet tertidur. Selain filmnya menurut saya jelek, saya juga kecapekan. Belakangan ini saya agak kurang istirahat. Tidur saya kacau. Mungkin karena banyak hal yang harus dibereskan dan dipikirkan. Belum ajakan-ajakan orang untuk ketemuan. Sementara waktu makin sempit. Duh.

Rasanya saya “kekurangan” waktu. Padahal setiap orang diberikan jumlah waktu yang sama. 24 jam sehari. Tujuh hari seminggu. 365 hari setahun. Jadi, kalau ada orang yang merasa “kekurangan” waktu, seperti saya, itu berarti ada yang salah dalam mengelola waktu. Sebagaimana juga orang yang merasa “kelebihan” waktu. Sampai tidak tahu mau menggunakan waktunya buat apa.

Catatan Harian

Day - 274

Siang jadi moderator di acara talk show guru Sekolah Minggu. Yang jadi narasumber guru paling baru dan guru paling senior. Topiknya, seputar motivasi dan suka duka menjadi guru Sekolah Minggu. Dilanjutkan dengan acara perpisahan dengan saya. Saya mengagumi pelayanan guru Sekolah Minggu. Ngajar anak-anak tuh ga gampang loh. Butuh kesabaran, ketelatenan, keuletan, dan tentu pengorbanan. Kecuali ya, kalau mau asal ngajar dan sekadar sampingan ngisi waktu.

Pula tanggung jawab guru Sekolah Minggu tuh besar. Ditangan para guru Sekolah Minggulah generasi masa depan gereja terletak. Makanya aneh kalau ada gereja yang kurang concern dengan pelayanan Sekolah Minggu. Sama anehnya dengan orang yang ngajar Sekolah Minggu tanpa keseriusan. Kalau saya sudah jadi pensiun dari pendeta saya pengen rutin ngajar Sekolah Minggu.

Sore makan malam bersama Oom Ruben dan Tante Nari. Para pendeta lain juga ikut. Oom Ruben dan Tante Nari ini usianya sudah 80-an. Sayang sama pendeta. Sebagai pendeta saya selalu merasa teduh bila ingat orang-orang seperti mereka. Bukan karena mereka suka ngasih-ngasih loh. Bukan. Tapi karena mereka benar-benar “hadir” sebagai teman berbincang dan orang tua yang ngertiin dan care gitu. Tapi Oom Ruben dan Tante Nari ini bukan sama pendeta saja. Sama semua orang mereka baik. Orang yang hatinya baik bisa ketahuanlah dari sikap dan tutur katanya.

Malamnya ke Lapiaza. Janji ketemu dengan teman. Di Lapiaza rame. Ada televisi besar nonton Piala Dunia ramai-ramai. Saya sih ga nikmatin nonton ramai-ramai begitu. Bola deket gawang saja sorakan orang-orang sudah kenceng. Lebih enak nonton di rumah. Sendiri. Tenang. Nontonnya bisa sambil merenung; mencari makna. Dalam momen tertentu pasti ada pelajaran yang bisa didapat. Ga sekadar nonton gitu.

Renungan Sabtu - 08


Pindah

Dalam lima tahun terakhir ini empat kali saya pindah rumah; dua kali ketika masih bujangan, dua kali lainnya setelah berkeluarga.

Alasan dan situasinya berbeda-beda. Tetapi selalu ada satu hal yang sama; ada saja benda-benda tidak terpakai yang harus dibuang. Dari mulai buku sampai baju, dari mulai dus-dus bekas sampai hiasan-hiasan. Itu berarti selama ini saya telah banyak menyia-nyiakan waktu dan tenaga untuk mengumpulkan dan mengurus benda-benda yang sebetulnya tidak ada gunanya.

Mari kita bicara tentang hidup di dunia. Kita hidup di dunia hanya sementara. Tidak abadi. Seperti ujar-ujaran orang Jawa, sekadar singgah minum. Akan ada saatnya kita harus berpindah tempat. Cepat atau lambat. Pertanyaan untuk kita renungkan: “bekal” apa yang akan kita bawa bila saat “pindah” itu tiba?!

Ah, jangan-jangan selama ini kita pun telah sibuk dengan banyak hal yang sesungguhnya tidak berguna, yang tidak kita bawa bila kita “pindah” kelak. Kalau benar begitu, maka mumpung belum terlambat, “bertobatlah!”

Dari buku Tragedi dan Komedi - Ayub Yahya, diterbitkan oleh Grassindo

Saturday, July 01, 2006

Catatan Harian

Day - 275

Tadi pagi dengan beberapa teman mancing di Fishing Valley, di daerah Cibinong. Dapat info tempat itu dari internet. Asyik. Apalagi dapat ikannya ga gampang, tapi juga ga susahlah gitu. Kalau mancing mudah banget dapat ikannya ga seru. Tapi kalau susah juga sampai setengah harian ga dapat-dapat ikan, ya boring juga.

Mancing itu mirip-miriplah dengan ngejalani hidup. Pertama, rejeki itu ga akan ketuker. Tadi saya dapat terus ikan, teman-teman bengong saja. Padahal kan mancing di kolam yang sama. Umpannya pun sama. Cuma ya, ga sepanjang hari-lah saya “diberkahi alam” begitu. Hehehe. Ada saat-saat di mana saya juga susah banget dapat ikan.

Kedua, hidup ini bukan melulu soal keterampilan, tapi juga soal keberuntungan. Mancing juga kan begitu. Kita boleh jago, punya jam terbangnya tinggi dalam urusan pancing-memancing, tapi kalau ga beruntung ikan bisa lewat melulu tuh. Tapi keberuntungan tanpa ditunjang keterampilan untuk memanfaatkannya, bisa lepas juga. Tadi entah berapa kali umpan saya “disantok” ikan, tapi ikannya ga dapat. Bahkan ga jarang ikannya sudah ketarik, eh lepas juga. Saya baru belajar mancing sih. Belum terampil. Tapi juga jangan salah keberuntungan ga datang sendiri loh. Harus dicari. Diusahakan. Bahkan dirancang. Keberuntungan dan kerja keras tuh teman seiring sejalan.

Malamnya perpisahan dengan pengurus Pokja Demuda di Restoran Angke. Aduh, kalau Pokja Demuda ketemu seru, Mann! Saya malah sampai berpikir, andai gereja seperti Demuda. Relasinya akrab, ga formal-formalan, saling menunjang, ga cuma ngomong tapi ada hasilnya; alangkah indahnya. Konon penyakit gereja yang paling parah sekarang ini adalah: formalisme, verbalisme, rutinisme, dan aktivisme. Formalisme segala sesatu mesti resmi gitu. Ambil keputusan apa saja, harus dengan rapat. Sangat birokratis. Verbalisme, cuma omdo, alias omong doang. Rutinisme, cuma "copy-paste". Prinsipnya, dari dulu-dulu juga begitu. Lupa, bahwa zaman berubah. Aktivisme, sibuk banget, tapi ga ada hasil. Cuma capek, tapi lalu gone with the wind. Saya sangat bangga dengan Pokja Demuda periode ini. Walau kita terbentuk sekitar setahunan. Bersama mereka, saya melewati masa-masa terbaik di GKI Kayu Putih. See You, rekans. And thx, atas keakrabannya selama ini.

Friday, June 30, 2006

Catatan Harian

Day - 276

Siang makan dengan teman-teman karyawan gereja di Rawamangun. Sayur asam dan ayam goreng garing ala “kampung” plus sambal terasi. Mereka yang pilih. Katanya, “Di Singapura belum tentu ada loh, Pak.” Betul juga sih. Kalau pun ada, cita rasanya belum tentu sama. Untuk soal makanan, saya rasa, Indonesia ga ada yang ngalahin :).

Saya sangat appreciate dengan teman-teman karyawan itu. Bagi saya mereka juga rekan sekerja. Peran mereka tuh sangat besar loh. Mereka termasuk “motor” dalam aktivitas gereja. Ngurusin administrasi, nyiapin sarana prasarana kegiatan gereja, memelihara inventaris gereja, dsb. Tanpa mereka aktivitas gereja bisa macet. Cuma kerap kehadiran mereka dipandang sebelah mata. Kalau kegiatan gereja lancar, bagus, oke, yang “muncul” pendetanya, penatuanya, pengurusnya. Tapi kalau ga lancar, ga jarang mereka yang “kena getahnya”.

Ga gampang loh kerja di gereja. Kadang terlalu banyak “bossnya”. Dari warga jemaat biasa, pengurus, sampai anggota Majelis Jemaat. Ga jarang di gereja itu, orang yang resminya “melayani” tapi berperilaku sebagai “boss”. Mentalitas seperti ini nih “penyakit”, bikin ga damai sejahtera. Padahal jabatan apa pun, termasuk di gereja bukan warisan, yang bisa dipergunakan seenaknya. Semua jabatan itu adalah “titipan” Tuhan yang harus dipertanggungjawabkan.

Di rumah buku-buku belum sepenuhnya beres nih. Ada teman sih yang bantuin beresin. Wah kalau saya sendiri, entah kapan selesainya. Ke Singapura saya ga bawa buku banyak sih. Sebagian besar saya tinggal. Malam pergi makan sama pengurus Wilayah Kelapa Gading Utara. Kita ngobrol dan bercanda sampai agak malam. C u, rekans. Pengen deh saya nyanyi: “Kemesraan ini janganlah cepat berlalu. Kemesraan ini ingin ku kenang selalu.... yeahhh!”

Wednesday, June 28, 2006

Catatan Harian

Day - 277

Berangkat ke Jogja. Naik Adam Air jam 6.30. Dari rumah jam 5. Naik taxi. Bareng dengan Tek Khun, teman dari Jogja yang semalam nginep di rumah. Pesawat on-time. Di Bandara Adi Sutjipto dijemput teman.

Terus ke kampus. Urus tesis. Saya ga bisa ikut wisuda Nopember. Tapi tetap harus bayar 75%. Dan ini itu. Surat pernyataan, ijazah terakhir, bukti sudah menyerahkan tesis dalam bentuk CD, dan macam-macam lagi. Ga dunia kampus, ga pemerintah, (ga di gereja :), prinsipnya kalau bisa dipersulit, ngapain dipermudah. Ujung-ujungnya karena ga semua syarat bisa dipenuhi, ya sudah saya nanti kirim dari jakarta. Teman dari Jogja yang ngurus. Yang penting sudah bayar dan sudah ngajuin ngisi formulir.

Siang ke Gloria. Beres-beres buku dan pakaian. Selama ini saya dapat pinjeman kamar di sana. Saya bisa memakainya kapan pun dan berapa lama pun. Saya sangat berutang budi dengan teman-teman Gloria. Thx, rekans. Saya tuh sungguh bersyukur. Selalu saja ada teman-teman yang begitu baik dengan saya. Semoga saya pun dapat menjadi teman yang baik bagi sebanyak mungkin orang. Hidup ini akan terasa lebih indah dengan teman.

Siang sempet tidur di Gloria. Ngantuk banget. Semalam tuh saya sama sekali ga tidur. Beres-beres. Ngetik. Kembali ke jakarta naik Mandala jam 19.00. Perjalanan lancar. Sesampai di rumah, saya nonton lagi VCD bikinan teman-teman Demuda. Benar-benar kreatif deh. Saya sangat terkesan. Buat saya itu hadiah terindah. Thx, rekans.

Wednesday's Games Idea - 04


Siapa Terpanjang

Jumlah pemain : Kelompok sedang, peserta dibagi dalam kelompok beranggota 5-10 orang
Waktu bermain : 15-20 menit
Dibutuhkan ruangan yang cukup luas untuk kegiatan ini.
Cara bermain :
Setiap kelompok harus membuat "seutas tali", sepanjang mungkin, dengan mempergunakan semua yang mereka miliki, seperti: sabuk, tali sepatu, kaos, dll. "Tali" yang dibuat kelompok harus terikat, tak boleh terputus. Siapa yang terpanjang, dialah pemenangnya. Setelah waktu usai, minta mereka membentangkan "tali" masing-masing dan ukurlah. Siapa yang paling panjang menjadi pemenang.
Tujuan permainan :
Dibutuhkan kerelaan untuk menyumbangkan apapun yang dimiliki untuk kepentingan dan tujuan bersama. Kompetisi kadang membuat kita mau melakukan apa saja untuk menang.

Catatan Harian

Day - 278

Sebelum saya berangkat ke Singapura, beberapa teman baik minta saya waktu untuk sekadar “kongkow”. Tapi kayaknya agak sulit memenuhi semua ajakan. Waktu saya sempit. Saya masih harus “kesana-kemari”. Juga beres-beres. Terutama buku-buku. Dari kemarin beres-beres buku, belum kelar-kelar nih. Duh.

Bagusnya waktu saya di Jakarta tuh sekitar sebulanan lagilah. Baru saya bisa memenuhi semua ajakan "kongkow”. Sekaligus bisa ngunjungi para “hopeng”. Tapi ya, mana bisa kan. Paling lambat 5 Juli saya sudah harus ada di Singapura. 9 Juli-nya saya sudah harus pimpin Perjamuan Kudus di sana. Apalagi saya tuh suka ga enakan nolak kalau diajak apa-apa. Jadinya bingung sendiri. Bikin susah sendiri. Makanya untuk “bersilaturahmi” dengan teman seharusnya ga menunggu waktu mendesak. Kapan saja selagi bisa saja. Jangan kayak saya. Sudah harus berpisah, baru deh “kerasa” banyak yang harus ditemui. Repot kan.

Malam moderatori acara Talk Show Demuda. Seputar dunia film dan iklan. Narasumber sutradara, kameramen, dan pembuat iklan. Pembahasan lebih dari sisi manusiawinya, terutama berkenaan dengan pertentangan antara hati nurani dan tuntutan keadaan. Bukan tehnis. Menarik apa yang dikatakan salah satu narasumber. Ia seorang kameramen peliput perang. Ia bilang, pekerjaannya itu telah membuatnya sadar, bahwa Tuhan itu ada

Di akhir acara. Pengurus Pokja Demuda bikin acara spesial perpisahan dengan saya. Duh. Jadi terharu. Dalam sebulan terakhir ini, saya terus “bergulat” dengan rasa haru. Mereka membuat CD dokumentasi kegiatan saya, khususnya dengan Demuda. Juga kesan beberapa orang terhadap saya. Sangat kreatif. Good. Itu akan menjadi kenangan terindah buat saya. Thx, rekans.

Tuesday, June 27, 2006

Tuesday's Song - 09

Pergi Untuk Kembali
Penyanyi : Ello
Pencipta : Minggus Tahitu

Walaupun langit pada malam itu
bermandikan cahaya bintang
Bulan pun bersinar
betapa indahnya
Namun menambah kepedihan

Ku akan pergi meninggalkan dirimu
menyusuri liku hidupku
janganlah kau ragu
dan jangan kau bimbang
berikanlah senyuman padaku

Reff.
Selamat tinggal, kasih
sampai kita jumpa lagi
Aku pergi tak 'kan lama
Hanya sekejap saja
ku akan kembali lagi
asalkan engkau tetap menanti.

Renungan :
Untuk segala sesuatu, kata Pengkhotbah, ada waktunya. Ada waktunya tertawa, ada waktunya menangis. Ada waktunya bertemu, ada waktunya berpisah. Waktu punya "kebijakan" sendiri. Yang terbaik, ikuti saja "kebijakan" sang waktu. Mengalir bersamanya. Terima segala yang terjadi dengan hati lapang, dengan keyakinan di baliknya selalu ada tangan Tuhan yang menenun. Selamat tinggal kasih sampai kita jumpa lagi. Aku pergi tak kan lama.

Monday, June 26, 2006

Catatan Harian

Day - 279

Siang saya dapat kejutan. Dr. Hendrawan Nadesul datang ke rumah. Ngobrol sebentar. Terus makan siang di Angke, Kelapa Gading. Saya sering baca tulisan ia di Kompas. Dulu waktu masih rajin, tulisan ia termasuk yang suka saya kliping. Disamping tulisan Komaruddin Hidayat, Gus Dur, Goenawan Mohamad, Magnis Suseno, dsb. Kemarin ia telepon ke HP dan minta waktu ketemu. Saya sempet kaget juga sih. Seorang Hendrawan Nadesul, tahu pula no. HP saya. Seumur-umur saya baru ketemu dengannya sekali. Waktu sama-sama kasih ceramah di acara remaja di GKI Kayu Putih. Pak Nadesul kasih saya enam biji buku karangannya. Katanya, ia senang sekaligus sedih saya pindah ke Singapura. Thx, Pak Hans.

Sore kebaktian peneguhan saya sebagai Pendeta Tugas Khusus GKISW Jabar ke GPBB Singapura. Sebelum acara ada beberapa ibu yang nyalami saya sambil nangis. Saya jadi terharu. Waktu berkhotbah akhirnya saya ga tahan. Nangis. Saya terharu banget. Tadi itu semua rasanya berjalan “teramat manis”. Jemaat GKI Kayu Putih akan selalu berada di hati saya.

Khotbah saya berdasar Yeremia 29:11. Saya mengutip dua ungkapan. Pertama dari Ibu Teresa. Ketika ada orang yang bertanya kepadanya: “Ibu telah banyak menolong orang miskin. Tapi jauh lebih banyak orang miskin yang ga tertolong. Apakah Ibu merasa cukup berhasil?”. Ibu Teresa menjawab, “Saya ga dipanggil untuk berhasil. Saya dipanggil untuk setia.” Kedua dari seorang biarawati kenalan saya. Saya pernah tanya ke ia, apakah motivasi ia jadi biarawati bukan pelarian. Ia jawab, “Kalau jalan ini adalah kehendak Tuhan. Dia akan memurnikan motivasi saya. Kalau ini bukan jalan Tuhan, Dia akan selalu punya cara menggagalkannya. Saya hanya menyediakan diri. Ini saya, Tuhan. Pakailah seturut kehendak-Mu.”

Kedua ungkapan tersebut sekaligus menjawab untuk beberapa sinyalemen terhadap saya. Kepada anggota jemaat yang menyesalkan saya pindah. Katanya, di GKI Kayu Putih ga kurang tantangan. Saya belum berhasil sepenuhnya menggali potensi yang ada. Saya jawab, “Saya tidak dipanggil untuk berhasil, saya dipanggil untuk setia.” Kepada anggota jemaat yang menganggap saya mau pindah karena Singapura-nya, saya jawab, “Kalau ini bukan kehendak Tuhan, Tuhan pasti punya cara menggagalkannya. Kalau ini kehendak Tuhan dan ternyata saya punya motivasi yang salah, Tuhan pasti akan memurnikan motivasi saya. Saya hanya menyediakan diri. Ini saya, Tuhan. Pakailah seturut kehendak-Mu.”

Catatan Harian

Day - 280

Dari semalam saya mulai beresin buku. Pengennya sih semua saya bawa. Tapi mana bisa kan?! Ada empat lemari. Mau ga mau harus dipilih dan dipilah mana yang akan ditinggal. Ini susahnya. Saya suka banget sama buku. Bagi saya buku tuh harta yang sangat berharga. Makanya untuk beresinnya pun saya lakukan sendiri. Tapi ya, ada bagusnya juga sih. Semacam latihan melepaskan diri dari "kelekatan" pada benda, seberharga apa pun benda itu. Toh segala yang ada di dunia ini akan berlalu.

Pagi saya dapat SMS ini dari seorang anggota jemaat: "Sore Pak Pdt. Ayub! Suami sy n sy dah lama ingin SMS Bpk, tp br skrg kami memberanikan diri. Kebanggaan kami di grj Ky Pth krn adanya Bpk, alasannya pasti Bpk dah tau. Skrg Bpk mau 'meninggalkan' kami. Memang hak Bpk n sdh jalan-Nya. Kami sedih dan kecewa, tp tak kuasa berbuat apa2. Mudah2an sesdh selesai tugas disana, Bpk msh mau melayani di Ky Pth, tetap menjadi kebanggan kami. Pasti bnyk jemaat yg berharap spt kami. Slmt jln. Terima kasih TUHAN krn sdh mengenal Bpk. Semoga sukses di tempat baru n Bpk berjanji akan kembali pd kami, menjadi Pdeta Ky Ptih. Salam."

Pada satu sisi, saya terharu sekali. Cukup keraplah saya menerima telepon, SMS, dan ucapan senada. Ingat jemaat yang sudah begitu "dekat" sungguh, saya tuh berat banget. Di Warta Jemaat hari ini juga ada "refleksi" dari seorang anggota jemaat tentang saya. Seandainya sekarang jemaat minta saya ga usah pindah, mungkin saya pertimbangkan kembali.

Tapi pada sisi lain, mungkin justru baik pada saat seperti sekarang ini saya pindah. Sebelum nanti saya malah jadi "dikultuskan". Atau terjebak dengan "kenyamanan" ladang pelayanan. Mudah-mudahan ini hanya "ge-er" saya. Toh pasti SMS di atas ga mewakili semua anggota jemaat. Tapi katakanlah betul, justru saya yang jadi "kebanggaan" jemaat. Berarti saya telah gagal. Sebab, saya kira, dasar motivasi pelayanan harusnya: "DIA harus makin bertambah, ku harus makin berkurang." Semoga pujian, luapan sayang, rasa kehilangan dari sebagian jemaat, ga jadi pencobaan bagi saya. Tapi betapa pun jemaat GKI Kayu Putih akan tetap ada di hati saya. I love you all.

Saturday, June 24, 2006

Catatan Harian

Day - 281

Hari terakhir retreat. Kami sudah ngerasa akrab dengan anak-anak sekolah minggu. Waktu pulang pun banyak dari mereka yang “gandolin”. Sangat bagus retreat dibikin untuk keluarga. Materi dan metode dirancang untuk keluarga. Biasanya kan kalo retreat itu terpisah-pisah. Retreat pemuda, retreat remaja, retreat anak-anak. Tanpa sadar gereja bisa ikut andil “memecah” keluarga loh.

Kalo retreat keluarga, jadinya keluarga utuh ikut. Acara-acara pembinaan dipisah sih, tapi secara umum satu keluarga bareng-bareng gitu. Ada beberapa anak yang menulis kesannya senang dengan retreat ini karena bisa kumpul dengan ayah, ibu dan adiknya. Biasanya jarang, paling cuma sabtu dan minggu. Itupun sebentar katanya.

Pulang sesudah makan siang. Dari Cimacan sampai perempatan Ciawi.macet. Bener-bener deh. Saya suka heran kalo mikirin macet. Jadi boros BBM kan.Padahal sebetulnya akarnya kadang simple. Pasar di pinggir jalan dan kendaraan umum ga tertib. Apa yang sebetulnya sepele bisa jadi masalah besar kalo ga ditangani. Aparat pemerintah juga cuek sih. Baru kalo udah kritis, semua ribut. Kayak sampah yang numpuk di Bandung tuh. Kalo ga kritis pemda tenang-tenang saja kan.

Pulang ke rumah tiba-tiba kangen banget sama Kezia dan Karen. Saya lihat-lihat foto mereka di HP. Duh. Rasanya pengen memeluk mereka. Biasa kalo bepergian nginap saya selalu telpon. Kali ini saya cuma SMS-an dengan Dewi. Saya ga tahan jadi telpon deh. Seumur-umur saya belum pernah telpon ke luar negeri. Jadi tanya-tanya dulu teman. Pindah ke Singapore membuat saya harus belajar lagi hidup. Semoga bisa smooth.

Renungan Sabtu - 07


Paulus : Melupakan dan Mengarahkan

Perjalanan hidup Paulus sungguh menggetarkan hati. Ibarat film, penuh dengan adegan menegangkan dan mengharukan. Pengalaman “perjumpaannya” dengan Tuhan Yesus di jalan yang menuju Damsyik—yang membawanya kepada pertobatan—begitu dramatis dan mengejutkan.

Pula, keteguhan dan ketegarannya dalam memberitakan Injil. Ia berjuang mengatasi segala kelemahan dan sakit fisiknya, tidak menyerah dengan rupa-rupa pencobaan dan aniaya yang dialaminya. Tak sejengkal pun langkahnya surut ke belakang. Terus maju pantang mundur.Pernah suatu ketika di Listra, akibat provokasi orang-orang Yahudi yang datang dari Antiokhia dan Ikonium—di kedua kota ini Paulus juga mengalami kejadian tidak menyenangkan karena ulah orang-orang Yahudi itu yang rupanya dengan segala cara terus berusaha mencelakakannya —Paulus dianiaya habis-habisan; dilempari batu, lalu diseret ke luar kota. Hebat sekali penganiayaan itu, sampai-sampai mereka menyangka Paulus telah mati (Kisah Para Rasul 14:19).

Kapokkah Paulus?! Tidak. Pada ayat 20,21 dikatakan, “Akan tetapi ketika murid-murid itu berdiri mengelilingi dia, bangkitlah ia lalu masuk ke dalam kota. Keesokan harinya berangkatlah ia bersama-sama dengan Barnabas ke Derbe. Paulus dan Barnabas memberitakan Injil di kota itu dan memperoleh banyak murid. Lalu kembali mereka ke Listra, Ikonium, dan Antiokhia”.Hebatnya—kalau mau dibilang demikian— itu bukan satu-satunya pengalaman pahit yang Paulus alami. Dalam suratnya kepada jemaat di Korintus ia menulis, “Lima kali aku disesah orang Yahudi, setiap kali empat puluh kurang satu pukulan, tiga kali aku didera, satu kali aku dilempari dengan batu, tiga kali mengalami karam kapal, sehari semalam aku terkatung-katung di tengah laut. Dalam perjalananku aku sering diancam bahaya banjir dan bahaya penyamun, bahaya dari pihak orang-orang Yahudi dan dari pihak orang-orang bukan Yahudi; bahaya di kota, bahaya di padang gurun, bahaya di tengah laut, dan bahaya dari pihak saudara-saudara palsu” (2 Korintus 11:24-26). Paulus mengutarakan semuanya itu tidak dengan maksud menyombongkan diri ataupun mencari simpati, tetapi untuk membela diri terhadap orang-orang yang meragukan dan terus-menerus menyerang kerasulannya. “Apakah mereka pelayan Kristus? —aku berkata seperti orang gila—aku lebih lagi!” (ayat 23).

Luar biasa. Apa yang membuat Paulus tetap tegar dan teguh? Jawabannya ada di Filipi 3:13. “Tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku.”

Melupakan yang di belakang dan mengarahkan kepada apa yang di hadapan, itulah kunci ketegaran dan keteguhan Paulus. Segala pengalaman pahit; penderitaan, aniaya, dan fitnah keji yang pernah dialaminya, ia tanggalkan dan tinggalkan di belakang. Ia melupakan semuanya itu dan tidak membiarkan dirinya terus tenggelam dalam kekecewaan dan kesedihan, sekalipun secara manusiawi ia punya banyak alasan untuk itu. Betapa tidak? Ia sudah bertobat dan menjadi pengikut Tuhan Yesus. Bahkan lebih dari itu, ia juga aktif mengabarkan Injil ke mana-mana. Lha, kok malah mengalami banyak kesulitan dan kepahitan?! Sebaliknya Paulus mengarahkan diri pada apa yang ada di hadapan, kepada visi hidupnya: mewartakan Kabar Baik seluas mungkin, dan kepada sebanyak mungkin orang.

Melupakan apa yang sudah terjadi dan mengarahkan diri kepada apa yang mau kita capai, juga merupakan kunci untuk kita bertahan hidup.Mungkin kita punya kenangan buruk, atau pengalaman yang pahit dan menyakitkan di masa lalu; lupakanlah. Ibarat sebuah buku, sudahlah kita tutup semua itu. Dan tidak perlu kita buka-buka lagi. Betul, tidak segampang bicara, tetapi memang tidak ada cara lain. Toh juga kita tidak bisa mengubah masa lalu. Lalu, mari kita arahkan diri kita kepada visi di depan; apa sebenarnya yang mau kita capai dalam hidup ini?! Untuk apa kita melakukan ini dan itu?! Apa sesungguhnya tujuan kita?! Berdamai dengan masa lalu akan menjadi awal yang sangat baik untuk kita melangkah ke masa depan. Masa lalu cukuplah kita jadikan sebagai cermin, atau sebagai sebuah pelajaran. Minimal supaya kita lebih bijak, lebih peka, lebih peduli, atau bahkan lebih tahu diri di masa depan.

Seumpama begini: Anda membuat lukisan di sebuah kertas gambar. Sayangnya lukisan itu banyak coret-moret noda-noda hitam. Bagaimanapun Anda menghapus toh tetap akan meninggalkan bekas. Maka tidak ada cara lain; Anda harus mengganti kertas gambar dengan yang baru. Lalu buatlah sebuah lukisan yang baru pula.

Hidup kita dapat juga diumpamakan seperti lukisan. Lukisan masa lalu mungkin penuh dengan coretan noda hitam. Sudahlah, kita tinggalkan. Kita buat sebuah lukisan baru di kertas kehidupan yang baru. Tinggal pertanyaannya, lukisan apa yang mau kita buat? Selamat “melukis” di kertas kehidupan.

Dari buku : Bila Cinta Menyapa, Ayub Yahya, diterbitkan oleh Gloria Graffa.

Friday, June 23, 2006

Friday's Joke - 08


DASI

Seorang pengembara tersesat di gurun pasir Aljazair. Ketika menyadari bahwa satu-satunya peluang untuk selamat adalah dengan menemukan pemukiman penduduk, dia mulai berjalan. Waktu berlalu dan dia menjadi haus. Waktu terus berlalu dan dia semakin merasa lemas. Sambil merangkak, ketika dia hampir pingsan, dia melihat ada sebuah tenda yang berjarak hanya 500 meter di depannya.

Nyaris tak sadar, akhirnya dia berhasil mencapai tenda dan berteriak, "Air....."Seorang laki-laki muncul di pintu tenda dan menjawab dengan sopan, "Maaf, Tuan, saya tidak punya air. Tapi, saya punya dasi. Tuan boleh mengambilnya", sambil menyodorkan koleksi dasi sutera yang indah."Bodoh kau!" seru pengembara itu. "Aku sekarat! Aku butuh air! Bukan dasi!". "Baiklah," jawab pemilik tenda itu, "jika Tuan benar-benar membutuhkan air, ada sebuah tenda kira-kira 2 kilometer di sebelah utara. Di sana Tuan akan mendapatkan air seperti yang Tuan inginkan."

Tanpa pikir panjang, pengembara itu mengumpulkan sisa-sisa tenaganya untuk menyeret tubuhnya menempuh perjalanan ke tenda yang dimaksudkan orang itu. Dengan tenaga terakhir yang dimilikinya, dia berhasil menggapai pintu tenda kedua dan ambruk di depannya. Seorang laki-laki memakai jas tuksedo yang mahal muncul di pintu tendadan bertanya, "Apa yang dapat saya bantu, Tuan?""Air..." bisiknya lemah. "Oh, Tuan," jawab laki-laki tadi, "Maaf sekali, anda tidak dapat masuk ke sini tanpa memakai dasi!"

Ayah's quote :
Apa yang tidak berguna dalam situasi tertentu dalam hidup kita. Belum tentu tidak berguna dalam seluruh hidup kita. Jangan hidup hanya berorientasi pada kepentingan dan kebutuhan diri sendiri. Sebab itu akan membutakan kita terhadap kebajikan orang di sekitar kita.

Catatan Harian

Day - 282

Hari kedua retreat. Ada empat sessi hari ini. Termasuk sessi outdoor. Kami meng-format acara sekolah minggu “learning by doing”. Games, aktifitas prakarya, nonton film bersama. Games berkenaan dengan kerjasama, tanggung jawab, saling menghargai, keakraban. Aktifitas prakarya, anak-anak kelas kecil : mewarnai, membuat cincin ketaatan, menghias kartu. Anak kelas besar, aktifitas prakaryanya, antara lain membuat kartu ucapan kasih untuk orang tua. Yang akan mereka berikan kepada orang tua masing-masing di acara api unggun nanti malam.

Sangat kreatif. Jujur. Beberapa lucu. Kayak ini : “Thanks Mom and Dad, tapi mana HP-nya? Beliin dong. I love you”. Juga yang ini : “Thanks Mom and Dad. Thanks for teaching me. I just wanna to say where is my pulsa. I’m so sad, because I can not SMS-an gitu loh. See ya.” Ternyata HP sudah menjadi “mainan” anak-anak SD juga. Bukan barang mewah lagi.

Film untuk anak kelas kecil diputar film kartun cerita perumpamaan Tuhan Yesus dalam Alkitab. Tentang Pengampunan dan Anak yang Hilang. Anak kelas besar, diputar film Children of Heaven. Itu film anak-anak dari Iran. Ada juga versi Singapore-nya. Ceritanya tentang seorang anak dari kalangan miskin yang berjuang mendapatkan sepasang sepatu untuk adiknya. Sangat mengharukan. Dan sangat mendidik.

Saya tadi agak ga enak badan. Ada satu sessi aktifitas, saya cuma ikut separuh. Dan teman-teman team bisa meng-handle semua. Saya terima SMS dari Dewi. Urusan Singapore udara beres. Kezia udah dapat sekolah di Lianhua Primary School. Urusan apartemen juga sudah selesai. Thx, God! Setidaknya udah lebih tenang lah. Tinggal ngurusin yang lain-lain. Pindahan tuh ga gampang loh.

Thursday, June 22, 2006

Catatan Harian

Day - 283

Subuh antar Dewi, Kezia dan Karen ke bandara. Mereka duluan “pindahan” ke Singapore. Ditemani mami juga. Kezia udah harus masuk sekolah tanggal 26 Juni ini. Saya masih banyak yang harus “dijalani” dan dikerjakan. Kebaktian pengutusan, urusan kampus, pimpin beberapa acara, dan sebagainya.

Pulang ke rumah rasanya lonely. Biasa berempat sekarang sendiri. Kadang saya suka jengkel, suka marah-marahan sama Dewi dan anak-anak, kalo udah jauh baru deh kerasa betapa berartinya mereka. Memang, segala sesuatu baru terasa berharga kalo udah ga ada. Tapi, masa sih mesti menunggu ga ada dulu baru kita menghargai sesuatu itu:) Makanya, mestinya kita syukuri apa yang ada pada kita sekarang. Dan, berusaha memberi yang terbaik kepada orang-orang yang kita kasihi. Sekarang juga.

Siang bersama Tim Union dan beberapa teman dari PMK-IPB pimpin retreat GKY Puri Indah. Di Via Renata, Cimacan. Tempatnya oke. Tapi sebetulnya sih lebih tepat buat liburan. Kami nangani Sekolah Minggu-nya. Dibagi empat kelas. Ada satu dua acara gabungan. Ga gampang lho nangani anak-anak. Pimpin nyanyian, games, cerita. Ada 130-an anak dari berbagai usia. Salaut saya untuk para Guru Sekolah Minggu.

Saya lihat beberapa pendeta yang khotbahnya “baik” biasanya yang intens juga dalam pelayanan anak. Contoh Pendeta Eka Daramputera dan Pendeta Stephen Tong. Mereka yang bias “merebut” perhatian anak-anak akan bias pula “merebut” perhatian orang dewasa.

Catatan Harian

Day - 284

Semalam ngobrol sama teman sampai malam. Saya sebetulnya ngantuk banget. Flu lagi. Biasa kalau kurang tidur. Tapi teman saya itu, suami istri, lagi punya masalah berat. Mereka perlu teman sharing. Ga nyangka juga sih. Selama ini saya dan juga teman-teman lain, melihat mereka sebagai suami istri yang harmonis. Usaha mereka juga sukses. Tapi ya seperti kata pepatah Belanda, setiap keluarga pasti punya salib.

Pagi makan gudeg di Godean. Enak juga. Jogja di daerah kotanya relatif sudah normal. Jejak-jejak gempa sih masih ada; baik berupa bangunan yang retak, maupun berupa cerita-cerita “menggetarkan” dari teman-teman. Saya baca di Kompas Jogya. Di daerah Gunung Kidul ada 27 korban gemba di Desa Ngawu, Playen, yang menolak bantuan jatah hidup pasca gempa. Mereka menganggap kerusakan yang mereka alami tergolong ringan. Mereka meminta bantuan dialihkan kepada korban gempa yang kondisinya lebih parah. Sungguh berhati mutiara. Bandingkan dengan stasiun televisi dan koran yang berlomba “jualan” gempa untuk merebut untung.

Siang kembali ke Jakarta. Bandara Adi Sutjipto lokasi keberangkatan akibat gempa masih dalam perbaikan. Sampai di rumah jam 14-an. Dewi dan anak-anak jadi berangkat besok ke Singapura. Banyak tamu yang datang. Malam saya pimpin kursus tehnik berkhotbah di PPWG STT Jakarta. Ini pertemuan terakhir. Ada acara ramah tamah. Katanya, sekalian perpisahan dengan saya. Jadi terharu juga. Thx, rekans. Thx.

O ya tadi di jalan dari Bandara, seorang teman telepon. Ia pengen ketemu sebelum saya berangkat. Tapi ia wanti-wanti jangan dibatalin lagi. Katanya sudah tiga kali saya oke ketemu buat akan bareng, terus batal. Kelemahan saya tuh begitu, suka ga enakan nolak. Ini di terima itu diterima. Akibatnya hari H-nya, mesti deh ada yang terpaksa dibatalin. Teman saya itu bilangin saya, jangan begitu dong. Meski yang dibatalin itu biasanya yang janjian “ringan” kayak makan atau nonton. Tapi kalau bisa ya bilang bisa, ga ya ga. Bener juga. Saya harus bisa lebih tegas.

Wednesday, June 21, 2006

Wednesday's Games Idea - 03


Alas Kaki Siapa

Jumlah pemain : Dalam kelompok sedang sampai 50 orang.
Alat yang dibutuhkan : Sepatu/alas kaki sebelah kanan dari setiap peserta.
Waktu bermain : 15-20 menit
Cara Bermain :
Seluruh peserta harus menanggalkan alas kakinya. Selanjutnya seluruh peserta diminta untuk mengumpulkan sepatu/sandal sebelah kanan ke depan. Seluruh peserta berdiri dalam lingkaran membelakangi pemimpin permainan. Selanjutnya, pemimpin permainan akan membagikan sepatu-sepatu tersebut secara acak di belakang masing-masing peserta. Dengan aba-aba dari pemimpin permainan, seluruh peserta secara serentak membalikkan badan dan memungut sepatu yang ada di hadapannya. Tugas mereka adalah mencari siapa pemilik sepatu tersebut. Saat mereka mencari pemilik sepatu, peserta hanya boleh mengeluarkan satu kalimat “apakah ini milikmu?“ Jika ya, cukup dijawab dengan anggukan kepala, tetapi jika bukan, harus dijawab dengan “maaf, bukan“. Pada saat mencari, mereka juga dicari. Jika sudah menemukan sang pemilik sepatu, tanyalah nama lengkapnya. Permainan dibatasi maksimum 15 menit. Setelah waktu selesai, seluruh peserta yang telah mendapatkan kembali sepatu sebelah kanannya harus menggunakannya.
Tujuan permainan :
Manakah yang harus didahulukan, orang lain atau diri sendiri? Melayani orang lain atau kepentingan diri sendiri? Dalam relasi dengan orang, kerap kita lupa, bahwa orang lain sama pentingnya dengan diri kita. Hadir untuk saling melengkapi. Layanilah seorang akan yang lain dalam kasih.

Tuesday, June 20, 2006

Catatan Harian

Day - 285

Berangkat ke Jogja. Naik Adam Air jam 6.30. Sampai Adi Sutjipto hampir jam 8-an. Agak ngaret dikit. Dijemput teman. Di jalan yang dilewati tampak jelas jejak-jejak gempa. Kalo di tengah kota yang jauh dari pantai rusaknya segitu. Saya bisa bayangkan parahnya yang dekat pantai dimana pusat gempa berasal.

Terus ke kampus urus tesis. Revisi sudah oke. Tinggal tanda tangan dosen. Nungguin dosen untuk tanda tangan ngeselin juga nih hehehe. Saya jadi inget kalo ada anggota jemaat yang butuh tanda tangan saya buat minta keringanan uang sekolah. Mereka juga pasti kesal kalo lama-lama nunggu. Emang kita tuh baru deh bisa ngerasain sakitnya orang yang kita cubit, setelah kita juga dicubit. Akhirnya dua dosen udah tanda tangan. Tinggal satu dosen. Saya kejar ke rumahnya. Ia lagi cuti. Yaaaa. Padahal tanda tangan kan cuma lima menit. Terpaksa tertunda deh.

Siang sampai malam ngunjungi teman-teman. Kita ngobrol seputar gempa. Mendengar cerita pengalaman mereka saat gempa. Ngeri juga. Saat-saat menggetarkan dan mendebarkan begitu, betapa besar arti SMS dan telepon penghiburan dari kerabat yang tinggal jauh. Tapi tadi sih mereka cerita sudah sambil ketawa-ketawa. Saat pahit emang akan terasa manis kalo dikenang.
Kita lalu berdoa bersama. Kita meyakini ga ada satu pun episode dalam hidup kita yang berada di luar kendali Tuhan. Semua pasti ada hikmahnya. Walau sekarang kita ga tahu apa. Blank. Dalam situasi sulit seperti itu pertanyaan yang produktif dan berpengharapan adalah, “Apa maksud Tuhan dibalik semua ini?” Bukan, “Kenapa semua ini terjadi?”.

Tuesday's Song - 08

S'mua Baik
Penyanyi Franky Sihombing
Composed by Tommy Widodo dan Budi

Dari semula t'lah Kau tetapkan
Hidupku dalam tanganMu
Dalam rencanaMu, Tuhan
Rencana indah t'lah Kau siapkan
Bagi masa depanku
Yang penuh harapan

Reff.
S'mua baik, s'mua baik
Apa yang t'lah Kau perbuat
di dalam hidupku
S'mua baik, sungguh teramat baik
Kau jadikan hidupku berarti

Renungan :
"Sebab Aku ini mengetahui rancangan-racangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman Tuhan, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan." (Yeremia 29:11). Jadi, dalam menjalani hidup ini dimana pun dan sebagai siapa pun; berusaha sebaik-baiknya, berserah sepenuh-penuhnya. Just do the the best, let God do the rest.