Saturday, December 16, 2006

Catatan Harian

Day - 107

Jumat, 15 Desember 2006 -- Tadi pagi di bis waktu mau ke gereja, saya melihat seorang ibu separuh baya bersama anak laki-lakinya yang "terbelakang" mental. Anaknya itu sudah dewasa. Si ibu telaten sekali. Beberapa kali anaknya ngeluarin iler dari mulutnya, si ibu tanpa menunjukkan wajah kesal mengusapnya dengan tissue. Ia bicara pada anaknya pakai bahasa Mandarin sambil terus tersenyum. Membelai kepalanya dengan lembut. Kelihatan betapa ia sangat menyayanginya.

Saya jadi teringat seorang ibu di Banjarmasin. Suaminya seorang pendeta kena stroke. Hanya bisa tiduran di ranjang. Anaknya yang besar sejak lahir "terbelakang". Dua tahun lalu waktu saya dan beberapa teman mengunjunginya usia anak itu 34 tahun. Ga bisa jalan. Ga bisa bicara. Sering teriak-teriak ga jelas. Saya sangat hormat dengan ibu itu. Perjuangannya sungguh luar biasa. Bagi saya ibu itu, seperti juga orang tua lain yang memilik "anak khusus", adalah pahlawan kehidupan dalam arti sesungguhnya.

Saya jadi malu sendiri kalau ingat ketidaksabaran dan kekurangtelatenan saya ngehadapi Kezia dan Karen. Padahal sama sekali ga “setahi-kukunya-lah” dibanding perjuangan kedua ibu itu. Dan pula namanya juga anak-anak kan. Pastilah ada saatnya mereka rewel atau “berantem”. Kalau mereka diam dan jadi “anak manis” terus malah bingung juga. Tiba-tiba saya koq ngerasa telah menjadi orang yang paling ga tahu bersyukur.

Siang bareng teman kunjungan ke teman-teman pemuda yang bekerja di seputar daerah Orchad. Kita makan di Ayam Bakar Ojolali, Lucky Plaza. Sambil ngobrol. Orchad ramai banget tuh. Musim Natal. Sepanjang jalan hiasan Natal. Lagu-lagu Natal. Rasanya saya ga pernah deh ke Orchad sengaja untuk jalan-jalan. Ramainya itu loh yang ga tahan. Ke sana biasanya kalau janjian ketemu orang :).

No comments: