Saturday, July 15, 2006

Renungan Sabtu - 10


Yunus Bin Amitai

Kisahnya sungguh menggetarkan. Dimulai dengan pemberontakkannya terhadap panggilan Tuhan untuk pergi ke Niniwe; membawa berita pertobatan. Dia melarikan diri ke Tarsis.

Kenapa? Masalahnya bukan pergi ke Niniwenya, tetapi missinya itu: membawa berita pertobatan. Dia tidak ingin Niniwe bertobat, dan karenanya terhindar dari hukuman Tuhan. Dia ingin Tuhan benar-benar menghajar Niniwe, dan menjungkirbalikkan musuh besar bangsanya itu.

Namun Tuhan tidak melepaskannya. DIA menurunkan angin ribut ke laut, maka terjadilah badai dahsyat. Laut pun mengelora, bagai raksasa kelaparan mengamuk. Kapal yang ditumpanginya terombang-ambing tanpa daya. Kehancuran membayang di pelupuk mata. Ibarat pertandingan tinju, tinggal menunggu waktu untuk “knock out”.

Para awak kapal pun berusaha keras menyelamatkan kapal, dan penumpang lain berdoa kepada allahnya masing-masing. Tetapi sementara itu, dia malah pergi ke ruang bawah, dan tertidur nyenyak di sana. Seakan tidak terjadi apa-apa. Sangat ironis. Sedang orang banyak kebingungan, si pembuat ulah malah tenang-tenang tidur.

Toh dia tidak luput dari jerat. Undi dibuang. Dia tidak dapat mengelak. “Akan kami apakan engkau, supaya laut menjadi reda dan tidak menyerang kami lagi?” tanya mereka.

“Angkatlah dan campakkanlah aku ke laut, maka laut akan menjadi reda. Aku tahu, karena akulah badai besar ini menyerang,” jawabnya. Bisa jadi dalam keputusasaannya dia menjawab begitu. Bayangkanlah seseorang yang sudah tersudut; tidak ada daya lagi untuk mengelak. Begitulah dia.

Mereka masih berusaha menyelamatkan kapal tanpa mengorbankan dia. Tetapi apa mau dikata. Palu sudah diketukkan. Dia harus dilemparkan ke laut. Tidak ada cara lain. Dan benar, laut pun kemudian tenang. Kapal selamat.

Dan dia?! Atas penuntunan Tuhan datanglah seekor ikan besar, tidak disebutkan ikan apa, menelannya bulat-bulat. Tiga hari tiga malam dia berada di dalam perut sang ikan. Apa yang dilakukannya di sana? Tidak jelas.

Demikian kisah Yunus bin Amitai. Masih ada kelanjutannya, tetapi untuk kita cukuplah sampai di sini. Mari kita melihat maknanya. Toh, memang itu yang terpenting dari sebuah kisah: apa maknanya buat kita?

Pertama, Yunus artinya merpati. Sebuah nama nan elok. Merpati adalah simbol perdamaian dan ketulusan. Tetapi kedua makna simbolis itu rupanya tidak kena mengena dengan Yunus bin Amitai.

Yunus tidak berdamai dengan panggilan Tuhan, dia justru memberontak. Ketika akhirnya dia pergi ke Niniwe membawa berita pertobatan, rupanya juga tidak dengan tulus hati. Sebab ketika penduduk Niniwe bertobat, jauh dari senang dia malah kesal dan marah. Sampai-sampai ingin mati segala (Yunus 4:3).

Nama memang tidak selalu mencerminkan sifat dan perilaku penyandangnya. Ada yang namanya bagus, sifat dan perilakunya malah buruk. Ada yang namanya biasa-biasa saja, sifat dan perilakunya malah luar biasa. Maka, jangan terpaku pada nama. Seperti kata Shakespeare, pengarang terkenal asal Inggris, “What’s in a name?!” Apalah arti sebuah nama?!

Kedua, kalau Tuhan sudah memanggil seseorang untuk suatu tugas, DIA tidak akan melepaskannya. Bisa saja orang itu melarikan diri, tetapi pelariannya hanya akan mendatangkan kesulitan; baik bagi dirinya sendiri, maupun orang lain. Dan biasanya untuk sementara pula. Seperti Yunus, entah bagaimana caranya, akhirnya dia pergi juga ke Niniwe. Tidak bisa mengelak.

Maka, kalau Tuhan memanggil kita untuk sebuah tugas, jalanilah dengan lapang hati. Pun bila itu tugas tidak seperti yang kita inginkan. Toh hidup tidak selalu berjalan sesuai keinginan kita. Ada saatnya yang tidak kita inginkan, justru itu yang harus kita lakukan. Ya, tidak apa. Yang penting bukan melakukan apa yang kita inginkan, tetapi menyukai apa yang harus lakukan.

Pula, kalau memang tidak ada cara lain; kita tidak dapat mengelak, berdamailah dengannya. Melarikan diri, bukan hanya akan membuat kita capek sendiri, tetapi juga salah-salah kita malah “ditelan ikan besar” seperti Yunus. Prinsipnya, jangan menunggu Tuhan menuntut harga.

Ketiga, berhati-hatilah dengan ulah dan polah kita. Jangan karena ulah dan polah kita, orang lain yang tidak berdosa ikut menanggung akibatnya. Dosa kita akan berlipat ganda; sudah memberontak kepada Tuhan dengan melarikan diri, membuat orang lain yang tidak tahu apa-apa ikut susah pula.

Lebih celaka kalau karena tindakan kita, “kapal yang kita tumpangi” bersama orang lain tertimpa badai. Dan sementara orang lain berusaha keras menyelamatkan kapal, kita malah enak-enak pergi “ke ruang bawah” dan tertidur. Tidak peduli. Kisah Yunus kiranya dapat membuka kesadaran kita, betapa buruknya kita kalau berpolah seperti itu.

Dari Buku : Lebur Tanpa Menjadi Larut, Ayub Yahya - diterbitkan oleh Gloria Graffa, 2006

1 comment:

Anonymous said...

Super color scheme, I like it! Keep up the good work. Thanks for sharing this wonderful site with us.
»