Friday, July 28, 2006

Catatan Harian

Day - 248

Setiap pagi kalau mau ke gereja, turun dari apartemen saya suka lihat beberapa oma-opa yang sedang berenang. Di sini saya sering sekali lihat orang-orang tua; naik bis sendiri, nyeberang jalan, jualan tissue, dsb. Konon tingkat usia di Singapore memang lebih panjang. Mungkin karena udaranya yang bersih. Polusi sedikit sekali. Fasilitas publik untuk olah raga banyak. Di Indonesia konon tingkat usia yang lebih panjang tuh di Yogyakarta. Khususnya di desa-desanya. Selain faktor udara yang bersih, juga pola makan. Makanan daging atau sayur yang langsung dimasak dan dihabiskan katanya jauh lebih sehat, dibanding sayur atau daging yang sudah disimpan dulu.

Betul sih umur toh ada di tangan Tuhan. Tapi saya pikir, manusia juga bisa punya andil. Jadi ga bisalah berprinsip, umur toh ada di tangan Tuhan lalu boleh hidup sembarangan. Gaya hidup sehat membuat kemungkinan umur panjang dan sehat lebih besar. Saya ingat obrolan saya dengan alm. Pdt Eka Darmaputera. Salah satu yang paling Pak Eka sesali adalah kurangnya ia menjaga kesehatan. Sampai harus sakit bertahun-tahun. Dalam keadaaan sakit saja Pak Eka sudah begitu “luar biasa”. Apalagi kalau sehat walafiat. Pasti impeknya akan lebih "luar biasa".

Siang ini saya ngelawat orang yang sakit. Sang suami sakit kanker. Sekarang berobat jalan. Harus kemoterapi. Mereka sewa apartemen sampai proses pengobatan selesai. Di Singapore, sering saya bertemu dengan orang atau keluarga-keluarga Indonesia yang sedang menjalani perawatan ataupun pengobatan. Sudah lama Singapore menjadi daerah tujuan "wisata kesehatan" orang Indonesia. Ini sebenarnya "warning", ada apa dengan pelayanan kesehatan di Indonesia? Menurut satu survei yang pernah saya baca, setiap bulan ada 10.000 orang Indonesia yang berobat keluar negeri. 4.000 diantaranya ke Singapore. Biayanya tentu ajubilah. Ck ck ck.

2 comments:

Anonymous said...

ada tu satu rumah sakit yang "gila" di singapura. namanya elizabeth (kalau ga salah). mahalnya ga ketulungan katanya. ada remaja sekitar kena radang selaput otak, berobat disana, orang tuanya sampai jual rumah dan tanahnya. di akhir cerita, akhirnya remaja itu meninggal, dan harta orang tuanya habis semua. tragis dan sadis! kesimpulannya adalah fasilitas kesehatan sekarang lebih "bersahabat" dengan komersialisme ketimbang "menjadi sahabat" bagi kemanusiaan.

salam,

pram

Anonymous said...

Greets to the webmaster of this wonderful site. Keep working. Thank you.
»