Wednesday, January 24, 2007

Catatan Harian

Day - 67

Rabu, 24 Januari 2007 -- Siang ketemu teman di West Mall. Sekalian lunch. Ia salah seorang pengurus sekolah di Jakarta. Sekolah ia mau membuka kelas internasional. Mau merekrut guru-guru dari sini. Bisa orang Indonesia yang studi di sini. Bisa orang sini yang punya kualifikasi sebagai guru. Saya diminta jadi semacam PIC-lah gitu. Rencana akan pasang iklan di beberapa surat kabar di sini. Juga lewat gereja.

Di beberapa kota besar di Indonesia sekolah-sekolah “eksklusif” sedang booming. Namanya macam-macam. Sekolah international, national plus, bilingual school, kelas akselerasi. Dan yang baru: brilyant school untuk anak-anak yang ber-IQ tinggi. Uang masuknya bisa sampai puluhan juta. Ckckck. Herannya yang daftar ngantri. Persaingan antar sekolah "merebut" calon murid sangat ketat. Berarti orang Indonesia yang "kaya" tuh banyak.

Di sisi lain orang miskin juga makin bajibun. Konon yang berpendapatan dibawah 600 ribu per bulan mencapai 45 juta orang. Nasib anak-anak mereka bisa makin "tercecer". Saya pikir sih selain sekolah yang plus-plus tadi, perlu juga dibikin sekolah "kampung". Biaya murah kualitas pengajaran oke-lah. Jangan karena murah lalu "ala kadarnya". Dalam kondisi sekarang rasanya gereja lebih perlu "bermain di area ini". Untuk lebih memberi daripada mendapat.

Saya tertarik dengan sekolah "ndesa" yang digagas alm. Romo Mangun di Kedung Ombo, Jawa Tengah. Good. Pendidikan harus accessible kan. Untuk siapa saja. Ga boleh ada yang "tertolak". Dengan alasan apa pun. Kaya-miskin, pintar-bodoh, pria-wanita. Fasilitas dan cara pengelolaan boleh beda, tapi kesempatan harus sama. Menurut saya substansi pendidikan tuh membangun dunia melalui manusianya. Dari West Mall terus ke gereja. Sore ada janji konseling. Disambung malamnya rapat majelis.

2 comments:

Anonymous said...

Dear Pak Ayub,

Saya Setuju dengan pemikiran Bapak tentang dunia pendidikan. Kok ya sekolah2 swasta di Indo (Jakarta khususnya)..cenderung dijadikan ajang bisnis. Yayasan2 sekolah seperti mencari keuntungan sebanyak2nya. Yang lebih menyedihkan sekolah2 tsb adalah sekolah2 kristen n katolik. Pernah ada kejadian dimana seorang Ibu ingin masukin anaknya ke SD suatu sekolah.., diminta uang pangkal 21 juta. Disaat negosiasi dengan bendahara yayasan sekolah tsb..eh malah dibilang : " Sudahlah Bu..kalau Ibu nggak mampu..jangan dipaksa, cari saja sekolah lain..masih banyak kok." Sombong sekali khan. Padahal setiap orang tua pastilah ingin yang terbaik buat pendidikan anak2nya. Satu pertimbangan khusus memilih sekolah tsb hanyalah karena lokasinya dekat dengan kantor dimana dia bekerja..dengan pemikiran kalo anaknya belum dijemput..bisa diajak dulu untuk menunggu di kantor. Akhirnya Ibu tsb telah dapat sekolah lain yang lebih manusiawi.

Lalu apakah Pak Ayub sudah mengutarakan pemikiran Bapak tentang sekolah ideal kepada teman Bapak yang punya rencana membuka kelas International tsb? Tidakkah lebih baik uangnya digunakan untuk membuka sekolah bagi mereka2 yang kurang or malah tidak mampu..di desa2 or di Jakarta itu sendiri..yang notabene masih banyak anak2 Jakarta yang nggak bisa tertampung di sekolah negeri..apalagi bersekolah di sekolah swasta..yang exclusive pula.

Bagaimana peran gereja dalam hal ini Pak?

Salam,

Lasary

ayub yahya said...

iya, bu,
ttg itu juga jadi topik saya dan bapak itu berdiskusi. secara pribadi ia setuju dengan sekolah "kampung". peran gereja? sejauh ini hanya memberi rekomenasi anggotanya yang minta keringanan. tapi menurut saya sebetulnya bisa lebih. sekarang saya kira memang agak susah membedakan sekolah berlabel agama dengan yang "murni" bisnis. begitu juga dengan rumah sakit.