Monday, June 19, 2006

Catatan Harian

Day - 286

Pagi berangkat ke Bandung. Nengok mama. Bawa mobil sendiri. Sebetulnya lagi ga fit nih. Semalam flu berat dan agak demam. Ga bisa tidur. Tapi kalau ditunda, takutnya keburu harus pindahan. Dewi, Kezia dan Karen rencanya kan berangkat hari Kamis. Ke Bandung lewat tol Cipularang cuma 2 jam-an.

Mama ajak saya ngobrol pribadi. Ia berpesan, agar di tempat baru saya bisa rendah hati dan sabar. “Mama ga bisa ngasih apa-apa, selain nasihat itu,” begitu katanya. Pesan ini sebetulnya sudah kerap Mama sampaikan ke saya. Mama sangat tahu tentang keburukan saya itu. Saya kerap ga bisa rendah hati dan ga sabaran. Thx, Ma.

Dari Bandung terus ke Serpong. Ke rumah kakak. Papa juga lagi ada di sana. Seperti biasa Papa banyak mengeluhkan tentang penyakitnya. Sakit kepala, sakit gigi, susah buang air besar, sariawan, badan gatel-gatel. Saya hanya mendengarkan. Ga bisa berbuat apa-apa juga. Orang-orang seperti Papa tuh kasihan. Hanya memandang hidup dari sisi negatif. Seolah hidup melulu kusam dan suram. Repotnya, mungkin karena sudah terlalu lama bersikap dan berpikir demikian, jadi sudah terbentuk menjadi semacam mentalitas. Sulit diubah. Ga bisa bersyukur.

Di rumah kakak, saya sempet tidur sebentar. Tapi rasanya nyenyak banget. Mungkin juga karena pengaruh Actifed, obat flu, yang saya minum. Bangun-bangun, badan sudah lebih segar. Sudah sekitar seminggu ini saya sulit tidur. Makanya saya suka “iri” kalau ngelihat tukang-tukang bangunan atau pemulung yang bisa tidur dengan enak, walau cuma beralas selembar koran, di pinggir jalan ramai pula. Tidur emang bukan soal “fasilitas”, tapi soal hati :).

Sunday, June 18, 2006

Catatan Harian

Day - 287

Semalam di retreat Pemuda GKI Gading Indah pimpin satu session plus dedication service. Dilanjutin api unggun dan talent show. Tapi saya minta ijin ga ikut. Capek banget. Saya terus tidur. Tapi ga bisa tidur. Saya tuh biasa, kalau capek malah ga bisa tidur. Sampai jam 1-an baru bisa tidur. Tempat retreat, Villa Carmel, oke juga. Pemandangannya oke. Sawah. Gunung. Sungai. Cuma bangunan dan fasilitas sudah agak “tua". Juga agak jauh dari Jakarta. Ngelewatin titik-titik rawan macet pula.

Pagi pimpin kebaktian. Setelah kebaktian ada acara sederhana perpisahan dengan saya. Surprise. Pemuda GKI Gading Indah lho. Jadi terharu. Thanks rekans. Kembali ke Jakarta nebeng teman yang pulang duluan. Sampai di rumah istirahat bentar. Terus pimpin kebaktian syukur di rumah salah seorang anggota jemaat di Cempaka Putih. Dari situ ke acara perpisahan dengan pengurus wilayah Kelapa Gading Utara dan keluarga di Pronto, Gading Sport Mall.

Dekat-dekat perpisahan begini baru deh kerasa, bahwa banyak orang yang sayang :). Selama ini karena sudah "biasa" ketemu dan biasa bersama jadi ga gitu kerasa. Dan kurang “ngehargainya”. Segala sesuatu emang baru akan terasa berharga kalau sudah hilang. Thanks rekans. Thanks. Thanks.

Sore tante ultah-an. Sekalian kumpul famili. Famili dari pihak Dewi. Kalo famili dari pihak saya sudah “berpecaran". Papua, Bandung, Pontianak, Salatiga. Jadi hampir ga pernah kumpul. Makan di Wan Tu Mall Ambassador Kuningan. Saya jarang-jarang bisa ikut acara kumpul famili. Habis biasa diadakan hari Sabtu atau Minggu. Hari repotnya pendeta :). Flu berat nih. Mana besok mau ke Bandung lagi.

Saturday, June 17, 2006

Catatan Harian

Day - 288

Kembali di Jakarta. Naik Adam Air jam 10.45 waktu Singapore. Semua urusan di Singapore so far so good-lah. Yang belum good justru urusan di Jakarta. Banyak yang harus dikerjakan, tapi waktunya mepet. Jadi rasanya ke sana mentok ke sini mentok. Duh.

Pesawat ngaret 30 menit-an. Hujan deras. Di atas sempat tergoncang-goncang. Kayak naik mobil di jalanan berbatu-batu. Tapi karena di pesawat jadi ngeri juga :). Betapa dekatnya batas antara hidup dan mati. Sampai di Cengkareng jam 11.45 wib. Tol macet banget. Duh. Padahal mau terus pimpin retreat pengurus dan aktivis pemuda GKI Gading Indah di Cipanas. Perginya di jemput sih. Nggak nyetir sendiri.

Saya dapat SMS yang "nggak enak". Dari seorang ibu. Bukan anggota GKI KP. Simpatisan. Ceritanya gini. Awalnya ia kirim SMS cerita masalahnya. Saya tanggapi tentunya. Satu kali. Dua kali. Terus ia jadi suka forward SMS kata-kata mutiara. Satu kali. Dua kali. Selalu saya balas : "thx". Karena udah sering, lama-lama saya agak jarang balas. Toh cuma forward.

Nah, dua hari yang lalu ia kirim SMS, dan saya nggak balas. Selain saya sedang di Singapore dan lagi heboh urus ini itu. Lagian pertanyaan SMS-nya juga, menurut saya, nggak mendesak. Eh, ia marah. Ia SMS bilang bahwa kecewa dan merasa mengalami kepahitan karena saya nggak balas SMS-nya. Akhirnya, saya balas. Saya jelaskan alasan kenapa saya nggak balas SMS-nya. Juga, saya saranin ia juga bisa hubungi pendeta GKI KP yang lain kalau ingin tanya tentang gereja. Ia balas minta maaf.

Salah satu perbedaan antara pria dan wanita menurut Ray Mossholder, pria lebih menekankan prestasi wanita menekankan relasi. Buat pria menghasilkan sesuatu dan berprestasi itu adalah penting. Bagi wanita, relasi dan hubungan baik itu yang penting. Wanita akan mudah merasa sedih kalau dicuekin atau merasa ditolak. Cuma ya, kalau semua SMS harus dijawab, berabe juga kan :).

Renungan Sabtu - 06


Hasil

Jerman adalah sepakbola. Semua penggila sepakbola di jagat ini pasti tidak akan menolak sinyalemen itu. Cerita tentang nama-nama beken macam Maier, Beckenbauer, Breitner, Rummenegge, dan Matthaus, adalah cerita tentang sebuah legenda. Dan legenda tidak pernah mati. Itulah sepakbola Jerman.

Sebagaimana sejarah peradaban manusia; akan sangat berbeda tanpa Karl Mark, "Sang Suhu" dari Jerman, begitu juga sejarah sepakbola; pun akan sangat berbeda tanpa Jerman. Boleh dikata kata sepakbola indah Brasil, catennacio Italia, dan kick and rush Inggris, tetap akan terasa kurang lengkap tanpa gaya liat dan ulet Jerman.

Akan tetapi sepakbola Jerman kerap juga berbalut cerita duka. Pun ketika mereka berada di puncak. Masih ingat piala dunia 1974? Di sana untuk kedua kalinya Jerman (=ketika itu masih Jerman Barat) menapakkan kaki di puncak tangga sepakbola dunia.

Tetapi toh insan sepakbola lebih memalingkan mukanya ke Belanda yang dihajar Jerman 1-2 di final. Total football Belanda menjadi trade mark sepakbola modern. Rinus Michel, Sang Konseptor, dan Johann Cruyff, Sang Inspirator, dibicarakan dimana-mana.

Lalu 1990, di Italia, Jerman untuk ketiga kalinya merebut piala dunia. Adalah
pinalti Brehme yang menghantarnya. Kekaguman? Tidak! Justru suara-suara sinis. Pinalti itu tidak layak, Voller telah melakukan diving (= tipuan). Argentina tidak layak mendapat "kutuk" itu. Tetapi "Sang Pengadil" sudah menjatuhkan vonis. Bahkan tangis seorang Maradona pun tidak kuasa merubah keadaan. Jerman juara. Tetapi itulah final terburuk dalam sejarah piala dunia.

Ya, hasil memang bukanlah segala-galanya. Bagaimana mendapatkan hasil itu juga kerap menjadi ukuran. Apakah kita mencapai sesuatu – entah jabatan, gelar akademis, atau juga kekayaan – dengan jujur, elegan, dan terhormat? Atau………?

Dari buku : Tragedi dan Komedi - Ayub Yahya, diterbitkan oleh Grassindo

Friday, June 16, 2006

Catatan Harian

Day - 289

Semalam ngobrol dengan "pendekar kelana". Ia sudah cukup lama di Singapore. Katanya di sini aman. Cewek jalan malam-malam sendiri naik MRT atau bus oke-oke saja. Terus transportasi umum gampang. Apalagi ia nggak bisa nyetir. Nggak macet pula. Udaranya bersih. Dulu waktu di Semarang dan Jakarta ia sering flu. Di sini ia jarang flu. Mukanya juga bersih. Dulu jerawatan :). Itu plusnya. Minusnya ia nggak cerita :).

Saya nginap di apartment teman. Istrinya sedang ke Amerika. Studi. Pagi Singapore hujan deras. Padahal kemarin panas matahari minta ampun deh. Tinggal di lantai atas apartment yang ga tahan tuh petirnya. Kayaknya tuh deket gitu. Siang urus ini itu lagi. So far, so good-lah. Cuma sekolah Kezia ternyata belum fix. Apartment juga. Mungkin 1-2 hari lagi. Tadinya mo ke KBRI, tapi kesiangan. Jumat cuma setengah hari. Nggak jadi.

Teman saya ngingetin jangan terlena dengan masa "bulan madu". Relasi jangka panjang, seperti juga pernikahan, selalu ada tahapan-tahapannya. Tahap bulan madu, ketika semua masih terasa indah dan smooth. Tahap "kemarahan dan kekecewaan". Mulai ada benturan. Koq begini? Koq begitu? Lewat tahap ini, masuk tahap penerimaan dan "pemurnian". Kita sudah saling memahami kekurangan dan kelebihan. Relasi akan lebih "dalam". Lebih akrab dan apa adanya.

Friday's Joke - 07


Isu

Asrama mahasiswa sebuah Perguruan Tinggi menerima kiriman paket dari salah seorang alumnus. Paket itu berisi sekeranjang makanan khas sebuah daerah. Tentu saja disambut gembira. Bagi komunitas asrama, kiriman makanan bisa menjadi “anugerah” tersendiri.

Tetapi, entah karena kelamaan diperjalanan atau entah dari sananya memang sudah begitu, makanan itu agak berbau tidak sedap. Wah, bagaimana ini? Kalau dibuang jelas sayang. Dan, kok ya tidak menghargai si pengirim yang sudah bersusah payah dan berbaik hati. Tetapi kalau dimakan juga, nanti kenapa-kenapa pula; mending kalau hanya mules, lha kalau sampai harus masuk rumah sakit, bagaimana coba.

“Kita berikan saja dulu sedikit ke si Bujel, anjing Ibu asrama. Kalau si Bujel tidak kenapa-kenapa, berarti bisa kita makan,” usul seorang penghuni.
“Itu tidak berperi kebinatangan dong,” protes penghuni lain.
“Lha, orang saja banyak yang tidak berperi kemanusiaan; kok situ masih mikirin peri kebinatangan. Apa mau situ yang nyicipi?!”

Alhasil, usul diterima. Si Bujel dipanggil, lebih tepat dipaksa. Tentunya tidak atas sepengetahuan Ibu asrama. Singkat kata, ternyata si Bujel tidak kenapa-kenapa melahap itu makanan. Anjing itu malah mengaing-gaing minta lagi. Maka tanpa dikomando dua kali, para mahasiswa menyerbu itu makanan. Dalam waktu singkat ludes. Dan tidak terjadi apa-apa.

Malamnya, mereka mendapat kabar si Bujel mati! Bukan alang kepalang mereka kaget. Keresahan dan ketakutan lantas saja menghantui; bagaimana ini, makanan sudah masuk ke perut mereka?! Ada yang katanya mendadak pusing, malah ada juga yang lalu muntah-muntah. Dokter segera dipanggil. Para mahasiswa yang tadi ikut makan diperiksa satu per satu. Tidak ada yang janggal. Lalu kenapa si Bujel mati? O, rupanya tergilas truk!

Ayah's quote :
Maka, hati-hati dengan isu, kabar angin, selentingan. Selidiki dulu kebenarannya.

Thursday, June 15, 2006

Catatan Harian

Day - 290

Berangkat ke Singapore. Berdua Dewi. Kezia dan Karen sama Opa Oma. Naik Adam Air yang jam 7.25 pagi. Dari rumah jam 5. Perjalanan lancar. Pesawat juga ga ngaret. Sampai di Changi jam 10-an waktu Singapore. Dijemput beberapa teman. Urus ini itu. Medical check up. Employment Pass. Semua beres.

Terus, ketemu rekan-rekan sekerja di Gereja Presbyterian Orchard (GPO). Berbincang seputar pelayanan di Singapore. Good. Sambutan dan keterbukaan sangat positif. Awal yang baik. Salah satu kunci penting dalam pelayanan di gereja adalah kekompakan dan kesehatian para "gembalanya".

Sore ngelihat apartment tempat tinggal. Rata-rata apartment yang disewakan di sini udah fully furnished. Semua tersedia. Kasur, lemari, mesin cuci, AC, kompor. Sampai televisi. Jadi kita tinggal "bawa diri". Harga sewa termasuk biaya maintenance pula.

Malam janjian ketemu sama "Pendekar Kelana" di Station MRT Bukit Gombak. Ia mau traktir makan malam di China Town :). Sobat saya ini orang pintar. Tapi "kompleks". Ia ga pernah berhenti bertanya dan menggugat kehidupan. Ia belum bisa terima dengan realitas bahwa, ga semua yang terjadi di dunia bisa diurai dengan akal. Banyak hal yang hanya bisa kita hanya bisa terima. Karenanya ia pun terus "gelisah". Terus ga puas. Demi dirinya sendiri, harapan saya semoga ia segera "bertobat". Hehehe.

Catatan Harian


Day - 291

Semalam ga bisa tidur. Siang ini juga ga bisa “nebus” tidur. Saya stress nih. Banyak hal yang harus dikerjakan. Naskah-naskah yang sudah dipesan penerbit. Acara-acara yang harus saya pimpin. Kayak retreat pemuda GKI Gading Indah dan retreat Sekolah Minggu GKY Puri Indah. Belum urusan pindahan ke Singapura. Persiapan kebaktian pengutusan. Beberapa teman sudah pula “nge-book” sebelum pindah “perpisahan” dulu. Duh. Biasa deh kalau stress begini, ujung-ujungnya sariawan. Duh.

Tadi telepon dosen. Revisi tesis katanya sudah oke. Haleluya. Berarti dalam waktu dekat saya mesti ke Jogja nih. Dan pasti ga bisa satu-dua hari. Selain urusan tesis, juga ketemu teman-teman di sana. Tapi kapan? Nemuin kakak di Serpong saja belum kesampaian. Ke Bandung nengok orang tua, juga belum sempat. Duh. Padahal sudah janji pula ketemu teman di Cirebon dan di Bogor. Tolonggggg!!!

Sore pimpin kursus tehnik berkhotbah lanjutan di PPWG STT Jakarta. Seperti minggu lalu, praktek dan kemudian dievaluasi bersama. Ada seorang peserta, ia berjemaat di GPIB, bilang bahwa ada teman gerejanya yang suka ngumpulin tulisan saya, sejak saya masih rutin menulis di Suara Pembaruan dulu. Wah. Kabar baik nih. Bagi saya, bahwa ada orang yang nyukai tulisan saya, itu adalah “honor” terbesar.

Dari STT Jakarta terus ke Gading Batavia. Janji ketemu dengan beberapa teman. Kita mau membicarakan mengenai rencana pendirian “dream school”. Saya punya mimpi bikin sekolah seni buat anak-anak. Pulang malam. Belum persiapan buat besok nih. Besok subuh bersama Dewi akan berangkat ke Singapura. Urus apartemen dan sekolah anak-anak. Mana juga belum menulis untuk Warta Jemaat. Duh.

Wednesday, June 14, 2006

Dari Kamu - 01


Buku Reclaiming the "L" World


From Ayah :
Brur Sintong menulis komennya tentang buku Reclaiming the ‘L’ World – Renewing the Church from its Lutheran Core, yang ditulis oleh Kelly A. Fryer (Augsburg Fortress). Sebuah tulisan yang interesan. So, semoga juga jadi berkat bagi rekan sekalian. Rekans pun bisa ikutan urun rembug menulis komen apa saja. Tentang resensi buku. Tentang film. Tentang isu hangat. Silahkan. Bisa dikirim via email ke
ziaren22@yahoo.com, dan selanjutnya akan diposting dalam blog saya.

sintong_sih said... @ 10:43 AM

Jika dilihat dari cakupan perubahan, memang gereja saat ini membutuhkan revolusi. Tetapi bukan berarti meniadakan tatanan bagus yang sudah ada. Buku Reclaming tersebut tidak bersifat revolusi, tetapi bergerak dari kekayaan tradisi gereja yang dimiliki. Jadi dimulai dari who we are, where we are and where are we going to be in the future.

Sang penulis, Kelly A. Fryer, menawarkan 5 perspektif:

Pertama, "Jesus is Lord". Because Jesus is Lord, nothing and no-one else can be. What are some of the things which become Lord instead of Jesus in our lives and churches?

Kedua, "Everyone is welcome". Jesus welcomed everyone – including, surprisingly, us!. How would our church be transformed if we lived out Jesus’ inclusive welcome for everyone?

Ketiga, "Love changes people". It’s God’s unconditional love for us that changes us, not the laws in the Bible or even church's rules. And it really does change us. Where does God’s love call us to go, what does it call us to be?

Keempat, "Everybody has something to offer". We have all been called into the priesthood of all believers through our baptism. What would happen if all of us were set free to take up our ministry as part of the people of God?

Kelima, "The world needs what we have". We have such a great gift, we have to share it.

Kelima hal tersebut bukan hal yang baru, bukan? Tetapi jika diaplikasikan akan membawa perubahan. Berani terima tantangan?

Wednesday's Games Idea - 02


Mengambil Barang Bersama

Jumlah pemain : kelompok dengan jumlah besar, minimal peserta 10 orang.
Alat yang dibutuhkan : Tali Rafia, Barang-barang milik anggota kelompok
Waktu bermain :15-30 menit
Cara Bermain :
Peserta dibagi dalam kelompok. Setiap kelompok dibagi lagi dalam 2 sub-kelompok yang anggotanya sama banyak. Sub-kelompok 1A berbaris menghadap kiri dan sub kelompok 2 berbaris menghadap kanan. Seluruh anggota meletakkan tangan di pundak teman di depannya (kereta-keretaan). Anggota sub-kelompok 1A yang paling belakang akan diikat pinggangnya dengan tali rafia untuk dihubungkan dengan anggota paling belakang sub kelompok 1B. Selanjutnya, masing-masing sub-kelompok akan mencoba mengambil 5 buah benda yang ada di hadapan mereka. Keberhasilan dalam permainan ini ditentukan apakah masing-masing anggota mau bekerja sama, dimana harus ada yang mengalah dan mengambil barang secara bergantian.
Tujuan permainan :
Bekerja sama dengan orang lain terkadang tidak mudah untuk dilakukan. Apalagi kalau memiliki tujuan yang sama. Kawan dianggap lawan. Mitra jadi kompetitor. Bekerja sama dibutuhkan kerendahan hati. Kesediaan untuk melebur. Demi tercapainya tujuan bersama

Catatan Harian

Day - 292

Hari ini hari pertama saya cuti. Karen ulang tahun. Pagi-pagi bangun tidur kita nyanyi “Happy Birthday”. Doa. Buka kado. Ga ada tiup lilin dan potong kue. Dewi kasih harmonika dan gelang karet bertulisan KAREN. Kezia kasih jepit rambut. Saya kasih koin Amazone. Sudah bisa ditebak, mana yang paling Karen sukai. Hehehe. Dewi masak mie goreng. Dalam tradisi Cina, mie adalah makanan wajib hari ulang tahun. Konon, itu simbol panjang umur. Tapi dalam tradisi keluarga kami, itu simbol "ga ada menu lain" :). Mikirin menu makanan dari hari ke hari tuh ternyata ga gampang loh. Itulah hebatnya para ibu rumah tangga.

Jam 9.45 bersama Dewi antar Kezia dan Karen sekolah. Mereka masuk sekolah jam 10.15. Terus ke BCA. Mau tutup rekening. Tapi antri banget. Ampun deh. Jadi kita tinggal. Soalnya mau ke Rumah Sakit St. Carolus. Besuk anggota jemaat yang sakit. Jam besuk siang di sana jam 11-12. Takut ga keburu. Sekalian mau ngelayat yang meninggal. Ayah dari salah seorang anggota jemaat. Disemayamkannya di St. Carolus juga. Meski lagi cuti, “hal-hal” begini ga bisa ditingalkan.

Anggota jemaat yang sakit tuh seorang ibu. Baru habis operasi. Enam tahun lalu ia kena kanker di otaknya. Sudah amat kritis. Secara manusia ga ada harapan. Tapi luar biasa, ia bisa “bangkit” lagi. Ga sembuh total sih. Tapi ia bisa jalan. Ga perlu kursi roda. Juga bisa berkomunikasi, walau bicaranya agak susah. Dua minggu lalu tiba-tiba ia drop dan harus operasi. Saya ditelepon. Saya kagum dengan suaminya. Sabar dan telaten ngerawat istrinya. Setiap kali saya ketemu di gereja jam berapa pun hari apa pun, mesti ia bersama istrinya itu.

Tadi sore saya baru terima SMS ini dari teman “mantan” guru sekolah Minggu yang tengah dirawat di Guangzou karena kelainan ginjal: “Kondisi saya ini kurang baik. Beberapa hari saya tidak sadar diri. Panas saya masih turun naik bisa mendadak. Sekarang saya masih pikun. Mohon doa penguatan dan penyembuhan.” Saya terus berdoa buatmu, rekan. Berharaplah yang terbaik, tapi bersiap pulalah yang “terburuk”. Selalu. Kuncinya adalah berserah. Salam kasih.

Tuesday, June 13, 2006

Tuesday's Song - 07

Kenangan Terindah
Penyanyi : Samson

Aku yang lemah tanpamu,
aku yang rentan karena
cinta yang t'lah hilang darimu,
yang mampu menyanjungku,

Selama mata terbuka,
sampai jantung tak berdetak,
selama itupun aku membutuhkanmu,
darimu kutemukan hidupku,
bagiku kaulah cinta sejati

Reff.
Bila yang tertulis untukku,
adalah yang terbaik untukmu,
kan kujadikan kau kenangan yang terindah dalam hidupku
Namun tak kan mudah bagiku,
meninggalkan jejak hidupmu
yang t'lah terukir abadi
sebagai kenangan yang terindah

Renungan :
Cinta (sejati), seperti kata Gabriel Marcel, filsuf Perancis, abadi dan mengabadikan. Ketika kita mengatakan, "Aku cinta padamu." Sesungguhnya kita sedang mengatakan, "Kamu tidak pernah mati." Cinta membuat seseorang "hadir". Hadir berbeda dengan "ada". Ada hanya sebatas fisik. Hadir mengatasi jarak dan waktu bahkan dimensi. Maka, berbahagialah orang yang dalam hidupnya memilki "cinta sejati" sebab dengan begitu berarti ia akan mengalami "keabadian". Setidaknya di hati orang yang ia cintai dan mencintainya. Dalam bentuk kenangan terindah.

Catatan Harian

Day - 293

Semalam nonton film Brokeback Mountain di DVD. Dipinjemin teman. Pemandangannya oke banget tuh. Cuma saya “geli” ngelihat dua co “bergumul” layaknya pasangan kekasih ce dan co :). Jujur, seumur-umur saya baru ngelihat “adegan” co dan co begitu. Buset dah. Koq bisa ya. Saya jadi mikir begini. Sekarang kan lagi heboh istilah Teman Tapi Mesra (TTM). Itu loh istilah yang dipopulerkan oleh duo penyanyi Ratu. Berarti yang bisa ber-TTM bukan hanya pasangan berlainan jenis. Yang sejenis pun bisa :).

Cuma kan kalau misalnya dua orang ce dan co akrab banget. Kemana-mana berdua. Lengket kayak perangko. Makan sepiring berdua. Orang langsung bisa menaruh curiga ada apa-apanya. Kalau yang “begitu” itu ce dan ce atau co dan co, orang mungkin ga begitu “bercuriga”. Padahal ternyata bisa lebih “buas”. Hehehe. Huss! Ga usah deh ngurusin keburukan orang lain. Kesalahan terburuk tuh kalau kita sibuk ngurusin keburukan orang lain, tapi lupa ngurusin keburukan diri sendiri.

Sore rapat koordinasi dengan Tim Union. Persiapan retreat jemaat Gereja Kristus Yesus (GKY) Puri Indah. Rapatnya di Bogor karena melibatkan beberapa teman dari PMK IPB. Tim Union ini saya dan beberapa teman yang bentuk. Menerima “pesanan” nangani acara-acara kayak retreat, pembinaan dan keakraban. Bisa gereja, sekolah, atau persekutuan kantor. Mulai dari materi, games, pembicara, aktivitas. Pokoknya semua kami yang siapkan. “Klien” hanya memberi masukan. Acara-acara begitu kalau ditangani sendiri kan repot. Orang jadi sibuk dengan hal-hal tehnis. Ga bisa ngikutin materi yang justru perlu buat mereka.

GKY Puri Indah bikin retreat jemaat akhir Juni. Diikuti sekitar 800 warga jemaat. Acara Sekolah Minggu-nya diserahkan ke Tim Union. Ada 130-an anak. Dibagi empat kelas. Kami menyiapkan semuanya, termasuk modul dan pembicara per kelasnya. Ke depan dengan saya ke Singapura Tim Union akan tetap “jalan”. Saya akan “in touch” dari jauh. Sesekali kalau lagi di Indonesia saya akan terlibat penuh.

Monday, June 12, 2006

Catatan Harian

Day - 294

Hari ini pimpin kebaktian tiga kali di GKI Kayu Putih. Jam 06.30, 08.30, dan 11.00. Kebaktian jam 11.00 sekalian baptisan anak. Ini kebaktian yang sangat emosional buat saya. Sebab ini kali terakhir saya berkhotbah di GKI Kayu Putih sebagai “tuan rumah’. Kelak-kelak mungkin saja saya bisa berkhotbah lagi di sini, tapi sebagai pendeta “tamu”. Waktu salaman dengan jemaat selesai kebaktian, mereka pada bilang, “Selamat bertugas ya, Pak.”, “Sukses, ya, Pak,”, “Kita sangat kehilangan.”, dsb. Duh. Duh. Duh.

Tapi tadi saya denger khotbah saya menyinggung dua orang penatua. Ceritanya begini. Tema khotbahnya kan “Mengelola Waktu”. Salah satu point yang saya sampaikan adalah: Setiap tindakan, ucapan, pikiran, perasaan kita kan pasti “memakan” waktu. Karena itu, kita perlu bertindak, berucap, berpikir, dan merasa hanya hal-hal yang berharga dan bermanfaat. Mata, misalnya, hanya membaca dan melihat hal yang berharga dan bermanfaat. Mulut hanya berucap kata-kata yang berharga dan bermanfaat. Dsb.

Untuk itu, kita perlu berhati-hati dengan “pencuri” waktu kita. Di sekeliling kita banyak sekali “pencuri” waktu. Beberapa contoh: obrolan yang ga berguna; ngalor-ngidul, ngerumpi, ngegosip, buat apa kan?! Televisi juga bisa jadi “pencuri waktu”. Bukannya berarti ga boleh nonton. Nonton televisi silahkan. Tapi jangan berlebihan. Kayak Piala Dunia. Sampai bela-belain, korban-korbanin. Malam jadi siang. Siang jadi malam. Katakanlah kesebelasan favorit kita menang, so what gitu loh?! Lalu rapat-rapat yang ga produktif. Dari pagi sampai sore, sore sampai malam cuma bicarain yang “mboten-mboten”. Ga ada hasilnya. Buang-buang energi.

Nah, kedua penatua itu, yang merasa punya posisi kunci di kemajelisan, tersinggung dengan ucapan saya tentang “rapat ga produktif”. Katanya saya memakai mimbar untuk menyindir. Saya juga bingung kenapa mereka tersinggung. Apa saya salah mengatakan bahwa rapat ga produktif tu bisa “mencuri” waktu kita yang berharga? Pula, saya kan ga bilang itu terjadi di GKI Kayu Putih. Itu berlaku di mana saja koq. Ada-ada saja deh.

Saturday, June 10, 2006

Catatan Harian

Day - 295

Pagi sampai siang acara kebaktian padang wilayah Kelapa Gading Utara. Di Kebun Wisata Pasir Mukti, Citeureup, Bogor. Untuk acara-acara out door tempatnya sih cukup oke. Cuma jalan ke sananya agak susah. Lewat pasar, lewat terminal angkot, jalannya kecil pula. Saya bermimpi punya tanah yang luas. Saya akan jadikan tempat retreat dengan nuansa alam pedesaan. Ada kebun sayur dan buah. Ada sawah. Ada sungai jernih dengan air terjun dan orang bisa berenang di situ. Di bagian lain sungai itu ada ikan-ikan yang sengaja dipelihara dimana orang bisa memancing. Terus saya akan bikin arena permainan kayak Benteng Takeshi. Hehehe. Bermimpi emang asyik ya :).

Saya pimpin ibadahnya. Ga dengan renungan seperti biasa. Saya kasih pengantar, terus diskusi singkat di kelompok, setiap kelompok menyampaikan hasil diskusi. Lalu saya simpulkan. Setelah ibadah, diteruskan acara perpisahan dengan saya. Beberapa orang menyampaikan kesan dan pesan. Duh. Saya terharu sekali. Seperti acara perpisahan dengan wilayah lain. Tengkiu, rekans. Saya mendapat kenang-kenangan sebuah barang hasil teknologi canggih. Pasti mahal. Saya ga pernah bermimpi punya barang itu. Cuma saya ga biasa dan ga bisa memakainya. Gimana dong??!!

Pulang dari Pasir Mukti terus main tenis. Akhir-akhir ini saya jarang bisa main tenis. Ada saja tugas. Padahal olah raga saya sekarang ini cuma itu. Saya jadi kurang berolah raga. Waktu tinggal di Jogja dua tahun lalu, saya bisa berolah raga agak teratur. Joging dan berenang. Saya lebih suka olah raga permainan kayak tenis, tenis meja, bulutangkis, dan sepakbola. Cuma ya, sekadar bisa main. Ga mahir. Just for cari keringat and fun gitu lah.

Malam flu berat dan batuk. Ngantuk. Tapi belum nyiapin khotbah nih. Besok pelayanan khotbah tiga kali di Kebaktian Umum GKI Kayu Putih. Terus siangnya pimpin acara syukuran seorang satu anggota jemaat.

Renungan Sabtu - 05

Jogjakarta


Jogjakarta, buat saya, adalah kota kenangan. Masa lima tahun kuliah di sana adalah masa yang paling tidak terlupakan dalam hidup saya. Teman-teman, warung tempat biasa makan, gang-gang kecil yang biasa saya lalui; bagai masih lekat di pelupuk mata batin. Andai mungkin, rasanya ingin sekali saya kembali ke masa itu.

Akan tetapi Jogjakarta kini sudah tidak seperti dulu lagi. Bangunan semi megah; baik pertokoan maupun perkantoran, banyak bermunculan. Menggantikan rumah dan tempat yang dulu begitu lekat dengan siratan keluguan. Persis seperti gadis desa yang pulang dari kota dengan dandanan “wah”.

Lalu lintas juga tidak setenang dan sesederhana dulu. Saya ingat betul, dulu setiap pagi deretan sepeda, sebagian berboncengan, penuh gelak tawa beriringan membelah ketenangan. Terasa akrab sekali. Kini, yang ada adalah kesemerawutan, sikap sakarepe dewe dan ketergesa-gesaan.

Bahkan kampus yang dulu bagai rumah sendiri; begitu akrab dan penuh gelak, kini bagai tanah asing, dengan wajah-wajah beku. Tak ada lagi aroma keintiman di sana. Bahwa bekas-bekas kehangatan itu masih ada, tidak salah, tetapi itu pun sudah semakin terkikis habis.

Sungguh, saya kehilangan Jogjakarta yang dulu. Tetapi ya, tidakkah hidup memang demikian adanya? Tidak ada yang tetap. Yang baru pada akhirnya akan muncul menggantikan yang lama. Lengkap dengan baiknya di satu pihak, dan buruknya di lain pihak. Pada sebuah zaman, kemajuan dan kemunduran akan selalu berjalan seiring.

Maka, berhati-hatilah dengan kenangan; jangan sampai kita dibelenggu olehnya. Sebab salah-salah kita bisa jatuh pada romantisme sempit masa lalu. Lupa pada kekinian dan kedisinian. Masa lalu, betapa pun dia toh sudah mati.

Dari buku : Tragedi dan Komedi - Ayub Yahya, diterbitkan oleh Grasindo

Friday, June 09, 2006

Catatan Harian

Day - 296

Heboh Piala Dunia di Jerman. Hari ini pembukaannya. Saya ga mau ikut-ikutan heboh. Ngapain kan?! Siapa menang, siapa jadi juara, so what gitu loh?! Kalau mau dan bisa nonton, saya akan nonton. Kalau mau dan ga bisa nonton, saya ga akan bela-belain nonton. Kalau ga mau dan ga bisa nonton, ya ga akan nontonlah. Toh hasilnya bisa saya ikutin di koran atau di internet besoknya. Piala dunia tuh semacam camilan, bukan menu utama.

Meminjem puisinya Widji Tukul. Itu loh penyair muda asal Solo yang di awal-awal masa reformasi tahun 1998-an hilang ga ketahuan rimbanya sampai sekarang. Hanya ada satu kata untuk Piala Dunia? Lawan!!! Simpati saya buat istri dan anak Bung Tukul. Juga buat para orang tua yang anaknya mengalami nasib serupa. Dipaksahilangkan tentara. Semoga Tuhan mengasihani jiwa para penculik mereka.

Tadi main games komputer dengan Kezia. Pakai bahasa Inggris. Ya, ampun. Ternyata saya kalah. Duh. Dengan bahasa Inggris pas-pasan begini, bagaimana nanti saya di Singapura. Jadi ingat sebuah lagu yang biasa dinyanyikan saat acara kematian: “Tenang dan teguhkan hatimu. Tenang. Tenang. Teguhkan hatimu.” Que sera sera deh. Whatever will be will be-lah.

Sore dengan Dewi anter Kezia dan Karen les Bahasa Inggris. Mampir di Mal Kelapa Gading sebentar. Beli kado ulang tahun Karen tanggal 13 nanti. Sebetulnya saya ga pengen ngebiasain Kezia dan Karen kalau ulang tahun tuh dapat kado. Cuma satu lawan sekian banyak orang. Kalah deh. Malam pimpin Pemahaman Alkitab di gereja. Tentang bohong putih.

Friday's Joke -06


Pintaran Siapa?

Seorang pengusaha sedang potong rambut pada tukang cukur langganannya. Ada seorang anak kecil sedang bermain di depan barbershop itu. Tukang cukur berkata, "Itu Bejo, dia anak paling bodoh di dunia". Pengusaha itu heran, "Apa iya?". Tukang cukur dengan bersemangat bilang, "Mari... saya buktikan!"

Lalu, dia memanggil si Bejo, tukang cukur itu merogoh kantongnya dan mengeluarkan lembaran uang Rp 1.000 dan Rp 500, dan berkata, "Bejo, kamu boleh pilih, terserah kamu mau pilih yang mana, ayo nih!". Bejo pun melihat ke tangan Tukang cukur dimana ada dua lembaran uang Rp 1000 dan Rp 500, lalu dengan cepat tangannya bergerak mengambil lembaran uang Rp 500. Tukang cukur dengan perasaan benar dan menang lalu berbalik kepada sang pengusaha dan berkata, "Benar kan yang saya katakan tadi, Bejo itu memang anak terbodoh yang pernah saya temui. Sudah tak terhitung berapa kali saya lakukan tes seperti itu tadi dan ia selalu mengambil uang logam yang nilainya paling kecil".

Setelah sang pengusaha sudah selesai, di tengah perjalanan pulang dia bertemu dengan Bejo. Karena merasa penasaran dengan apa yang dia lihat sebelumnya, dia pun memanggil Bejo lalu bertanya "Bejo, tadi saya sewaktu tukang cukur menawarkan uang lembaran Rp 1.000 dan Rp 500-an, saya lihat kok yang kamu ambil, uang yang Rp 500, kenapa tidak ambil yang Rp 1.000, nilainya kan lebih besar dan dua kali lipat dari yang Rp 500. Si bejo kemudian melihat dan memandang wajah sang pengusaha, ia agak ragu-ragu untuk mengatakannya. "Ayo beritahu saya, kenapa kamu ambil yang Rp 500," desak sang pengusaha. Akhirnya si Bejo pun berkata, "Kalau saya ambil yang Rp 1000, berarti permainannya akan selesai............"

Ayah's quote :
Buat sang tukang cukur berlaku: selumbar di mata orang lain kelihatan, balok di mata sendiri ga kelihatan. Kesalahan terburuk adalah ketika kita sibuk utak-atik kelemahan orang lain dan lupa dengan kelemahan sendiri.

Thursday, June 08, 2006

Catatan Harian

Day - 297

Di perempatan Jalan Pemuda saya beli majalah Playboy edisi dua. Saya cuma pengen tahu kenapa itu majalah bikin begitu heboh. Saya sempet tanya penjualnya, ga takut di-sweeping? Ia cuma tertawa, “Kucing-kucingan saja, Pak. Lha, orang saya ini cuma mau cari makan. Emang mereka mau ngasih saya makan,” begitu jawab ia.

Menurut saya sih majalah itu oke-lah. Walaupun ga banget. Artikel-artikelnya interesan dan humanis. Tentang Fabianus Tibo, terpidana mati kasus Poso. Tentang orang-orang di Kamboja yang harus hidup di antara ranjau bekas perang. Sangat menyentuh hati. Tentang para amoy Singkawang yang penganten pesanan lelaki Taiwan. Tentang fenomena “bakso” di Bali. Malah juga tentang mitos seputar teori evolusi Darwin, dan tentang “Iman dan akal budi”. Soal foto-foto cewek-nya. Biasa saja. Majalah lain kayak Popular, Matra, dan FHM malah lebih “berani”. Apalagi dibanding tabloid-tabloid “kacangan” yang jualannya emang foto seronok. Saya kira dari isi majalah itu sendiri ga ada yang perlu dihebohkan. Apalagi dijadikan alasan untuk melakukan kekerasan. Seandainya majalah itu ga pakai nama Playboy, saya yakin deh ga akan menimbulkan kehebohan. Yang bikin ribut itu kan image playboy-nya.

Saya pribadi ga setuju majalah tersebut dilarang. Tapi saya setuju isi dan peredarannya dibatasi. Cuma susahnya di Indonesia walau sudah ada aturannya, tapi pelaksanaannya itu loh yang suka ga konsisten. Kesannya tuh “benci-benci butuh”. Diikat ekornya dilepas kepalanya. Jadinya lebih buruk. Pelarangan bikin orang kepengen tahu. Ketidaktegasan bikin “barang’barang” itu mudah didapat.

Padahal yang “begitu-begitu” itu kalau sudah tahu, so what gito loh? Saya ingat cerita Goenawan Mohamad di salah satu Catatan Pinggir-nya di Majalah Tempo. Suatu hari katanya, ketika di luar negeri ia nonton film BF. Pertama kali matanya terbelalak. Kedua kali matanya ga terbelalak lagi. Ketiga kali ia tertidur.

Wednesday, June 07, 2006

Catatan Harian

Day - 298

Ada artikel bagus tentang Jogja di Kompas hari ini. Mataram, Kembali ke Jati Dirimu. Tulisan Emmanuel Subangun, pengamat sosial kebudayaan dari Jogja. Ia memaknai bencana Jogja dari sisi mitologi. Sebagai peringatan alam. Bahwa Jogja harus kembali ke jati diri. Jangan terus dimabukkan oleh segala “kuil berhala konsumsi”. Maksudnya pusat perbelanjaan modern. Saya setuju, Jogja adalah contoh pembangunan yang salah arah dan menyakiti rakyat. Tapi kalau gempa itu dianggap peringatan alam, lha koq rakyat kecil yang jadi korban? Siapa yang diperingatkan, siapa yang kena diperingatkan?!

Sore pimpin kursus berkhotbah lanjutan di PPWG STT Jakarta. Setiap peserta bergiliran praktek khotbah. Di-shoot handycam. Terus didiskusikan. Saya pikir, sekolah teologi perlu memberi perhatian lebih pada pelajaran berkhotbah. Sebab buat apa kan mahasiswa teologi itu pintar, kalau ga bisa mengkomunikasikannya. Berkhotbah bukan melulu soal bakat, tapi juga soal keterampilan. Jadi bisa dilatih.

Dari STT Jakarta terus rapat di gereja. Selesai rapat ada seorang penatua utusan Majelis Jemaat minta bicara dengan saya; tentang kebaktian pengutusan saya, juga tentang Dewi. Bulan Nopember tahun lalu kan Dewi mendapat kecelakaan. Lebih tepat “kesialan”. Ada sepeda motor yang jatuh lalu nyenggol mobil yang dikendarainya. Pengendaranya ngaku sendiri ngantuk. Waktu itu saya lagi mission trip di Kalimantan. Orangnya masuk Rumah Sakit. Dioperasi. Sudah beres sih. Cuma kan ada biaya-biaya lain yang ga ditanggung asuransi. Sementara ini besarnya dua juta. Majelis Jemaat tanya, saya mau bayar berapa. Penatua itu sih bilang, ia hanya menyampaikan. Ia sendiri ga ikut rapat waktu keputusan itu diambil. Dan katanya, ia tuh ga setuju dengan keputusan ini. Ga sesuai dengan hati nuraninya. Istri pendeta juga bagian dari pelayanan pendeta. Harusnya Majelis Jemaat ga lepas tangan. Bla, bla, bla.

Salah satu kelemahan organisasi gereja tuh suka ga jelas aturan mainnya. Jadi sebuah keputusan itu tergantung siapa yang memutuskan. Dulu pernah Dewi kena demam berdarah. Masuk Rumah Sakit. Jatah asuransi dari gereja kamar kelas dua. Tapi waktu itu kelas dua penuh. Jadi terpaksa masuk kelas satu. Kelebihannya saya harus bayar sendiri. Oke saja sih kalau emang begitu aturannya. Tapi belakangan ada pendeta lain yang sakit dan harus dirawat di Rumah Sakit. Langsung masuk kelas satu. Ga masalah. Para penatua yang mutusin sudah ganti. Susah kan kalau begini?

Wednesday's Games Idea - 01


Sepak Bola Kerucut

Jumlah pemain : 2 tim masing-masing terdiri dari 3-5 orang pemain termasuk 1 penjaga gawang, 1 orang wasit.
Alat yang dibutuhkan : bola sepak, kerucut berlubang atas bawah (bagian lubang yang lebih besar menutupi mata dan hidung peserta, bagian lubang yang lebih kecil akan dipakai untuk melihat), lapangan yang cukup luas.
Waktu bermain : 5-10 menit
Cara bermain :
Setiap tim berlomba untuk memasukkan bola ke gawang lawan. Dengan menggunakan kerucut, sudut pandang pemain menjadi sempit. Anggota kelompok yang lain dapat membantu dari pinggir lapangan untuk memberitahukan aba-aba dan dimana letak bola. Pemenang adalah yang berhasil memasukkan gol sebanyak mungkin dalam waktu yang ditentukan.
Tujuan permainan :
Ini adalah permainan kebersamaan. Kesehatian dan Team work. Sehebat apapun kita, pasti ada keterbatasan. Maka kita butuh orang lain. Untuk saling melengkapi. Dengan begitu, tujuan (goal) bisa tercapai.

Tuesday, June 06, 2006

Catatan Harian

Day - 299

Hari ini tanggal 6 Juni 2006. 06-06-06. Saya dapat SMS ini: “Angka setan 666. Hari ini angka tersebut muncul. Ingat The Omen. Hati-hati kuasa gelap. Lord help us.” Sekitar bulan lalu saya juga “dibilangin” seorang teman seputar angka ini. Katanya, pada tanggal itu akan ada kongres gereja setan di Manado. Ga tahu bener ga-nya. Yang pasti sih kata teman saya di Manado, di sana emang lagi ramai dengan para “setan”. Tapi “setan bola”. Gara-gara wabah virus Piala Dunia. Hampir setiap rumah memasang bendera negara favoritnya. Sampai-sampai katanya, ada lurah yang komplen. Giliran disuruh memasang bendera merah putih saat 17 agustus-an susahnya minta ampun.

Tapi rupanya heboh angka 666 ini ga main-main loh. Di Smart FM saya denger, di Belanda ribuan orang berkumpul di gereja berdoa khusus untuk menangkal kuasa setan. Juga di Australia dan Amerika. Di California, Amerika, ada seorang ibu yang ga mau melahirkan pada tanggal ini. Tapi yang lucu di Penang, Malaysia, angka 06-06-06 malah dianggap angka keberuntungan. Ratusan orang melangsungkan pernikahannya. Hehehe. Ada-ada saja. Modernisasi rupanya ga menghilangkan kepercayaan “mistik”.

Selesai baca buku wawancara Pramoedya Ananta Toer, "Saya Terbakar Amarah Sendirian". Saya setuju dengan Pram. Politik luar negeri Amerika luar biasa busuk dan buruk. Amerika ikut bertanggung jawab terhadap berbagai kekerasan dan pembunuhan massal di banyak negara. Termasuk di Indonesia tahun 1965. Yang terbaru di Irak. Tapi ga bisa disangkal, dari Amerika pula gaung suara kemanusiaan kerap berasal. Jadi ibarat manusia, Amerika tuh berkepribadian ganda. Jahat sekaligus baik.

Malam pimpin pembinaan para orang tua yang hendak membaptiskan anaknya hari Minggu ini. Berdua Pak Henock setiawan. Ia dari sisi psikologi. Saya dari sisi Alkitab. Sekalian gladi resik. Ada 11 anak yang hendak dibaptis. Ini akan menjadi pelayanan baptis anak yang terakhir saya di GKI Kayu Putih. Hiks.

Tuesday's Song - 06

Yogyakarta
(KLA Project)


Pulang ke kotamu ada setangkup haru dalam rindu
Masih seperti dulu tiap sudut menyapaku bersahabat
Penuh selaksa makna terhanyut aku akan nostalgia
Saat kita sering luangkan waktu nikmati bersama
suasana Jogja

Di persimpangan langkahku terhenti
Ramai kaki lima menjajakan sajian khas berselera
Orang duduk bersila musisi jalanan mulai beraksi
Seiring laraku kehilanganmu
merintih sendiri, ditelan deru kotamu

Walau kini kau t'lah tiada, tak kembali
namun kotamu hadirkan senyummu abadi
Izinkanlah aku untuk slalu pulang lagi
bila hati mulai sepi tanpa terobati


Ayah's quote :
15 tahunan yang lalu, seperti ketika lahirnya lagu ini, Jogja adalah kota kenangan. Tenang. Ramah. Sederhana. Udara pagi masih terasa sejuk. Sepeda-sepeda berkayuhan akrab. Bangunan-bangunan “kapitalis” yang sombong belum merajalela. Tapi sekarang kenangan itu hanya tinggal sisa-sisa. Tidak ada kaitan dengan gempa. Jauh sebelum gempa terjadi kenangan itu sudah sangat menipis. Gempa memperparahnya. Jogja seperti Bali dan Bandung adalah contoh betapa besarnya “kekuasaan” uang; menggerus dan merusak sebuah peradaban.

Monday, June 05, 2006

Catatan Harian

Day - 300

Beres-beres buku. Nemu buku “To Do Before I Die” (Lakukan yang Anda Inginkan Sebelum Mati). Buku itu pernah saya baca. Tapi pengen baca lagi. Berisi 100 kisah inspirasional tentang pengalaman yang mengubah hidup. Dari kisah yang biasa-biasa saja, kayak menyusun resep warisan keluarga dan membuat tato diri; sampai kisah yang luar biasa, kayak menyelam bebas ke dasar laut, mendaki Gunung Fuji, dan menyaksikan matahari terbit di Kutub Selatan.

Kalau saya, apa yang pengen saya lakukan sebelum mati? Hhmm. Saya pengen menulis buku trilogi yang tebal-tebal. Saya pengen “gembalain” sebuah jemaat kecil berdasarkan lima prinsip pertumbuhan gereja adaptasi dari bukunya Rick Warren, “Purpose Driven Church”. Saya pengen ngajak Dewi, Kezia dan Karen bermain di atas salju beneran. Saya pengen pergi ke Tibet dan ngelihat Himalaya dari dekat. Saya pengen ngajak seorang teman makan kepiting di Guangzhou.

Hari ini Kezia libur. Bersama beberapa teman dan mamanya masing-masing pergi ke Dufan. Karen sih tetap masuk sekolah. Saya yang anter. Sambil tunggu Karen pulang saya pijat di Segar Sehat. Badan pegal-pegal. Sudah gitu leher sakit. Susah nengok. Salah tidur. Terus jemput Karen. Ajak ia jalan ke Artha Gading. Main di Amazone sebentar. Lalu ke Gramedia. Beli buku wawancara Pramoedya Ananta Toer, “Saya Terbakar Amarah Sendirian.” Baca buku itu saya makin kagum dengan Pram. Juga beli buku saya “Menggapai Esok”. Habis saya ga punya. Sebenarnya dari Penerbit Andi pengarang dapat jatah lima biji. Tapi saya kasih-kasihkan orang ga tersisa satu pun :).

Sunday, June 04, 2006

Catatan Harian

Day - 301

Saya keliru. Ternyata saya bukan pelayanan khotbah di HKBP, tapi di GBKP (Gereja Batak Karo Protestan). Pagi-pagi saya telepon pendetanya. Saya dipandu lewat handphone. Sesudah nyampai, baru saya ingat pernah ke sana. Cuma bukan untuk pelayanan khotbah. Tapi syukuran famili salah seorang angota jemaat. Saya ingat waktu itu saya diminta ngasih kata sambutan mewakili GKI Kayu Putih.

Masuk mobil agak susah. Jalannya agak kecil. Ngelewati rumah-rumah penduduk. Di mulut jalannya ada beberapa metromini yang diparkir. Ada dua gereja batak di situ. Letaknya belakang-belakangan. Yang depan HKBP. Di belakangnnya GBKP. Gerejanya sih besar. Tinggi. Halamannya cukup luas. Betul-betul bangunan gerejalah. Banyak kan gereja yang bangunannya ga seperti bangunan gereja.

Saya tuh suka merasa “aneh” deh kalau ada gereja bersebelah-sebelahan. Di sebuah perumahan di Bekasi malah ada gereja berjejer empat buah. Lain-lain denominasinya. Di Kelapa Gading saja konon ada 102 gereja. Di daerah Pulomas ada 11 gereja. Kadang saya berkhayal, kalau suatu saat Tuhan Yesus datang ke Indonesia, kira-kira gereja mana yang akan Dia pilih masuki ya? Terus terang saya pribadi ga gembira dengan begitu beraneka ragamnya gereja.

Siang pimpin kebaktian pemuda GKI Kayu Putih. Hampir terlambat. Habis di GBKP tadi mobil saya ketutup mobil-mobil lain. Susah keluar. Malam Dewi latihan paduan suara di gereja. Saya di rumah bersama Kezia dan Karen. Agak ga enak badan nih. Flu berat. Saya koq rasanya jenuh banget.

Catatan Harian

Day - 302

Sore pimpin kebaktian alam terbuka wilayah Pulo Nangka. Di Cinere, di villa saudara salah satu anggota jemaat. Berangkat siang. Jalan ke sananya macet. Di sana saya baru tahu, itu acara khusus perpisahan saya dengan wilayah Pulo Nangka. Terharu. Terharu. Sampai waktu renungan, semua yang sudah saya siapkan berantakan deh. Saya ga bisa bayangin kalau acara perpisahan sesungguhnya dengan semua jemaat terjadi.

Sekali lagi, kalau mikirin hubungan pribadi dengan jemaat secara keseluruhan, saya tuh berat banget ninggalin Kayu Putih. Tapi, gimana ya. Susahlah menjelaskan. Hidup ga bisa surut ke belakang. Untuk sesuatu yang lebih “besar”, kadang kita perlu berani keluar dari comfort zone, bukan? Dan yang pasti walau secara struktural saya “putus” dengan GKI Kayu Putih, tapi secara personal saya ga akan pernah “putus” dengan jemaat GKI Kayu Putih. Mereka akan tetap berada di hati saya.

Dapet kenang-kenangan gambar karikatur diri saya :). Saya tuh paling ga suka di foto. Bukan apa-apa, ga “pe-de” saja. Tapi sungguh, saya pengen sekali punya gambar karikatur diri. Cuma ya belum kesampaian saja. Eh, sekarang malah dapat nih. Hehehe.

Besok pelayanan khotbah di HKBP Cempaka Putih. Dua hari lalu mereka telepon ngingetin. Saya minta alamat dan denahnya di faks. Belum keterima. Gimana nih. Temanya apa juga belum tahu. Mungkin sih suratnya dulu sudah nyampai, cuma keselip atau apa gitu. Mau kontak, kemana pula. Saya bingung. Begini nih kalau ga telaten nyimpen surat-surat. Padahal banyak loh jemaat yang bahkan unuk jadwal khotbah tahun depan, bulan ini sudah kirim surat.

Friday, June 02, 2006

Catatan Harian

Day - 303

Iseng-iseng surfing internet. Ketemu situs tentang phobia. Surprise juga. Ternyata ada lebih dari 500 jenis phobia. Mulai dari yang sudah dikenal, kayak takut ketinggian (acrophobia), takut gelap (achluophobia), takut ruang tertutup (claustrophobia). Sampe yang aneh-aneh. Takut wanita cantik (caligynephobia), takut Tuhan (theophobia), takut gereja (ecclesiophobia), takut khotbah (homilophobia), takut uang (chrometophobia), takut denger kabar baik (euphobia), takut angka 8 (octophobia). Bahkan ternyata ada juga yang takut jatuh cinta (philophobia). Hehehe.

Siang saya ditelepon salah seorang personalia Komisi Pria, ngingetin hari Rabu saya jadi moderator di persekutuan Komisi Pria. Topiknya seputar SKB pendirian rumah ibadah. Salah satu narasumber Pdt. Weinata Sairin. Saya memang pernah dihubungin untuk acara itu, tapi karena ditanyanya sambil lalu, saya iyakan saja. Ga tanya lagi kapan waktunya. Lha hari Rabu kan saya pimpin kursus berkhotbah lanjutan di STT Jakarta. Bentrokan deh. Waduh gimana nih. Lain kali jangan main iyakan tuh. Tegesin dulu gitu. Saya sebetulnya agak ga enak juga sih kalau ada jadwal kegiatan rutin hari Rabu. Persiapan guru Sekolah Minggu di GKI Kayu Putih kan hari Rabu. Saya beberapa kali diminta pimpin, ga bisa melulu. Mentang-mentang mau pindah katanya :).

Malam pimpin acara Pekan Doa Pentakosta. Terus ketemu Pak Hendra di kliniknya. Pak Hendra ini dokter. Sudah cukup usia, tapi segar dan ceria terus. Saya tertarik. Soalnya saya yang jauh lebih muda saja sering banget sakit. Sakit ringan sih kayak pilek, sariwan, dan batuk. Pernah tanya apa resepnya. Ia bilang sih karena ikut kursus meditasi dari seorang dokter dari Malaysia. Nah, kemarin ia bilang dokter dari Malaysia itu datang. Ia tanya, saya tertarik ikut ga. Kalau tertarik ia pengen ketemu dan ngobrol dulu sama saya. Saya pikir ga ada salahnya kan tahu. Jadi tadi itu ngobrol-ngobrol saja. Pulang mampir di kwetiaw Akang, Kelapa Gading. Sekalian beli pisang Ta B'nana. Kalau lihat orang jualan makan laku tuh jadi pengen deh punya tempat makan kayak gitu :)).

Friday's Joke - 05


Salah Email

Seorang pria sedang berlibur ke Bali. Istrinya sedang dalam perjalanan bisnis ke Jakarta dan berencana untuk bergabung pada keesokan harinya. Ketika sampai di hotel, pria itu memutuskan untuk mengirimkan e-mail ke istrinya. Karena tidak berhasil menemukan kertas memo dimana dia mencatat alamat e-mail istrinya tersebut, maka dia mencoba untuk sebisa-bisanya mengirimkan e-mail ke istrinya.

Sialnya, dia melupakan satu huruf dan e-mail tersebut melesat langsung menuju ke seorang wanita yang suaminya baru saja meninggal satu hari sebelumnya. Saat wanita yang sedang berduka itu membaca e-mail tersebut, ia berteriak dengan hebat lalu jatuh kelantai dan pingsan seketika. Keluarganya segera berlari ke dalam ruangannya dan melihat isi surat dilayar komputer :

Istriku tercinta, Saya baru saja sampai. Segala sesuatu telah disiapkan untuk kedatanganmu besok. P.S. : Panas benar disini.

Ayah’s quote:
Jangan sepelekan sesuatu. Bahkan kesalahan kecil bisa berbuntut fatal :))

Thursday, June 01, 2006

Catatan Harian

Day - 304

Seorang teman "marah" pada saya. Ceritanya gini. Saya baru menyelesaikan naskah Seri Sketsa Iman Pernikahan. Judulnya belum ada sih. Biasanya selesai menulis sebuah naskah untuk diterbitkan, sebelum saya serahkan ke penerbit, saya kirim dulu ke teman saya itu. Minta pendapat ia, sekaligus tolong koreksi. Saya paling suka ceroboh dalam pengetikan

Nah teman saya itu ngasih komennya lewat SMS. Begini: “Naskahmu oke banget. Saya sampe terhanyut bacanya. Saya benar-benar takjub sama kamu. Sungguh. Tulisan kamu tuh sangat powerful. Masuk akal.” Terus terang saya jadi risih juga malah dipuji begitu. Saya balas: “Jangan hiperbolis dong ah.” Nah, teman saya "marah" :)). Ia bilang paling ga enak sudah bicara jujur malah "dicurigai". Sibuk deh saya "menenangkan" ia.

Sebenarnya sih saya setengah bergurau bilang hiperbolis itu. Walaupun memang saya juga punya trauma dengan pujian orang. Sebab kadang penilaian orang terhadap kita tuh sangat dipengaruhi oleh relasi kita dengan orang itu. Dulu saya punya teman baik. Akrab. Saya suka minta tolong ia. Dan sebaliknya. Waktu relasinya begitu baik, sering tuh ia memuji khotbah sayalah, buku sayalah. Sekarang setelah relasi saya dengan ia ga baik lagi. Ia malah banyak mencela saya. Padahal khotbahnya sama, bukunya sama :) Makanya saya lebih hati-hati kalo menerima pujian seseorang.

Tadi siang pimpin di persekutuan jemaat GKI Cengkir. Temanya tentang kekuatiran. Saya banyak kutip dari naskah baru saya tentang pernikahan. Kan ada tuh di situ tulisan yang berkenaan dengan kekuatiran. Malamnya rapat di wilayah Kelapa Gading Utara persiapan Kebaktian Padang tanggal 10 yang akan datang.

Catatan Harian

Day - 305

Revisi tesis kelar. Dibantuin teman juga sih :)). Tadi telepon dosen di Jogja. Ia setuju dikirim lewat ekspedisi. Satu atau dua minggu lagi saya telepon. Kalau ketiga dosen penguji oke, berarti selesai sudah. Masalahnya ekspedisi ke Jogja lagi susah. Sampai di sana bisa semingguan. Gimana dong?

Malam pimpin kursus tehnik berkhotbah lanjutan di PPWG STT Jakarta. Pesertanya 10 orang. Karena lanjutan, jadi akan lebih banyak praktek. Diawali dengan refresh sekilas materi kursus yang lalu. Nonton cuplikan VCD beberapa pengkhotbah; mulai dari Pdt Gilbert Lumoindong, Pdt Benny Hinn, Ustad Arifin Ilham, Aa Gym, sampai yang made in “lokal” Kayu Putih :). Juga dengerin kaset khotbah saya. Lalu kita diskusiin. Minggu depan praktek. Satu per satu peserta berkhotbah. Di-shoot handycam. Terus dievaluasi sama-sama.

Pulang dari STT Jakarta tadinya mau terus ke gereja. Ikut rapat Pokja Demuda. Saya sudah bukan pendeta pendamping Demuda, tapi ya masih bantu-bantu. Saya telepon ketuanya, katanya rapat sudah hampir selesai. Ga ada yang khusus juga sih. Jadi saya terus pulang.

Baru mau sampai rumah, teman telepon. Ia mau ke Jogja besok pagi. Anterin bantuan buat korban gempa. Naik mobil. Ajak saya. Wah, saya pengen banget ikut. Tapi apa daya, tugas gimana nih. Besok pimpin di GKI Cengkir. Jumat pimpin Persekutuan doa Pentakosta. Sabtu pimpin kebaktian padang. Minggu khotbah dua kali. Masak semua harus dibatalin. Sad :((. Paling kalau bisa saya akan titip tesis.