Saturday, June 24, 2006

Renungan Sabtu - 07


Paulus : Melupakan dan Mengarahkan

Perjalanan hidup Paulus sungguh menggetarkan hati. Ibarat film, penuh dengan adegan menegangkan dan mengharukan. Pengalaman “perjumpaannya” dengan Tuhan Yesus di jalan yang menuju Damsyik—yang membawanya kepada pertobatan—begitu dramatis dan mengejutkan.

Pula, keteguhan dan ketegarannya dalam memberitakan Injil. Ia berjuang mengatasi segala kelemahan dan sakit fisiknya, tidak menyerah dengan rupa-rupa pencobaan dan aniaya yang dialaminya. Tak sejengkal pun langkahnya surut ke belakang. Terus maju pantang mundur.Pernah suatu ketika di Listra, akibat provokasi orang-orang Yahudi yang datang dari Antiokhia dan Ikonium—di kedua kota ini Paulus juga mengalami kejadian tidak menyenangkan karena ulah orang-orang Yahudi itu yang rupanya dengan segala cara terus berusaha mencelakakannya —Paulus dianiaya habis-habisan; dilempari batu, lalu diseret ke luar kota. Hebat sekali penganiayaan itu, sampai-sampai mereka menyangka Paulus telah mati (Kisah Para Rasul 14:19).

Kapokkah Paulus?! Tidak. Pada ayat 20,21 dikatakan, “Akan tetapi ketika murid-murid itu berdiri mengelilingi dia, bangkitlah ia lalu masuk ke dalam kota. Keesokan harinya berangkatlah ia bersama-sama dengan Barnabas ke Derbe. Paulus dan Barnabas memberitakan Injil di kota itu dan memperoleh banyak murid. Lalu kembali mereka ke Listra, Ikonium, dan Antiokhia”.Hebatnya—kalau mau dibilang demikian— itu bukan satu-satunya pengalaman pahit yang Paulus alami. Dalam suratnya kepada jemaat di Korintus ia menulis, “Lima kali aku disesah orang Yahudi, setiap kali empat puluh kurang satu pukulan, tiga kali aku didera, satu kali aku dilempari dengan batu, tiga kali mengalami karam kapal, sehari semalam aku terkatung-katung di tengah laut. Dalam perjalananku aku sering diancam bahaya banjir dan bahaya penyamun, bahaya dari pihak orang-orang Yahudi dan dari pihak orang-orang bukan Yahudi; bahaya di kota, bahaya di padang gurun, bahaya di tengah laut, dan bahaya dari pihak saudara-saudara palsu” (2 Korintus 11:24-26). Paulus mengutarakan semuanya itu tidak dengan maksud menyombongkan diri ataupun mencari simpati, tetapi untuk membela diri terhadap orang-orang yang meragukan dan terus-menerus menyerang kerasulannya. “Apakah mereka pelayan Kristus? —aku berkata seperti orang gila—aku lebih lagi!” (ayat 23).

Luar biasa. Apa yang membuat Paulus tetap tegar dan teguh? Jawabannya ada di Filipi 3:13. “Tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku.”

Melupakan yang di belakang dan mengarahkan kepada apa yang di hadapan, itulah kunci ketegaran dan keteguhan Paulus. Segala pengalaman pahit; penderitaan, aniaya, dan fitnah keji yang pernah dialaminya, ia tanggalkan dan tinggalkan di belakang. Ia melupakan semuanya itu dan tidak membiarkan dirinya terus tenggelam dalam kekecewaan dan kesedihan, sekalipun secara manusiawi ia punya banyak alasan untuk itu. Betapa tidak? Ia sudah bertobat dan menjadi pengikut Tuhan Yesus. Bahkan lebih dari itu, ia juga aktif mengabarkan Injil ke mana-mana. Lha, kok malah mengalami banyak kesulitan dan kepahitan?! Sebaliknya Paulus mengarahkan diri pada apa yang ada di hadapan, kepada visi hidupnya: mewartakan Kabar Baik seluas mungkin, dan kepada sebanyak mungkin orang.

Melupakan apa yang sudah terjadi dan mengarahkan diri kepada apa yang mau kita capai, juga merupakan kunci untuk kita bertahan hidup.Mungkin kita punya kenangan buruk, atau pengalaman yang pahit dan menyakitkan di masa lalu; lupakanlah. Ibarat sebuah buku, sudahlah kita tutup semua itu. Dan tidak perlu kita buka-buka lagi. Betul, tidak segampang bicara, tetapi memang tidak ada cara lain. Toh juga kita tidak bisa mengubah masa lalu. Lalu, mari kita arahkan diri kita kepada visi di depan; apa sebenarnya yang mau kita capai dalam hidup ini?! Untuk apa kita melakukan ini dan itu?! Apa sesungguhnya tujuan kita?! Berdamai dengan masa lalu akan menjadi awal yang sangat baik untuk kita melangkah ke masa depan. Masa lalu cukuplah kita jadikan sebagai cermin, atau sebagai sebuah pelajaran. Minimal supaya kita lebih bijak, lebih peka, lebih peduli, atau bahkan lebih tahu diri di masa depan.

Seumpama begini: Anda membuat lukisan di sebuah kertas gambar. Sayangnya lukisan itu banyak coret-moret noda-noda hitam. Bagaimanapun Anda menghapus toh tetap akan meninggalkan bekas. Maka tidak ada cara lain; Anda harus mengganti kertas gambar dengan yang baru. Lalu buatlah sebuah lukisan yang baru pula.

Hidup kita dapat juga diumpamakan seperti lukisan. Lukisan masa lalu mungkin penuh dengan coretan noda hitam. Sudahlah, kita tinggalkan. Kita buat sebuah lukisan baru di kertas kehidupan yang baru. Tinggal pertanyaannya, lukisan apa yang mau kita buat? Selamat “melukis” di kertas kehidupan.

Dari buku : Bila Cinta Menyapa, Ayub Yahya, diterbitkan oleh Gloria Graffa.

No comments: