Monday, March 12, 2007

I Like Monday - 23


Inspiring Singapore
Good Use


Para mahasiswa tingkat akhir Singapore Politeknik membuat tugas akhir yang tidak biasa. Mereka ditugaskan untuk merancang prototipe alat bantu fisik untuk orang dengan cacat fisik. Baru-baru ini Singapore Politeknik menyerahkan 23 hasil karya mahasiswanya kepada para difabel. Hasil karya yang diserahterimakan antara lain berupa kursi roda bermotor. Yang memungkinkan pemakainya bergerak dengan leluasa. Kursi roda yang di pasaran bisa mencapai $3,000 ini merupakan hasil desain para mahasiswa. Inisiatif ini datang dari jurusan Mechanical and Manufacturing Engineering. * Tidak ada yang lebih membahagiakan ketika hasil karya kita bermanfaat bagi orang lain. Mampu meringankan beban orang lain. Dan terutama mampu membuat hidup orang lain berubah ke arah yang lebih baik karenanya.
*Source : Yahoo Singapore/Channel News Asia

Fresh From The Oven - 2

PONIRUN HITS THE SHELVES!!

81 Humor Seputar Kerja
Tertawa Sambil Merenung
Ayub Yahya, 2007
Diterbitkan oleh Blessing Books

Apapun pekerjaan Anda.
Kerja otot atau kerja otak.
Kerja kantoran atau kuliah.
Kerja duniawi atau "surgawi".
Selalu ada tekanan. Sekecil apapun.

Lalu gimana cara keluar dari "tekanan"?
Salah satunya dengan humor.
Humor tuh serius. Tidak melulu lucu;
bikin kita terbahak.
Tapi juga ada hikmahnya;
bikin kita tercenung. Bahkan tertohok.

Bisa dibilang humor tuh sebentuk terapi. Buku ini bisa jadi semacam panduan. Mengajak kita tertawa sambil merenung.

Hahahahaha. Hiks! Hiks!

Now available at leading bookstores!!

Sunday, March 11, 2007

Catatan Harian

Day - 21

Minggu, 11 Maret 2007 -- Alex Ferguson dalam wawancara dengan sebuah koran bilang, ia ga nyesel ga dapetin Ronaldinho. Toh ia akhirnya dapat Christiano Ronaldo. Beberapa tahun lalu Ronaldinho memang sempat hampir hijrah ke MU. Tapi pemain Brasil itu milih Barcelona. Lalu MU beralih incaran ke Ronaldo, yang ketika itu belum sebersinar sekarang.

Di masa lalu Fergie juga gagal mendatangkan Paul Gascoigne ke Old Trafford. Yang ia dapat "cuma" Paul Ince. Ia gagal memboyong Allan Shearer, ia “hanya” dapat Eric Cantona. Tapi sejarah kemudian membuktikan, bahwa “peruntungan” Fergie ga meleset. Ince, Cantona, dan Ronaldo menjelma menjadi pilar-pilar utama MU pada zamannya.

Hikmahnya apa? Kalau kita berada di pihak “pemilih”, jangan over under-estimate dengan “pilihan kedua”. Siapa tahu justru itu mutiara yang sesungguhnya. Kalau kita berada di pihak “yang dipilih”, jangan kecil hati jadi pilihan kedua. Atau “cuma” jadi cadangan. Do the best saja. Buktikan kita bukan pilihan yang salah. Hingga “si pemilih” bisa berkata, “Thanks, God, untuk ia. Dan bukan ia.” :).

Pagi ke gereja. Siang ikut pertemuan GSM dan pemuda. Bicarain rencana kegiatan gabungan. Sempat pulang sebentar. Sore rapat pleno majelis di GPO. Seperti "biasa" rapat mulai agak “molor”. Tunggu beberapa teman yang lain. Sudah kesepakatan, ga quorum rapat ga dimulai. Ketentuan quorum menurut saya ga bisa "saklek" diterapkan dalam organisasi macam gereja yang sepenuhnya "mengandalkan" komitmen.

Sunny Sunday -18


Indonesia Plus
Bersyukur


Pria sederhana berusia 25 tahun ini, sudah lima tahun menekuni profesinya. Ia hanya lulus SD. Sudah merantau sejak usia 14 tahun. Menguasai tiga bahasa. Sunda, madura, dan bahasa Indonesia. Dengan keahliannya, Yunus menjelajah rimba Jakarta. Menenteng bangku kecel dan gerobak dorong. Isinya jarum sol, sedotan sol, obeng, kakatua, palu, benang good year berbagai warna, lem, gunting, besi ambleng dan paku berbagai ukuran. Yunus memang berprofesi sebagai tukang sol keliling. Area kerjanya perumahan Pejaten Timur Jakarta Selatan. Penghasilannya tentu saja tidak menentu. 30 ribu kalo apes. 150 ribu kalo lagi rame. Alasan Yunus sederhana, ia lebih senang jadi tukang sol, karena jadi "bos" atas dirinya sendiri. Ia bisa menghidupi istrinya yang sedang hamil. Bisnisnya pun berkembang ke jual beli sepatu bekas. Dari profesinya ia merasa bisa membantu orang lain. Konon pernah ia lewat di sebuah rumah dan ditawari sepatu bekas. Yang punya rumah terpaksa jual sepatu anaknya untuk beli beras. Dari kejadian itu Yunus berkesimpulan, ia tidak sendiri bergulat dengan masalah kekurangan. Semua orang punya kesusahan sendiri. Yunus pun bersyukur atas apa yang ia miliki. (sumber : Kompas online)

Ayah's Plus Point :
Kekayaan kita tidak diukur dari seberapa besar yang berhasil kita kumpulkan. Tapi seberapa banyak yang bisa kita berikan. Mari belajar mensyukuri apa yang ada pada kita. Dan belajar memberi. Pun dari segala keterbatasan dan kekurangan kita.

Catatan Harian

Day - 22


Sabtu, 10 Maret 2007 -- Baru dapat kiriman buku “81 Humor Seputar Dunia Kerja” dari penerbit. Buku baru saya. Ga 100 persen buku saya sih. Itu kumpulan humor. Saya ambil dari berbagai sumber; internet, koran, obrolan, dsb. Terus saya edit. Pilih-pilah sesuai tema. Ganti tokoh-tokohnya. Kasih alur “cerita”. Setiap humor saya kasih quote. Semacam refleksi singkat satu dua kalimat gitulah.

Sebetulnya ada dua. Satu lagi “81 Humor Suami Istri” masih dalam proses cetak. Saya punya target tahun ini minimal bisa keluarin 4 buku humor; 2 humor umum, 2 humor Kristen. Buku humor Kristen keduanya dalam waktu dekat akan terbit pula. Target lain catatan harian di blog ini bisa diterbitkan. Sedang dalam perbincangan dengan penerbit. Seri Sketsa Iman buku 5 juga. Plus buku pernikahan 2. Total 7 buku.

Target tuh perlu. Biar ada arah. Ada tujuan. Semacam rel gitu. Target jangan terlalu "sepele", jangan juga terlalu "muluk". Perlu di-set serealistis mungkin. Sesuai kemampuan. Ga terlalu "sepele" supaya bisa memacu dan memicu diri. Ga terlalu "muluk" supaya ga malah "menindih" dan "memberati" diri. Jadi bikin target mesti pinter-pinter juga :). Jangan meleset, jangan juga malah terpeleset.

Cuma jeleknya saya. Walau sudah ada target, tapi prinsip "mengalir" tetap lebih kuat. Jadi kerap target ya target, mengalir ya mengalir. Akibatnya "mengalir sampai jauh" dari target. Hehehe. Semoga kali ini ga. Malam ada acara thanksgiving dengan konggregasi Inggris di Fairway Club, daerah Lakeside. Dekat Chinese Garden. Dinner.

Saturday, March 10, 2007

Renungan Sabtu - 37


Kezia


Sudah lama kami, saya dan istri, berniat melatih Kezia berani tidur sendiri, tanpa kami, di rumah opa-omanya. Pertama, kalau nanti adiknya lahir – istri saya sedang hamil empat bulan – dia sudah terbiasa kalau kami sampai mesti nginep beberapa hari di rumah sakit. Kedua, kami berpikir, anak-anak perlu juga belajar merasa aman berada bersama-sama orang lain selain orang tuanya.

Namun kami kuatir kalau Kezia belum bisa lepas dari kami. Takutnya malam-malam dia terbangun. Nyariin kami. Lalu nangis. ‘Kan bisa berabe. Maka, niat itu pun terus kami urungkan.

Suatu siang ayah dan ibu berkujung ke rumah. Waktu mereka mau pulang, eh Kezia mau ikut. Tumben. Ya, sudah. Sekalian biar dia nginep. Kalau dia nangis pengen pulang, saya toh bisa menjemputnya.

Di rumah tidak ada Kezia semula “enak” juga. Saya bisa baca buku dan pakai komputer dengan tenang. Begitu juga istri saya, dia bisa mengerjakan apa yang disukainya tanpa kena interupsi. Tetapi lama-lama rumah terasa sepi; tidak ada tawa ataupun tangisan Kezia, tidak ada yang gelendotin atau gangguin kalau lagi ngerjakan apa-apa. Rasanya ada sesuatu yang hilang.

Malamnya, istri saya malah kelihatan gelisah. Dia uring-uringan. Apalagi telepon rumah ayah-ibu kebetulan rusak. Tidak bisa kontak. Wah, sudah deh…..! Saya bisa memahami. Saya saja yang biasa jarang di rumah rasanya kehilangan Kezia, lebih-lebih istri saya yang setiap hari bersamanya.

Alhasil, malam itu juga istri saya minta diantar ke rumah ayah-ibu. “Kalau-kalau Kezia kenapa-kenapa,” katanya. Saya tidak menunggu diminta dua kali. Langsung cabut. Tiba di sana, eh, Kezia malah sedang tidur. Nyenyak lagi. Tidak nangis, tidak apa. Kami jadi pengen tertawa sendiri. Rupanya bukan Kezia yang belum bisa lepas dari kami, tetapi kami yang belum bisa lepas dari Kezia.

Kekuatiran yang membelenggu kita, orang dewasa, tidakkah itu kerap adalah produk pikiran dan bayangan kita sendiri? Kita kuatir ini kuatir itu, padahal siapa pula yang bisa tahu pasti masa depan? Dalam menjalani kehidupan kita memang perlu belajar dari anak-anak; mereka tidak pernah dikungkung masa lalu, tidak pernah juga di bayang-bayangi masa depan. Mereka menjalani hidup ini apa adanya. Ya, anak-anak adalah guru kehidupan.

Dari buku Tragedi dan Komedi oleh Ayub Yahya, diterbitkan oleh Grasindo

Friday, March 09, 2007

Catatan Harian

Day - 23

Jumat, 9 Maret 2007 --Badan ambruk nih. Sariawan belum baik. Flu pula. Bersin. Hidung meler. Mampet. Kepala cenut-cenut. Lengkap sudah. Makan ga enak, tidur ga enak. Duh. Duh. Saya ga ngerti, kenapa koq sering gitu sariawan dan flu. Dari dulu. Sejak saya di GKI Bekasi Timur. Ampun deh. Tapi “untunglah” cuma sariawan dan flu. Setahu saya pendeta kalau sakit banyaknya kayak liver gitu :). Penyakit karena kecapekan.

Seharian di rumah. Ngimel. Nginternet. Baca buku. Begitu-begitu saja. Bosan juga. Ga tahan. Sore berdua Kezia ke Borders, toko buku di Orchard. Naik bis disambung MRT. Kezia lagi demen buku seri Geronimo Stilton. Ia mau koleksi. Tiap minggu di sekolahnya ada tugas nge-review buku.

Waktu mau bayar di kasir, saya lihat ada satu buku menarik. Judulnya: Everything Men Know About Women. Pengarangnya Dr. Alan Francis, seorang psikolog terkemuka asal Amerika. Di sampulnya tertulis “over one million copies sold”. Saya buka. Ternyata dari halaman pertama sampai terakhir kosong. Ga ada tulisan sama sekali. Mungkin yang mau diungkapkan buku itu: Laki-laki tuh ga tahu apa-apa tentang wanita :).

Idenya sangat menarik. Kreatif. Good. Buku itu ga dibungkus plastik loh. Setiap orang bisa buka dan "baca". Jadi orang yang beli pun ga akan merasa kejebak gitu. Hebatnya laku. Ckckckck. Dari Borders terus ke Suntec City. Lihat pameran komputer. Itu orang banyak banget. Mulai dari City Hall MRT sampai di tempat pamerannya berjubel-bel. Begitulah Singapore kalau week end. Orang tumpah ruah keluar.

Friday's Joke - 33


Gema


Sepasang kekasih berkunjung ke Lembah Gema. Lembah ini terkenal karena bisa menggemakan sesuatu yang kita teriakkan. Si wanita berkata, “Mas, coba kamu berteriak.” Si pria dengan enggan berkata, “Ini tindakan yang konyol. Tapi okelah, untuk menyenangkan hatimu, akan saya lakukan.” Ia mengambil ancang-ancang dan berteriak sekuat tenaga, “Booohhhooooooonggggg!!” Tidak terjadi apa-apa. Gema yang ditunggu tidak terdengar. Ia berkata, “Tuh benar kan kata saya. Itu cuma takhyul.” Si wanita berkata, “Cobalah sekali lagi dengan lebih serius.” Si pria kemudian berteriak dengan lebih keras, “Saya pria paling tampan di dunia!!!!!” Sesaat kemudian terdengar gemanya, “Bohooooonggggg!!”

Ayah’s quote:
Orang akan menuai apa yang ditaburnya.

Catatan Harian

Day - 24

Kamis, 8 Maret 2007 -- Hampir semua media berita on-line “angkat” kecelakaan pesawat Garuda menjadi head line. Berita gempa bumi Sumatera Barat agak “menguap”. Berita apa yang akan diangkat sepenuhnya memang tergantung kebijakan media yang besangkutan. Kerap salah satu pertimbangannya adalah bisnis. Berita mana yang laku dijual.

Baca beberapa komentar orang tentang kecelakaan pesawat Garuda. Prihatin juga. Kayak komentar Aktor dan budayawan Butet Kartaredjasa di kompas on-line. Tadinya ia mau naik pesawat itu. Tapi karena ada beberapa acara mendadak terus ga jadi. Komentarnya: “Tuhan ternyata masih sayang saya.” Komentar begitu kan nyakitin para korban dan keluarga korban. Seolah Tuhan ga sayang dengan mereka. Sad.

Juga komentar beberapa pembaca Kompas on line. Katanya semua musibah itu karena dosa bangsa. Betul banyak musibah karena kecerobohan manusianya. Tapi sangat ga “adil” kalau digeneralisasi karena dosa bangsa. Siapa yang berdosa siapa yang dihukum. Hampir semua korban musibah itu rakyat kebanyakan. Mereka yang ga tahu apa-apa dengan kebijakan yang diambil para "petinggi".

Memang berkomentar tuh paling gampang. Lebih-lebih kalau fokusnya “keuntungan” dan "keselamatan" diri sendiri; untung saya begini, untung saya begitu. Lupa berempati. Lupa bersimpati. Siang pimpin kelas bina pranikah susulan. Sampai agak sore. Akhirnya bisa juga berenang malam-malam sama Kezia dan Karen. Saya sariawan lagi nih. Duh.

Thursday, March 08, 2007

Thursday's Hot Issue - 20


Elegant Exit


The Fact :
Liga Champions sudah menyelesaikan babak 16 besar. Sekarang tersisa 8 klub yang siap berlaga di babak berkutnya. Sebagian klub lolos dengan susah payah. Dan harus ditentukan dengan gol terakhir. Chelsea ditentukan oleh gol Ballack. PSV Eindhoven oleh gol Alex. Bayer Munchen oleh gol Lucio. Ada yang beruntung karena selisih gol kandang dan tandang, seperti Liverpool yang walau kalah dari Barcelona tapi lolos. Dari semua yang mengisi gol di babak 16 besar ini, satu gol yang sedikit istimewa. Gol Henrik Larsson saat Manchester United melawan Lille. Istimewa bukan saja karena golnya yang indah. Tapi karena momennya. Liga Champion tersebut merupakan laga terakhir bagi Larsson buat MU di ajang Champions. Tanggal 12 Maret ia harus kembali ke klub Helsingborg Swedia. MU tidak memperpanjang masa peminjamannya karena Larsson juga punya komitmen terhadap keluarga dan klubnya. Ketika pertama kali merumput bersama MU di ajang Liga Inggris, Larsson menyumbangkan satu gol ke gawang Aston Vila. Ketika akan pergi meninggalkan MU, Larsson menyumbangkan satu gol ke gawang Lille. Maka wajar saja setelah Fergie menariknya keluar di menit ke 67 untuk digantikan oleh Allan Smith, seluruh Old Trafford mempersembahkan standing ovation buatnya. Fergie menyambutnya di tangga. Sebuah kado perpisahan yang manis.

The Lessons :
Ada saat datang, ada saat pergi. Ada saat "ada", ada saat "tiada". Ada saat ketemu, ada saat berpisah. Ketika pergi, yang tinggal adalah sebuah "jejak". Henrik Larsson sudah meninggal jejak indah dimasa singkat keberadaannya di MU. Elegant exit. Kita akan pun cepat atau lambat akan "pergi" dari tempat "sekarang" kita "ada". Jejak apa yang akan tinggalkan?!

Wednesday, March 07, 2007

Catatan Harian

Day - 25

Rabu, 7 Maret 2007 -- Pagi bareng Dewi ke Gleneagle. Nengok teman. Ia kena demam berdarah. Baru pulang dari Jakarta. Terus ke gereja. Malam ada syukuran di rumah teman. Baca Kompas on line. Indonesia lagi-lagi musibah lagi. Duh. Ibarat luka, gempa bumi di Sumatera Barat masih berdarah-darah. Tahu-tahu pesawat Garuda terbakar di Jogja. Puluhan korban jiwa. Prihatin. Prihatin.

Kalau musibah alam seperti gempa bumi, kita pun mungkin ga bisa berbuat apa-apa. Kecuali tunduk, luruh, sujud kepada Sang Khalik. Tapi kalau musibah kecelakaan pesawat, harusnya kan ada yang bisa dilakukan. Khususnya oleh para “petinggi” yang berwenang. Masalahnya di Indonesia nyawa manusia kayaknya tuh ga “berharga”.

Di Italia satu orang korban jiwa gara-gara kerusuhan sepakbola, semua orang “kebakaran jenggot”. Pemerintah langsung turun tangan. Kompetisi dihentikan, walau karena itu harus rugi jutaan dolar. Di Perth, Australia, seorang anak kecil meninggal ketabrak mobil, pemerintah membangun monumen peringatan di tempat kejadian.

Di Indonesia kecelakaan terus terjadi. Darat, laut, udara. Korban pun berjatuhan. Tapi pemerintah seolah ga bergeming. Heran. Kecelakaan pesawat dalam hitungan bulan sudah 3 kali terjadi. Adam Air hilang. Lalu Adam Air lagi, tergelincir dan “robek” di Surabaya. Dan sekarang Garuda. Di dunia ini mungkin ga ada negara di mana kecelakaan pesawat begitu sering terjadi selain di Indonesia. Sad.

Wednesday's Games - 32


Bermain Balon


Jumlah Peserta : kelompok kecil sampai sedang, dibagi ke dalam dua kelompok
Alat yang dibutuhkan : Balon. Di dalam ruangan besar atau diluar ruangan.
Waktu yang dibutuhkan :15-30 menit
Aturan permainan:
Bagilah seluruh peserta ke dalam dua kelompok yang sama besar. Kemudian mintalah mereka untuk memutuskan dimana setiap anggotanya berdiri. Dan menentukan posisi gol masing-masing. Jelaskan bahwa nantinya setiap kelompok harus berlomba mengisi sebanyak mungkin gol. Tapi, sekali mereka berdiri di satu posisi, mereka tidak boleh berpindah sama sekali. Mereka boleh menggunakan kaki, tangan atau kepala untuk saling mengoper bola, tapi tidak boleh berpindah tempat. Regu yang menang adalah yang paling banyak mengisi gol. Dalam permainan ini, kelompok yang bekerja sama mengoper balon akan lebih mudah menang daripada kelompok yang berusaha untuk mengisi gol sebanyak mungkin tanpa kerja sama.
Tujuan permainan :
Kompetisi memang perlu. Orang akan lebih terpacu mencapai tujuan ketika berkompetisi. Tapi kerap yang terjadi, kompetisi malah terjadi dalam satu kelompok. Musuh seolah ada di dalam dan bukan di luar.

Catatan Harian

Day - 26

Selasa, 6 Maret 2007 -- Pagi bersama beberapa ibu dari Komisi Wanita melawat ke Mount Alvernia. Rumah Sakit Katolik di daerah Thompson. Kata teman itu rumah sakit relatif paling murah di Singapore. Pelayanannya juga bagus. Perawatnya ramah. Tiap pasien dikunjungi suster untuk didoakan. Good. Rumah sakit Kristen harus ada bedanyalah dengan rumah sakit umum.

Kita ngunjungi seorang Ibu. Belum pernah ketemu sebelumnya. Saya tahu ia dari teman pendeta di Jakarta. Ia SMS ada salah seorang anggota jemaatnya yang sakit. Berobat di Singapore. Sendirian. Suaminya ga bisa nemenin karena harus kerja di Jakarta. Datang paling kalau weekend. Kita berdoa. Terus saya kasih buku: Ku Gapai Hadir-Mu.

Saya ga tahu detil sakitnya. Ga tanya pula. Kalau ngelawat orang sakit saya berusaha ga tanya banyak tentang sakitnya. Itu kan pertanyaan standar. Bayangkan kalau setiap yang datang pertanyaannya sama. Itu. Kan kasihan yang sakit. Kecuali ia yang cerita sendiri. Buat saya kunjungan tuh lebih pada pendampingan. Berdoa. Menghibur. Menguatkan. Ga harus bicarain sakitnya apa. Berapa lama. Gimana rasanya.

Terus kita nengok seorang oma di daerah Clementi. Agak siang pulang. Naik MRT. Dapat SMS dari teman. Riau dan Padang diguncang gempa. Efeknya sampai ke Singapore. Malah katanya beberapa tempat seperti di Suntec City orang-orang sampai dievakuasi. Saya tanya ke teman di Jakarta. Katanya di Jakarta ga kerasa. Rupanya Indonesia selain kirim asap, juga kirim gempa ke Singapore. Malam ada rapat di gereja.

Tuesday, March 06, 2007

Tuesday Song - 38

Song of The Heart
Artist : Prince. Soundtrack Happy Feet


U might make a different song, yes that's right it's true
That don't make anybody more or less as good as u
If u can't feel the music that's all u really need
Then turn this party all the way out
Good time guaranteed

Everybody get up, Clap your hands and dance 2 the beat
Whatever u do little darlin' it's cool, Just get up out your seat
And wave a flag because everybody plays a part
One world united singing the song of the heart

Look ... everybody makes mistakes, Oh yeah, not one or two (right!)
But that don't make the dirty little things they say about u true (U tell 'em!)
Step aside little babies and watch me do my thing
I don't even need a good reason to do, Listen to me sing

Everybody get up, Clap your hands and show them what u got
Tonight we gonna jam from now until eternity
Don't u stop - make it hot oh!
And wave a flag because everybody plays a part
One world united singing this song of the heart

Come on! Watch me now!

Oh, I don't care what the people say
This is my life, I just got to like that okay (okay?)
They can go fly their momma's kite, Hooray! (we got it!)

All right I'm going to tell u one more time, Listen ...Unh
One world, One world, One world united
Singing a song, Singing a song
Singing a song of the heart

Feel me? Oh yeah! Feel me? Keep singing!
U can do u, I do me, Whateva! Get going y'all!
The song of the heart

Renungan :
Tidak ada manusia sempurna. Tiap kita pernah berbuat salah. Tapi hidup toh tidak surut ke belakang. Tapi melesat ke depan. Kubur masa lalu. Jadikan itu cermin. Berpikir positif akan membuat kita menjalani hidup ke dengan ringan. Mengikuti kata hati.

Catatan Harian

Day - 27

Senin, 5 Maret 2007 -- Bagi saya Senin tuh bisa dibilang hari “recovery”. Setelah kegiatan padat di hari-hari sebelumnya. Cuma ga tahu kenapa, kerap hari Senin saya malah flu gitu. Kayak hari ini. Hidung mampet. Meler. Ga nyaman. Salah saya juga sih. Ga bisa diam. Ga bisa kalau ga ngapa-ngapain. Ga hari kerja ga hari libur. Ngetik. Baca. Mungkin begitu cara tubuh “protes”:).

Waktu santai perlulah. Benar-benar santai gitu. Katanya di Eropa dan Amerika sekarang ini sedang berkembang trend kerja baru. Bukan mendorong orang menjadi hardworker, tapi smartworker. Di Italia misalnya diterapkan 5 jam kerja setiap hari. Waktu kerja dioptimalkan. Efisien tapi tetap produktif. Orang jadi punya waktu untuk menikmati hidup. Untuk diri sendiri juga untuk keluarga. Good. Kerja untuk hidup, bukan hidup untuk kerja kan :).

Menurut saya semua itu tergantung kita juga koq. Gimana ngatur prioritas. Juga tergantung orang-orang sekeliling kita. Gimana mereka memahami pilihan kita. Seperti hari ini. Mestinya saya datang ke acara pertemuan para Bapak. Tapi dipikir-pikir saya sudah lama ga pergi bareng keluarga. Jadi saya ijin ga datang. Teman-teman sih ngerti. Thx, temans.

Jadi hari ini saya bisa membayar “utang” ke Dewi, Kezia dan Karen. Temenin Dewi belanja keperluan sehari-hari. Terus malamnya sehabis Kezia dan Karen les Mandarin, kita jalan ke Bukit Panjang Plaza. Naik bis. Sekalian nyari raket badminton buat Kezia. Belum semua “lunas” sih. Masih “ngutang” nemenin mereka berenang. Terutama Karen. Ia katanya pengen nyobain berenang malam-malam :).

Monday, March 05, 2007

I Like Monday - 22


Inspiring Singapore
Collaboration


Kerjasama antar negara tidak melulu harus diwujudkan dalam bentuk kerjasama ekonomi, pertahanan dan keamanan atau kegiatan formal lainnya. Jalur kerjasama kebudayaan juga bisa menjadi saluran yang efektif untuk mempererat hubungan antar negara. Singapore dan Rusia melakukan hal itu. Vladimir Martynov, komponis Rusia menerjemahkan visinya tentang Singapore dalam ekspresi musik dengan menggunakan berbagai genre musik jazz. Kolaborasi dengan Singapore Symphoni Orchestra. Mereka juga didukung oleh para selebriti Singapore dan siswa dari sekolah lokal. Kolaborasi ini menandai dibukanya forum bisnis antara Singapore dan Rusia. * Manusia adalah makhluk sosial. Tidak bisa hidup tanpa orang lain. Selalu membutuhkan orang lain. Jadi entah dalam scope kecil antar orang. Juga dalam tatanan yang lebih besar antar negara. Perlu untuk membangun ikatan. Mempersempit jarak. Dan memperlebar kesepahaman. Sehingga perbedaan dimaknai sebagai kekayaan.

Sumber : Yahoo Singapore/Channel News Asia

Sunday, March 04, 2007

Catatan Harian

Day - 28

Minggu, 4 Maret 2007 -- Semalam tidur hampir jam 3. Jam 6.30-an sudah bangun. Khotbah tiga kali. Presentasi buat bantuan banjir Jakarta di GPBB. Ke gereja bekal nasi. Bawa bekal sendiri ngirit waktu banyak daripada makan diluar. Saya agak “trauma” pernah terlambat pimpin kebaktian di GPO gara-gara ga dapat taxi. Jadi saya pikir naik MRT saja. Lebih pasti. Spare waktunya harus lebih panjang. Syukur-syukur dapat taxi.

Hari Minggu nyari taxi dari Bukit Batok ke Orchard susah. Apalagi Cap Go Meh. Dalam kalender China Cap Go Meh tuh hari ke 15 setelah Imlek. Saat bulan purnama pertama yang menandai awal tahun. Hari terakhir masa perayaan tahun baru Imlek. Kalau Imlek adalah perayaan di tingkat keluarga, Cap Go Meh bisa dibilang public entertaint-lah gitu.

Di Tiongkok biasa disebut juga Hari Raya Lampion. Pada malam hari orang-orang memasang lampion warna warni. Di beberapa negara dikenal sebagai Hari Valentine China. Zaman dulu para muda-mudi menjadikan Cap Go Meh sebagai ajang untuk saling bertemu; siapa tahu dapat jodoh :). Di Penang, Malaysia, ada tradisi para gadis yang belum menikah berkumpul bersama dan melemparkan jeruk ke laut.

Ke GPO ternyata ada teman yang anterin pakai mobil. Tiba di sana jadi kepagian. Daripada ketelatan kan. Pulang juga ada teman yang anterin sampai rumah. Kalau naik mobil cuma 20 menitan gitu. Jadi bisa istirahat sebentar. Malamnya ada acara “kumpul-kumpul” di rumah teman. Ia jago masak. Mie kuah bikinannya oke sekaleee. Mie paling enak yang pernah saya makan selama di sini :).

Sunny Sunday - 17


Indonesia Plus
The Professor


Ada yang istimewa di ajang Java Jazz Festival di Jakarta awal Maret 2007. Pengisi acaranya selain para musisi jazz berkelas dunia seperti Chaka Khan, Sergio Mendez, David Benoit, Jamie Culum, Dave Weckl, Level 42, Sadao Watanabe, Brian Simpson dan lain-lain. Tapi juga para musisi jazz tanah air. Seperti Bubi Chen, Elfa's Singer, Idang Rasjidi, Ruth Sahanaya, Titi DJ, Shanty, Marcell, Syahrani, Tompi, Rika Roeslan, dan masih banyak lagi. Di antara puluhan penampil ada satu grup unik. The Professor. Bukan saja namanya yang unik. Tapi juga personilnya. Dinamai The Professor karena memang personilnya adalah para profesor dan dosen perguruan tinggi Indonesia. Mulai dari rektor UI Usman Chatib Warsa, Psikolog Sarlito Wirawan yang main saksofon, dokter Ichramsyah sebagai vokalis, Raldi Artono Koestoer profesor teknik mesin yang memainkan flute, Paulus Wirotomo profesor sosiologi yang kebagian menggebuk drum, Martani Huseini profesor yang kebagian main saksofon dan Profesor Ronny Nitibaskara kriminolog yang pintar bermain mandolin. Mereka dibantu oleh para dosen biasa seperti Errie Iriani Sophiaan. Mereka rutin berlatih bahkan juga manggung di kafe Blog Kampus UI Depok. Di panggung, para profesor yang penuh wibawa ini di depan mahasiswanya ini, ternyata mengalami demam panggung. Tapi mereka juga bisa terbawa suasana dengan berjingkrak-jingkrak di atas panggung. Band ini dibiayai secara saweran dan tidak menjadikan honor sebagai tujuan utama. Jadi, dibayar dua sampai lima juta mereka tidak menolak. (Sumber : Gatra dan website JJF 2007)

Ayah's Plus Point:
Musik adalah bahasa universal. Alat komunikasi yang menghibur. Dan jarang bias arti. Yang bisa dipahami oleh siapa saja. Tak mengenal kasta. Tak mengenal gelar. Penyeimbang ruang kehidupan. Membuat hidup tak melulu monoton oleh grafis, kata dan angka. Tapi juga nada.

Saturday, March 03, 2007

Catatan Harian

Day - 29

Sabtu, 3 Maret 2007 -- Siang ke kawinan teman di GPO. Bareng Dewi, Kezia dan Karen. Ini pernikahan paling banyak melibatkan pendeta yang saya tahu :). Kebaktian pemberkatan dan peneguhan dilayani tiga pendeta. Satu pimpin liturgi. Satu pimpin pemberkatan dan peneguhan. Satu pimpin khotbah. MC di acara ramah tamah di gereja pendeta. MC di acara resepsi di gedung juga pendeta. Jadi total lima pendeta.

Saya kebagian jadi MC di resepsi di gedung. Tempatnya di Asian Civilisations Museum (ACM). Deket Hotel Fullertone. Dari kemarin-kemarin sudah dag dig dug tuh. Khotbah walau masih suka nervous tapi sudah biasalah. Jadi moderator seminar atau talk-show sudah sering juga. Tapi jadi MC kawinan di gedung? Ini pertama kali, Bo. Piuhh. Apalagi lihat teman yang MC-in acara ramah tamah bagus. Tambah “gentar” :). Ga pe-de. Tapi point of no return. Jadi ya que sera sera.

Saya suka pemilihan museum sebagai tempat resepsi. Unik. Good. Begitu juga pemilihan tumpeng yang dipotong. Bukan kue. Menyimbolkan “keindonesiaan”. Good. Akan jauh lebih "Ngindonesia" lagi kalau tumpengnya bukan nasi, tapi tempe :). Dress Code para undangan batik. Panitia dan mempelai juga pakai batik. Jadi ga hanya MC yang pakai batik. Hehehe. Dan lagu-lagu yang disetel macam Bendera-nya Coklat atau Kebyar-Kebyar-nya Gombloh.

Apalagi kalau musik pengiring ketika mempelai masuk Indonesia Pusaka. Koq jadi kayak acara kenegaraan :). Namanya juga kalau. Hehehe. Secara keseluruhan acara; baik yang di gereja maupun yang di gedung, "mengalir" mulus dan rapih. Good. Appreciate buat panitia. Doa saya untuk kedua mempelai, kiranya "semulus" dan "serapih" itu jugalah perjalanan mereka dalam bahtera rumah tangga.

Renungan Sabtu - 36


Nama

Hampir semua orang mengenal Yudas Iskariot. Dia adalah salah seorang dari dua belas murid Tuhan Yesus. Jabatan resminya bendahara. Sepanjang sejarah orang mengingatnya, mengenang ciuman mautnya di Taman Getsemani, dan..………. mengutuknya sebagai pengkhianat!

Tetapi tahukah Anda, kenapa Yudas mengkhianati Tuhan Yesus? Jelas bukan karena uang. Sebab kalau karena uang, kenapa dia menghargai-Nya hanya 30 keping uang perak. Kalau mau, tentunya dia bisa meminta harga yang jauh lebih tinggi. Dan pula, setelah mendapatkan uang itu kenapa dia malah membuangnya?

Juga jelas bukan karena Yudas membenci-Nya. Sebab kalau betul karena benci, tentunya dia merasa senang ketika Tuhan Yesus akhirnya ditangkap. Kenapa dia malah menyesal setengah mati sampai-sampai nekad gantung diri.

Lalu karena apa? Kuat dugaan, karena Yudas ingin memaksakan kehendaknya. Dia ingin Tuhan Yesus bertindak sesuai dengan keinginannya, berlaku seperti yang dia mau. Begitulah kalau keinginan sudah menjadi tuan. Segala cara akan dihalalkan. Suara hati tidak lagi didengar.

Tetapi masalahnya di sini bukan itu. Masalahnya adalah nama. Kata Yudas adalah bentuk Yunani dari kata Ibrani Yuda, yang artinya: Terpujilah Tuhan. Sungguh sebuah nama yang indah. Tetapi kenapa kenyataannya malah seorang pengkhianat? Benar kata Shakespeare, "What's in a name?", apalah arti sebuah nama.

Nama tidak menjadi jaminan perilaku penyandangnya. Seperti, sebut saja, orang yang bernama Luhur, bisa jadi kelakuannya malah rendah. Atau orang yang bernama Aquinas, tidak dijamin pribudi dan kepandaiannya seluhur Thomas Aquinas, seorang filsuf sekaligus teolog hebat pada Zaman Skolastik. Sama juga dengan orang yang namanya Ayub, tidak lantas dia panjang sabar dan tahan banting seperti tokoh Ayub dalam Alkitab..

Jadi sebuah nama bisa saja sekadar pepesan kosong. Indah artinya, tetapi tidak sesuai dengan perilaku penyadangnya. Seperti Yudas Iskariot. Artinya bagus, tetapi jebulnya justru seorang pengkhianat.

Sungguh berat memang menyandang beban arti sebuah nama. Lebih berat dari menyandang segala atribut kesarjanaan. Barangkali jauh lebih baik seorang yang bernama Jangkrik atau Kuya, tetapi memiliki pribudi seorang satria pinandita.


Dari Buku Potret Diri Tanpa Bingkai - Ayub Yahya, diterbitkan oleh Gloria Graffa

Catatan Harian

Day - 30

Jumat, 2 Maret 2007 -- Pagi ke kantor. Ada beberapa hal yang mesti disiapin. Siang pulang. Dewi ada acara Komisi Wanita. Saya mesti tungguin Kezia dan Karen pulang sekolah. Untuk urusan begini saya dan Dewi fleksibel. Pekerjaan domestik kan bukan cuma jadi tanggung jawab salah satu. Sama-samalah. Untungnya waktu saya di kantor juga agak "longgar".

Sore persiapan untuk presentasi "missi Jakarta". Lanjut bina pranikah. Saya hanya dampingi. Topik seputar ekonomi. Pembinaan para pasangan yang mau menikah seperti ini penting jadi perhatian gereja. Mengarahkan mereka. Memberi gambaran yang obyektif tentang kehidupan rumah tangga. Menikah gampang. Yang sulit kan mempertahankannya. Jadi persiapan matang itu perlu. Harus. Romansa masa pacaran beda loh dengan kehidupan nyata pernikahan.

Saya senang melihat antusiasme beberapa pasangan. Walau sibuk kerja, bela-belain datang. Malah ada pasangan yang prianya kerja di Singapore. Ia sih rutinlah datang. Tapi pacarnya kerja di Jakarta. Ga bisa selalu datang. Seminggu ini ia khusus datang dari Jakarta. "Ngejar" materi pembinaan. Good. Tapi ada juga yang pasangannya selalu ga bisa datang. Sibuk katanya. Jadi ia datang sendiri gitu.

Sebisa mungkin kita berikan waktu alternatif. Tapi waktu alternatif itu pun ternyata ia ga bisa. Kwakk. Saya jadi mikir, belum nikah saja sudah susah nyisihin waktu. Gimana kalau udah nikah? :). Kesibukan kerap jadi alasan utama. Tapi saya pribadi sih berkeyakinan untuk sesuatu yang kita anggap penting pastilah ada waktu. Masalahnya bukan diwaktu koq, tapi di kita juga.

Friday, March 02, 2007

Friday's Joke - 32


Percaya

Dua orang gadis kecil sedang berbincang-bincang selepas kebaktian Sekolah Minggu. Gadis kecil pertama berkata, “Apa kamu percaya kalau iblis itu ada?” Gadis kecil kedua menjawab, “Saya tidak begitu percaya. Mungkin sama saja dengan Sinterklas. Lama-lama kita tahu, ternyata itu cuma ayahmu saja.”

Ayah’s Quote :
Kepercayaan tuh “rapuh”. Sekali ternoda, sulit dibersihkan. Sekali lancung di ujian, seumur hidup tak dipercaya.

Thursday, March 01, 2007

Catatan Harian

Day - 31

Kamis, 1 Maret 2007 -- Seharian hujan. Dari semalam. Dapat SMS ini: “Rupanya saya belum lulus ujian dari Tuhan. Tumor yang disisakan masih betah nempel dan cairan di otak besar masih tampak banyak. Ini kalau lihat MRI-nya. Pantas saya masih suka pusing. Besok ketemu dokternya lagi. Terus terang saya down. Ingin nangis. Tapi di depan suami saya harus kuat. Tolong doakan ya.”

Zaman makin maju. Teknologi kedokteran makin canggih. Tapi penyakit juga makin aneh-aneh. Penyakit “baru” bermunculan. Tempo hari ada teman yang dioperasi. Katanya kista di rahim. Tapi sudah nempel dan bersatu dengan usus. Jadi harus “dibeset” gitu. Ada pula teman yang punya masalah di maagnya. Diidentifikasi kanker. Tapi belum pasti. Untuk memastikan konon harus ditembak dengan nuklir.

Zaman orang tua atau kakek nenek kita dulu, rasanya jarang banget dengar penyakit “aneh-aneh” gitu. Benar juga, bahwa sebagian besar yang terjadi pada tubuh kita itu juga ada “andil” kita. Entah gaya hidup. Pola makan. Atau juga pola kerja. Juga “andil” orang lain. Lingkungan yang ga sehat. Polusi udara. Pemanasan global.

Malam ada gladi resik teman yang mau menikah di GPO. Naik MRT. Di Ang Mo Kiu semua penumpang diturunin. Ga tahu kenapa. Dua kali saya ngalami begitu. Untung spare waktunya agak lama. Jadi tiba ga terlambat lah :). Saya ga ikut sampai selesai. Banyak hal yang harus dipersiapkan. Minggu ini bener-bener padat nih. Duh.

Thursday's Hot Issue - 19


Global Warming



The Fact :
Kejadian alam belakangan ini benar-benar aneh. Tidak saja di Indonesia. Tapi juga di seluruh dunia. Angin tornado. Banjir besar. Badai salju. Hujan es. Kabut asap. Angin puting beliung. Kemarau panjang. Dan lain-lain. Semuanya terjadi dalam kadar yang tidak biasanya. Para ilmuwan mengklaim bahwa bencana iklim ini terjadi karena pemanasan global. Isu yang sudah beberapa tahun belakangan ini menjadi isu internasional. Sayangnya kerap terpinggirkan. Penyebabnya tidak lain dan tidak bukan adalah polusi yang berasal dari bahan bakar fosil yang menaikkan suhu abad ini. Sehingga mencairkan es di kutub dan menghancurkan sistem iklim. Bahkan Sekjen PBB Ban Ki-moon mengingatkan bahwa bahaya akibat pemanasan global sama berbahayanya dengan akibat perang. Ia menganggap sudah saatnya PBB tidak saja terfokus pada pencegahan dan resolusi konflik tapi juga pada krisis iklim dan pemanasan global. Karena pengaruh bencana akan merembet kepada pertumbuhan ekonomi, penyebaran penyakit, pola imigrasi dan perubahan lain yang juga tidak menutup kemungkinan menyulut perang dan konflik. (Sumber : Kompas)
The Lessons :
Kerusakan alam. Kerusakan lingkungan. Kerusakan iklim. Ada andil kita di dalamnya. Sekecil apapun itu. Saatnya berpikir sebaliknya. Berkontribusi dalam perbaikannya. Untuk hal itu, mari bertanya : Seberapa besar andil kita?

Catatan Harian

Day - 32

Rabu, 28 Februari 2007 -- Lagi banyak yang sakit dan berobat ke sini. Sampai agak sore tadi saya nengok tiga orang di tempat yang berbeda. Satu dirawat di Thompson Medical Centre. Satu dirawat di General Hospital. Satu lagi di Gleneagle. Yang Pertama dan kedua hanya cek. Mereka sudah operasi beberapa minggu lalu. Yang ketiga mau operasi siang tadi.

Masih ada beberapa lagi yang "waiting list". Selama di sini, ada 2 tempat yang paling sering saya kunjungi; West Mall dan rumah sakit. Selain gereja tentunya. Hehehe. West Mall karena dekat rumah. Sudah “panggilan jabatan”. Dalam kondisi “kritis” doa dan pendampingan bisa sangat berarti. Seperti air sejuk di tengah padang tandus. Kadang just “hadir” pun bagi mereka sudah cukup.

Begitulah. Dalam hidup ini kadang ada hal-hal yang ga terhindarkan. Seperti sakit. Dalam situasi demikian yang bisa kita lakukan adalah berubah sudut pandang. Pendampingan perlu dalam kerangka membuka sudut pandang positif ini. Ada buku bagus dari Pak Eka Darmaputera. Ketika Aku Lemah Maka Aku Kuat. Buku itu bertolak dari pengalaman pribadi Pak Eka menghadapi sakitnya.

Mirip dengan Victor Frankl. Psikolog berkebangsaan Yahudi. Ia salah seorang korban keganasan Hitler. Sempat mengalami penyiksaan fisik sangat berat. Tapi bisa bertahan. Dan bebas. Lalu menciptakan teori yang disebutnya “logothearpy”. Menemukan makna di balik penderitaan akan membuat seseorang mampu bertahan. Malam rapat Majelis. Dari siang hujan ga berhenti-berhenti.

Wednesday, February 28, 2007

Wednesday's Games Idea - 31


Negosiasi


Jumlah peserta : Kelompok kecil sampai besar, dibagi berpasangan (berdua)
Alat yang dibutuhkan : Lembaran uang Rp. 1000 atau koin Rp. 100 sebanyak jumlah pasangan
Waktu permainan : 30 menit
Aturan Permainan :
Mintalah seluruh peserta untuk mengambil pasangan. Tidak perlu beda jenis kelamin. Bagikan kepada tiap pasangan selembar atau satu buah uang. Sampaikan bahwa setiap peserta harus berusaha keras agar uang tersebut menjadi miliknya. Caranya dengan melakukan negosiasi kepada pasangannya. Yang menang adalah yang berhasil mendapatkan uang tersebut. Larangan dalam permainan ini adalah kontak fisik. Mintalah para peserta untuk berusaha keras mendapatkan uang tersebut. Di akhir permainan, tanyakan beberapa contoh alasan peserta akhirnya memberikan uang tersebut kepada pasangannya.
Tujuan permainan :
Negosiasi itu cara halus mendapatkan yang kita inginkan. Kemampuan kita meyakinkan orang. Dan kehandalan kita berkomunikasi penting di sini. Tapi, tidak jarang, orang menghalalkan segala cara demi tercapainya keinginannya. Kadang dengan paksaan. Kerap bahkan dengan janji palsu.

Tuesday, February 27, 2007

Catatan Harian

Day - 33

Selasa, 27 Februari 2007 -- Kemarin malam sampai rumah sekitar jam 12. Naik taxi. Sebetulnya jam 10.40-an sudah turun dari pesawat. Tapi di Changi ada pemeriksaan. Agak lama juga. Antri. Selama bolak-balik ke sini ga pernah diperiksa ketat begitu. Sampai note book pun harus dikeluarin dari tas. Di x-ray. Biasanya turun dari pesawat langsung ke counter imigrasi.

Pagi ke kantor. Just ngecek kalau-kalau ada yang penting. Beberapa hari "ga nongol" di gereja saya suka merasa "gimana gitu". Ga tenang. Siang pulang. Beres-beres. Sore harus ke Batam. Ada peneguhan pendeta di GKI Bukit Indah Sukajadi. Pulang hari. Berangkat bareng teman. Dari Harbour Front Singapore ke Harbaour Bay Batam lancar. Cuma ombak agak tinggi. Tapi ga seberapalah dibanding turbulence di pesawat kemarin :).

Saya punya kenangan manis dengan GKI Batam. Pernah 2 minggu “tugas” di sana. Cukup akrab. Dulu belum di gedung yang sekarang. Masih pinjem. Juga belum ada pendeta tetap. Pendeta yang “tugas” gantian. Gedung gerejanya yang sekarang bagus. Gedung baru. Ga mewah sih. Dari penampakan luar malah kesannya “sederhana”. Tapi begitu masuk ke dalam terasa sekali “auranya”. Rasanya teduh. Tenang. Nyaman.

Ini bangunan gereja terbagus yang pernah saya lihat di GKI. Mewah dan bagus menurut saya beda. Di jakarta ada beberapa gereja yang mewah. Tapi just mewah. Ga bagus. Ga memberi “keteduhan” apalagi “kenyamanan”. Malah orang yang sederhana jadi “sungkan” masuk gereja kan. Ibarat orang, hanya cakep tapi ga "berjiwa" gitu. Bravo, GKI Batam. Suatu saat saya akan ke sini lagi. Ambil foto-fotonya.

Tuesday's Song - 37

You
Sing by Basil Valdez


You give me hope,
The strength, the will to keep on;
No one else can make me feel this way
And only you,
Can bring out all the best I can do;
I believe you turn the tide,
And make me feel real good inside.

You pushed me up,
When I'm about to give up;
You're on my side when no one seems to listen
And if you go,
You know the tears can't help but show
You'll break this heart and tear it apart;
Then suddenly the madness starts

CHORUS:
It's your smile,
Your face, your lips that I miss,
Those sweet little eyes that stare at me
And make me say, I'm with you through all the way.

'Cause it's you,
Who fills the emptiness in me;
It changes ev'rything, you see,
When I know I've got you with me

Renungan :
Punya seseorang yang bisa mengisi “kekosongan” jiwa. Membuat langkah lebih ringan. Menjadikan hari lebih indah. Hidup lebih hidup. Ketika ia tiada, yang tertinggal hanya kekosongan. Tapi, bukankah tanpa jarak, relasi malah jadi kehilangan makna?

Catatan Harian

Day - 34

Senin, 26 Februari 2007 -- Hari ini masih ada beberapa "urusan" yang harus diselesaikan sebelum balik Singapore. Ketemu kakak dan ponakan di Mal Kelapa Gading. Sempat ke Gramedia. Biasa kalau ke toko buku, ga tahan ga beli buku :). Terus ketemu teman dari GKI Kayu Putih. Bicarain kerjasama seputar pelayanan masyarakat pasca banjir. Gambaran dan rencananya.

Tiga lingkup yang bisa digarap bareng. Pertama, berkaitan dengan pendidikan. Termasuk mikirin pengadaan tenaga guru. Juga perbaikan saran dan prasaran sekolah, seperti buku pelajaran dan perpustakaan. Kedua, masalah kesehatan. Selain pengobatan cuma-cuma, perlu ada yang lebih komprehensif. Kayak penyadaran pola hidup sehat. Ketiga, pemberdayaan masyarakat. Bisa melalui pelatihan atau kursus ketrampilan. Juga penciptaan peluang kerja.

Sore ke bandara diantar teman. Value Air cancel. Alasan perawatan. Klise :). Ditransfer ke Lufthansa. Baguslah. Jadi lebih cepat 30 menit. Pesawatnya juga lebih “oke” :). Perjalanan lancar. Sampai kira-kira di atas Palembang (ada "peta" di televisi pesawat), terjadi turbulence. Cukup keras. Beberapa menit. Para cabin crew yang sedang bagiin makanan diminta duduk sama pilot. Wajah mereka tampak tegang. Penumpang kanan kiri tegang. Saya ya gentar juga.

Pertama kali saya ngalami ketegangan kayak gini di pesawat. Yang terlintas pertama wajah Dewi, Kezia dan Karen. Jangan-jangan ga akan ketemu mereka lagi. Duh. Jadi ingat Adam Air yang jatuh. Juga Silk Air beberapa tahun lalu. Kebayang gimana perasaan para penumpangnya. Duh. Kata teman di sekitar Palembang memang suka kejadian begitu. Karena konon ada “udara kosong” atau apa gitu. Thx, God! Landing juga dengan selamat di Singapore.

Monday, February 26, 2007

I Like Monday - 21


Inspiring Singapore
New Year Spirit


Para tenaga sukarela di Singapore membuat sebuah kegiatan dalam rangka Chinese New Year. Sasarannya adalah para orang tua lanjut usia. Mereka yang tinggal di panti jompo. Seperti penghuni Henderson Senior Citizens’ Home. Mereka dijamu makan. Lengkap dengan sajian musik jazzy twist. Atau juga penghuni Moral Homefor the Aged Sick and Senior Activity Centres di Redhill, Kaki Bukit dan Thong Kheng. Sementara di Kreta Ayer Community Club diadakan acara tarian tradisional saat makan malam untuk para orang tua yang berasal dari Kreta Ayer, Jalan Kukoh dan Chin Swee.* Berbagi ga selalu berhubungan dengan materi. Bisa juga dalam bentuk perhatian, kasih sayang, bahkan pendampingan. Menemani dan menghibur. Itu juga bentuk berbagi. Yang kerap malah ga ternilai dengan materi. Priceless.
*Yahoo Singapore/Channel News Asia

Catatan Harian

Day - 35

Minggu, 25 Januari 2007 -- Semalam ga bisa tidur. Saya tidur sekamar Papa. Papa tuh ga bisa tidur pakai AC. Jadi AC dimatiin. Lha saya justru ga bisa tidur ga pakai AC. Papa juga batuk terus. Kalau datang ke Jakarta Papa suka begitu. Mungkin karena udara yang ga cocok. Papa hampir 80 tahun usianya. Saya suka terenyuh lihat Papa. Jadi ingat semua kenakalan masa kecil saya. Duh. Duh.

Baca di koran Kompas tentang kelompok vokal Il Divo. Barusan manggung di Jakarta. Pengunjungnya membludak. Padahal konon harga tiketnya tuh di atas harga rata-rata penyanyi luar negeri. Yang nonton rata-rata ibu-ibu. Ada yang sampai bela-belain datang dari luar kota. Bahkan ada yang histeris juga. Rebutan megang dan meluk mereka :).

Ternyata urusan idola-mengidolai ga mengenal usia. Ga cuma anak ABG. Anak Baru Gede. Tapi juga “ABG”. Pakai tanda kutip. Anak Beneran Gede. Hehehe. Alasannya mengidolakan bisa beragam. Karena kemampuan, karya atau prestasi. Bisa juga karena tampang yang enak dilihat. Tapi jujur, saya sih ga bisa bayangin ibu-ibu itu histeris dan berebut meluk atau megang penyanyi idolanya :).

Pagi-pagi sekali diantar kakak ke rumahsakit MMC di Kuningan. Berdoa untuk teman yang akan dioperasi di sana. Sambil tunggu jalannya operasi bareng beberapa teman makan di warung makan Ampera Jalan Soeroso. Depan bakmi Gondangdia. Masakan Sunda. Makanannya digelar di atas meja. Kita ambil sendiri. Kalau sudah tinggal “lapor” makan apa, berapa biji. Dasarnya kepercayaan. Bagus juga “sistem” kayak gitu. Informal dan sangat “hommy”. Apalagi makanannya juga enak :).

Saturday, February 24, 2007

Catatan Harian

Day - 36

Sabtu, 24 Januari 2007 -- Pagi ke Kampung Sawah. Daerah Cilincing. Di pinggir Jakarta. Jalanan ke sana sempit dan rusak. Dekat dengan tempat pembuangan sampah sementara. Rata-rata penduduknya pemulung. Sebagian lagi buruh serabutan. Lingkungannya kumuh dan kotor. Lebih-lebih paska banjir. Di daerah ini banjir tempo hari sampai 1 meter lebih. Sangat kontras dengan segala gemerlap kota Jakarta.

Ke sana bareng teman dari GPBB. Ikut juga beberapa teman dari GKI Kayu Putih dan GKI Layur. Kita gabung dengan teman-teman dari Sekolah Doa Pelangi Kasih Abadi yang punya “proyek” pelayanan sosial dan spiritual di daerah itu. Bekerja sama dengan Gereja Bethel yang ada di sana. Pelayanan kemanusiaan semacam ini sebaiknya memang dikerjakan lintas denominasi. Gereja ga kerja sendiri-sendiri.

Pelayanan di sana meliputi pengelolaan Sekolah Dasar, panti asuhan, dan panti jompo. Semua sarana prasarana sangat sederhana. Ada beberapa donatur yang menyokong. Untuk masyarakat sekitar juga ada pelatihan ketrampilan, terutama untuk para ibu dan anak-anak pemulung. Diharapkan mereka bisa mandiri. Ga bergantung pada orang lain. Dan dapat bekerja lebih layak. Ga sekadar ngasih “ikan”, tapi “kail”.

Pulang dari sana agak siang. Terus nengok teman yang besok akan operasi. Kita berdoa bersama dan ngobrol sambil bercanda. Kegembiraan dan pendampingan bisa membuat seseorang melangkah mantap menghadapi saat-saat sulit. Punya semangat. Beban terasa lebih ringan. Malam ke rumah kakak di Serpong. Ketemu keluarga yang sengaja datang dari Bandung. Malah jadi mereka yang negok saya :).

Renungan Sabtu - 35


Banjir

Saya hanya bisa duduk bengong di atas meja makan. Sekeliling air mengenang hampir sepaha. Rumah berantakan; sampah bertebaran, tabung gas dan sofa jungkir balik, ranjang dan meja tamu mengambang. Buku-buku jangan ditanya. Listrik mati. Bau tidak sedap menyengat pula.

Saya betul-betul berada pada situasi tidak berdaya. Dan hopeless. Bagai rusa dalam cengkraman harimau lapar; tidak bisa berbuat apa-apa. Kecuali menunggu banjir bermurah hati surut sendiri.

Ya, sungguh betapa kecilnya kita di hadapan alam raya ini. Sehebat dan secanggih apa pun kita, seperti dikatakan kitab suci, kita tidak lebih dari debu tanah asalnya. Dan akan kembali menjadi debu.

Maka, jangan sombong dengan kepandaian kita, lupa diri dengan apa yang sudah kita capai. Sesungguhnyalah kita ini bukan siapa-siapa, dan bukan apa-apa. Banjir tempo hari itu -- juga bencana lainnya -- kiranya semakin membuat kita sadar: tunduk dan luruh di hadapan Sang Khalik.

Dari Buku Tragedi dan Komedi, Ayub Yahya – diterbitkan oleh Grasindo

Friday, February 23, 2007

Catatan Harian

Day - 37

Jumat, 23 Januari 2007 -- Saya ke Jakarta bisa dibilang dalam rangka mission trip; menjajaki penyaluran bantuan korban banjir. Mission trip kan ga mesti identik dengan perjalanan ke daerah terpencil atau pedalaman :). Kembali ke Singapore minimal tahu ke mana bantuan diarahkan, dalam bentuk apa, bekerja sama dengan siapa. Kita maunya “gabung” dengan gereja atau yayasan setempat. Dan ga sekadar “drop” ini dan itu. Tapi kita juga hadir. Membantu dengan hati.

Pagi bareng teman nengok Poliklinik Anugerah GKI Gading Serpong. Salah satu bentuk pelayanan gereja kepada masyarakat sekitar. Good. Konon setiap bulan pasien yang ditangani rata-rata 1.500 orang. 90% non Kristen. Masyakarat kecil. Biayanya murah. Poli umum sekali periksa plus obat Rp. 10.000,-. Poli gigi sekali cabut atau tambal Rp. 15.000,-. Dokter-dokternya para warga jemaat sendiri.

Dari sana kita ke Posko Tim GKI (Gerakan Kemanusiaan Indonesia) di kantor sinode Tanjung Duren. Kiprah Tim GKI ini bagus. Mereka “hadir” di daerah bencana. Aceh, Nias, Papua, Jogja, dsb. Terjun langsung menyalurkan bantuan. Good. Menyebar kasih dalam wujud tindakan kongkrit, bukan sekadar doa dan retorika. Gaungnya akan lebih “abadi”.

Dari situ terus ke Mess Papua di Tanah Abang. Ngelihat persiapan pengobatan gratis di sana. Sempet keliling kunjungan ke masyarakat sekitar. Lanjut ke Kampung Melayu. Salah satu daerah terparah kena banjir. Ketemu Pak Lurah. Di daerah situ banjir mencapai 6 meter. 56 rumah hanyut. Bener-bener hanyut. 700 rusak berat. Sampai agak sore.

Friday's Joke - 31


Surat

Seorang kepala suku terasing yang anggotanya terkenal masih kanibal, mengirim surat kepada pimpinan sebuah gereja. Isinya : “Terima kasih atas kebaikan anda mengutus seorang misionaris ke tempat kami. Orangnya sangat cerdas, baik hati, sabar, dan juga lezat.”

Ayah's quote:
Berkorban demi tugas, adalah tindakan mulia. Tapi ya, jangan mau mati konyol, dong.

Catatan Harian

Day - 38

Kamis, 22 Januari 2007 -- Baca berita tentang Britney Spears. Ulahnya makin gila-gilaan. Setelah kehidupan “liarnya” dari pesta ke pesta. Sekarang ngebotakin rambutnya sendiri. Kasihan. Kasihan. Saya kira ia tuh korban cinta, korban salah kawin, dan korban ketenaran. Putus cinta dengan Justin Timberlike, sesama penyanyi tenar. Nikah dengan Kevin Fenderline penari latar yang ternyata hanya memanfaatkannya. Punya anak dua. Cerai. Jadi makanan empuk para wartawan gosip.

Britney Spears mulai terkenal setelah lagunya Baby One More Try meledak. Begitu heboh lagu itu sampai konon, banyak gadis remaja yang mau masuk ke sekolah Katolik. Setting lagu itu sekolah Katolik. Kemudian lagu-lagu lain juga sukses. Sometimes, Crazy, Everlasting. Terus apa lagi gitu. Saya ga ngikutin. Yang keinget waktu Baby One More Try populer saya lagi “tugas” di Batam 2 minggu.

Cinta memang indah, tapi kalau ga dikendalikan bisa menghancurkan. Cinta buta bikin orang kalap, nekad, irasional. Saya lihat-lihat yang kerap jadi "korbannya" tuh wanita :). Apa karena wanita lebih "emosional"; lebih dikendalikan rasa daripada akal? Mungkin. Salah kawin bisa jadi derita berkepanjangan. Dan hidup dalam ketenaran seumpama hidup diseputar ranjau yang sewaktu-waktu bisa meledak. Britney Spears tengah mengalami pahit getirnya ketiga hal itu. Hanya kemauan diri dan lingkungan kondusif yang bisa “mengembalikan” ia.

Pagi ke kantor. Setengah hari. Siang pulang. Beres-beres. Sore berangkat ke Jakarta. Naik Value Air. Perjalanan lancar. Meski waktu mau take off pesawat "glojak-glojok". "Derat-derit" lagi. Ga tahu suara apa. Agak takut-takut juga sih. Inget Adam Air. Hehehe. Sampai di Cengkareng dijemput kakak dan teman dari Serpong. Kita sekalian bicarain tentang bantuan banjir di daerah Tangerang.

Thursday, February 22, 2007

Catatan Harian

Day - 39

Rabu, 21 Februari 2007 -- Siang ketemu teman dari Jakarta di Garden Hotel, Balmoral Road. Ia dari Yayasan yang melayani “masyarakat miskin” di Indonesia. Ada di Singapore dalam rangka seminar. Kita bicarakan kemungkinan kerja sama membantu korban banjir Jakarta. Ga cuma ngasih ini itu. Tapi juga menolong mereka untuk “hidup baru lebih layak”.

Membantu just dengan memberi uang lalu selesai gampang. Kayak sinterklas gitu. Tapi cara begitu tuh kerap “ga sehat”. Ga menyentuh akar masalah. Seumpama borok, cuma ditutupi. Membantu dengan pendampingan dan pendidikan jauh lebih produktif. Hanya memang lebih sulit dan repot. Jangka panjang pula.

Begitu juga berkenaan dengan banjir Jakarta. Bantuan karitatif sekarang-sekarang ini tentu sangat perlu. Sembako. Selimut. Tikar. Tenda. Dsb. Untuk itu banyak pihak yang sudah mengambil bagian. Tapi ke depan bantuan transformatif juga penting. Pendidikan anak-anak. Perumahan penduduk. Pendampingan rohani dan psikologi buat para korban. Bantuan jangka panjang ini yang rencananya kita ikut garap.

Dari sana terus ke Mount Elizabeth Hospital. Hari Minggu kemarin ada pengunjung kebaktian dari Cirebon. Ngobrol punya ngobrol. Ia ke sini untuk berobat. Ditemani istrinya. Minta didoain. Saya datang pas ia mau masuk kamar operasi. Lalu lanjut ke Meritus Mandarin. Ga jauh. Cuma jalan kaki. Nengok yang sakit juga. Opa. 84 tahun usianya. Ke sini untuk chek-up. Operasi sudah beberapa minggu lalu.

Wednesday, February 21, 2007

Wednesday's Games Idea - 30


Informasi Tidak Benar


Jumlah peserta: Tidak terbatas. Untuk menghemat waktu apabila jumlah peserta banyak bagi ke dalam beberapa kelompok beranggotakan 5-7 orang.
Waktu yang dibutuhkan : 30 - 45menit
Aturan permainan :
Setelah semua peserta masuk ke dalam kelompok. Minta mereka memperkenalkan dirinya masing-masing kepada anggota kelompoknya. Setiap peserta harus memberikan informasi tentang dirinya, misal nama, asal daerah, hobi, alamat tempat tinggal dan makanan kesukaan. Tapi mintalah mereka untuk memberikan satu informasi yang tidak benar. Misalnya asal daerah atau hobi. Kemudian setelah semua anggota kelompok memperkenalkan diri, mintalah semua anggota kelompok untuk saling mencari informasi mana yang tidak benar dari setiap peserta. Diskusikan mengapa ada yang sangat pintar menyimpan informasi yang sesungguhnya. Ada juga orang yang begitu mudah ditebak bohong atau tidaknya.
Tujuan permainan :
Sering kita tidak tahu-menahu tentang teman kita. Sebagian disebabkan karena kelihaian seseorang menutup diri, menyembunyikan perasaan atau masalah yang dialaminya. Tapi sebagian besar lebih karena ketidakpedulian kita terhadap orang lain.

Tuesday, February 20, 2007

Catatan Harian

Day - 40

Selasa, 20 Februari 2007 -- Hari ini masih libur. Kantor masih banyak yang tutup. Suasana masih lenggang. Siang kita ke West Mall. Mau ngembaliin sekaligus pinjem lagi buku ke library. Tapi tutup. Jadi cuma kembaliin "cemplungin" di box. Di sini Chinese New Year tuh hari raya penting. Banyak acara digelar. Beragam dan meriah. Di pusat perbelanjaan, di pemukiman penduduk. Buat saya ini pengalaman pertama menyaksikan sincia seheboh begini :).

Teman di Jakarta cerita. Tadi pagi pas berangkat kerja ia lewat Balai Kartini. Di Gatot Soebroto. Ada banyak orang ngantri. Panjang sampai "nguler" ke luar gedung. Bahkan sampai ke halaman gedung lain. Ternyata itu antrian audisi Indonesian Idol. Ampun deh. Ga di Amerika. Ga di Singapore. Ga di Indonesia. Sama. Jadi idola rupanya segitu menariknya. Dan televisi punya peran besar mewujudkan itu.

Acara reality show seperti itu memang lagi mewabah di televisi. Aneka rupa. Mulai dari jadi penyanyi, model, turis, ngasih bantuan, bangun rumah, bangun sekolah, pulangin orang ke kampung. Sampai kontak jodoh dan mengungkap perselingkuhan pacar segala. Bagi televisi ini ibarat sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui. Penonton banyak. Iklan antri. UUU jugalah. Ujung-ujungnya untung :).

Yang paling untung siapa lagi kan selain pihak penyelenggara. Hitung saja berapa besar pemasukan dari iklan. Belum dari SMS yang bisa sampai jutaan biji. Dari sisi produksinya juga lebih murah. Ga perlu bayar bintang sinetron atau artis ternama. Cukup orang "biasa". Sore saya ke daerah Kembangan. Janjian ketemu dengan teman. Bicarin acara pernikahan mereka. Naik MRT. Ketiduran. Kelewat deh :).

Tuesday's Song - 36

Seharusnya Kudatang Tuhan
Edward Chen and Bobby (album my reflection)


Jing chang lai dao ni mian qian shang di (sering kali kudatang Tuhan)
Zhi shi wei na qian bai zhong de bei ku (hanya karena sejuta keluhan)
Wo shi chang you yi wang le shang di (sering kali kulupa Tuhan )
Qi shi wo ying gai lai dao (seharusnya kudatang)

Reff :
Dai zhe man xin de si nian
Lai zhi xin ling de shen chu
Dai zhe zhen cheng de ke mu
Yin wei wo ai ni zhu ye su

Bu shi man nao zi xiang zhe
Ni suo ci yu de en dian
Er shi yin wei zhen de shen ai zhe ni a ye su

Shi chang dao gao bian cheng le xing shi (sering kali aku berdoa )
Zhi shi yin xiang bei bie ren zhi ze (hanya karena tak ingin dicela)
Dan ru jin wo xing wu le shang di (namun kini kusadar Tuhan)
Qi shi wo ying gai lai dao (seharusnya kudatang)

Reff.
Dengan segenap rindu
Dari lubuk hatiku
Dengan hasrat yang tulus
Dan aku cinta pada-Mu

Tak hanya memikirkan
Berkat yang Kau berikan
Sungguh hanya karna ku
Mengasihi-Mu...

Renungan :
Berpalinglah kepada Tuhan dalam segala suasana. Entah suka entah duka. Saat tertawa pun saat menangis. Dalam keluh juga dalam syukur. Saat berkat melimpah bahkan ketika semua lari menjauh.

Catatan Harian

Day - 41

Senin, 19 Februari 2007 -- Public holiday. Sampai besok. Sincia-an. Pagi "ngumpul" dengan beberapa teman keluarga muda di Cashew Park. Salah satu taman kota. Acara spontan sih. Bareng anak-anak juga. Main bola. Kongkow. Makan. Sehari-hari mereka sudah sering traveling. Long week end begini jadi kesempatan "mewah" buat bikin acara bareng keluarga.

Enaknya di sini tuh banyak taman kota. Terawat. Lengkap dengan sarana bermain anak-anak. Kita bisa pakai sepuasnya. Gratis. Acara liburan keluarga bisa murah meriah. Salah satu tugas negara adalah untuk membuat masyarakatnya hidup “aman” dan “nyaman”. Semua perangkat hukum, undang-undang, kebijakan, dsb. Dibikin dalam kerangka itu.

Termasuk menyediakan fasilitas umum. Mulai dari yang sederhana seperti taman, sarana olahraga dan bermain. Sampai pendidikan dan sistim transportasi. Dananya ya dari pajak. Masyakarat bayar pajak, harus ada "imbalannya" juga dong. Pajak kan bukan "upeti" :). Kemajuan sebuah negara bisa dilihat dari seberapa besar masyarakatnya merasa “aman” dan “nyaman”.

Cuma kalau terlalu "aman" dan "nyaman" repot juga. Terlalu "aman" bikin masyarakat jadi ga waspada. Terlalu "nyaman" bisa bikin masyarakat “manja”. Semua tersedia. Serba teratur. Hidup terjamin. Lama-lama jadi terlena. Biasanya kan orang yang punya daya juang tinggi dan kreatif berasal dari negara miskin. Keadaan menempa mereka jadi ”tough”. Sore ada acara Family Fellowship. Terus pulang. Sebetulnya masih ada acara lain di rumah teman. Tapi kita ga ikut. Anak-anak sudah kecapekan. Karen masih flu. Saya juga ga gitu fit.

Monday, February 19, 2007

I Like Monday - 20


Inspiring Singapore
Watch What You Eat


Tahun baru bagi masyarakat China adalah salah satu saat untuk makan enak. Berbagai pangganan disajikan di setiap rumah. Bahkan tidak jarang, makanan tersebut dibuat dengan sangat istimewa. Untuk dimakan bersama-sama. Tidak saja istimewa karena rasanya yang enak. Tapi juga karena jumlahnya yang beragam dan banyak. Para ahli gizi di Singapore mengingatkan agar masyarakat berhati-hati dalam mengkonsumsi makanan enak selama tahun baru. Terutama karena banyaknya makanan berlemak yang disajikan. Dr Grace Soon Ing, Nutrisionist, dari Health Promotion Board Singapore mengingatkan agar tidak saja memperhatikan konsumsi lemak, agar tidak berlebihan. Karena konsumsi yang berlebihan dapat meningkatkan kolesterol. Merayakan tahun baru dengan sehat bisa dilakukan dengan cara mengganti makanan dengan makanan yang lebih sehat. Seperti makanan favorit, yu sheng, dapat dibuat dengan mengurangi penggunaan saus plum dan minyak. Bisa juga diganti dengan lemon atau juice lime.* Intinya, pilihan untuk sehat ada di tangan kita. Kita bisa memilih menyia-nyiakannya. Atau menjaganya. Gaya hidup dan pola makan yang sehat adalah salah satu cara menjaganya. Makanlah untuk hidup. Bukan hidup untuk makan. Just never too much.
*Source :Channel News Asia/YahooSingapore

Catatan Harian

Day - 42

Minggu, 18 Februari 2007 -- Sincia. Tahun baru imlek. Buat saya sih biasa saja. Ga ada yang khusus. Pagi ke gereja. Hari ini khotbah di GPBB dan GPO. Kalau pun ada yang beda jalanan sepi. Toko, mall dan hawker center pada tutup. Tadi ke gereja bekal nasi. Dari GPBB ke GPO ga sempet pulang lagi untuk makan. Bis dan MRT jalan seperti biasa. Cuma taxi lebih jarang.

Cari taxi mau ke GPO susah. Call juga penuh terus. Tapi akhirnya dapat juga sih. Ngobrol sama supir taxi. Ia Chinese. Saya tanya sincia ga liburan? Ia bilang di sini libur berarti ga dapat uang. Berat katanya. Saya jadi kepikiran begini. Banyak orang yang pengen ngerayain hari besar sama keluarganya. Libur barang satu dua hari. Tapi ga bisa karena harus kerja cari nafkah.

Baik juga kalau kita bisa sisihin uang sejumlah pendapatan mereka sehari. Lalu kita kasih ke mereka. Anggap saja membeli “waktu” mereka hari itu. Jadi mereka bisa pulang. Berlibur bareng keluarga, tanpa harus kehilangan pendapatan hari itu. Pasti akan sangat berarti buat mereka kan. Saya baru kepikir.

Hal yang mirip bisa kita lakukan pada orang-orang yang karena tugasnya harus tetap dinas di hari besar. Misalnya polisi, tukang bersih sampah, atau sopir bis. Kita sisihkan uang buat mereka sebagai tanda terima kasih karena mereka tetap bekerja. Kalau tanpa mereka kan bisa sangat repot kita.

Sunday, February 18, 2007

Chinese Tradition - 04


Makanan Chinese New Year
Chinese Tradition. Rubrik rutin dalam rangka menyambut Chinese New Year


Makanan yang disediakan saat Imlek cenderung lebih manis dari biasanya. Menggambarkan harapan, supaya di tahun yang baru mendapatkan kehidupan yang lebih manis. Di Indonesia hidangan yang tersedia biasanya dipilih yang namanya punya bunyi yang sama dengan kata keselamatan, kemakmuran, panjang umur atau kebahagiaan.

Antara lain, kue keranjang. Biasanya kue disusun ke atas dengan kue moho atau kue mangkok berwarna merah di bagian atasnya. Harapan yang terkandung di dalamnya adalah kehidupan manis yang kian menanjak dan mekar seperti kue mangkok. Terus, kue lapis atau lapis legit. Konon, kue itu melambangkan rezeki yang diharapkan datang berlapis-lapis. Selain itu ada juga kue ku merah, kue lapis, wajik coklat, nagasari, kue moho atau kue mangkok, kue bugis, kue lemper, madu mongso, coro bikang, ketan tetal dan bongko.

Manisannya tangkue, angco (kurma merah, bisa diganti dengan manisan ceremai warna merah. Biasanya manisan ini disajikan dalam piring-piring kecil atau ditusuk-tusuk seperti sate dan ditata di atas meja khusus bernama cenap.

Buah-buahannya adalah pisang raja atau pisang mas 1 sisir, tebu, srikaya, jeruk bali (lengkap dengan tangkai dan daunnya), belimbing, jeruk lokam, kelengkeng, nanas dan delima merah. Biasanya buah-buahan ini dihias atau dibungkus dengan kertas minyak warna merah.

Juga masakan ca rebung iris kasar (di dalamnya kadang disertakan juhi, haisom, abalone dan taoco) ca rebung iris halus (bersama kepiting, udang, atau hisit), daging masak kecap (biasanya digunakan daging babi), sosis daging masak kecap , masakan dari kaki, masakan dari paru, masakan dari lambung, sate daging ayam (dimasak bersama taoco dan facai), opor ayam, sambal goreng (ampela, hati ayam, dan petai) dan mi goreng. (dari kompas.com)
Ayah's Point of View :
Happy Chinese New Year. Sambil terus mengingat, bahwa perayaan apapun, hendaknya jadi momentum. Menuju ke arah yang lebih baik. Dalam relasi dengan diri sendiri. Dengan orang lain. Dan terutama dengan Sang Khalik.

Catatan Harian

Day - 43

Sabtu, 17 Februari 2007 -- Pagi-pagi rencananya mau ikut outing ke East Coast sama teman-teman pemuda. Tapi ga tega juga ngebangunin Kezia dan Karen. Semalam mereka tidur agak larut. Karen juga flu. Batuk. Malam ia kebangun-kebangun. Ga jadi outing. Agak siang ikut main bulu tangkis di Bukit Gombak Sport Mall.

Kebanyakan yang ikut bulutangkis teman-teman keluarga muda. Saya sih cuma penggembira. Just senang gitu. Sambil “nyari keringat”, sambil jadi lebih akrab. Kegiatan-kegiatan fun begini baik jugalah ada di gereja. Ga sedikit loh orang yang lalu jadi aktif di gereja karena kegiatan fun seperti ini.

Gereja kan melulu harus formal. Persekutuan ini itu. Pembinaan begini begitu. Ceramah. Khotbah. Ibarat orang, jangan serius terus dong. Sesekalilah rileks. Tertawa lepas. Bercanda riang. Serius terus salah-salah jadi kaku dan beku. Jauh dari kehidupan riil. Kayak gereja abad-abad pertengahan di film-film. Buram dan seram. Orang pun ke gereja ga dengan hati “ringan”, tapi dengan hati penuh “beban”. Ga dengan “rasa rindu”, tapi just kewajiban.

Agak sore diajak teman ke China Town. Sebetulnya sudah dari minggu-minggu lalu mau perginya. Tapi ga sempet terus. Katanya kalau sincia-an gini di sana ramai. Pengen ngerasain suasananya. Kita makan di Soup Restoran di Smith Street. Enak. Dan unik. Tradisional. Konon dulunya itu “makanan orang miskin”. Sekarang sih sudah jadi “makanan berkelas”. Punya banyak cabang. Di Plaza Indonesia juga ada.