Saturday, March 03, 2007

Renungan Sabtu - 36


Nama

Hampir semua orang mengenal Yudas Iskariot. Dia adalah salah seorang dari dua belas murid Tuhan Yesus. Jabatan resminya bendahara. Sepanjang sejarah orang mengingatnya, mengenang ciuman mautnya di Taman Getsemani, dan..………. mengutuknya sebagai pengkhianat!

Tetapi tahukah Anda, kenapa Yudas mengkhianati Tuhan Yesus? Jelas bukan karena uang. Sebab kalau karena uang, kenapa dia menghargai-Nya hanya 30 keping uang perak. Kalau mau, tentunya dia bisa meminta harga yang jauh lebih tinggi. Dan pula, setelah mendapatkan uang itu kenapa dia malah membuangnya?

Juga jelas bukan karena Yudas membenci-Nya. Sebab kalau betul karena benci, tentunya dia merasa senang ketika Tuhan Yesus akhirnya ditangkap. Kenapa dia malah menyesal setengah mati sampai-sampai nekad gantung diri.

Lalu karena apa? Kuat dugaan, karena Yudas ingin memaksakan kehendaknya. Dia ingin Tuhan Yesus bertindak sesuai dengan keinginannya, berlaku seperti yang dia mau. Begitulah kalau keinginan sudah menjadi tuan. Segala cara akan dihalalkan. Suara hati tidak lagi didengar.

Tetapi masalahnya di sini bukan itu. Masalahnya adalah nama. Kata Yudas adalah bentuk Yunani dari kata Ibrani Yuda, yang artinya: Terpujilah Tuhan. Sungguh sebuah nama yang indah. Tetapi kenapa kenyataannya malah seorang pengkhianat? Benar kata Shakespeare, "What's in a name?", apalah arti sebuah nama.

Nama tidak menjadi jaminan perilaku penyandangnya. Seperti, sebut saja, orang yang bernama Luhur, bisa jadi kelakuannya malah rendah. Atau orang yang bernama Aquinas, tidak dijamin pribudi dan kepandaiannya seluhur Thomas Aquinas, seorang filsuf sekaligus teolog hebat pada Zaman Skolastik. Sama juga dengan orang yang namanya Ayub, tidak lantas dia panjang sabar dan tahan banting seperti tokoh Ayub dalam Alkitab..

Jadi sebuah nama bisa saja sekadar pepesan kosong. Indah artinya, tetapi tidak sesuai dengan perilaku penyadangnya. Seperti Yudas Iskariot. Artinya bagus, tetapi jebulnya justru seorang pengkhianat.

Sungguh berat memang menyandang beban arti sebuah nama. Lebih berat dari menyandang segala atribut kesarjanaan. Barangkali jauh lebih baik seorang yang bernama Jangkrik atau Kuya, tetapi memiliki pribudi seorang satria pinandita.


Dari Buku Potret Diri Tanpa Bingkai - Ayub Yahya, diterbitkan oleh Gloria Graffa

No comments: