Monday, September 18, 2006

Catatan Harian

Day - 196

Minggu, 17 September 2006 --Hari Minggu. Hari “full-nya” pendeta :). Pagi mendung. Gerimis. Saya berangkat ke gereja duluan. Dewi dan anak-anak belakangan. Sekolah Minggu jam 11. Jadi Dewi kebaktian yang jam 11. Seperti biasa di bis ketemu anggota jemaat yang juga mau ke gereja. Jadi sambil ngobrol.

Hari ini pimpin kebaktian di GPBB dan GPO. GPBB Jam 9 dan jam 11. Setelah kebaktian, sempat ikut latihan vocal group keluarga senior bentar. Untuk ngisi di kebakian penutupan bulan keluarga minggu depan. Terus bareng teman ke GPO. Teman pimpin persekutuan Maria Martha. Saya Pimpin kebaktian umum. Di GPO ga sangka ketemu teman dari GKI Kayu Putih. Sekeluarga. Kita janjian kontak-kontakan. Walau ketemu dengan orang Indonesia di Singapore bukan hal yang sulit, tapi tetap saja kalo ketemu rasanya senang gitu. Apalagi yang udah kenal. Obat kangen.

Minggu ini tema kebaktiannya tentang keluarga yang menjadi garam dunia. Tema "klise" tapi selalu aktual. Metafora garam sekilas terkesan “simple”. Tapi sebetulnya sangat “berat dan dalam” maknanya. Itu adalah metafora yang sangat brilyan. Mungkin karena dalam konteks zaman sekarang garam tuh benda “sepele”. Murah dan banyak. Bisa dibuang-buang. Walau orang tentu sadar juga pentingnya. Jadi maknanya ga gitu terasa “greget’-nya. Padahal dalam konteks zaman Tuhan Yesus garam punya nilai lebih dari sekadar “penyedap masakan” loh. Ada nilai spiritual.

Dari GPO rencananya mau terus makan mie di daerah Orchard sama teman. Pengen nyoba. Belum pernah. Teman mau nunjukin. Tapi pas mau pulang ada anggota jemaat yang kasih bingkisan gede dan banyak lagi. Ga jadi deh pergi sama teman. Hehehe. Habis jalan sambil bawa segitu banyak kan repot. Apalagi bawa jas segala. Jadi saya terus pulang. Naik taxi. Sampai di rumah, ternyata bingkisan itu makanan dan mainan buat Kezia dan Karen. Makanannya banyak pula. Jadi kita undang teman-teman pemuda yang tinggal dekat-dekat apartemen saya datang makan malam. Asyik :).

No comments: